
Begitu gerbang itu dibuka, apa yang mereka lihat adalah sebuah ruangan yang sangat gelap.
"Gelap sekali.... Aku benar-benar tidak bisa melihat apapun".
Di saat Awin sedang berbicara sendiri, Dylan mencoba mengecek sekitar dengan meraba-raba dinding. Sampai akhirnya, tangannya merasa menyentuh sesuatu yang cair.
Setelah di perhatikan dan bahkan sempat di hirup, Dylan terkejut karena dia tahu apa cairan itu. Tanpa membuang waktu Dylan mulai untuk membenturkan kedua pedang katana nya.
"Hei, Dylan..... Apa yang kau lakukan?".
Awin yang melihat tindakan Dylan yang terasa aneh mencoba untuk bertanya.
"Awin.... Pergilah kesebelasan sana.... Lalu benturkan kedua pedangmu sampai memercikkan api".
Awin yang kebingungan tetap melakukan apa yang Dylan katakan. Begitu kedua senjata mereka di tabrakan sampai menciptakan percikan api.
Tiba-tiba api mulai muncul dan menjalar mengikuti arus lintasan yang ada sekaligus menerangi seluruh ruangan itu.
Dylan kemudian berpaling kearah Awin sambil tersenyum, tapi Awin merespon dengan tatapan jengkel sambil bilang.
"Bilang kek.... Dari awal".
Keduanya kembali berjalan untuk memeriksa ruangan yang mirip seperti aula besar itu dengan seksama.
"Hei, Awin...... Kenapa bisa ada ruangan sebesar aula ini di dalam Dungeon?".
"Kalau kau tanya aku.... Terus aku tanya siapa?..... Aku juga sama herannya denganmu, tahu".
"Jawaban apa itu, njir..... Aku tanya kau, karena akhir-akhir ini aku sering melihatmu membaca beberapa buku mengenai Dungeon..... Jadi, aku pikir kau mengetahui sesuatu".
"Iya, aku memang membaca buku dengan tema seperti itu akhir-akhir ini..... Tapi, tidak ada satupun yang menjelaskan soal adanya Aula besar didalam Dungeon".
Disaat keduanya sedang sibuk memeriksa setiap sudut ruangan di Aula itu. Keduanya tiba-tiba merasakan tekanan yang sangat kuat muncul entah dari mana.
Lalu, dari arah langit-langit di tengah aula sesuatu yang sangat besar turun dengan kecepatan yang luar bisa. Sangking cepatnya, sesuatu itu sampai menggetarkan lantai aula dan menerbangkan debu-debu yang ada di sana.
Dylan dan Awin berusaha menyeka debu-debu agar tidak masuk ke mata dengan menggunakan tangan mereka.
Begitu, debu-debu itu berlahan-lahan menghilangkan. Keduanya dibuat tercengang, karena sosok yang muncul di hadapan mereka adalah monster Kalajengking raksasa dengan 3 ekor penyengat dan 4 capit besar yang sekarang menatap tajam kearah keduanya.
"Woi, woi, woi,..... Bagaimana monster ini bisa ada disini?".
"Aku juga tidak tahu..... Saat kita memasuki ruangan ini, aku tidak merasakan hawa keberadaannya".
"Lalu apa rencana mu?".
"Iya, apa lagi...... Kita harus melawannya".
Keduanya segera memasang kuda-kuda bertarung dan bersiap-siap melawan monster Kalajengking itu.
(-----------------)
Selama pertarungan berlangsung, terbukti Kalajengking itu bukan lawan yang bisa dianggap remeh.
Bagaimana tidak?
Setiap kali Dylan dan Awin melakukan serangan, serangan kedua tidak bisa menembus kulit Kalajengking itu yang sangat keras.
Belum lagi, Kalajengking itu juga memberikan balasan serang yang luar biasa brutalnya. Pertama Kalajengking itu, menyerang Dylan dan Awin menggunakan 3 ekor sengatannya dengan kecepatan yang luar biasa.
