Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 44 : Penyergapan.


__ADS_3

Di saat Frey, Dylan, Awin, Arnold, Ritzia dan Filaret sedang dalam perjalanan menuju Museum Lazarus.


Di fasilitas bawah tanah Museum Lazarus.


"KYAAAAAAA.......!!!!!".


Suara teriakan kesakitan Claudia yang diikat di tiang salib karena badannya di sengat oleh banyaknya listrik berwarna merah.


Di sisi lain, Morgan dan Thousand Faces tampak tersenyum sambil melihat layar monitor. Di layar itu ada semacam gambar diagram yang lambat lain berubah dari warna kuning berubah menjadi warna hijau.


Setelah nya, aliran listrik yang menyengat Claudia mulai mereda. Tampak jelas ekspresi lelah tergambar di wajahnya dan keringat yang terus bercucuran membasahi badannya.


"Luar biasa..... Luar biasa..... Sepertinya gadis ini memang cocok untuk jadi Katalisator dari eksperimen kita".


Dengan mempertahankan tersenyum cerianya, Morgan mengalihkan pandangannya ke arah Thousand Faces.


"Kau memang bisa diandalkan, Faces.... Dengan begini, pasukan Chimera yang kita ingin-inginkan akan tercipta".


"Jangan senang dulu, Morgan...... Kita harus melakukan beberapa kali percobaan terlebih dahulu, sebelum benar-benar melakukan produksi masal..... Dan selama itu juga kita harus menjaga gadis ini untuk tetap hidup bagaimanapun caranya...... Karena suksesnya projek ini itu berdasarkan kelangsungan hidup nya".


"Iya, iya aku tahu kok..... Aku tidak akan membunuhnya tenang saja".


Thousand Faces memberikan peringatan kepada Morgan agar tidak melakukan eksperimen yang dapat membunuh Claudia nantinya. Dan Morgan dengan sedikit jengkel berjanji untuk melakukan hal itu.


"Btw, Faces.... Dari mana kau tahu kalau gadis ini adalah seorang Katalisator yang kita cari selama ini?.... Apa dari teman barumu si Charles itu?".


"Huh? Tentu saja bukanlah..... Apa yang bisa ku harapkan dari pria idiot seperti dirinya".


"Lalu..... Siapa yang memberi tahu mu?".


Thousand Faces tersenyum dengan pertanyaan Morgan dan dia kembali berbicara.


"Rahasia".


"Huh?".


"Yah, pokoknya..... Orang itu tidak mau namanya di ketahui oleh siapapun...... Tapi, yang jelas dia saat ini sedang belajar sebagai siswa di Akademi Estonia".


"Heeee..... Jadi, informan mu adalah seorang bocah, ya...... Memangnya apa yang kau janjikan?".


"Tidak ada...... Tapi, aku cuma bilang "sebagai balasannya akan aku bantu kau menjadi Raja selanjutnya"... Begitulah".


Sambil tersenyum dan melihat kearah Morgan, Thousand Faces menjawab pertanyaan dari Morgan. Mendengar itu, Morgan hanya menunjukkan ekspresi yang malas.


"Oh, gitu ya..... Haaaa...... Aku jadi prihatin sama bocah itu karena cuma kau jadikan boneka saja".


Saat Thousand Faces dan Morgan masih sibuk berbicara. Claudia yang tampak lelah dan hanya bisa pasrah dengan kondisi nya mulai bergumam dalam hatinya.


(Kenapa?..... Kenapa aku selalu seperti ini?..... Mereka siapa?...... Kenapa mereka menangkap ku?..... Apa salah ku?..... Apa tujuan mereka?..... Ayah..... Virgil Nii-sama..... Kalian dimana?..... Kenapa kalian tidak ada saat aku butuh kalian..... Kumohon......).


Saat Claudia sedang merenungi semua yang dia alami dan menyesali kenapa Ayah dan Kakak laki-lakinya Virgil tidak ada disaat dia membutuhkan sosok untuk bersandar.


Tiba-tiba bayangan mereka segera di gantikan oleh sosok Dylan yang muncul dan tersenyum kepadanya membuat hati Claudia yang tadinya sangat gelisah menjadi sangat senang.


Seolah-olah dia melihat sebuah secercah cahaya harapan di dalam gelapnya kegelapan yang ada di hatinya.


