Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 33 : Kesedihan Dan Rasa Frustasi Ritzia.


__ADS_3

Di saat Dylan dan yang lain sedang berusaha keras menahan serbuan Serigala tanduk yang menyerang Desa Hage.


Di garis start Trail Running terjadi kehebohan. Penyebabnya adalah para siswa yang tadi sedang berlari kembali dengan sangat terburu-buru.


Tampak raut wajah panik dan ketakutan terlihat jelas. Semua ini bisa terjadi, karena mereka mendengar suara ledakan dan Sampat melihat segerombolan Serigala tanduk yang hampir menyerang mereka.


Para guru yang paham akan apa yang terjadi, juga tampak panik dan terus mondar-mandir ke sana ke sini untuk memeriksa kondisi setiap siswa yang ada, apakah mereka terluka atau tidak.


Kecuali satu orang.


"Loh, loh.... Ada apa ini kok heboh banget?".


Ya, orang itu adalah Frey yang dengan santainya datang sambil menyedot Milkshake coklat mix alpukat favorit nya.


"Si keparat ini..... Dari mana saja kau, bangsat?".


Alex yang tampak kesal dengan sikap santai Frey segera mencecarnya. Tapi, Frey tidak menjawab dan hanya menunjukkan Milkshake yang dia bawa sambil tersenyum.


"Bajingan ini".


Seketika tampak beberapa tanda vena biru di kepala Alex. Yang menandakan kejengkelan karena dia tahu Frey habis dari mana.


"Sudah, sudah..... Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di sini?".


"Cih... Sebenarnya-----".


"Kami kembali kesini karena melihat sekelompok Serigala tanduk yang tiba-tiba muncul".


Sebelum Alex bisa menjelaskan, Vanessa muncul dan menjawab pertanyaan dari Frey.


"Heeeee...... Bisa anda ceritakan lebih detailnya kepadaku, Putri Vanessa".


"Baiklah, jadi begini".


Atas permintaan Frey, Vanessa menjelaskan rentetan kejadian. Dimana awalnya mereka terus mereka melakukan kegiatan Trail Running dengan biasa.


Kemudian mereka mendengar sebuah ledakan yang sangat keras dari sebuah tempat. Dan setelahnya, salah satu siswa melihat ada sekelompok Serigala tanduk yang berjumlah ratusan mulai mendekat.


Karena panik mereka memutuskan untuk segera kembali ke titik start untuk menyelamatkan diri dan meminta bantuan kepada para guru, mengingat mereka dilarang membawa Protas selama kegiatan ini berlangsung.


Selama mendengar cerita dari Putri Vanessa, Frey terus memperhatikan setiap kata yang diucapkan Vanessa. Dan tatapan matanya melihat dengan sangat tajam ke Vanessa sampai dia selesai dengan bercerita.


"Begitulah ceritanya, situasi kami saat ini".


"Hmmm.... Terimakasih atas keterangannya, Putri".


"Iya, sama-sama.... Kalau begitu saya undur diri dahulu.... Saya harus membantu rekan saya yang masih panik".


"Kalau begitu lakukan saja".


Vanessa segera pergi setelah selesai memberi laporan kepada Frey soal apa yang terjadi. Kemudian mata Frey melirik kerah lain untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali berbicara.


"...... Alex, apa sudah ada guru yang dikirim untuk menyelediki situasi ini?".


"Jason dan Olga yang pergi untuk memeriksanya..... Memangnya, kenapa?".


"Hmmm.... Tidak, tidak ada....... Yosh, kalau gitu.... Ayo kita lakukan yang terbaik untuk membantu para siswa yang masih panik".


"Tunggu dulu, Frey".


Frey yang hendak pergi membantu para guru yang lain di hentikan oleh panggilan Alex.


"Ada apa?".


"..... Semua siswa kelas 1-S yang kau ajar belum ada satupun yang kembali, termasuk Putri Ritzia dan Putri Sylvia".


"Heeee..... Sayang banget kalau begitu".


"Woi, Frey!!!".


Alex terpancing emosinya karena melihat sikap Frey yang tampak acuh dengan kondisi anak didiknya.


"Alex.... Aku yakin kau juga tahu seberapa kuat mereka semua, kan?.... Bahkan putri dari Kerajaan Rachael yang hanya menggunakan sihir penyembuh itu, bisa membunuh ratusan goblin sendirian..... Mereka tidak akan mati semudah itu.... Santai saja.... Palingan mereka sekarang sedang pesta api unggun di suatu tempat".