Dylan dan Awin berusaha untuk menghindar dan menangkis serangan sengatan ekor itu. Belum sampai di situ saja, Kalajengking itu juga mencoba memotong keduanya dengan 4 capit besar dan tajam nya.
Tentu saja, Awin dan Dylan berusaha sekuat tenaga untuk menangkis dan menghindar dari serangan Kalajengking yang membabi-buta itu sampai menghancurkan pilar dan dinding Aula.
Sampai akhirnya, Awin yang sudah kelelahan tidak bisa menghindar sambaran dari salah satu capit itu dan membuatnya terpental dan menghantam tembok dengan sangat keras.
"AWIN!!".
Di saat pandangan Dylan teralihkan kearah Awin yang terlempar, momen itu di manfaatkan Kalajengking itu untuk melakukan hal yang sama.
Dan hal itu berhasil.
Dylan yang menurunkan pertahanan terpental dan bahkan sampai berguling-guling di tanah karena tidak sengaja menurunkan pertahanan.
"Ugh..... Dylan..... Kau tidak apa-apa?".
Awin yang terluka mencoba bertanya tentang kondisi Dylan.
"Ugh..... Jangan khawatir dengan ku..... Khawatir kan saja kondisimu.... Sialan..... Makhluk itu mempunyai pertahanan yang kuat..... Dan aku kesulitan menemukan celah untuk menebasnya".
Melihat Dylan yang tertatih dan menahan rasa sakit masih saja terus berpikir untuk mencari cara untuk mengalahkan monster Kalajengking ini.
"Dylan.... Lebih baik kau pergi saja.... Biar aku yang lawan monster ini sendirian".
"Huh?".
Tiba-tiba Awin berdiri di depan Dylan dan menyuruhnya untuk pergi meninggalkannya sendirian melawan monster ini.
Butuh beberapa detik bagi Dylan untuk benar-benar mencerna apa yang dikatakan oleh Awin. Sebelum akhirnya dia berdiri sambil memegang pundaknya dengan sangat keras.
"Kau itu ngomong apa, bangsat?..... Aku tidaklah serendah itu untuk meninggalkan rekanku seorang diri hanya karena monster yang agak kuat muncul".
__ADS_1
"TAPI, KONDISI MU ITU LEBIH PARAH DARI KU..... PERGI SAJA SANA!!!".
"KAU JUGA SAMA PARAHNYA DENGANKU..... JANGAN JADI EGOIS DI SITUASI GENTING SEPERTI INI!!!!".
"SIAPA YANG KAU BILANG EGOIS?!!!! AKU HANYA BERPIKIR SECARA RASIONAL...... KARENA ITU LEBIH BAIK KAU SAJA YANG PERGI!!!!".
"AKU TIDAK PEDULI!!!! AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN SIAPAPUN BAHKAN KAU MESKI TANPA RENCANA SEDIKITPUN!!!".
Di saat mereka berdua saling berdebat, Kalajengking kembali menyerang dan keduanya memutuskan untuk menghindar.
"Baiklah kita tunda perdebatan ngak penting ini..... Dan ayo habisi si jelek ini".
"Iya kau benar..... Kita kalahkan dulu dia".
"Karena dari tadi kau terus terusan bilang tidak punya rencana....... Kebetulan, aku punya sebuah rencana".
"Hou....".
"Tapi, aku butuh bantuan mu untuk mengukur waktu".
"Serahkan saja padaku".
Dylan segera berdiri di depan Awin untuk melindungi nya, sementara Awin menaruh senjata dan mulai merapalkan sebuah mantra sihir.
Melihat hal itu, Kalajengking yang merasa akan adanya bahaya mencoba mendekat dan langsung menyerang dengan ke 3 ekor sengatnya dan ke 4 capit besarnya.
