
2 minggu sudah berlalu sejak insiden pengintipan yang dilakukan Garcia. Dan sejak saat itu kelas 1-S terus berlari setiap paginya.
"Keparat kau Garcia.... Kenapa, kau ngak ada kapok-kapok nya dengan tindakanmu itu!!!!".
"Idup elu itu cuma nyusahin orang aja kerjaannya..... Mending mati aja sana".
Oliva dan Emilia berlari sambil terus menghajar Garcia karena mereka harus terus berlari selama 2 minggu karena ulahnya yang tidak kapok-kapok mengintip.
Tentu saja, Alex yang memberikan mereka hukuman juga berada disana untuk mengawasi.
Tapi, ada yang berbeda.
Tidak seperti saat awal dia menghukum anak-anak ini yang penuh dengan amarah. Sekarang, dia sendiri tampak lelah melihat anak-anak ini.
(Anjir,....... Aku ngasih ini hukuman supaya mereka jerah... Tapi, bocah-bocah ini malah beradaptasi dengan sangat cepat.... Belum lagi.... Mereka melakukan nya seolah-olah sudah biasa..... Dan entah mengapa, mereka terlihat sangat bahagia).
Alex melirik kearah Ritzia, Filaret dan Sylvia yang ngobrol santai, Arnold dan Ornest yang bersenandung ria, Awin dan Dylan yang malah main lempar tangkap bola baseball.
Semua itu mereka lakukan sambil berlari, dan tampak ekspresi bahagia terpancar di wajah mereka.
Kemudian, Alex mengeluarkan cermin genggam dari kantong nya. Dan melihat pantulan wajahnya yang muram.
(Kenapa aku, harus mengawasi para bocah-bocah ini?..... Kerjaannya, si Frey apaan coba?...... Ini kan kelasnya...... Kenapa malah aku yang ngurusin...... Apa dia lupa, kalau aku juga punya kelasku sendiri untuk di awasi..... Sialan, semua pekerjaan tiada akhir ini.... Mengganggu jam tidurku..... Asal kalian tahu..... Aku itu juga sibuk, loh).
Alex bergumam sendiri tentang semua pekerjaan melelahkan yang harus dia kerjakan sampai harus menyita waktu tidurnya.
Setelah beberapa kali hembusan nafas, Alex melihat kembali ke arah Dylan dan teman-teman nya.
"Hai, semuanya.......!!!!! Apa kalian ingin liburan di hutan milik Akademi?".
"Huh?".
"Aku kalah.... Anggaplah ini sebagai "hadiah" atas kerja keras kalian yang terus berlari selama 2 Minggu ini..... Jadi, apa kalian ingin liburan di hutan Akademi?..... Di sana itu, seru loh!?.... Kalian bisa mengadakan pesta api unggun..... Dan para gadis bisa ngobrol santai.... Gimana, mau?".
"""""... Kami mau, Alex-sensei!!!""""".
"Yosh!!! Tunggu apa lagi? Ayo, kita berangkat!!!!".
"""""HORE!!!"""".
"Huh? Tidak tunggu dulu semua".
"Bukankah ini malah mencurigakan?".
Dengan tersenyum ceria, Alex menawarkan untuk liburan di Hutan milik Akademi Estonia. Mendengar hal itu. Filaret, Ritzia, Ornest, Arnold, Garcia, Sylvia, Emilia dan Olivia setuju dan antusias.
Tapi, tidak dengan Dylan dan Awin yang justru keduanya malah curiga dengan apa yang di maksud "hadiah" oleh Alex.
Tanpa basa-basi mereka semua segera menaiki kendaraan yang mirip seperti Bus. Tapi, kendaraan itu tidak berjalan dengan menggunakan bensin.
Melainkan menggunakan energi sihir untuk menjalankan nya dan kemudi nya benar-benar mirip kemudi pada Bus.
Di saat semuanya menikmati perjalanan sambil bersenandung, Dylan dan Awin tidak berhenti-henti nya menatap curiga ke arah Alex yang ikut bersenandung juga.
