Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 2.


__ADS_3

"Karena aku sudah dalam mode ini..... Bersiaplah, Ritzia Sera Ingrid...... Karena aku akan..... Menghancurkan mu".


Setelah mengatakan itu dalam sekejap mata, Mereleona sudah ada di depannya. Dan hal itu tentu saja membuat Ritzia terkejut.


"Nah, Ritzia-chan..... TERIMALAH INI!!!".


Mereleona melesatkan sebuah tinjuan kearah Ritzia, karena tidak bisa menghindar. Ritzia mencoba untuk memblokir serangan itu.


Sayangnya, karena tinjuan Mereleona sangatlah kuat. Ritzia yang tidak kuat menahan akhirnya terpental. Memanfaatkan itu, dia kembali melesat mendekat kearah Ritzia.


Dan tanpa belas kasihan, Mereleona menghujani Ritzia dengan banyak bombardir tinjuan yang cepat dan kuat.


Tentu saja, Ritzia merasa rasa sakit yang luar biasa dengan semua bombardir serangan itu. Setelah beberapa kali menerima serangan itu, untungnya Ritzia masih mempertahankan posisi berdirinya walau sempat terpental.


"SIALAN!!!".


Sambil mengumpat kan kekesalannya, Ritzia mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Tapi itu tak berselang lama, karena Mereleona segera kembali menyerang nya.


Kali ini serangan yang di lakukan Mereleona adalah Lariat yang dia arahkan tepat di leher Ritzia. Dengan sangat keras dan brutal, Ritzia kembali di lemparnya dengan kecepatan tinggi sampai menembus dinding beton.


Karena tidak kuat menahan rasa sakit dari serangan bertubi-tubi dan teknik Lariat barusan, Ritzia hanya bisa terduduk tak berdaya.


"Ada apa, Ritzia-chan..... Sudah pasrah?".


Dengan nada menyindir, Mereleona bertanya kepada Ritzia apakah dia sudah pasrah akan nasibnya.


Tapi, Ritzia tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya melihat Mereleona dengan matanya yang sudah tampak kelelahan.


Di momen seperti itulah, ingatannya tiba-tiba kembali saat dia masih dalam pelatihan dari Dylan. Suatu hari, entah kenapa Ritzia meminta Dylan untuk melakukan sparring battle bersama.


Meski sudah beberapa kali melakukan serangan, nyatanya hampir tak ada satupun serangan Ritzia yang mampu mengenai Dylan baik itu tinjuan maupun tendangan. Ditambah rasa frustasi, ketika dia sadar bahwa Dylan tidak benar-benar serius menyerangnya.


Selang beberapa saat keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak.


"Btw, Ritzia..... Kenapa kau tiba-tiba memintaku untuk melatih mu?....... Apa kau frustasi kalah terus dari Awin?".


Dylan yang penasaran dengan sikap aneh Ritzia.


Setelah meneguk minumannya, Ritzia segera menjawab apa yang di tanyakan Dylan.


"Frustasi sih pasti..... Hanya saja...... Aku merasa tertinggal jauh dari kalian berdua".


"Hm?".


"Maksudnya gini..... Setiap kalian berlatih dan bertarung.... Entah bagaiman kalian berdua tidak bahkan Filaret sekalipun..... Bisa berkembang dengan sangat cepat..... Tapi, aku...... Meski sudah berlatih dengan sangat keras.... Aku merasa bahwa aku..... Sudah pada batasan kekuatanku yang tidak bisa aku tembus..... Karena rasa penasaran itulah, makanya aku memintamu untuk sparring battle...... Dengan harapan aku bisa tahu caranya bisa setara kalian bertiga".


Sambil membuka dan menutup telapak tangannya, Ritzia menjelaskan alasan kenapa dia meminta Dylan untuk sparring battle bersama.


Mendengar hal itu, Dylan terdiam sesaat sambil menatap langit dan sedang berpikir untuk mencarikan kata-kata yang tepat untuk Ritzia.


Setelah beberapa saat, Dylan kembali menunduk dan melihat kearah Ritzia yang murung.


"Kalau pendapat ku sih..... Sebenarnya kau sudah kuat.... Hanya saja, kau masih terpaku pada pikiranmu dan kurang nya sikap egois".


"Maksudnya?".


Ritzia yang tidak paham akan ucapan Dylan segera bertanya kepadanya.


"Gini....... Selama aku mengenalmu, aku tidak akan ragu bilang bahwa kau itu orang baik yang peduli kepada mereka yang ada di sekitarmu..... Tapi terkadang, sikap seperti itu akan jadi bumerang bagi dirimu sendiri....... Aku suka dengan sikapmu yang sering meminta saran dari orang lain..... Hanya saja, jangan jadikan itu sebagai tolak ukur semua yang kau lakukan..... Karena pada akhirnya, kau sendirilah yang harus mengambil keputusan itu....... Etto, singkatnya..... Jangan jadikan pendapat orang lain itu beban pikiran, tapi jangan lupa juga untuk menjadi sedikit egois, Ritzia".


Ritzia terkesan dengan perkataan Dylan, hal itu benar-benar tertancap di hatinya. Tanpa Dylan sadari Ritzia melihatnya dengan wajah yang merah merona dan senyuman yang indah.


*Sekarang aku tahu kenapa Vanessa begitu frustasi dengan mu*.


"Hm? Kau ngomong apa?".


"Tidak ada kok".


Dylan yang tidak sengaja mendengar gumaman Ritzia segera mengalikan pandangan dan bertanya. Tapi, Ritzia segera mengalihkan padangan dan dengan segera meneguk minumannya.

__ADS_1


Kembali ke Ritzia yang sedang bertarung dengan Mereleona.


