Reborn As Villain

Reborn As Villain
Side Story 2 : POV Filaret van Arcadia


__ADS_3

"...... Jadi, mulai hari ini kau boleh memanggilku Nii-san!? Dan agar semakin akrab aku akan memanggilmu Fira, bagaimana".


Ucapan itu sangat membekas di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Ini pertama kalinya dalam hidupku ada yang mau menganggap ku sebagai saudara.


Tidak.


Menganggap ku sebagai manusia.


Aku adalah putri ketiga dari Keluarga Pillos.


Sejak aku kecil aku tidak punya tempat di keluarga ku. Meski aku diberkahi dengan energi sihir yang sangat besar. Tapi, keluargaku sama sekali tidak peduli dengan hal itu


Awalnya, keluarga Pillos adalah keluarga penyihir yang mendapat gelar bangsawan Earl.


Tapi, sejak di wilayah yang keluarga Pillos ditemukan tambang besi yang sangat melimpah, keluarga kami membuang gelarnya sebagai penyihir dan memilih sebagai keluarga yang fokus pada bisnis dan politik.


Meski begitu, aku masih ingin menjadi penyihir dan mengembalikan gelar "penyihir" kepada keluarga kami. Jadi, aku katakan apa hal yang kuinginkan kepada ayah dan ibu.


"Ayah, Ibu. Aku ingin menjadi seorang penyihir yang hebat dimasa depan".


Aku yang masih kecil mengatakan keinginan ku. Tapi, respon kedua orang tuaku benar-benar diluar dugaan ku.


"Filaret..... Daripada kau mengkhayalkan hal seperti itu. Lebih baik kau belajar etiket seperti kedua Kakak perempuan mu. Agar kau tidak mempermalukan keluarga kita dan supaya kau bisa menikah dengan bangsawan yang berpangkat tinggi. Dan menaikkan otoritas Keluarga kita".


"Yang ayah mu katakan itu benar. Lagipula, kau kesulitan mengontrol energi sihirmu, kan? Lupakan saja impianmu itu".


Itu benar, aku masih sulit untuk mengontrol kekuatan sihir ku yang besar. Dan mau tidak mau aku harus mengikuti aturan keluargaku.


Lalu hari dimana pelatihan ku bersama kedua Kakak perempuan ku dimulai.


Jujur, semua pelatihan itu sangat berat untukku. Aku dituntut untuk menjadi gadis yang sempurna agar aku bisa menarik perhatian anak laki-laki dari bangsawan tinggi demi keluarga.


Tapi, itu semakin sulit dengan perlakuan yang aku terima dari kedua Kakak perempuan ku. Mereka selalu saja menjahili ku setiap kali ada kesempatan.


Mulai dari mendorong sampai jatuh, menyiram ku dengan air, merobek bonekaku, membakar buku pelajaran ku, menamparku, menaruh paku di sepatuku dan masih banyak lagi.


Aku berusaha untuk melaporkan perbuatan mereka ke ayah dan ibu. Tapi, mereka berdua tutup telinga dan bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bahkan para pelayan yang menyaksikan adegan itu hanya diam saja.


Jujur, aku tidak tahu alasan apa kedua Kakakku itu selalu membuliku, belum lagi mereka juga mengajak teman mereka untuk ikut membuliku.


Mereka tertawa sangat puas saat melihatku menderita.


Sampai akhirnya ada satu kejadian yang semakin membuatku menderita.


(--------------)


Hari itu aku sedang diadakan pesta di kediaman kami. Banyak bangsawan yang menjadi rekan politik dan rekan sosialita ibu yang datang.


Mereka juga membawa anak-anak mereka menghadiri pesta itu. Ibu, Ayah dan Kedua Kakak ku menikmati pesta itu dengan teman-teman mereka.


Sementara aku hanya duduk sendirian tertunduk murung tanpa ada yang peduli. Karena perutku tiba-tiba sakit, aku putuskan untuk pergi ke kamar kecil.


Setelah selesai dan berjalan kembali ke pesta. Aku di cegat oleh beberapa orang yang 2 diantaranya adalah kedua Kakak perempuan ku, Lisa dan Bianca.


"Filaret, bisa ikut kami sebentar".


"Dan kau tidak boleh menolaknya"..


"Baiklah".