Tanpa dia sadari Claudia mulai meneteskan air mata dan bibirnya juga tersenyum. Dan dengan nada yang sangat pelan dia memanjatkan doa.


"Kumohon..... Selamatkan aku lagi..... Dylan-san".


Lalu. Suara alarm tanda bahaya terdengar menggema di ruangan itu. Hal itu tentu saja membuat semua yang mendengar terkejut termasuk Thousand Faces dan Morgan terkejut bukan main.


"Suara alarm?".


"Berarti ada penyusup".


Morgan lalu menampilkan sebuah layar monitor dengan sihir kearah pintu masuk Fasilitas. Sangking besarnya layar itu bahkan Claudia bisa melihatnya dengan jelas.


Kemudian Morgan dan Thousand Faces dibuat terkejut oleh apa yang mereka lihat. Yang mereka lihat adalah seluruh prajurit yang di tugaskan untuk menjaga pintu masuk semuanya di hajar, di lemparkan dan di bunuh oleh 2 orang yang menerobos masuk.


"Mereka berdua itu?...... Apa-apaan kedua bocah itu?..... Bagaimana bisa kedua bocah itu bisa menerobos dan menghabisi para prajurit yang berjaga disana dengan sangat mudah?".


"Kan, aku sudah bilang...... Perketat pengamanan pintu masuk..... Mereka berdua itu bukan bocah sembarangan".


Morgan tampak kesal saat melihat bawahannya dengan sangat mudah di singkirkan dan dihabisi oleh kedua siswa itu. Dan Thousand Faces menyalahkan Morgan yang tampak kesal karena terlalu meremehkan kedua siswa yang dia maksud.


2 orang siswa yang mereka maksud adalah Dylan dan Awin yang dengan beringas dan gila menghajar para penjaga yang ada di sana.


Melihat sosok Dylan dilayar yang datang membuat Claudia kembali tersenyum. Dia merasa sangat senang bahwa orang yang sangat dia sukai rela datang sejauh ini menerjang bahaya untuk menyelamatkan.


Lalu Claudia memejamkan matanya sambil tetap tersenyum.


(Ah, seperti yang aku harapkan...... Dylan-san pasti selalu datang untuk menyelamatkan ku).


(-------------------)


Kembali beberapa saat sebelum Dylan dan Awin berhasil menerobos masuk.


Sesampainya di depan Museum Lazarus.


Frey bersama Dylan, Awin, Arnold, Ritzia dan Filaret. Memantau situasi dari balik semak-semak. Mereka melihat bahwa jalan masuk ke Museum sudah di jaga ketat oleh beberapa ksatria yang berjaga.


"Sudah kuduga, penjagaan sangat ketat..... Dan juga, mereka bukanlah para penjaga biasa".


"Eh?.... Sensei apa maksudmu barusan?".


Ritzia yang tidak paham dengan apa yang dikatakan Frey mencoba untuk bertanya.


"Coba kau lihat mereka dengan seksama".


Tidaknya memberi jawaban, Frey menyuruh Ritzia untuk lebih memperhatikan orang-orang yang berjaga di sana.


Selang beberapa saat Ritzia sepertinya mulai menyadari sesuatu dan paham akan apa yang dikatakan Frey.


"Bukankah, penampilan fisik mereka lebih cocok disebut prajurit di bandingkan penjaga".

__ADS_1


"Yah, kau benar Sensei".


"Lalu apa yang musti kita lakukan, Sensei?".


"Hmmmm..... Apa ya?".


Frey mulai berpikir setelah mendengar pertanyaan dari Filaret soal tindakan apa yang musti mereka lakukan. Tak berselang lama, Frey berdiri dari duduknya. Dan dengan wajah sedikit kecewa di mulai berbicara.


"Yah, mau bagaimana lagi..... Ayo kita gunakan strategi "terobos paksa" supaya ini semua cepat selesai".


""""Huh?"""".


Tanpa memperdulikan keterkejutan dan kebingungan yang dirasakan Dylan dan yang lainnya. Frey berjalan keluar dari semak-semak dan mendekatkan kearah para penjaga di sana dengan santainya.


"Woi, kau..... Apa yang kau lakukan disini?..... Ini sudah malam, kau tidak diperbolehkan berkeliaran disekitar sini".


