
Akademi Estonia.
Akademi terbesar dan termegah di Kerajaan Ingrid yang di khususkan untuk para bangsawan. Tujuan didirikannya Akademi ini adalah untuk mencetak para bangsawan muda yang berbakat sehingga dapat berkonstribusi pada Kerajaan di masa depan.
Meski begitu, sekolah ini dengan tegas menolak memberikan perlakuan istimewa pada para siswa siswi bergelar tinggi.
Di sinilah, cerita sesungguhnya "Long Life Brave" baru dimulai. Tapi, saat ini sedang diadakan ujian untuk menilai di kelas mana para bangsawan berada.
Kelas di bagi menjadi 5.
Dari yang paling bawah yaitu kelas D dan yang paling atas adalah kelas S. Sesuai dengan namanya kelas S hanya diisi oleh mereka siswa siswi yang paling berbakat. Terlepas dari apa gelar keluarga mereka.
Yang membuat kelas S lebih istimewa lagi adalah bahwa hanya 10 siswa terbaiklah yang boleh menempati kelas itu.
Namun, tetap saja.
Masih banyak siswa dan beberapa guru yang menyombongkan status dan gelar kebangsawanannya kepada semua orang.
"Woi. Fira".
"Iya, Nii-san".
"Kau lihat itu, kan?".
"Iya. Sungguh antrian yang menjijikkan".
"Para calon siswa harap berbaris rapi, disebelah sini!!!".
Setelah istirahat sehari di penginapan. Dylan, Fira, Tina dan Sonia datang ke Akademi Estonia untuk segera mengikuti ujian.
Tapi, meski mereka berusaha datang lebih awal. Ternyata sudah banyak calon siswa yang hadir dan mengantri panjang di sana.
Panjang nya antrian itu sampai membuat Dylan dan Filaret yang melihatnya entah mengapa merasa jijik.
Namun, mereka tidak punya pilihan lain selain ikut mengantri agar dapat giliran.
Dan setelah antrian yang panjang sampai makan waktu 2 jam lamanya. Giliran mereka untuk memasuk kedalam ruangan.
Dylan dan Filaret masing-masing menerima semacam kartu kecil yang bertulis ruangan mana yang harus mereka masuki.
Karena tulisan di kartu mereka berbeda, Dylan dan Filaret segera berpisah menuju ke ruangan masing-masing.
Sesampainya, diruang yang dituju. Dylan segera duduk di kursi yang disediakan. Lalu seorang pria segera mendekat sambil membawa beberapa tumpuk dokumen.
"Dylan van Arcadia, kan? Ini adalah dokumen anda, silahkan dibaca dan tanda tangani".
"Oh, baiklah".
Tanpa membuang waktu lagi, Dylan segera memeriksa, membaca dan menandatangani setiap dokumen yang ada.
Setelah setengah jam berlalu, Dylan akhirnya selesai dengan semua dokumen itu dan menyerahkan kepada pria yang membawanya tadi.
"Pak, dokumennya sudah saya baca dan tanda tangani".
"Baik.... Sekarang, pergilah ke asrama siswa di sebelah barat. Berikan ini pada resepsionis maka dia akan memberikan kunci kamar untukmu".
Mendapatkan instruksi, Dylan dan Sonia segera pergi ke gedung asrama yang dimaksudkan untuk tempat tinggal para siswa.
Dan setelah berkoordinasi dengan petugas di resepsionis, Dylan mendapatkan kunci kamar 107 yang ada dilantai 1 berhadapan langsung dengan taman Asrama.
Ketika mereka masuk, ruangan itu tampak sangat rapi dan bersih, meski begitu Dylan dan Sonia masih memeriksa setiap sudut ruang dan barang-barang yang ada di sana, termasuk bilik untuk tempat tidur pelayan.
"Luar biasa!! Setiap sisi ruangan nya rapi, bersih, dan berkilau..... Bahkan ada kamar mandi pribadi dan dapur kecil juga".
__ADS_1
Sonia sangat kagum dengan bagus nya ruangan yang akan mereka tempati selama di Akademi Estonia.
"Ini Akademi yang dikhususkan untuk para Bangsawan.... Wajar jika mereka memberikan fasilitas semacam ini... Jangan, terlalu di kagumi".