Aku yang tidak berdaya hanya bisa mengikuti apa yang kedua Kakakku dan teman-teman inginkan walau aku tahu apa sebenarnya tujuan mereka.


Dan tembakan ku benar.


Mereka mengajakku hanya untuk membuliku di hadapan teman-temannya, dan bahkan mereka juga menyuruh teman-teman yang mereka bawa untuk ikut membuliku dan mereka dengan senang hati menerima nya.


(Aku sudah tidak kuat lagi. Aku ingin mereka berhenti. Apa salahku sampai harus menerima perlakuan yang seperti ini? Kenapa? Kenapa?).


"HENTIKAN!!!!!!!!!!".


Tanpa aku sadari kekuatan sihir didalam diriku meluap keluar berwujud elemen api dan melukai Lisa Nee-san, Bianca Nee-san dan bersama teman-teman nya. Bahkan aku juga membakar taman itu dengan sihir ku.


Kejadian itu menarik perhatian para tamu, dan mereka segera berlari hanya untuk menemukan ana-anak mereka terluka dan hanya aku yang tidak kenapa.


Berdasarkan itu saja, mereka tahu bahwa akulah pelaku dibalik semua kejadian ini.


"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA ANAKU?".


"DASAR MONSTER".


"MENGERIKAN SEKALI".


Mereka mengatakan-ngataiku seperti itu, mendapatkan perlakuan seperti ini membuatku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi.


"Tidak..... Tidak.... Aku tidak sengaja..... Aku tidak bermaksud menyakiti mereka..... Aku mohon..... Jangan salahkan aku....".


Aku dengan putus asa mencoba untuk membela diri ku saat diberi tatapan jijik dan penuh kebencian dari orang-orang di sekitarku.


PLAK!!!


Suara tamparan yang mendarat di pipiku menggema. Dan orang yang menamparku tidak lain adalah ibuku sendiri yang menatapku dengan ekspresi penuh kebencian dan rasa jijik.


"Sudah cukup alasannya, dasar monster..... Bagaimana bisa aku bisa melahirkan anak sepertimu.... Kau benar-benar aib bagi keluarga ini..... Hari ini... Akan aku berikan kau pelajaran atas semua perbuatan mu ini..... Dasar monster berkulit manusia".


Aku langsung menunduk ketakutan saat melihat ibu hendak melayangkan tamparannya ke arahku.


Tapi, tamparannya entah bagaiman tidak pernah mencapai diriku. Lalu aku mencoba untuk melirik kearah ibu. Dan betapa terkejutnya aku, saat aku melihat ada seseorang yang menahan tangan ibu.


Dia seorang wanita berambut merah panjang dengan mata berwarna biru tua.


"Sudah cukup.... Aku tidak tahan dengan ini semua.... Bisa-bisanya kau sebagai seorang ibu melakukan tindakan seperti ini di depan semua orang".


Wanita itu dengan sangat keras mendorong ibuku sampai terjatuh. Lalu dia menoleh ke arahku dan membungkuk.


"Hei, siapa namamu?".


"Namaku Filaret".


"Filaret, ya. Nama yang bagus. Namaku Pavline van Arcadia. Salam kenal, Fira-chan".


Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Pavline van Arcadia. Istri dari Hyoga van Arcadia bangsawan yang memerintah wilayah Arcadia. Dia tersenyum lembut saat aku menjawab pertanyaannya.


Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arahku dan mulai berbicara.


"Fira-chan. Maukah kau ikut denganku. Dan menjadi bagian keluarga Arcadia?".


"Eh?".


Aku terkejut, otakku seketika kosong. Butuh waktu bagiku untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan Pavline-san. Dia mengajakku untuk menjadi bagian keluarga Arcadia. Bukankah itu berarti dia berencana untuk mengadopsi ku sebagai putrinya.


"Tu-tunggu dulu, Pavline.... Jangan seenaknya mengambil keputusan untuk membawanya.... Bagiamana pun juga dia itu putriku dan kau harus meminta izinku dan suamiku lebih dahulu".


"Huh? Kau ngomong apa, nona Solaris? Aku tidak butuh izinmu atau suamimu itu untuk membawa Filaret. Lagian, kau tidak memperlakukan gadis ini dengan baik malah kau dan kedua putrimu selalu menyiksanya, bukan?".


Ibu yang panik tidak bisa menjawab perkataan dari Nona Pavline.