Menyadari hal itu, Dylan dengan sekuat tenaga berusaha setengah mati dan mengabaikan setiap luka yang dia terima untuk menangkis setiap serangan Kalajengking itu.
"Hooooaaaaaa.....".
Teriakan yang di keluarkan Dylan untuk membantu menambah semangat bertarungnya. Kemudian setelah memakan waktu cukup lama akhirnya Awin berhasil menyelesaikan mantra.
"DYLAN MUDUR SEKARANG!!!!".
Dylan segera melompat mundur kebelakang Awin. Lalu Awin mengarahkan tangannya ke Kalajengking itu dan mengeluarkan sihirnya.
"Fire Magic x Dark Magic : Dark Azure Sky".
Dari atas Kalajengking itu muncul sebuah bola hitam raksasa yang lebih besar dari badannya turun dan langsung membakar monster Kalajengking itu.
Bersamaan dengan itu, Awin mulai merasakan rasa lelah yang luar bisa. Karena tidak kuat menopang badannya di hampir saja terjatuh. Untungnya, Dylan dengan segera membopong badannya.
"Kerja bagus, Awin.... Lihat kau berhasil membakarnya".
Dylan memberikan pujian kepada Awin yang berhasil membakar monster Kalajengking itu dengan saru kali serangan.
"Terimakasih..... Atas pujiannya..... Tapi..... Monster itu..... Belum..... Mati".
Dan benar saja, Kalajengking itu muncul dari kobaran api hitam itu dengan badanya yang hampir meleleh.
"Istirahat..... Sisanya serahkan saja pada ku".
Setelah menaruh Awin dengan hati-hati. Dylan berjalan mendekat kearah Kalajengking itu dengan matanya yang sudah berubah menjadi merah dan aura membunuh yang kuat.
Melihat sosok yang membuat babak belur, membuat Kalajengking itu sudah tidak bisa menahan rasa amarahnya lagi, sehingga dia langsung menerjang dan bersiap menerkam Dylan.
Tapi, di dalam keheningan.
"Phantom Blade : The Smooth Impact Blade".
Sebuah ayunan pedang yang halus dan tajam langsung membelah Kalajengking itu menjadi 2. Bukan cuma itu saja, setiap Bagian yang terbelah itu juga ikut meledak menjadi berkeping-keping.
"Sudah berakhir".
Ucap Dylan sambil kembali memasukkan pedang Katana nya dan dia segera berjalan kembali menuju Awin yang terduduk lemas.
(------------------)
"Dimana..... Ini?".
Awin tiba-tiba merasa berada di suatu tempat yang tampak asing. Setelah dia melihat-lihat sekitarnya dia mulai tahu dimana dia sekarang.
"Ini...... Bukankah, ini..... Jepang modern...... Kenapa aku bisa ada disini?".
Kerena kebingungan, Awin memutuskan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat sekitarnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai akhirnya langkahnya terhenti, karena melihat seorang anak laki-laki yang sedang menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Setelah diperhatikan lebih seksama lagi, Awin sadar bahwa anak yang sedang menangis itu adalah dirinya di kehidupan sebelumnya.
"Ah, aku ingat...... Aku menangis karena dibully oleh beberapa anak kecil yang mengejekku yatim-piatu".
Tak berselang lama, muncul seorang anak laki-laki lain yang mendekat kearah anak laki-laki yang sedang menangis itu.
{Kenji, darimana saja kau...... Are? Kau kok menangis, ada apa?}
{Nii-nii....... Tadi aku dibully oleh beberapa anak lain, karena aku ini yatim-piatu...... Ritsuka nii-niii..... Kenapa kita jadi yatim-piatu?..... Kenapa kita tidak bisa menjadi anak-anak yang normal?}.
Mendengar jawaban dari adiknya, sang Kakak laki-laki itu hanya bisa terdiam. Lalu, dia membalikkan badannya dan menunjukkan punggung belakangnya.
