
"Btw.... Kau hebat juga, ya Leona-san..... Padahal sudah ku serang sebanyak itu, bahkan aku sampai membakar mata kiri mu..... Tapi, yah..... Kurasa itu tidak berefek apapun kepadamu..... Atau karena itu adalah efek dari mode Chimera mu?".
Ritzia memberikan pujian soal ketahanan fisik Mereleona yang masih bisa bertahan meski dia sudah memberikan luka bakar dan bahkan membutakan mata kirinya.
Dan Ritzia menduga mungkin itu adalah kekuatan dari Mode Chimera nya.
"Yah, dugaan mu tidak sepenuhnya salah..... Dengan membuang Unique Skill miliki kami.... Sebagai gantinya, kami memiliki kekuatan yang melebihi manusia pada umumnya".
"Jadi, ada syarat lain yang harus kalian penuhi sebelum memiliki kekuatan Chimera ini?".
"Benar, Ritzia-chan...... Biar sedikit aku jelaskan dengan sebuah perumpamaan".
Mereleona dengan senang hati menjelaskan sedikit soal kekuatan Chimera yang dia dan rekan-rekannya miliki.
"Bayangkan kau memiliki gelas yang setengah kau beri air...... Lalu kau mencampurnya dengan minyak..... Kau tuang minyak itu kedalam gelas berisi air tadi..... Sekeras apapun kau mencoba mencampurnya..... Kenyataan air dan minyak tidak akan pernah bersatu".
"Hou...... Jadi, begitulah konsep dari kekuatan Chimera mu".
"Benar, Ritzia-chan..... Air ibarat Unique Skill, gelas ibarat tubuh kita, dan minyak ibarat Kekuatan Chimera..... Mustahil kedua kekuatan itu bisa bersatu di dalam tubuh manusia..... Karena itu, salah satu harus keluar atau hilang".
"Dan karena kalian merasa Kekuatan Chimera lebih hebat dari Unique Skill..... Makanya kalian, memutuskan untuk membuangnya dan mengganti nya".
"Tepat sekali".
Mereleona tersenyum puas dengan kesimpulan singkat dari Ritzia setelah mendengar penjelasannya.
"Ah, karena aku sudah menjawab rasa penasaran mu..... Ayo kita lanjutkan apa yang kita tunda".
Mereleona mulai mengambil posisi dengan menaik kaki kirinya kebelakang seperti ingin menendang sesauatu. Melihat itu, Ritzia segera mengambil posisi waspada.
Dan benar saja.
Saat dia melakukan tendangan yang keras, sampai membuatnya salto kebelakang. Dari tendangan itu tercipta sebuah hembusan angin yang mirip dengan sebuah tebasan yang melesat kearah Ritzia melebihi kecepatan suara.
Ritzia yang menyadari hal itu, untungnya bisa menghindar. Tapi, yang membuat dia terkejut adalah munculnya bekas tebasan pedang di dinding sebelah kirinya.
(Apa-apaan ini?..... Bagaimana dia bisa menciptakan pisau udara hanya dengan sebuah tendangan?).
"Gimana?..... Kau terkejut, kan?..... Sekarang, mari kita bertarung menggunakan "senjata" yang sesungguhnya".
Ucap Mereleona kepada Ritzia yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
(----------------)
Blade Of Vaccum.
Adalah nama teknik yang baru saja di lakukan Mereleona. Dengan menganyunkan tubuhnya sendiri seperti cambuk, maksimalkan kecepatan, bertumpu pada kaki kanan, dan memfokuskan sihir angin pada kaki kirinya.
Kemudian Mereleona membalikkan tubuhnya sendiri dengan kaki lurus hentakan seperti membuat sebuah tebasan.
"Itulah "senjata" ku, Ritzia-chan".
Ritzia yang sempat terkejut, namun dia segera memperbaiki sikap nya itu dan kembali tenang setelah beberapa mengambil nafas.
"Aku mengerti sekarang..... Kau mulai bertarung dengan serius".
"Benar sekali...... Jika kita tidak mempertaruhkan nyawa, kita akan cepat bosan, kan?".
"Yah, terserahlah.... Ayo, kita mulai saja".
"Aku suka semangat mu itu".
Sekarang baik Ritzia dan Mereleona mulai bersiap mengambil sikap ancang-ancang untuk memulai petarung mereka lagi.