"Dan soal kejadian ini. Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. Filaret hanya berusaha membela dirinya, dia tidak bermaksud untuk menyakiti kedua Kakaknya maupun anak-anak ini. Justru merekalah yang menyiksa Filaret dengan sangat kejam..... Aku tidak habis pikir, apa yang kalian semua ajarkan pada anak-anak kalian?.... Dan jika kalian menyebut gadis ini "Monster berkulit manusia". Justru kalian dan anak-anak inilah "Monster berkulit manusia" itu sendiri".


Semua orang terdiam dan tertunduk malu karena tidak bisa membalas perkataan Nona Pavline. Dan aku sangat tersentuh baru kali ini ada seseorang yang dengan tulus membelaku di depan semua orang.


"Nah, Fira-chan. Ayo kita pergi dari sini. Udara ditempat ini tidak bagus untuk kesehatanmu".


Dengan halus, Nona Pavline mengandeng tanganku dan membawaku pergi meninggalkan semua orang yang menatap kami dengan tatapan kebingungan.


Lalu saat itu juga, Nona Pavline mengajakku berbelanja barang-barang yang aku butuhkan, dia bilang aku boleh memilih apapun yang aku mau.


Dan saat aku bertanya soal barang-barang ku yang ada di kediaman Pillos. Nona Pavline bilang bahwa itu tidak penting lagi dan menyarankan ku agar membiarkan barang-barangku tertinggal disana.


Keesokan paginya, dengan menaiki kereta Api kami mulai berangkat menuju ke Arcadia.


(------------)


"Oh ya, Fira-cha. Aku hampir lupa memberi tahumu bahwa aku juga punya seorang putra. Namanya Dylan dia hanya lebih tua 5 bulan darimu dan dia akan jadi saudara barumu, sesampainya disana aku akan perkenalkan kau kepadanya, ya".


Di perjalanan Nona Pavline memberi tahu ku bahwa aku akan punya saudara laki-laki. Jujur aku tidak tahu bagaimana caraku harus bersikap didepannya.


Di dalam hati kecilku aku sangat takut. Mengingat apa yang sudah kedua saudariku perbuat padaku. Dan ada "kemungkinan" kalau Dylan ini akan melakukan hal yang sama.


Sesampainya kereta di stasiun kota Zelda. Perjalan dilanjut dengan menggunakan kereta kuda menuju kota Linic pusat pemerintahan wilayah Arcadia.


Butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan.

__ADS_1


Kami sampai di kediaman Arcadia saat malam hari. Begitu pintu mansion dibuka. Aku dan nona Pavline di sambut oleh beberapa pelayan dan seorang pria berambut hitam bermata kuning.


"Selamat datang, Pavline".


"Tumben kau menyapa saat aku datang".


"Yah, itu karena kau datang dari jauh dan membawa anggota baru. Sebagai kepala keluarga sudah tugasku untuk menyambut kalian".


Pria itu menyambut kami dengan senyum ceria. Melihat bagaimana respon Nona Pavline tidak salah lagi pria di depannya adalah Hyoga van Arcadia suami dan kepala keluarga Arcadia.


Tuan Hyoga segera melirik ke arahku dan mulai memperkenalkan dirinya.


"Namaku adalah Hyoga van Arcadia. Kau pasti Filaret, kan? Pavline sudah bercerita tentangmu lewat Protas. Mulai hari ini kau adalah bagian dari kami dan kau boleh memanggilku Ayah".


"Ah ya aku juga hampir lupa, Fira-chan mulai hari ini juga kau boleh memanggilku Ibu".


Aku hanya bisa menganggukkan kepalanya atas permintaan mereka karena sangat canggung.


"Sayang, Dy-chan di mana? Aku tidak melihatnya?".


"Dylan ya, dia ada di balkon atas. Katanya dia ingin memeriksa soal laporan BMF".


"Dia ngak pakek alasan itu buat rebahan di atap, kan?".


Nona- tidak, Ibu menyepitkan matanya saat menanyakan soal apa yang dilakukan Dylan.


"Tenang saja, dia benar-benar ada di balkon untuk mengecek laporan saja".


"Baiklah kalau begitu, ayo Fira-chan kita sapa saudara baruku".


Ibu membawaku pergi keatas untuk memperkenalkan ku kepada putranya yang akan jadi saudara ku.