Tapi, Frey segera memberikan jawaban yang langsung membuat Alex terdiam. Hanya berdasarkan jawaban itu, Alex tahu bahwa Frey yakin bahwa Dylan dan yang lain pasti baik-baik saja.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo..... Kita punya banyak pekerjaaan yang musti di selesaikan..... Aku ngak mau jam tidur ku berkurang".


Alex dan Frey segera kembali menuju para siswa disana dan membantu para staf guru yang lain.


(----------------)


Kembali ke Desa Hage.


Tidak ada perayaan dan hanya ada duka yang di rasakan oleh para penduduk Desa Hage.


Banyak dari warga yang menjadi korban luka dan korban meninggal. Ladang yang siap panen hancur, ternak banyak yang terbunuh. Kondisi ini benar-benar sangat memprihatikan.


Jumlah korban terluka mencapai sekitar 175 orang dan jumlah korban meninggal 80 orang.


Karena itulah kenapa Dylan, Awin, Ornest segera membantu untuk pemakaman para korban meninggal. Arnold dan Garcia membantu untuk menyingkirkan mayat dari Serigala tanduk yang bergelimpangan.


Sementara itu.


Olivia, Ritzia, Emilia, Claudia, Lafia membantu beberapa warga untuk menyiapkan obat-obatan dan beberapa makanan. Sylvia yang sekarang dibantu Filaret masih berusaha untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka.


Ketika hari menjelang sore.


Semuanya selesai dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kemudian kepala Desa Hage meminta Dylan dan yang lain untuk segera berkumpul di aula desa. Di aula, Kelas 1-S di wakilkan oleh Ritzia dan Kepala desa mewakili seluruh warga, mereka duduk saling berhadapan.


Nah, kenapa Ritzia yang menjadi perwakilan dan bukan Dylan. Awalnya, Dylan yang disuruh untuk menjadi perwakilan namun dia menolaknya dan menyuruh Ritzia saja yang menjadi perwakilan mereka.


"Kau adalah Putri Kerajaan ini..... Dan di situasi seperti sekarang ini.... Hanya kaulah yang bisa melakukannya".


Karena itulah, Ritzia dengan terpaksa menerima hal itu, walau sangat berat untuknya.


"Pertama saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada tuan-tuan dan nona-nona sekalian yang sudah banyak membantu kami..... Kemudian, perkenalkan nama saya adalah Jilk..... Saya adalah kepala desa Hage ini".


Jilk dengan sangat sopan menundukkan kepalanya sebagai bentuk perwakilan dari ucapan terimakasih para penduduk.


"Tidak, anda tidak perlu sampai menundukkan kepala, tuan Jilk.... Justru Kamilah yang harusnya minta maaf karena datang terlambat".


Mendengar jawaban Ritzia, Jilk segera menggelengkan kepala sebagi bentuk tidak persetujuan.


"Tidak... Nyatanya, banyak warga terselamatkan berkat bantuan kalian.... Sejujurnya, aku sedikit terkejut bahwa anak-anak muda seperti kalian datang membantu kami..... Dan karena kalian yang sudah menyelematkan desa kami.... Kami benar-benar sangat berterima kasih".


"Lalu, kalau kami boleh tahu siapa nama tuan-tuan dan nona-nona sekalian?".


"Nama saya adalah Ritzia Sera Ingrid..... Putri pertama Kerajaan Ingrid dan siswa tahun pertama Akademi Estonia".


Mendengar siapa Ritzia membuat semua orang di sana seketika terkejut dan langsung menundukkan kepala.


"Ma-maaf atas ke lancangan kami.....Tuan putri.... Tidak seharusnya kami menyambut Putri Raja seperti ini!!!".


"To-tolong angkat kepala anda dan kalian semua...... Ti-tidak perlu se formal itu denganku.... Saat ini, saya hanyalah siswa Akademi yang biasa.... Aku akan sangat senang jika kalian bersikap seperti sebelumnya".


Ritzia dengan panik segera meminta agar Jilk dan para warga yang ada disana untuk mengangkat kepala mereka dan bersikap seperti sebelumnya.


"Apa..... Itu, benar-benar tidak apa-apa?".


Ritzia menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Melihat hal itu, Jilk dan para warga kembali menganggakat kepala dan menunjukkan ekspresi yang sangat lega.


"Kalau boleh tahu... Bagaimana Tuan putri berserta rekan-rekannya berhasil sampai di sini?".