__ADS_1
Diantara mereka berdua, Mereleona lah yang mulai melakukan pergerakan terlebih dahulu.
Dia mengangkat tinggi-tinggi kaki kanan nya seperti yang di lakukan oleh seorang pesumo Jepang.
Gerakan yang anggun tanpa adanya hambatan, penampilan Mereleona dibalik wujud Chimera nya. Adalah sebagai keindahan dalam seni.
Gerakannya memancarkan aura membunuh yang hampir menghancurkan semua yang ada di dunia ini.
Dengan tatapan yang penuh aura membunuh seperti itu, dan diikuti oleh senyuman lebar dari wajah Badak nya.
"Di seluruh tempat di dunia ini..... Akan aku buat menjadi wilayah kekuasaan ku........ Seeping Savage Wind!!!!".
Setelah mengatakan itu, Mereleona segera menghentakkan kakinya ke lantai dengan sekeras-kerasnya.
Sangking kerasnya hentakan itu, membuat lantai beton itu langsung hancur seketika, Ritzia tentu saja terkejut akan kejadian di depan matanya itu.
"Ugh".
Tak berselang lama, tubuh Ritzia mulai terhempas karena kuatnya tekanan angin yang di hasilkan dari hentakan kaki Mereleona.
(Bukan hanya berniat untuk menghancurkan pijakan ku..... Dia memang ingin melempar ku dan memperpendek jaraknya..... Untuk bisa menciptakan angin yang bisa menghancurkan lantai.... Itu benar-benar gila).
Dan sesuai dengan dugaan Ritzia. Mereleona segera melesat kearahnya yang masih terhempas di udara. Ketika jarak mereka berdekatan, Mereleona langsung melayangkan sebuah tinjuan yang sangat keras.
Karena tidak mungkin bisa menghindar, Ritzia mencoba untuk memblokir serangan itu dengan menyilang kan kedua tangannya.
Sayangnya, meski sudah diblokir.
Serangan keras Mereleona kembali membuat Ritzia terpental dengan sangat cepat dan menembus dinding beton.
Meski begitu, Ritzia mencoba untuk memutarkan badannya dan dia berhasil mendarat dengan selamat walau sempat terseret mundur.
"Sialan..... Apa ini kekuatan lain dari fisik Chimera nya?".
"Hahahaha...... Sudah kuduga, serangan tadi tidak akan cukup untuk mu".
Kemudian, dia mulai melebarkan kedua tangannya seperti hendak melakukan gerakan terbang.
"Bagaimana dengan yang ini........ Blade Of Vaccum : Twin Blades!!!!"
Mereleona menganyunkan kedua tangannya ke depan dengan sangat keras. Sehingga menciptakan serangan tebasan angin berbentuk silang.
(Serangan seperti sebelumnya, datang...).
Melihat hal itu Ritzia mencoba untuk menghindari nya dengan melompat ke arah samping.
Tapi, naas.
Salah satu serangan itu berhasil menggores pinggang dan darah mulai keluar dari sana. Ritzia yang menyadari hal itu berusaha untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan.
"Hmmm.... Kau tidak akan bisa menghancurkan "senjata" ku..... Hanya dengan tinju atau tendangan mu saja, Ritzia-chan..... Kekuatan Chimera yang sudah memberiku segalanya.... Dan aku bisa malakukan apapun yang aku inginkan".
Dengan perasaan bangga, Mereleona membanggakan kekuatan Chimera yang dia punya dan merasa bahwa dia benar-benar sangat kuat sekarang.
"Apa yang hebat dari itu?".
"Hm?".
Setelah mendengar ucapan dari Mereleona yang membanggakan kekuatan Chimera nya, Ritzia yang mencoba berdiri kembali sambil menahan rasa sakitnya mulai buka suara.
"Kau rela membuang semua sifat dan perasan mu sebagai manusia, hanya untuk mendapatkan kekuatan..... Kalau kau melakukan itu dengan kerja keras, mungkin aku bisa memaklumi nya..... Tapi,......".
Ritzia menggerakkan gigi belakangnya. Seperti hendak menahan emosinya.