"Dylan!!! Apa kau di balkon, nak?".


"Ah, iya bu!? Aku ada disini".


Aku bisa mendengar suaranya yang menjawab panggilan ibu


Begitu, aku melihatnya. Dia memiliki rambut hitam pekat acak-acakan yang dia warisi dari Ayah dan mata biru tua yang dia warisi dari Ibu.


"Dylan, hari ini keluarga kita kedatangan anggota baru!? Ayo nak, silahkan perkenalkan dirimu".


"Hou..... ".


Aku pun melangkah maju dan mulai memperkenalkan diriku sambil membungkukkan badan dengan sedikit bergetar.


"Salam kenal,...... Na-namaku adalah Fi-Filaret van Pi-pillos. Mu-mulai hari ini aku.... A-akan jadi bagian..... Ke-keluarga ini.... Mo-mohon bantuannya.... Tu-tuan Dy-dylan".


"I-iya salam kenal, juga".


Dia menyambut ku dengan nada yang datar sama dengan ekspresi wajahnya yang kaku seperti tidak menunjukkan ketertarikan apapun.


Dan hari-hari ku menjadi bagian keluarga Arcadia akhirnya dimulai.


(-----------)


Keesokan paginya.


Aku yang masih canggung memutuskan untuk tetap berdiam diri didalam kamar yang sudah di siapkan untukku.


Kemudian terdengar ketukan dari luar pintu kamar saat aku sedang berdiri mematung menatap pemandangan dari jendela.


"Filaret, apa kau ada didalam? Ini aku Dylan? Aku masuk, ya?".


"Ah, iya... Silahkan masuk".


Aku secara spontan mengizinkan tuan Dylan untuk masuk kedalam.


"Selamat pagi, Filaret".


"Selamat pagi juga, Tuan Dylan".


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak sarapan bersama kami".


"Maaf, tuan Dylan!? Saya masih lelah karena perjalan kemarin".


"Begitu ya!?.... Oh ya, apa kau ingin berkeliling melihat-lihat Mansion ini? Jangan khawatir biar aku yang pandu".


Aku berusaha menjawab pertanyaan tuan Dylan sebaik mungkin agar dia tidak tersinggung. Tapi, entah mengapa Tuan Dylan menghembuskan nafas panjang. Lalu dia kembali berbicara.


"Siapa bilang kau ini "orang numpang"?.... Aku tidak pernah berpikir kau seperti itu".


Aku seketika tersentak saat mendengar ucapan Tuan Dylan.


".......Apa kau sudah lupa!? Bahwa mulai hari ini kau adalah bagian dari keluarga Arcadia!? Yang artinya kau dan aku adalah saudara!? Dan sesama saudara, kita tidak perlu saling sungkan satu sama lain!? Lalu meski usia kita sama, tapi aku lebih tua 5 bulan darimu!? Jadi, mulai hari ini kau boleh memanggilku Nii-san!? Dan agar semakin akrab aku akan memanggilmu Fira, bagaimana".


"Apa aku benar-benar di izinkan?"


Badanku gemetar saat mendengar apa yang dia katakan. Dengan sedikit keraguan aku kembali bertanya lagi, dan Tuan Dylan tersenyum meski wajahnya tetap datar seperti biasa.


Tuan Dylan lalu tiba-tiba mengelus kepalaku dan kembali berbicara.


"Bukan dizinikan lagi...... Tapi, kau harus memanggilku begitu..... Lagi pula kita ini saudara sekarang".


"Baiklah tuan-tidak... Dylan Nii-san".


Jujur aku sangat ragu dan takut ketika aku mulai memanggil Tuan Dylan dengan panggilan Nii-san.


Tapi tampaknya tuan Dylan sangat senang dipanggil seperti itu.


"Yosh,.... Karena semua keraguanmu sudah hilang sekarang, biarkan aku ajak kau mengelilingi Mansion dan memperkenalkan mu dengan semua orang yang bekerja disini!? Ayo, Fira!?".


Dengan segera Tuan-tidak. Nii-san segera menggandeng tanganku dan mengajakku pergi berkeliling dan memperkenalkan semua orang di lingkungan mansion kedapa ku.