Salah satu penjaga yang melihat Frey berjalan mendekat segera menegurnya. Tapi, Frey dengan santainya bertanya kepada mereka.


"Ah, maaf tuan..... Sebenarnya aku cuma ingin meminta sedikit bantuan kepada kalian".


"Kami bukan petugas yang sedang berpatroli yang bisa kau mintai tolong..... Kembali sana".


Penjaga itu tampak sangat tegas menolak permintaan Frey dan membalikkan badannya. Namun hal semacam itu tidak akan menghentikan nya.


"Heeee....... Sayang banget.... Padahal yang ingin aku tanyakan adalah..... Kenapa sekelompok prajurit mencurigakan seperti kalian malah menjaga museum ini?".


Pertanyaan Frey sukses menarik perhatian dari penjaga itu yang berhenti melangkah dan menoleh kearahnya. Merasa mendapatkan perhatian, Frey kembali melanjutkan perkataannya.


"Memangnya...... Apa yang kalian sembunyikan..... Sampai tidak membiarkan siapapun mendekat?".


Terjadi keheningan diantara keduanya dalam waktu yang lama. Kemudian, penjaga segera melesat kearah Frey dan hendak menebasnya.


Tapi, sebelum sukses melakukannya. Frey berhasil melintasi orang itu, dan secara mengejutkan penjaga yang hendak menebasnya terjatuh dari mulutnya mengeluarkan darah.


Dan hal itu, tentu saja membuat semua penjaga itu terkejut dan tidak paham apa yang barusan terjadi.


"Yare, yare..... Sepertinya dugaan ku benar, ya...... Bahwa ada sesuatu yang kalian sembunyikan disini".


Frey berkata seperti itu sambil menunjukkan tangan kanannya yang berlumuran darah dan di telapak tangan nya sedang menggenggam jantung dari penjaga yang menyerangnya tadi yang entah bagaimana masih berdetak dan dengan mudah menghancurkannya.


Meski kejadian itu sempat membuat semua penjaga yang ada disana menjadi begidik merinding. Tapi kemudian, mereka secara bersamaan langsung menyerang Frey.


"Bodoh itu batasnya tahu".


Sambil bergumam sepeti itu, tiba-tiba semua penjaga yang menyerang Frey tiba-tiba menjadi beku. Dan saat terjatuh badan mereka seketika hancur bak kaca pecah.


Setelah itu, Frey tanpa melirik kearah Dylan dan yang lain dia segera berbicara.


"Dylan, Awin, Arnold, Ritzia dan Filaret..... Kalian masuk dan temukan jalan masuk ke fasilitas itu..... Sementara aku..... Akan sibukkan para penjaga".


"Baiklah, Sensei.... Semua ayo".


Tanpa banyak bertanya Dylan dan yang lain segera masuk kedalam Musemum Lazarus. Sementara Frey tetap berada di luar, sesuai dugaan nya para penjaga lapis kedua dengan jumlah yang berkali-kali lebih banyak segera mengerubungi nya.


"Nah, sekarang...... Aku tinggal melakukan bagian ku saja, kan".


(-----------------)


"Sial tempat ini luas banget".


Arnold mengumpat kekesalan karena dari tadi setelah mereka masuk. Mereka tidak menemukan jalan menuju fasilitas itu.


"Al benar.... Kita sudah berkeliling dari tadi.... Tapi, tidak ada yang mencurigakan sama sekali".


Ritzia yang juga kesal dengan situasi yang mereka alami.


"Semua tolong mendekat dan berkumpul di sekitarku sekarang".


Meski kebingungan, semua segera mengikuti apa yang dikatakan Dylan. Setelah melihat semuanya berkumpul, Dylan kemudian berjongkok di tengah-tengah dan tangannya menyentuh lantai.


"Nii-san apa yang kau lakukan?".


Filaret yang merasa keheranan dengan tingkah Dylan mencoba untuk bertanya kepadanya. Dan Dylan segera menjawabnya.


"Aku heran kenapa kalian sibuk dengan kegiatan mencari "jalan masuk" ke fasilitas itu".


"Huh? Apa maksudmu, Dylan?".


Ritzia yang bingung dengan perkataan ambigu Dylan mencoba bertanya. Dan jawabannya segera dia dapat.


