
Beberapa hari sebelumnya.
Dimalam hari, lebih tepatnya di Asrama para Guru. Kepala Akademi Estonia yaitu Leon Sera Belmont baru saja selesai mandi.
Sambil berjalan keluar dengan membasuh rambutnya yang basah, dia di kejutkan oleh bunyi sesuatu.
Merasa suara itu berasal dari mejanya, Leon segera pergi mendekat dan menemukan bahwa Protas miliknya mendapatkan sebuah panggilan.
"Rufus..... Tumben dia menelpon ku malam-malam begini?".
Leon bergumam sendiri karena bertanya-tanya kenapa rekan lamanya, Rufus Dom Silva menelpon nya. Tanpa membuang banyak waktu lagi, Leon segera mengangkat telpon itu.
"Halo, Rufus.... Tumben kau menelpon.... Ada apa?".
{Yah maaf kalau aku mengganggu jam istirahat mu.... Tapi, kau tahukan...... Aku tidak akan menghubungi mu.... Kalau bukan hal yang penting}.
"Hmmm..... Aku mengerti.... Santai saja..... Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?".
Rufus sempat terdiam sejenak dan berusaha memperhatikan sekitar nya. Setelah yakin tidak ada yang melihatnya, dia segera kembali berbicara.
{Berdasarkan info dari mata-mata ku..... Dugaan Verna memang benar...... "Thousand Faces"....... Ada di Kerajaan ini}.
Leon seketika terkejut saat mendengar informasi dari mulut rekan lamanya itu.
Thousand Faces adalah sebutan untuk seorang mata-mata yang ahli dalam hal menyamar dari Kerajaan Strost. Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya maupun wajahnya.
Sewaktu perang antara Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Strost terjadi, mata-mata Thousand Faces dikirim dan menyusup kedalam Kerajaan Ingrid dengan tujuan mengurangi kekuatan Kerajaan Ingrid yang unggul saat itu dengan cara membuat perpecahan diantara para warga dan menghasut para bangsawan.
Dengan menciptakan propaganda dalam masyarakat, Kerajaan Strost bisa memanfaatkan kekacauan itu untuk menginvasi Kerajaan Ingrid yang sedang sibuk dengan urusan internal.
Namun, semua itu gagal total.
Karena Leon dan Hyoga secara mengejutkan menemukan base rahasia mereka dan langsung membantai 500 prajurit yang sudah di siapkan. Bahkan mereka berhasil menangkap Raja Ritcher Fin Strost.
Sementara Thousand Faces harus berhadapan dengan Verna de Zinvarca. Meski mengalami kekalahan dari Verna, Thousand Faces berhasil melarikan diri. Dan Verna sama sekali tidak punya kesempatan untuk tahu seperti apa wajah aslinya.
Mendengar fakta itu, Leon tidak bisa berkata-kata apapun. Dia sempat diam sejenak sebelum kembali berbicara.
"Apa info itu benar-benar akurat?".
{100%}.
"Lalu bagaimana dia masih ada di Kerajaan ini?".
{Entahlah..... Kalau dugaan ku benar..... Mungkin saja ada "pihak tertentu" yang diam-diam membantunya untuk bersembunyi selama ini}
"Apa kau ada "asumsi" soal "pihak tertentu" ini?".
{Hmmmm....... Info masih belum akurat..... Jadi aku tidak benar-benar yakin}
"Begitu ya".
{Tapi yang jelas..... "Rubah" itu terlibat untuk kasus yang satu ini...... Namun, untuk kasus Oscar dia 100% terlibat}.
"Sudah kuduga..... Kalau "Rubah" itu memang menargetkan Hyoga dan Keluarganya dengan memanfaatkan Oscar".
{Namun, Leon..... Aku masih punya satu informasi lagi..... Tapi, kali ini aku ingin minta tolong padamu}.
Leon segera menyepitkan matanya. Tanpa ditanya sekalipun Rufus segera memberi tahu apa niatannya.
{Ini soal........}.