Bahkan setelah sampainya di hutan dan turun dari kendaraan itu, mereka masih terus saja bersenandung ria tanpa tahu kearah mana mereka pergi.
"Sensei, mari segera mulai pesta api unggun nya!!".
"Iya, kami tidak sabar lagi".
"Tentu, serahkan padaku".
Setelah sampai, di tempat antah berantah. Ornest dan Arnold segera menoleh kearah Alex dan meminta untuk memulai pesta api unggun nya. Dan Alex menyanggupi permintaan keduanya.
Kemudian.
BOOOM!!!.
Sebuah ledakan dari bola api yang besar langsung menghempaskan mereka. Pelaku dari tindakan itu tidak lain adalah Alex sendiri.
"Eh?...... Tunggu?".
"Ummm.... Alex-sensei".
"Bagaimana dengan bakar-bakaran nya?".
Menyadari hal itu, Sylvia, Emilia dan Olivia mencoba bertanya kepada Alex.
"BOOOM!!!".
"KYAAAAAAA!!!".
Namun, bukan jawaban yang mereka dapat malah Alex sekali lagi melemparkan bola api kearah mereka.
"Kyaaa.... Yap..... Itu untuk pesta api unggun dan obrolan para gadis".
Dengan tatapan dan aura yang mengerikan Alex memberikan mereka jawaban yang mengejutkan semuanya.
"SEKARANG, COBALAH UNTUK BERTAHAN HIDUP SELAMA MUNGKIN!!!!".
Mengabaikan keterkejutan mereka, Alex yang langsung melompat terjun ke jurang meninggalkan mereka semua di sana sendirian.
Butuh berapa detik bagi mereka semua untuk memahami situasi yang mereka alami saat ini.
"""""DI MANA KITA INI?!!!""""".
__ADS_1
Setelah sadar mereka segera berteriak sekeras-kerasnya, karena baru sadar bahwa mereka di tinggalkan di hutan antah berantah tanpa membawa apa-apa.
Melihat, teman sekelasnya baru sadar apa yang terjadi membuat Dylan dan Awin hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
Sementara itu di Kelas 1-S.
Frey yang tertidur pulas di mejanya tiba-tiba terbangun dan terkejut karena tidak mendapati murid-muridnya ada di kelas.
Dia segera berdiri dan segera mencari mereka semuanya, tapi tidak mendapatkan hasil apapun.
"Ke mana sih mereka ini?.... Aku cari di tong sampah ngak ada.... Aku cari di saluran air kota juga ngak ada..... Aku cari distrik lampu merah dan bertanya pada para Psk yang bekerja disana juga ngak membuahkan hasil..... Hmmm.... Kira-kira dimana ya?".
Saat Frey sedang merenung tiba-tiba pandangan nya teralihkan ke Alex yang berjalan melintasi di sampingnya. Merasa Alex tahu sesuatu dia segera bertanya.
"Hei, Alex... Apa kau tahu di mana murid-murid ku?".
"TAK BUANG MEREKA SEMUA KE HUTAN".
"Heeeee..... Pantes aja, aku ngak nemuin mereka di mana-mana".
Meski mendapatkan jawaban kasar dari Alex, Frey anehnya tidak terkejut dan malah santai menanggapi hal itu.
(----------------)
Saat ini.
Arnold, Garcia, Ritzia, Filaret, Sylvia, Emilia dan Olivia sedang duduk sambil memeluk kedua lutut mereka sambil melihat langit cakrawala yang berubah perlahan-lahan.
Pemandangan matahari terbenam itu semakin indah dengan suara burung yang yang saling menyapa. Tampak wajah sedih dari mereka terpancar.
"""""""KITA BENERAN DI TINGGAL!!!!!!""""""".
Kemudian secara kompak, kedelapan orang itu berteriak sekeras-kerasnya dan menangis sejadi-jadinya seolah-olah dunia ini sudah berakhir.
"Ya,..... Setengahnya benar dan setengahnya juga salah".