"Daripada sibuk mencari "jalan masuk"...... Kenapa kita tidak buat "jalan masuk" kita sendiri".


Bersamaan dengan itu Dylan mengalirkan sihir non atribut ke lengan tangannya. Dan mulai merapalkan sihirnya yang sudah meningkat ketahap selanjutnya setelah keluar dari Dungeon.


"Ultra Impact".


Setelah merapalkan mantra sihir nya, Lantai disekitar hancur dan mereka segera terjatuh kedalam. Dan benar saja mereka berhasil mendarat dan melihat sebuah jalan berbentuk lorong.


Bersamaan dengan itu alarm mulai berbunyi yang menandakan bahwa mereka sudah ketahuan.


"Dylan.... Bukan tindakanmu itu akan membuat kita ketahuan oleh para penjaga?".


"Huh? Kau ngomong apa, Al?..... Bukankah sejak awal kita memang sudah ketahuan, kan?".


Tak mau membuang waktu lagi, Dylan dan yang lainnya segera berlari menuju pusat dari penelitian itu.


Namun, langkah mereka sempat terhenti saat melihat sekelompok penjaga yang segera mendekat begitu melihat mereka berlima.


"Jangan berhenti, hajar saja mereka".


Dylan mulai menarik pedang katana, Awin bersiap dengan Misery Cleaver, Arnold dengan pedang Siden, Ritzia dengan Knuckle Blade dan Filaret dengan Sabitnya yang sedikit di perkecil.


Tanpa rencana, tanpa persiapan, tanpa pikir panjang mereka berlima segera menerjang dan melawan para penjaga yang berjumlah banyak itu tanpa keraguan sedikitpun.


Meski mereka adalah para prajurit terlatih nyatanya mereka bukanlah tandingan bagi Dyan dan rekan-rekannya.

__ADS_1


Itu terbukti dengan mereka yang tidak berdaya melawan Dylan dan yang lainnya. Dan dalam waktu sekejap mereka berhasil menumpas habis para penjaga yang menyerang mereka.


Tak mau membuang waktu lagi mereka segera berlari menuju ujung lorong tempat dimana pusat penelitian itu berada.


Tapi, kemudian sebuah ledakan dari dinding samping mengejutkan mereka. Dibalik debu yang berterbangan itu muncul sesosok yang tersenyum kearah mereka.


Saat debu itu menghilang, tampak sosok seorang wanita yang punya wajah garang tersenyum kearahnya. Otot-otot lengannya tampak jelas dan badannya yang banyak luka. Tersenyum lebar dan tak kenal takut, wanita itu berbicara dengan sangat kasar.


"Salam kenal para bocah-bocah nakal.... Perkenalkan namaku adalah Mereleona Dom Aldebaran..... Aku adalah seorang kstaria----".


BUG.


Belum bisa menyelesaikan perkataannya, Ritzia segera melesatkan dan melancarkan serangan berupa tendangan dropkick tepat di wajahnya.


Sangking kerasnya, Mereleona yang badannya 2 kali lebih besar dari Ritzia sampai terpental dan terkapar beberapa meter.


"Kalian pergilah..... Orang ini biar aku yang lawan".


"Kami serahkan padamu, Ritzia..... Kembalilah dengan selamat".


Dylan dan yang lainnya, segera pergi meninggalkan Ritzia sendirian melawan Mereleona.


Tak berselang lama, Mereleona kembali berdiri dan meludahkan darah dari mulutnya, lalu dia mulai tersenyum lebar kearah Ritzia.


"Lumayan.... Ini pasti menarik".


(---------------------)


Setelah meninggalkan Ritzia yang berurusan dengan Mereleona. Dylan dan yang lain melanjutkan perjalanan.


Tapi, tiba-tiba mereka merasakan ada sosok yang muncul entah dari mana dan melancarkan sebuah serangan yang sangat keras. Sangking kerasnya serang itu, sampai menghancurkan lantai.


Untungnya Dylan dan yang lainnya berhasil menghindar. Kemudian sosok itu mulai berbalik dan melihat kearah Dylan dan yang lainnya.


Sosok itu adalah seorang laki-laki berambut kuning pucat dengan wajah tegas sambil membawa tombak.