{Kau pasti lelah karena bermain seharian...... Naiklah}
Meski terdiam sesaat anak laki-laki bernama Kenji itu segera naik ke punggung Kakak laki-lakinya yang bernama Ritsuka ini.
__ADS_1
{Yosh, pegangan yang erat ya...... Bersiap.... Siap..... Ayoooooo.....}.
Ritsuka segera berlari sekencang-kencangnya sambil membawa Kenji di belakang nya. Meski agak berbahaya tampak jelas wajah senang yang di tunjukkan oleh Kenji karena tingkah Ritsuka.
Awin yang melihat itu hanya bisa memberikan tatapan hangat kepada momen yang sangat nostalgia itu.
"Itu benar..... Meski terkadang dia kasar dan semaunya sendiri..... Ritsuka Aniki selalu baik kepadaku".
Kemudian tiba-tiba dipindahkan ke sebuah rumah yang entah milik siapa. Di sana, dia melihat Kenji yang sudah dewasa sedang menyiapkan makan malam.
{Fiuh...... Akhirnya selesai juga..... Aniki pasti ngomel sepanjang jalan kenangan...... Jika dia tahu kalau aku masak Kare hari ini...... Tapi.... Biarin ajalah.... Toh, nanti tetep di makan kalau dia laper.... Hm?}.
Lalu, Kenji teralihkan dengan suara telpon yang tiba-tiba berbunyi. Dan tanpa basa-basi dia segera berjalan menuju kearah telpon dan mengangkat nya.
{Halo, selamat malam..... Dengan kediaman Fujimaru..... Ada yang bisa saya bantu?}.
Tak berselang lama ekspresi Kenji berubah menjadi murung dan telpon yang dia pegang jatuh ketanah setelah mendengar apa yang dibalik telpon itu.
Kemudian, di rumah duka Kenji saat ini sedang bersedih karena sekarang dia sedang berdiri di depan jenazah Kakaknya yang terbujur kaku di dalam peti mati.
{Hei, bangsat..... Mau sampai kapan kau pura-pura tidur, huh?..... Cepet bangun, Kakak bajingan..... Kau janji akan menemani ku setelah kedua orang tua kita meninggalkan..... Terus kenapa kau malah tertidur di sini?...... CEPAT BANGUN!!!! DASAR KAKAK KEPARAT!!!}.
Dengan kesedihan dan emosi yang meluap-luap Kenji dengan kasarnya menendang peti mati Ritsuka. Bahkan beberapa pelayat sampai harus menahannya agar tidak semakin menjadi-jadi.
Awin yang melihat dirinya dimasa lalu hanya bisa menatap sedih karena dia ingat betul rasanya kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dia punya.
(------------------)
Kembali ke Dylan dan Awin yang berada di Dungeon setelah keduanya mengalahkan Kalajengking raksasa.
Karena Awin pingsan, Dylan tidak punya pilihan selain menunggu nya untuk kembali siuman. Makanya, dia membuat api unggun untuk menghangatkan badan.
(Jika aku perhatikan lagi.... Wajah tertidur Awin mirip dengan wajah Adik laki-laki ku Kenji di kehidupanku sebelumnya..... Bukan cuma itu saja....... Bahkan cara bicara, cara jalan, cara makan, dan senjata yang dia pilih..... Semuanya benar-benar mirip dengan Awin).
"Aniki".
"Hm?".
Dylan sempat menengok kearah Awin lagi, karena dia sempat mendengar nya menyebut Aniki.
Tak berselang lama Awin mulai membuka kedua matanya dan perlahan-lahan mulai terduduk sambil mengusap-usap matanya.
"Sudah bangun, ya..... Pangeran tidur?".
"Sarkasme macam apa itu?.... Lebih penting sudah berapa lama aku pingsan?".
"Sekitar 2 jama atau lebih.... Entahlah".