Entah apa yang diinginkan oleh Rufus sampai meminta tolong pada Leon. Dan Leon sendiri tampaknya tidak keberatan dengan itu.
(------------------)
Kembali ke pada Kegiatan siswa Akademi Estonia di Kota Monarch.
__ADS_1
Setelah 4 hari menyelesaikan latihan kemaritiman yang melelahkan dan menguras tenaga dan pikiran. Kegiatan selanjutnya mereka adalah untuk mengunjungi sebuah museum yang paling tertua di kota Monarch dan paling tertua di Kerajaan Ingrid yaitu Museum Lazarus.
Sesuai dengan namanya.
Tempat ini menjadi tempat dimana para siswa bisa mempelajari sejarah benua Antareksia, sejarah berdirinya Kerajaan Ingrid dan yang paling penting adalah sejarah terjadinya perang kuno melalui beberapa replika artefak, lukisan, prasasti dan masih banyak lagi.
Mengingat kegiatan ini bukan merupakan program wajib. Para siswa diperbolehkan untuk tidak ikut kegiatan ini. Meski begitu, Dylan, Ritzia Awin dan Sylvia memutuskan untuk ikut dalam kegiatan ini.
"Heeee...... Baik dari penampilan luar, maupun bagian dalamnya...... Museum ini benar-benar mirip dengan Museum State Hermitage yang ada di St Peterburg, Rusia".
"Iya.... Berdiri kokoh di atas tanah dengan luas 66. 842 m/segi...... Dengan koleksi hampir 3 juta.... Wajar jika tempat ini menjadi yang terbesar".
"Dylan, Awin..... Kalian berdua dari tadi ngomong apa?".
"Terus apa itu Museum State Hermitage..... Aku baru pertama kali mendengar nya".
Ritzia dan Sylvia kebingungan setelah mendengar percakapan Dylan dan Awin yang menurut mereka sendiri sangatlah aneh. Bahkan Sylvia sampai menanyakan soal Museum State Hermitage yang tidak sengaja keluar dari mulut Dylan.
"Oh, kami hanya memuji penampilan Museum ini saja".
"Dan soal apa yang aku katakan sebelumnya, aku akan sangat senang jika kalian mengabaikannya".
Mendengar jawaban keduanya membuat Ritzia dan Sylvia tampak sedikit kecewa. Tapi, karena tidak punya pilihan keduanya melakukan apa yang Awin dan Dylan minta.
Tak mau membuang waktu lagi, keempatnya segera melangkah memasuki Museum Lazarus. Begitu masuk, mereka semua langsung di buat terkesan dengan keindahan ornamen, penerangan dan kemegahan tempat itu.
"Woaaaahhhh...... Tempat ini benar-benar indah!!!".
"Kau benar Sylvia...... Meski aku sudah sering berada di tempat-tempat mewah..... Tapi, tempat ini benar-benar luar biasa".
"Kurasa orang-orang menyukai museum bukan hanya karena pengetahuan, karya seni, maupun sejarahnya..... Arsitektur nya juga punya daya pikat nya tersendiri".
Ritzia dan Sylvia terkesan dengan arsitektur dan kemegahan yang di miliki oleh museum Lazarus ini bahkan mereka juga mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Awin.
"Kalau begitu, ayo kita lanjut..... Jangan sampai ketinggalan rombongan yang lain".
Dylan yang sadar bahwa mereka berempat sudah ketinggalan dengan rombongan segera menyuruh Ritzia, Sylvia dan Awin untuk segera melangkah menyusul rombongan siswa lain yang ada di depan mereka.
(----------------------)
Ritzia dan Sylvia memutuskan untuk pergi bersama meninggalkan Dylan dan Awin yang akhirnya juga memutuskan untuk pergi bersama.
Setelah berjalan-jalan cukup lama keduanya segera berhenti di depan sebuah lukisan kuno yang indah.
Di lukisan itu, ada gambar seorang gadis cantik yang sedang duduk di atas dahan pohon dan seorang pria tampan yang berdiri di samping pohon, melihat gadis itu dari bawah.
Melihat lukisan itu, entah kenapa keduanya merasa tidak asing.