Pernyataan Dylan sukses membuat mereka mengalihkan pandangannya ke Dylan.
"Hei, Dylan apa maksudmu itu?".
"Ya, dan kenapa Nii-san tetap tenang di situasi ini?".
Emilia dan Filaret mempertanyakan maksud ucapan dan sikap Dylan yang tampaknya malah sangat tenang.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya..... Kita ini tidak 100% di buang..... Melainkan ini adalah salah satu dari kegiatan kedisiplinan militer..... Dimana kita disuruh untuk bertahan hidup di alam liar".
"Hmm.... Aku mengerti, kalau kita harus mulai bagi tugas".
Awin memahami apa yang dimaksud oleh Dylan.
"Aku dan Awin akan pergi mencari makanan entah itu buah-buahan atau hewan untuk di buru.... Garcia dan Ornest cobalah mencari goa di sekitar sini.... Kalau bisa yang dekat dengan sungai agar kita tidak kesusahan mencari air...... Arnold bantu Ritzia dan yang lain untuk mencari kayu bakar".
Tanpa banyak bicara mereka semua segera berpencar dan mulai melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Ornest dan Garcia berhasil menemukan sebuah goa dekat sungai yang jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi mereka sebelum nya.
Tidak lupa, mereka juga memeriksa goa itu apakah goa itu merupakan sarang Monster atau bukan. Dirasa aman, keduanya memutuskan menggunakan goa itu sebagai tempat untuk berteduh malam hari ini.
Arnold dan para wanita juga sudah selesai mengumpulkan kayu bakar, tidak lupa juga mereka juga mengambil beberapa jamur liar untuk di makan bersama.
Dylan dan Awin berhasil mendapatkan hewan buruan sapi Holstein liar yang sangat besar dan membawanya dengan cara di tandu bersama.
Setelah mendapatkan persediaan makanan, minuman, dan tempat tinggal. Mereka melanjutkan perkejaan mereka masing-masing.
Arnold dan Awin mempersiapkan daging Holstein, Filaret dan yang lain mempersiapkan tepat untuk makanan dan minuman dari dedaunan, Ornest menyiapkan api unggun di bantu Garcia, dan Dylan yang mendapat bagian memasak.
Tapi, sebelum itu dia sempat melihat jamur, yang dikumpulkan oleh para gadis. Merasa ada yang tidak beres Dylan langsung membongkar semua jamur itu dan mulai memilih-milih.
"Loh? Nii-san?".
"Dylan-san?".
"Hei, Dylan".
"Apa yang kau lakukan?".
Tindakan dadakan Dylan membuat Filaret dan yang lain terkejut. Namun, Dylan segera menunjukkan alasannya.
"Amanita Virosa, Amanita Muscaria, Bunga Wolfsbane, Amanita Phalloides, Conocybe Filaris, Autumn Skullcap, Deadly Dapperling.... Hampir 3/4 dari jamur yang kalian kumpulkan itu semua beracun..... Apa kalian, pengen kita semua mati huh?".
Dylan memberitahu bahwa hampir semua jamur yang dikumpulkan adalah jamur beracun yang dapat membunuh manusia.
Menyadari fakta itu, Filaret Ritzia, Sylvia, Emilia, dan Olivia hanya bisa mengalihkan pandangannya dari Dylan yang menatap mereka dengan tatapan jengkel.
(------------------)
Semua makanan sudah siap. Dan sudah di bagi sama rata. Tanpa menunggu lama lagi mereka mulai untuk makan bersama.
Namun, di saat itu terjadi sesuatu yang aneh.
""Ittadakimasu"".
Secara bersamaan Dylan dan Awin melakukan gerakan tangan seperti sedang berdoa yang biasa dilakukan oleh orang Jepang secara bersamaan.
Tentu saja, adegan ini membuat semua terkejut bahkan Filaret. Baginya melihat Dylan melakukan itu adalah hal yang wajar. Tapi, melihat Awin melakukan hal yang sama itu membuatnya sangat terheran-heran.