Keheningan terjadi diantara mereka dalam waktu yang lama. Sampai, akhirnya Awin mulai buka suara.
"Hei, Dylan..... Entah mengapa setiap kali aku memperhatikanmu, entah mengapa aku selalu merasa kau itu mirip dengan Kakak laki-laki ku".
"Hm?...... Kumohon jangan samakan aku dengan dia, deh...... Palingan Kakak laki-laki mu itu sampah ngak guna".
Seketika Awin memancarkan aura membunuh yang kuat dan menatap Dylan.
"Hei, bajingan..... Apa kau sudah bosan hidup, huh? Sampai kau berani mengejek Kakak laki-laki ku itu".
Dylan yang melihat Awin yang tampak murka, dengan santainya mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil berbicara.
"Yaelah..... Emosian amet...... Kayaknya aku juga goblok deh..... Karena mengira melihat adik laki-laki ku di dalam dirimu..... Bahkan dia itu ratusan kali lebih baik darimu".
"Heh.... Kalau bicara itu lihat lawan bicaramu bukan melihat kearah lainnya...... Aku yakin kalau adik laki-laki mu itu cuma bocah labil yang punya sakit mental".
Mendengar hal itu, dengan sigap Dylan mengalihkan pandangannya ke Awin dengan tatapan jengkel.
"AKU AKUI KALAU BOCAH LAKNAT ITU MEMANG GILA, DAN EGOIS!!! BELUM LAGI KEBIASAANYA YANG SELALU CARI ULAH BAHKAN SERING BERKELAHI DENGAN PARA ANGGOTA GENG MOTOR!!!! TAPI, DIA RATUSAN KALI LEBIH BAIK DARI PADA DIRIMU!!!".
"KAKAK LAKI-LAKI KU JUGA LEBIH BAIK DARI DIRIMU!!!!! MESKI DIA SANGAT TENGIL, OMONGAN CEPLAS-CEPLOS, SEENAK JIDATNYA SENDIRI, DAN MULUTNYA YANG BUSUK!!!! DIA ITU RIBUAN KALI LEBIH BAIK DARIMU!!!!".
Setelah berdebat panjang lebar dan buang-buang tenaga, Dylan dan Awin akhir berhenti karena kehabisan nafas dan terengah-engah.
Di jeda istirahat itu, keduanya mulai menyadari ada sesuatu yang janggal. Dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh keheranan.
"Tunggu dulu, Awin....... Bukankah kau pernah cerita bahwa kau itu adalah anak tunggal....... Terus, kenapa kau bisa bilang punya Kakak laki-laki padahal kau itu anak tunggal?".
"Itu juga yang ingin aku tanyakan...... Kau bilang bahwa kau cuma punya Filaret sebagai adik perempuan mu..... Lalu bagaimana kau bisa bilang punya adik laki-laki?".
""Eh?""
Bukannya saling menjawab keduanya malah saling berbalas pertanyaan. Keduanya sama-sama kebingungan harus menjawab atau mengelus dengan cara apa.
Sampai akhirnya.
Keduanya saling menatap dan perlahan-lahan demi perlahan-lahan kedua mulai menunjukkan ekspresi yang kaget dan bahkan mulut keduanya mulai menganga karena sangking terkejutnya. Lalu dalam momen bersamaan keduanya langsung berteriak bersama.
"RUPANYA INI ELU YA, RITSUKA ANIKI!!!".
"LAH BUSET!!!!! TERNYA ELU TOH, KENJI!!!".
Di momen itu keduanya baru sadar bahwa mereka adalah Kakak beradik di kehidupan sebelumnya yang bereinkarnasi di dunia yang sama dengan tubuh yang berbeda.
__ADS_1
[Note : Nama asli Dylan di kehidupan sebelumnya adalah Ritsuka Fujimaru......... Dan Nama asli Awin di kehidupan sebelumnya adalah Kenji Fujimaru].