"Iya baiklah".
Tok Tok Tok.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Tanpa menunggu instruksi, Sonia segera membukakan pintu dan menemukan seorang pria yang berdiri didepan.
"Maaf mengganggu, apa ini kamar siswa bernama Dylan van Arcadia?"
"Iya, benar. Apa apa?".
"Oh, ini.... Aku ingin menyampaikan bahwa 1 jam lagi, akan diadakan tes untuk menentukan di kelas mana tuan anda akan ikuti".
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan".
"Kalau begitu saya pamit undur diri. Terimakasih atas kerjasama".
Setelah menyampaikan tujuannya pria itu segera pergi untuk memberi tahu siswa lainnya. Untungnya, percakapan Sonia dan pelayan itu didengar oleh Dylan. Jadi, Sonia tidak harus menyampaikan atau menjelaskan nya lagi.
(-------------)
1 jam kemudian.
Dylan berjalan sendirian di lorong Akademi untuk menuju ruangan untuk tes calon siswa. Sementara, Sonia berada di kamar untuk menata baju dan perlengkapan Dylan.
Tes terbagi menjadi 3 tahap.
Yang pertama adalah tes tertulis. Para siswa akan diberi beberapa lembar soal dan menjawab pertanyaan, soal yang diujikan kebanyakan adalah soal sihir dan sejarah. Tapi terkadang ada soal matematika dan geografi.
Yang kedua adalah tes sihir. Tes ini terbagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama adalah pengukuran energi sihir dengan kristal sihir. Tahap kedua adalah mengetahui apa siswa memiliki sihir atribut atau tanpa atribut. Tahap ketiga adalah praktek sihir dimana para siswa akan di tes seberapa kuat dan sampai batas mana mereka bisa menggunakan sihir.
Berjalan cukup lama, akhirnya Dylan sampai di ruangan tes yang diperuntukkan untuk tes tertulis.
Begitu masuk, tampak banyak siswa yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing dan menunggu petugas tes untuk datang.
Tak mau membuang waktu lagi, Dylan segera naik ke bagian atas sendiri dan duduk di meja pojok kiri yang berdekatan dengan jendela.
Sementara itu, para peserta yang lain mulai berbisik satu sama lain, penyebabnya adalah karena mereka melihat Dylan yang berada di sana.
"Hei, bukankah dia Dylan. Putra Earl Arcadia?".
"Iya, benar. Itu memang dia".
"Dia yang menyiram Putri Vanessa dengan secangkir teh di pesta Ball waktu itu".
"Apa? Yang benar? Dasar sinting".
"Apa dia tidak pernah belajar etiket sama sekali".
"Waktu pesta saja dia datang dengan memakai sweater saja. Dan penampilan seperti habis bangun tidur".
"Kedua orangtuanya pasti malu punya anak seperti dirinya".
Para calon siswa itu terus melontarkan ejekan kepada Dylan, yang sebenarnya Dylan sendiri tidak peduli akan hal itu.
Tak berselang lama pintu ruangan terbuka dan seorang pria berkacamata dengan topi sarjana masuk kedalam dan berdiri di podium untuk guru.
"Selamat siang para calon siswa Akademi Estonia. Saya adalah Jason van Taylor penanggung jawab dan pengawas tes tertulis ini...... Pertama, saya akan bagikan beberapa lembar soal kepada masing-masing dari kalian dan selembar kertas untuk jawabannya..... Kedua, batas waktu kalian adalah 1 jam untuk menyelesaikan nya..... Ketiga, jika ketahuan melakukan 1 saja kecurangan. Maka akan langsung gugur dan kalian harus mengulang lagi tahun depan".
Setelah menjelaskan tahapan tesnya, guru pengawas bernama Jason ini segera membagikan soal dan lebar jawab ke pada para siswa.
__ADS_1
"Nah, apa kalian semua sudah menerimanya?".
"Sudah, Sensei".
"Kalau begitu tes nya dimulai.......... Sekarang".
Dengan aba-aba dari Jason, para siswa mulai membuka dan mengerjakan soal tes yang mereka terima.