__ADS_1
Bagiamana bisa orang yang baru saja mereka kenal, bisa melakukan apa yang biasa di lakukan Kakak nya?
Sebenarnya, di dalam hati Dylan dan Awin. Mereka juga memikirkan hal yang sama. Tetapi, keduanya memilih untuk mengabaikan hal itu.
"Btw, kalau aku boleh tahu...... Apa tujuan kalian masuk ke Akademi Estonia?".
Dylan memecah suana dengan pertanyaan tujuan rekan-rekan masuk kedalam Akademi Estonia.
""Hanya formalitas, tidak lebih dan tidak kurang"".
"Kalau aku ingin jadi kuat".
"Aku ingin menjadi bagian Chivalric Order".
"Dapat cewek cakep + sexy".
Emilia dan Olivia memberikan jawaban yang sama, Arnold ingin menjadi kuat, Ornest ingin masuk Chivalric Order, dan Garcia yang ingin dapat gadis cantik.
"Kalau kau Awin?".
Pertanyaan Dylan sukses membuat Awin terkejut sesaat sebelum akhirnya dia berbicara dengan tatapan penuh kehangatan seperti mengingat seseuatu.
"Aku ingin memperbaiki perekonomian dan mengembangkan wilayah Asford...... Bukan hanya itu saja, tapi aku juga ingin melindungi wilayah dan penduduk nya yang sudah sangat baik kepadaku...... Makanya, selain menjadi kuat aku harus punya pengetahuan yang cukup untuk mengelola wilayah Asford dengan baik.... Dan aku ingin kedua orang tuaku bangga akan hal itu".
Jawaban Awin membuat semua orang terdiam dan menatap kearahnya.
"Kalau aku ingin...... Mengubah sistem bangsawan feodal yang masih di terapkan Kerajaan ini".
Menyadari ada tatapan penasaran dari orang-orang di sekitar nya. Ritzia melanjutkan ucapannya.
"Kalian semua pasti tahu, kan?...... Betapa buruknya kelakuan para bangsawan di Kerajaan ini..... Mereka sering kali merendahkan orang lain, tanpa menyadari betapa tidak berdayanya mereka sendiri..... Belum lagi, mereka sering menggunakan kekuasaan yang mereka punya untuk menekan orang yang lebih lemah..... Melihat itu, membuatku tersadar.... Bahwa pentingnya pengetahuan soal "Royal Obligation" yang sesungguhnya.... Dan mengembalikan makna dari itu adalah tujuanku masuk ke Akademi ini".
Ritzia melihat kearah langit-langit goa.
"Meski keinginan ku ini mendapat dukungan penuh dari Yang Mulia dan beberapa bangsawan........ Aku tahu jalan yang aku pilih ini bukan jalan yang mudah.... Nyatanya, banyak bangsawan kolot yang berusaha menjatuhkan ku dengan berbagai cara..... Bahkan Vanessa, adikku sendiri saja juga ingin menghancurkan ku".
Ritzia kembali menatap yang lain dengan tatapan penuh tekad.
"Kemudian aku sadar..... Bukan hanya kekuatan politik saja, yang aku butuhkan..... Aku juga perlu memperkuat diriku sendiri.... Dengan begitu, orang-orang akan terkesan dan kagum dengan kekuatanku.... Dan mereka akan menghormati dan mengikuti ku dengan sendirinya...... Lalu, akan aku ubah Kerajaan ini menjadi kerajaan yang lebih baik".
Mendengar tujuan Ritzia membuat semuanya tersenyum. Bukan karena menghina, melainkan kagum dengan sosok Putri yang ada di depannya.
"Kalau kau bagaimana Dylan?".
Ritzia kembali bertanya tentang tujuan Dylan yang sebenarnya nya. Dylan sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membuka suara.