"Sudah kuduga kalian memang bukan bocah sembarangan.... Perkenalkan namaku adalah Hendry fou Anselmus..... Kstaria Kerajaan Strost".


Dengan nada yang datar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai ksatria Kerajaan Strost.


"Kalau boleh jujur, aku tidak punya dendam pribadi apapun pada kalian. Tapi---".


Sosok Hendry tiba-tiba menghilang dan muncul didepan Dylan dan yang lainnya bersiap melancarkan sebuah serangan.


"------karena kalian sudah tahu berani ikut campur maka.... Tak akan aku biarkan satupun dari kalian keluar dari sin hidup".


Tanpa menahan diri, Hendry langsung melayangkan tombaknya kearah Dylan dan yang lain.


Namun, sebelum tombak itu benar-benar mencapai mereka. Arnold langsung melesat kearah depan dan menangkis serangan tombak Hendry.


Hendry sempat terkejut dengan kejadian itu. Tapi, belum bisa beraksi Arnold segera menyerangnya dengan sebuah tusukan yang coba dia tahan dengan tombaknya.


"Ugh".


Tapi, saat pedang Arnold menyentuh tombak. Hendry tiba-tiba terkejut bukan main, dan bersamaan dengan itu badannya terpental dengan kecepatan tinggi sampai menghantam dan menghancurkan tembok.


"Orang ini biar aku yang lawan..... Kalian pergilah".


Dylan, Awin dan Filaret segera melanjutkan perjalanan sementara Arnold akan melawan Hendry.


(-------------------)


Meniggalkan Arnold yang akan melawan Hendry. Dylan, Awin dan Filaret melanjutkan perjalanan.


Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang mengawasi mereka dari sebuah layar sihir. Kemudian dengan nada ceria dia berkata.


"Kena kau".


Bersamaan dengan itu sebuah lingkaran sihir muncul dibawah kaki mereka. Filaret yang menyadari itu segera mendorong Dylan dan Awin keluar dari sana.


Sempat terjatuh, Dylan segera mengalihkan pandangannya ke Filaret yang badannya perlahan-lahan mulai menghilang.


"FIRA!!!".


"Tidak usah khawatir Nii-san.... Siapapun dia serahkan saja padaku.... Nii-san, Awin-san pergi saja".


Setelah mengatakan itu, Filaret benar-benar menghilang entah kemana. Dylan kemudian berdiri sambil terus melihat kearah tempat dimana Filaret tadi berada.


Tak berselang lama, Filaret dibuat terkejut karena sekarang dia sekarang tiba-tiba berpindah kesebuah tenda sirkus yang aneh.


"Ini dimana?...... Bukankah ini sirkus".


Saat dia melihat-lihat sekitar, dari sana ada banyak sekali penonton yang tampak ketakutan. Dan tak berselang lama seorang wanita yang penampilan nya mencolok muncul dengan diiringi musik ala sirkus.


Filaret hanya melihat adegan didepan matanya hanya bisa merasa kebingungan. Kemudian gadis itu melompat turun dari atas dan turun di depan Filaret.


"Hei, hei, gadis kecil....... Penjepit rambut mu dari Hope Diamond, kan?...... Boleh buat aku ngak?".


"Huh?..... Kau ngomong apa? dasar lacur sialan sirkus".


Tanpa memperkenalkan namanya wanita itu dengan egois meminta Filaret memberikan Penjepit rambut Hope Diamond yang di berikan Dylan kepadanya.


Tentu saja, Filaret sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya dan dia bersiap bertarung dengan wanita mencolok yang ada di depannya ini.


(------------------)


"Kembalilah dengan selamat..... Fira".


Dengan nada datar Dylan berharap Filaret bisa kembali dengan selamat. Tak berselang lama, Awin yang tadi terdiam mulai berbicara.


"Kebetulan hanya tinggal kita yang tersisa...... Ada yang ingin aku tanyakan langsung kepadamu, Aniki".


Dylan kemudian mengalihkan pandangannya kearah Awin.


"Kau...... Tahu alasan kenapa mereka menculik Claudia, kan?".

__ADS_1


Terjadi keheningan diantara keduanya sampai akhirnya Dylan menjawab pertanyaan Awin itu dengan sangat singkat.


"Iya..... Aku tahu".


__ADS_2