"Sebenarnya.... Akademi tempat kami belajar sedang mengadakan kegiatan lari lintas alam.... Di saat kami sedang berlari tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat besar.... Dan kami melihat ada segerombolan Serigala tanduk yang sedang berlari kesini...... Karena jarak kami dengan titik awal sangat jauh dan tahu ada sebuah Desa di sekitar sini..... Makanya, kami putuskan untuk pergi dan membantu kalian....... Tapi, kami......datang terlambat".


Ritzia tidak bisa melanjutkan ceritanya, tampak jelas dia sedang mencengkram erat tangannya sebagi bentuk rasa frustasinya.


"Menurut saya.... Tuan putri tidak datang terlambat".


Ritzia segera mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk setelah mendengar apa yang dikatakan Jilk.


"Waktu itu.... Bukan hanya saya.... Kami semua sudah mulai merasa putus asa dan siap menerima kematian..... Tapi, di saat itulah.... Tuan putri berserta tuan-tuan dan nona-nona sekalian datang membantu kami.... Bukan hanya memukul mundur segerombolan Serigala tanduk dan Minotaur raksasa itu saja.... Anda sekalian bahkan membantu menyembuhkan yang terluka dan menguburkan mereka yang sudah meninggal...... Kami sangat bersyukur Tuan putri berserta tuan-tuan dan nona-nona sekalian datang...... Kami yang terselamatkan adalah bukti bahwa Tuan putri tidak datang terlambat.... Karena itulah, kami ucapkan banyak-banyak Terimakasih..... Dan tolong terimalah".


Ritzia dan yang lainnya hanya bisa terdiam melihat betapa tulusnya Jilk dan para warga desa Hage mengucapkan rasa terimakasihnya kepada mereka.


"Begitu ya..... Saya sangat senang bisa membantu".


Ritzia sendiri tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi ucapan terimakasih dari para warga Desa Hage. Karena itu, dia hanya bisa menerima rasa terimakasih mereka begitu saja.


Karena hari sudah mulai malam dan tidak mungkin bagi mereka untuk melintasi hutan pada malam hari.

__ADS_1


Atas saran dari Jilk sebagai kepala desa. Mereka di minta untuk menginap dan beristirahat di sana. Tidak punya pilihan, mereka menerima tawaran itu dengan senang hati.


(----------------)


Jam menunjukkan pukul 22.30 malam.


Banyak warga yang sudah berada di rumah mereka masing-masing dan beristirahat. Sama halnya dengan Dylan dan yang lain juga mulai istirahat dan terlelap dalam tidur di kamar mereka masing-masing yang sudah di siapkan oleh para warga.


Namun tidak dengan Ritzia.


Dia tidak bisa tidur dan terus merasa gelisah. Sudah beberapa kali dia berganti posisi. Tapi, semua itu tidak membuahkan hasil apapun. Karena tidak bisa tertidur, Ritzia memutuskan untuk pergi dan berjalan keluar dari penginapan.


Langkah Ritzia berhenti sampai di sebuah dermaga kecil yang berdekatan dengan sungai. Terduduk disana, Ritzia mulai menatap langit malam yang dihiasi oleh gemerlap bintang yang indah dan ditemani oleh semilir angin malam yang dingin.


Meski tampak menikmati suasana, nyatanya ekspresi wajah sedih tergambar jelas dan pikirannya yang terus melalang buana.


Di saat Ritzia tenggelam dalam pikirannya, dia tersadar setelah mendengar suara seorang pria yang tampaknya dia kenal.


"Tidak bisa tidur ya, Ritzia?".


"Dylan".


Rupanya, orang yang menyapa Ritzia adalah Dylan yang sekarang hanya menggunakan kaos tank top warna hitam dan celana panjang.


"Sedang apa kau disini.... Kau juga tidak bisa tidur, ya?".


"Tidak, aku haus makanya aku bangun untuk minum.... Dan saat aku mau kembali, aku melihatmu berjalan keluar..... Karena penasaran, jadi aku ikut saja kau".


"Heeeee....... Begitu, ya".


Dylan menjawab itu sambil duduk di sebelah Ritzia. Terjadi keheningan diantara mereka, karena keduanya sibuk melihat indahnya langit malam.


"Ini bukan semua salahmu, Ritzia".


"Eh?".


Tiba-tiba saja, Dylan memecah suasana sehingga membuat Ritzia terkejut untuk sesaat dan segera menoleh kearah Dylan yang masih menatap langit malam.