"Aku.... Ingin menjadi kuat...... Bukan hanya kuat saja..... Tapi, aku ingin menjadi orang yang bisa melindungi apa yang berharga bagiku.... Dan menjadi sosok yang dapat menginspirasi banyak orang.... Karena itu, makanya aku masuk ke Akademi ini.... Supaya aku bisa bertemu dengan orang-orang kuat di luar wilayah Arcadia.... Belajar dari mereka.... Lalu menggunakan ilmu dan pengalamn yang aku dapat untuk melindungi dan menginspirasi semua orang-orang dan merubah takdirku".
Jawaban Dylan juga membuat semua orang juga tersenyum sebagai bentuk penghormatan dan kagum dengan tujuan Dylan.
Namun, tidak dengan Awin yang menatap Dylan dengan tatapan penuh keterkejutan.
"Ritsuka Aniki".
"Hm?".
Awin tanpa sadar menyebut nama seseorang yang terdengar asing. Dylan yang mendengar hal itu segera menoleh ke Awin yang ada di sebelah nya.
Beruntung nya, Awin yang tersadar akan ucapan spontan nya buru-buru mengunyah daging yang dia pegang.
"Hm, Hm, Hm...... Jadi, itu tujuan dan cita-cita kalian semua, ya".
Tiba-tiba terdengar suara seseorang orang yang sangat familiar dan ketika mereka menoleh, rupanya sudah ada Frey yang duduk di sana sambil memakan jamur bakar.
""""""FREY-SENSEI!!!!"""""".
Menyadari keberadaan guru mereka yang muncul tiba-tiba. Tentu saja membaut semuanya terkejut bukan main bahkan Dylan sendiri juga ikut terkejut.
"Ke-kenapa anda bisa ada sini?".
"Bagaimana anda bisa menemukan kami?".
Arnold dan Sylvia yang terkejut langsung mencecar guru mereka yang entah bagaimana bisa menemukan keberadaan mereka di tengah hutan belantara.
Namun, Frey tidak memberikan jawaban. Dia masih asyik mengunyah jamur bakar di tangan nya sambil berbicara soal tujuan Dylan dan yang lainnya.
"Menginspirasi banyak orang, Merubah takdir, Merubah sistem bangsawan feodal, Memakmurkan Kerajaan, Memperbaiki Ekonomi wilayah, Masuk Chivalric Order, Menjadi Kuat, Mendapatkan Gadis cantik, dan Formalitas..... Apapun cita-cita dan tujuan kalian, itu tidaklah masalah....... Dan tentu saja, akan banyak orang diluar sana yang mengolok-olok dan meremehkan cita-cita kalian......... Yang perlu kalian lakukan sekarang, adalah menunjukkan pada mereka yang menganggap remeh cita-cita kalian....... Perbedaan dalam kemampuan dan kekuatan mutlak".
Frey mengambil gelas yang berisi air lalu meminumnya dan kembali berbicara.
"Tentu saja, itu bukan hal yang mudah..... Tapi, jika itu kalian..... Aku yakin, kalian bisa mengeluarkan potensi terbesar dalam diri kalian.... Cita-cita kalian akan terwujud".
Semua terdiam mendengar apa yang dikatakan Frey. Sempat terjadi keheningan diantara mereka semau sampai akhirnya Ornest buka suara.
"Apa itu mungkin, Sensei?".
"Tentu saja mungkin........ Dan yang lebih penting dari itu semua..... Kalian harus tetap jadi diri kalian sendiri".
"Bahkan hanya untuk sekedar Formalitas".
"Bahkan cuma formalitas..... Ya..... Jika itu memang yang kalian inginkan".
Mendengar jawaban yang penuh harapan dari Frey membuat mereka semua sangat senang termasuk Dylan.
Dia sekarang yakin keputusannya untuk datang ke Akademi Estonia ini adalah pilihan yang tepat.
__ADS_1
Akhirnya pada malam hari itu seluruh Siwa kelas 1-S beserta walik kelas mereka menikmati waktu Camping bersama di hutan dengan penuh suka cita.
[Note : Maaf kalau cerita di chapter ini agak membingungkan. Soalnya, lagi ngak tahu mau nulis apa + kesibukan Author di Real Life yang lagi ada "sedikit" masalah🙏]