"Aniki..... Lukisan ini kayaknya ngak asing deh?".
"Hmmmm.... Kau benar...... Kayaknya kita pernah melihatnya di suatu tempat..... Tapi, kapan?".
Saat keduanya sedang sibuk berpikir dan men-scan ingatan lama mereka. Dari arah belakang ada seseorang yang tiba-tiba merangkul mereka.
"Itu adalah lukisan karya seorang pria Rain Fin Lutherking........ Bertema kisah cinta beda status antara Putri Duke, Lagerta fou Isla dan pengawal paling setianya Martin".
Sempat terkejut sesaat keduanya menoleh kearah orang yang merangkul mereka itu, yang rupanya adalah Alberto Fin Goncalves, guru Akademi Estonia yang bertanggung jawab mengajarkan pelajaran matematika.
Dia digambarkan sebagai pria tampan berambut perak dengan mata berwarna abu-abu. Dan memiliki tinggi badan yang ideal untuk seorang pria dewasa.
"Kisah cinta beda status....... Apa Alberto-sensei tahu soal sejarah lukisan ini?".
Awin yang penasaran dengan perkataan Alberto mencoba untuk bertanya soal sejarah lukisan yang sedang mereka lihat ini.
"Kisah bermula dari sebuah acara pernikahan..... Seorang putri Duke bernama Lagerta fou Isla.... Yang saat itu sedang melangsungkan acara pernikahan dengan pasangannya bernama Joseph Stalin Ararat...... Jatuh cinta oleh seorang ksatria biasa bernama Martin...... Kemudian Lagerta meminta Martin untuk membawa nya pergi dari acara itu...... Karena tindakan, Martin mulai dicap sebagai buronan dan terus menerus dikejar-kejar oleh para ksatria..... Meski begitu, Martin yang pada dasarnya adalah ksatria milik Joseph tetap setia kepadanya..... Dan tidak pernah sekalipun menyentuh atau melakukan macam-macam dengan Lagerta....... Dan setelah banyak darah yang tertumpah..... Joseph akhirnya mengalah..... Dan memutuskan mengakui dan mengikhlaskan Lagerta sebagai istri dari Martin..... Bahkan Martin juga di berikan sebidang tanah...... Dan masih di sambut baik sebagai ksatria nya".
Sambil terus memandangi lukisan yang ada di depannya Alberto dengan sangat antusias menceritakan sejarah dari lukisan kuno itu. Namun di satu sisi, Dylan dan Awin dalam waktu yang bersamaan merasa tidak asing dengan cerita itu.
__ADS_1
"Yah.....begitulah cerita dan sejarah yang aku tahu..... Kalau begitu, aku pergi dulu ya..... Dylan-kun, Awin-kun..... Nikmati waktu kalian di sini".
Setelah puas yang bercerita Alberto segera meninggalkan Dylan dan Awin dalam kebingungan.
Melihat sosok Alberto menghilang, kedua kembali melihat kearah lukisan itu dan mulai berbicara.
"Hei, Aniki bukankah sejarah lukisan ini benar-benar mirip kisah "The Tree of Love".... Kisah cinta antara seorang gadis bernama Grainne dan ksatria bernama Diarmuid, ya?".
"Ya....... Aku juga baru ingat akan hal itu".
Otak mereka seketika berhenti bekerja, dikarena kan mereka tahu bahwa sejarah lukisan yang ada di depan mereka ini benar-benar mirip dengan sejarah "The Tree of Love" di kehidupan mereka sebelumnya.
(----------------------)
Meski terlihat bagus di atas.
Ternyata ada sebuah fasilitas bawah tanah yang tersembunyi tepat di bawah saluran air kota Monarch.
Di tempat yang sangat gelap itu, terpanjang berurutan tabung besar yang setiap tabungnya di isi oleh beberapa orang yang sedang tidak sadarkan diri, entah mereka masih hidup maupun mati.
Mereka maksudnya orang-orang yang didalam tabung itu sebagian sudah tidak bisa dikenali sebagai manusia lagi, karena bentuknya yang hampir menyerupai monster.