Di satu sisi aku merasa bahwa genggaman tangan Nii-san itu hangat dan kuat tapi tidak menyakitkan. Tanpaku sadari aku perlahan-lahan mulai tersenyum. Karena ini kali pertamanya ada orang yang benar-benar menganggap aku ada.


(-------------)


Di mulai hari itu.


Kami selalu menghabiskan waktu bersama seperti Kakak dan Adik.


Hampir tiap hari Nii-san membantuku dalam pelajaran etiket bangsawan, menjadi panter tari, latihan piano dan biola dan terkadang dia mengajariku cara mengontrol sihir.


Sementara aku sendiri, sering ikut beberapa aktifitas Nii-san seperti olahraga pagi, latihan pedang, latihan teknik bertarung tangan kosong, belajar sihir bersama, membantunya dalam mengembangkan metode BMF.


Selain itu kami punya kegiatan lainnya seperti berjalan-jalan di kota bersama, pergi memancing di pantai dan lain-lain.


Kenapa aku yang seorang penyihir memutuskan ikut Nii-san dalam melakukan kegiatan olahraga? Jawaban nya ada 2.


Pertama, karena Nii-san pernah bilang "seorang penyihir harus memiliki fisik yang kuat agar saat dia kehabisan energi sihir, dia masih bisa melawan musuh dan melindungi dirinya sendiri meski tanpa sihir".


Kedua, karena aku sangat ingin dekat dengan Nii-san. Dan entah mengapa rasanya aku tidak ingin terpisah dengan nya. Kedekatan kami semakin erat tiap harinya.


Lalu sebuah insiden kecil membuat kebersamaan kami hilang untuk sesaat.


(--------------)


Suatu hari.


Nii-san mengajakku untuk pergi ke sebuah hutan dekat dengan kota.


Nah, alasan kenapa Nii-san mengajakku kesana adalah untuk melihat hasil latihan dan pelajaran ku dalam mengontrol sihir.


"Baiklah,... Nah, Fira sekarang tolong tunjukan padaku hasil dari latihamu".


"Tolong perhatikan, ya!? Nii-san".


Aku mulai berkonsentrasi dan mengumpulkan semua energi sihir menjadi bentuk bola, sihir yang dipraktikkan ibu adalah sihir cahaya.


Namun, sayangnya bola itu tidak stabil dan akhirnya meledak.


"Kyaaa".


".... Fira, kau tidak apa-apa?".


Nii-san mengulurkan tangan dan membantu ku untuk berdiri.


"Aku tidak apa-apa kok, Nii-san!? Yah, sepertinya aku gagal lagi".


Melihat wajahku yang nampak sedih, Nii-san menaruh tangan kirinya di kepala ku dan mengelus nya secara perlahan.

__ADS_1


".....Siapa bilang yang tadi gagal...... Itu sudah bagus, kok".


"Benarkah?".


"... Iya,.....Cuma kau harus lebih berkonsentrasi lagi....dan bayangkan konsepnya".


"Itu sulit sekali".


"Aku tahu itu........ Tapi, tidak usah terburu-buru!?.... Santai saja!?..... Lagian, kalau kau terburu-buru itu hanya akan mengganggu konsentrasi dan mengacaukan pikiranmu.... Nah, coba tenang kan pikiranmu, lalu coba kendalikan energi sihirmu dengan meditasi seperti yang aku ajarkan".


"Baiklah, Nii-san sensei".


Aku segera kembali melakukan meditasi untuk mengontrol energi sihirki.


Ternyata saran Nii-san terbukti sangat efektif mengingat diriku ini sulit untuk mengendalikan energi sihir ku sendiri.


".... Yosh, bagus Fira.... Terus pertahankan seperti itu".


Sementara aku sedang bermeditasi, Nii-san terus memperhatikanku dari samping. Sambil terus memberikan arahan.


"..... Nah, sekarang coba sinkronkan energi sihir mu dengan energi sihir dari sekitarmu......Tetapi, jangan lupa untuk mensinkronisasikan energi sihirmu dengan energi sihir dari alam.... Jangan halangi.... Biarkan energi itu masuk.... Stabilkan...... Dan tetap konsentrasi....".


Nii-san terus memberikan arahannya dan aku terus mengikutinya.


Di saat aku memfokuskan pikirkan dan energi sihir ku. Tiba-tiba kenangan kelam tetang diriku yang mendapat siksaan dari kedua Kakakku, teman-teman merek dan kedua orangtuaku kembali muncul.