"Tanpa kau beri tahu pun, aku sudah tahu apa yang kau pikirkan dan yang kau rasakan...... Kau frustasi karena tidak bisa menyelamatkan semuanya, kan?..... Belum lagi, ucapan terimakasih dari para warga benar-benar sangat membebani mu, kan?...... Kau merasa tidak pantas mendapatkan ucapan terimakasih dan rasa syukur dari mereka..... Itulah yang membuatmu frustasi sekarang".


"Hmph.... Kau ini ngomong apa sih?..... Aku sama sekali ngak ngerti".


Ritzia berusaha menyangkal apa yang baru saja di simpulkan oleh Dylan mengenai kondisinya saat ini.


"Ya udah deh.... Mau bagaimana lagi".


Melihat betapa keras kepalanya Ritzia, Dylan segera berbalik dan mengarahkan punggungnya kearah Ritzia. Tentu saja, tindakan Dylan itu membuat Ritzia kebingungan.


"Kau butuh punggung seseorang sebagai tempatmu menangis, kan?..... Maka gunakan saja punggung ku ini..... Aku janji tidak akan mengejek mu".


Ritzia sempat terdiam untuk sesaat, kemudian dia mulai menempelkan dahinya di punggung Dylan. Lalu, secara perlahan-lahan dia mulai meneteskan air mata dan menangis sejadi-jadinya.


"UWAAAAA....!!! AKU BENAR-BENAR PUTRI YANG TIDAK BERGUNA!!!!! AKU TIDAK BISA MENYEMATKAN WARGA KU SENDIRI!!!!! AKU INI MEMANG SAMPAH!!!!! WAJAR JIKA SEMUA ORANG MEMBENCI KU!!!!! AKU MEMANG TIDAK PUNYA KEKUATAN POLITIK SEPERTI VANESSA YANG BISA MENGGERAKKAN BANYAK ORANG MELALUI KATA-KATA SAJA!!!!! TAPI, MESKI BEGITU AKU INGIN SEKALI BISA MELINDUNGI WARGA KERAJAAN INGRID!!!!! INI ADALAH TANGGUNG JAWABKU SEBAGAI PUTRI RAJA!!!! TAPI, AKU TIDAK BISA!!!! NYATANYA, AKU TIDAK BISA MENYELAMATKAN MEREKA SEMUA!!!!! MESKI BEGITU, MEREKA MASIH MEMBERIKAN UCAPAN TERIMAKASIH NYA PADAKU!!!!! ITU BENAR-BENAR BERAT UNTUKKU!!! AKU MERASA TIDAK PANTAS UNTUK ITU!!!!! SEKARANG AKU SADAR!!!! YANG DIKATAKAN ORANG-ORANG DI ISTANA ITU MEMANG BENAR!!!!! AKU MEMANG TIDAK PANTAS MENJADI SEORANG PUTRI RAJA!!! BAHKAN, AKU INI MEMANG TIDAK PANTAS UNTUK DILAHIRKAN!!!!! UWAAAA......!!!!".


Dylan hanya bisa terdiam dan tertunduk mendengar semua keluh kesah dan rasa frustasi yang dirasakan Ritzia selama ini.


Dia memutuskan untuk tidak berbicara sepatah katapun, agar bisa setidaknya sedikit saja membantu meringankan beban yang Ritzia rasakan.


(-----------------)


Setelah puas yang menangis dan mengeluh, Ritzia dan Dylan kembali ke penginapan.


Mereka segera berpisah dan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk melanjutkan istirahat.


Sesampainya di Kamar yang dia gunakan, Dylan di buat terkejut karena tiba-tiba di sana ada seorang gadis cantik berambut peach panjang dan warna mata yang sama. Nampak dada besarnya yang menonjol dari balik baju lingerie hitam sexy yang dia pakai.


Siapapun pria yang melihatnya akan membangkitkan gairah dalam dirinya. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu segera membungkukkan badannya dan mulai berbicara.


"Maaf, mengganggu anda..... Nama saya adalah Ariel..... Atas permintaan kepala Desa dan para warga..... Saya ditugaskan untuk "menemani" anda malam hari ini.... Sebagai ucapan terimakasih".


Dengan nada yang sedikit bergetar gadis yang dipanggil Ariel ini. Mengungkap maksud tujuannya menyelinap ke kamar Dylan.


"Huh?".


Mendengar hal itu Dylan reflek terkejut dan menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan.

__ADS_1


Butuh beberapa saat baginya untuk mencerna apa yang gadis bernama Ariel ini katakan sampai akhirnya dia benar-benar paham apa maksud dari semua ini.


__ADS_2