Sementara itu, ada beberapa orang dengan jubah putih seperti jubah seorang ilmuan sedang mengecek satu persatu tabung itu dan mencatatnya di dalam kertas yang mereka bawa.
"Kyaaaaaa.......".
Teriakan seorang gadis kecil menggenggam di seluruh tempat itu seraya meminta tolong. Meski begitu, orang-orang yang ada disekitarnya tetap diam tanpa melakukan apapun.
Sampai, akhirnya suara gadis itu mulai samar-samar tak terdengar lagi dan akhirnya gadis itu kehilangan cahaya pada matanya dan kemudian meninggal dunia.
"Sial..... Lagi-lagi gagal...... Hei kalian, cepat lepaskan dia dari situ dan buang mayatnya".
Seorang pria tua kelebihan berat badannya yang tampak sebagai ketua dari kelompok peneliti itu. Terlihat frustasi karena lagi-lagi eksperimen nya gagal.
"Gagal lagi, ya Morgan...... Padahal ini sudah ke 300 kalinya".
Seorang pria bertudung tiba-tiba muncul dan berbicara dengan pria gendut itu dengan panggilan Morgan.
"Cih..... Aku tidak akan terpengaruh dengan sarkasme mu itu, Reiz...... Tidak..... Maksudku, Thousand Faces".
Pria bertudung yang sama persis dengan pria yang mengirim Minotaur untuk melawan Dylan adalah Reiz alias Thousand Faces sang mata-mata hebat Kerajaan Strost.
Berdasarkan itu saja, terungkap fakta bahwa fasilitas bawah tanah ini adalah miliki para peneliti dari Kerajaan Strost. Yang sedang melakukan eksperimen tak manusiawi.
"Hou...... Jangan emosian begitu, Morgan..... Aku tahu kau frustasi..... Karena anak yang kau duga punya kemampuan magis tinggi...... Ternyata hanya bisa sebatas ini saja".
"Iya, iya...... Aku tahu itu....... Sial kalau seperti ini terus bisa-bisa aku akan kehilangan banyak tikus percobaan..... Tanpa menghasilkan apapun".
"Kau tidak usah risau soal itu...... Aku akan sediakan tikus percobaan yang banyak sekali untukmu..... Yang penting kau harus bisa menciptakan pasukan "Chimera" sebanyak-banyaknya".
"Tapi, itu semua akan percuma saja, kalau aku tidak punya kandidat untuk "Katalisator" nya".
Tiba-tiba Reiz/Thousand Faces tersenyum mendengar hal itu darinya. Menyadari hal itu, Morgan hanya bisa menaikkan salah satu alisnya.
"Kalau itu...... Kurasa orang ini..... Bisa jadi "Katalisator" yang baik".
Thousand Faces segera menyerahkan sebuah berkas kepada Morgan. Menerimanya, dia segera membaca dengan seksama. Tak lama kemudian, Morgan mulai tersenyum lebar tanda bahwa dia sangat senang.
"Kebetulan "orang" itu ada disini kota ini..... Tapi, meski begitu...... Kalian harus hati-hati apa bila ingin menculik nya......Karena orang-orang disekitarnya, adalah orang-orang berbahaya terutama....... Terutama dua orang yang namanya ada dibelakangnya itu".
Morgan kemudian membuka lembar berikutnya, dan dia sempat menyepitkan mata. Tampak ragu dengan apa yang dia baca.
"Woi, Reiz...... Kau yakin kalau mereka adalah "ancaman" yang kau maksud?".
"Kau bisa mengatakan itu karena kau tidak melihat kekuatan mereka secara langsung".
"Baiklah, baiklah..... Akan aku indahkan peringatan mu itu".
__ADS_1
"Kalau begitu, tunggu apa lagi..... Kita akan culik "orang" itu malam hari ini".
Reiz/Thousand Faces dan Morgan mulai tersenyum dan berencana untuk melakukan tindakan penculikan orang yang berpotensi untuk menjadi "Katalisator" dari eksperimen mereka.