Hal itu membuatku tenggelam jauh kedalam kenangan pahit itu. Aku mulai merasa ketakutan, keringat dingin mulai keluar dari sekujur badan ku.


Tertawa mereka yang mengejekku lambat laut mulai kudengar dan semakin jelas. Sementara aku yang ketakutan hanya bisa meringkuk seperti janin dalam ketakutan.


*Kenapa kalian lakukan ini padaku? Kenapa?*.


*Apa salahku? Kenapa kalian sangat benci padaku*.


*Hentikan...... Hentikan..... Nee-san..... Aku mohon.... Hentikan*.


"MENJAUH DARIKUUUU........!!!!!".


Aku terus tenggelam dalam kegelapan dan ketakutan yang aku rasa. Aku tidak tahu sampai kapan ini berakhir.


Di dalam hati kecilku aku berharap ada seseorang yang datang untuk menolong ku dari semua kegilaan ini.


Kemudian sesosok cahaya muncul, mendekatiku dan mem berikan ku sebuah pelukan yang sangat hangat.


Pelukan itu terasa sangat nyaman ini pertama kalinya aku dipeluknya dengan pelukan yang seperti itu.


Lalu aku mendengar suara yang berasal dari sosok cahaya yang memelukku itu.


".... Sudah Fira.... Tenanglah.... Ada aku disini.... Kau akan baik-baik saja..... Aku pasti akan melindungi mu..... Karena kau adalah adikku.....".


Aku merasa sangat familiar dengan suara itu. Dan entah bagaimana suara itu membuatku sangat tenang.


Dan saat pandanganku kembali, aku terkejut melihat Nii-san sedang memelukku erat. Aku tanpa sadar memanggilnya.


".......Nii-san".


Mengetahui aku sudah kembali sadar, Nii-san segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah ku.


".... Syukurlah,.... Sekarang kau sudah tenang...".


Menyeka air mataku, tapi aku segera terkejut ketika melihat badan Nii-san yang penuh luka tusuk dan luka bakar.


"Nii-san,.... Kau.... Terluka cukup parah!?.... Apa yang.... Sudah kulakukan".


"Hei, hei.... Itu bukan salahmu!? Yang penting.... Sekarang..... Kau baik-baik saja".


Nii-san berusaha memenangkan ku yang panik setelah melihat luka hampir di sekujur tubuhnya akibat dari perbuataku yang tidak bisa mengontrol energi sihir ku yang meluap-luap.


".... Nah, karena hari sudah sore..... Ayo.... Kita... Pu.... "


Belum bisa menyelesaikan ucapannya aku langsung terkejut saat melihat Nii-san langsung abruk karena kehabisan banyak darah didepan mataku.


"Nii-san? Nii-san?...... DYLAN NII-SAAAN!!!".


Aku dengan panik berusaha untuk membangunkan Nii-san yang pingsan. Karena Nii-san tidak sadarkan diri. Aku dengan susah payah berusaha untuk membopong Nii-san sendiri kembali ke Mansion Arcadia.


Beruntung ketika aku sampai di gerbang para penjaga dengan sigap langsung membantuku dan membawa Nii-san ke Mansion.


Sesampainya di Mansion tim dokter segera melakukan pengobatan terhadap Nii-san baik dengan cara Medis maupun dengan sihir penyembuh.


Sementara aku memutuskan untuk mengurung diri didalam kamarku yang gelap. Aku terus-menerus menyesali apa yang sudah terjadi pada Nii-san


Dan aku mulai berpikir bahwa, apa yang dikatakan Ayah, Ibu dan kedua Kakak perempuan nya itu benar, bahwa aku ini adalah seorang Monster berkulit manusia.


(------------)


2 hari telah berlalu.


Dan aku masih terus mengurung diri di dalam kamar. Aku terus menyesali apa yang sudah aku lakukan kepada Nii-san.


Selama ini, aku sangat bahagia bisa terus bersamanya, bisa mengenalnya dan bahkan dia dengan senang hati mengajarkan apapun yang tidak aku ketahui dengan sangat sabar.


Tapi, yang aku perbuat malah melukai orang yang sudah banyak berjasa kepada diriku selama ini. Dan sekarang membayangkan dia membenciku dan menjauh dariku membuatku sangat ketakutan.