Tampak raut wajah serius dan penuh konsentrasi dari para siswa lainnya. Namun, ada juga yang panik dan meneteskan keringat dingin, karena rasa tegang dan kebingungan yang mereka rasakan.
Sayangnya, semua itu tidak ada apa-apa nya bagi Dylan yang saat ini mengerjakan setiap soal itu dengan santai sambil memangku wajah dengan tangan kirinya.
(-----------------)
1 jam sudah berlalu, menandakan tes tertulis sudah berakhir.
Tampak raut wajah yang tegang ditunjukkan oleh semua siswa yang ada di ruangan itu, mereka semua berharap-harap cemas dan penasaran akan hasil tes mereka yang saat ini sedang di koreksi oleh Jason.
Para siswa tidak boleh meninggalkan ruangan selama sang pengawas melakukan koreksi tes tertulis mereka.
Setelah beberapa saat, Jason yang sudah selesai mengembuskan nafas panjang dan mulai berbicara dengan para peserta siswa.
"Ahem.... Jujur, aku benar-benar sangat kecewa karena hasil kalian semua ini sungguh keterlaluan..... Aku bertanya-tanya, memangnya apa yang kalian pelajari selama ini?..... Bahkan rata-rata nilainya tidak sampai 20%".
Jason tampak sangat kecewa dengan hasil tes para siswa yang ada di sana dan mempertanyakan apa yang dilakukan para siswa selama ini sebelum mendaftarkan diri.
Banyak siswa yang tertunduk diam karena malu mengetahui ketidak kemampuan mereka. Namun, ada beberapa siswa yang mulai emosi karena Jason seolah-olah meremehkan mereka.
Terlepas dari itu semua, Jason tiba-tiba tersenyum dan kembali berbicara.
"Beruntung nya, diantara kalian semuanya...... Ada beberapa siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan baik dan benar..... Bahkan satu diantara mereka, berhasil mendapatkan nilai bagus.... Dan menjadi siswa pertama dalam sejarah Akademi Estonia yang menjawab seluruh soal tes dengan sempurna".
Para siswa langsung penasaran akan sosok siswa yang dimaksud oleh Jason. Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, Jason segera memberi tahu siapa siswa itu.
"Semuanya harap beri tepuk tangan yang meriah untuk siswa bernama..... Dylan van Arcadia".
Begitu namanya disebut, Dylan segera berdiri dan berjalan turun menuju Jason yang berdiri di podium.
Namun, para siswa tidak memberikannya tepuk tangan. Malah memberikan tatapan jengkel kearahnya. Tentu saja, mereka merasa sangat jengkel karena tidak menyangka bahwa Dylan lebih pintar dari mereka.
"Dylan-kun, selamat atas keberhasilan tes tertulis mu.... Dengan ini, kau bisa lanjut ke tes selanjutnya.... Kau boleh meninggalkan ruangan ini".
"Terimakasih, Jason-sensei. Saya undur diri dahulu".
Selesai memberikan hormat kepada Jason, Dylan segera meninggalkan ruangan dan berjalan menuju aula tempat dimana tes kedua di laksanakan.
Meninggalkan para siswa yang masih memberikan tatapan jengkel kearahnya dan mengumpat soal dirinya.
(--------------)
Meski hampir semua siswa menunjukkan kejengkelan kepada Dylan yang tidak berdasar.
Ada seorang siswi yang tidak mengejek Dylan sama sekali, malahan dia terus menatapnya dengan kondisi terkejut.
Siswi itu adalah orang kedua setelah Dylan yang berhasil lulus dalam tes tertulis yang diawasi oleh Jason.
Siswi itu segera keluar dan berusaha untuk bertemu Dylan. Tapi sayangnya, Dylan sudah melangkah jauh didepannya dan sangat sulit untuk dikejar.
"Jadi, itu dia..... Dylan van Arcadia..... Putra Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia dan...... Orang yang membunuh Oscar-san".
Tanpa Dylan sadari, siswi yang ingin berbicara dan bertemu dengannya itu adalah Putri Sylvia fou Rachael.
Yang saat ini, mendaftar sebagai siswa pindahan dari Kerajaan Rachael dan berperan sebagai duta besar di Kerajaan Ingrid.
__ADS_1