__ADS_1
"..... Kau justru mendapatkan kekuatan besar dari sebuah eksperimen yang bahkan memakan banyak korban jiwa dalam prosesnya........ Aku memang tidak tahu tahapan atau prosedurnya..... Namun buatku, kekuatan mu hanya sebatas "Pinjaman"..... Dan aku tidak akan kalah..... Dari orang yang hanya mengandalkan kekuatan "pinjaman".... SEPERTIMU!!!!!".
Ritzia berteriak sambil menatap tajam kearah Mereleona yang seketika terkejut karena melihat mata biru muda Ritzia, berubah menjadi berwarna emas.
(Perasaan ini).
Sambil bergumam, Mereleona tiba-tiba merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan itu membuatnya tersenyum lebar.
"Bagus sekali, Ritzia-chan..... Seumur hidupku, baru kali ini aku merasa sangat senang".
Bersamaan dengan itu, Mereleona kembali melakukan serangan ayunan kedua tangan yang sama seperti sebelum nya.
"Blade Of Vaccum : Wind Blade Dancing!!!!".
Ayunan kedua tangan yang menciptakan banyak tebasan angin yang kuat secara bertubi-tubi menyerang Ritzia.
Sambil mengindari setiap serangan yang datang, Ritzia berlari mencoba untuk mendekat kearah Mereleona.
Saat jarak mereka hampir berdekatan, Mereleona yang sadar. Segera mengarahkan tinjuan tangan kanan kearah Ritzia yang mendekat.
Tapi, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Sebelum tinju Mereleona menggapainya, Ritzia menghindar dengan melompat keatas dan memutarkan badannya.
Tentu saja hal itu membuat Mereleona terkejut. Namun, yang lebih mengejutkan nya adalah.
Memanfaatkan momentum itu, Ritzia mendaratkan sebuah tendangan kaki kanannya dengan sangat kuat dan keras tepat kearah wajah Mereleona yang menoleh kearahnya.
Mendapatkan serangan yang sangat keras itu, Membuat Mereleona langsung terjatuh tersungkur ke lantai.
Sementara Ritzia, berhasil mendarat dengan mulus lalu, melihat Mereleona yang terkapar di lantai.
"Gimana?..... Rasanya terkena serangan ku, Leona-san?".
Tak berselang lama, Mereleona kembali bangkit sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Mendapat hal itu, Ritzia segera melompat mundur untuk menjada jarak.
"Bah, merepotkan".
Sambil tersenyum lebar, Mereleona menatap kearah Ritzia yang terkejut karena menduga Mereleona tidak bisa bangkit lagi.
(-------------------)
"Kau luar biasa, Ritzia-chan...... Ah, berkat kau.... Akhirnya aku bisa melepaskan semua beban yang aku punya".
"Huh? Kau ini ngomong apa?".
"Sekarang bersiaplah, Ritzia-chan..... Kau akan melihat kekuatan ku yang sesungguhnya".
Setelah itu Mereleona mulai memejamkan kedua matanya, meski tidak tampak dari luar Mereleona sebenarnya sedang memfokuskan semua sihir yang dia punya ke dalam satu kesatuan.
Lalu, dia mulai mengepalkan tangan kanannya dengan sangat keras. Konsentrasinya sangatlah luar biasa. Butuh beberapa detik untuk Mereleona melakukan itu, dan Ritzia hanya bisa melihat dengan tatapan penuh dengan keheranan.
Dan saat dia sudah selesai.
Secara mengejutkan, sosok Mereleona menghilang dan sudah muncul di depannya. Ritzia yang terkejut bukan main dan merasa ada sesuatu bahaya yang datang segera memusatkan sihir angin untuk melindungi kedua tangannya dan menyilang kan nya.
Dan benar saja.
Mereleona segera lepaskan sebuah tinjuan yang sangat keras kearah Ritzia. Yang kecepatan tinjuan itu lebih cepat daripada suara.
"Ugh".
Ritzia yang sudah berusaha keras untuk menahan serangan itu, akhirnya terpental jauh dengan sangat cepat dan keras. Sangking kuatnya serangan itu, sampai membuat Ritzia menembus beberapa kali dinding beton sampai akhirnya dia terkapar di lantai.
__ADS_1
Apa yang dilakukan Mereleona adalah sebuah serangan tinjuan yang dia perkuat dan fokuskan sihir angin ke seluruh telapak tangannya.
"Maaf, ya..... Tapi, ini kemenangan ku..... Ritzia-chan".