Lalu sebuah ketukan pintu terdengar.


"Fira... Kau didalam... Ini aku Kakakmu, Dylan".


Mendengar suara Nii-san dari balik pintu, aku yang daritadi duduk menangis sambil memegang lutut mengangkat kepalaku dan menjawab nya.


"Iya,.... Aku ada di dalam".


".... Yosh, bisa kau bukakan pintunya!? ..... Aku sangat khawatir!?..... Kau juga sudah tidak makan selama 2 hari ini".


"..... Maaf, tapi aku tidak bisa!?.....Lebih baik kalian menjauh dariku..... Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi".


"Huh? Fira, kau ini ngomong apa? Memang siapa yang kau sakiti? Ayolah, buka pintunya biarkan aku masuk".


"AKU BILANG PERGI!!!".


Aku berteriak sekeras-kerasnya.


"AKU MOHON!!! TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!! AKU TIDAK INGIN MENYAKITI SIAPAPUN LAGI!!!! AKU HANYA INGIN BAHAGIA!!!! TAPI KENAPA AKU TIDAK BISA SEMENTARA ORANG LAIN BAHAGIA!!!! DARI DULU MEREKA MEMANGGILKU "MONSTER"!!! AKU TERUS DAN TERUS BERUSAHA MENYANGKAL NYA!!! TAPI, SEKARANG AKU SADAR!!! MEREKA BENAR!!! AYAH DAN IBU BENAR!!! BIANCA NEE-SAN DAN LISA NEE-SAN MEMANG BENAR!!! AKU INI MEMANG "MONSTER" BERKULIT MANUSIA!!! AKU MENYAKITI ORANG-ORANG YANG ADA DISEKITAR KU!!! JADI MENJAUHLAH DARIKU!!! AKU MOHON!!!!!....... Aku mohon!?".


Sambli menangis tersedu-sedu aku mengeluarkan segala keluh kesahnya selama ini. Dengan ini, aku berharap Nii-san segera menjauh dariku agar aku tidak menyakitinya lebih jauh lagi.


Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.


"..... Fira....!? Kalau kau sekarang ada di balik pintu aku sarankan segera bergeser".


Mendengar peringatan Nii-san, aku yang dari tadi ada di balik pintu segera menghindar.


"Impact"


Nii-san merapalkan sebuah mantra sihir yang meledakan pintu kamarku. Membuat semua orang dan aku terkejut dibuatnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nii-san masuk ke kamar dan berdiri di depanku yang duduk di bahwa.


Keheningan terjadi untuk sesaat, lalu Nii-san mulai berjongkok memperhatikanku lalu mulai memelukku dengan erat.


".... Nii-san?".


Aku yang kebingungan mulai bertanya pada Nii-san yang segera melepas pelukan nya.


"Siapa bilang kau Monster?..... Kau tidak pernah menyakiti siapapun?..... Lihat, aku baik-baik saja sekarang?..... Kau punya potensi yang besar.... Yang perlu kau lakukan adalah belajar cara mengontrol nya saja.... Dan jika ada yang memanggil mu sebagai "Monster".... Akan aku hajar orang itu.... Sekalipun, mereka adalah orang tua mu sendiri..... Karena itu,.... Jangan menangis lagi, ya".


Aku langsung tersentak, dan mengingat kembali ingat hari dimana aku baru datang ke Mansion Arcadia.


Aku sempat berpikir Nii-san adalah sosok yang dingin dan sulit di dekati karena selalu memasang ekspresi yang datar.


Tapi, itu semua salah.


Justru Nii-san lah yang pertama kali, memperkenalkan diri dan bahkan terus-menerus menemaniku.


Bukan hanya itu saja, Nii-san jugalah yang banyak meluangkan waktu untuk mengajariku berbagai hal yang tidak aku ketahui terutama soal sihir.


Menyadari fakta itu, kemudian aku mulai menangis sejadi-jadinya.


Aku menangis bukan karena sedih. Tapi karena aku baru sadar bahwa ada beberapa orang diluar sana yang mau menerimaku apa adanya.


Nii-san yang melihatku menangis kembali tersenyum dan memeluknya sambil terus menunggu sampai dia selesai menangis.

__ADS_1


Sejak saat itu, Nii-san menjadi orang yang sangat berarti di hidupku, begitu juga dengan keluarga ini.


__ADS_2