Setelah flashback singkat itu, Ritzia perlahan-lahan mulai berdiri kembali. Mereleona yang melihat itu sempat terkejut sesaat dia tidak menyangka bahwa Ritzia masih bisa bertahan.


"Kau benar Dylan..... Kurasa aku memang kurang egois...... Kalau begitu....... Mulai sekarang, aku akan sedikit egois".


Setelah mengatakan itu, Ritzia segera memperbaiki posisi bertarungnya. Dan kemudian Ritzia menatap Mereleona dengan tatapan yang menakutkan dan aura yang membunuh yang kuat.


"Bersiaplah, Leona-san...... Karena aku..... Akan menghancurkan mu".


(-------------------)


Ritzia segera melesat kearah Mereleona dan mendarat tinjuan tangan kiri kearahnya, tapi Mereleona bisa menghindar dengan muda.


"Gerakan mu penuh celah, Ritzia-chan".


Melihat celah yang dibuat Ritzia, tanpa ragu sedikitpun dia mendaratkan tinju ke wajah Ritzia.


Ritzia yang terkena tinju itu badannya sempat menekuk ke belakang. Namun, seketika Mereleona dibuat terkejut dimana dia melihat Ritzia yang tersenyum.


Dan dalam waktu sekejap mata, Ritzia melancarkan tinjuan tangan kananya yang sangat kuat, sampai membuat Mereleona terkejut dan tidak percaya akan hal itu.


(Apa-apaan ini?.... Kenapa tinju nya bisa terasa sangat berat.... Meski aku dalam mode Chimera).


Tak mau membuang waktu hanya untuk bergumam, Mereleona kembali melancarkan bombardir tinjuan kearah Ritzia. Tentu saja, Ritzia yang tidak bisa menghindar harus menerima serangan itu.


Tapi, yang berbeda kali ini adalah dirinya yang tidak terpental atau tumbang. Dengan masih mempertahankan senyuman tak kenal takutnya, Ritzia melayangkan sebuah tinjuan tepat ke ulu hati Mereleona dengan sangat keras.


Itu terbukti dengan badan Mereleona yang langsung membungkuk ke depan setelah menerima serangan itu dan memuntahkan darah meski kulitnya sudah sangat tebal.


"SEKARANG.... MAMPUS KAU!!!".


Ritzia memanfaatkan itu, untuk mematahkan cula di wajah Mereleona dan langsung menghantam wajahnya dengan lututnya.


Menerima serangan itu, tentu saja membuat Mereleona mudur untuk sesaat. Namun, Ritzia yang tidak mau kehilangan mangsanya segera mendekat.


Mereleona yang menyadari hal itu, berusaha untuk melawan balik dengan memberikan tinjuan yang bertubi-tubi.


Sambil terus menerus menghindari serangan dengan berpindah-pindah untuk menyulitkan Mereleona, dia juga memanfaatkan celah yang ada untuk melakukan serangan balik berupa tinjuan dan tendangan secara bergantian.


Sampai akhirnya, Ritzia berhasil mendaratkan sebuah tendangan yang sangat keras ke wajah Mereleona dan membuatnya terpental kebelakang sampai beberapa meter.


Sambil kembali memperbaiki posisi bertarung dan aura membunuhnya yang kuat, Ritzia menatap Mereleona yang kesakitan di hadapannya.


"Hei..... Leona-san..... Kau.... Ngak keberatan kalau kubunuh, kan?".


Mendengar hal itu, bukannya takut atau terkejut Mereleona malah tersenyum lebar dan memperbaiki posisi bertarungnya.


"Cobalah kalau kau memang bisa".


(--------------------)


Entah mengapa, Ritzia tiba-tiba mengambil ancang-ancang untuk lari start jongkok. Meski kebingungan, Mereleona mencoba untuk tetap waspada akan apa yang terjadi.


Tak berselang lama, Ritzia segera melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi. Tapi, yang membuat Mereleona keheranan adalah Ritzia yang tidak berlari lurus tetapi malah berlari zig-zag dengan kecepatan tinggi.


Dari pandangan Mereleona sangking cepatnya Ritzia bergerak. Seolah-olah dia sedang melihat ada 4 orang Ritzia.


Disaat Mereleona kebingungan dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba dia menerima 4 serangan tinjuan beruntun Ritzia dari berbagai arah yang seketika mengejutkannya


"A-apa?".


Meski kulit badaknya sangat tebal. Tapi, tinjuan Ritzia mampu menembusnya dan memberikan rasa sakit yang luar biasa.


Tak mau terpojok, Mereleona membungkukkan badannya dan melakukan salto dengan 2 kaki sejajar yang dia arahkan tepat ke Ritzia.


"MAKAN INI, RITZIA-CHAN!!!!".


Tapi, itu berakhir kegagalan.

__ADS_1


Karena sebelum mencapainya, Ritzia sudah berpindah ke sebelah Mereleona dan dengan tanpa ragu sedikitpun.


Ritzia melancarkan sebuah tendangan lokomotif kaki kiri yang sangat cepat dan kuat ke punggung Mereleona.


"GADIS TENGIK!!!!".


Mereleona yang terpental mengeluarkan umpatan kejengkelan kepada Ritzia yang terus menyerangnya.


(Yang benar saja..... Bagaimana gadis kecil ini bisa sangat kuat?..... Apa yang sebenarnya terjadi?...... Siapa dia sebenarnya?).


Saat Mereleona hendak mengangkat wajahnya, dia dibuat terkejut oleh Ritzia yang tersenyum didepannya dan melayangkan sebuah tinjuan Upper Cut dengan tangan kirinya.


Kerasnya Upper Cut itu membuat wajah dan badan Mereleona kembali terangkat sekaligus memuntahkan darah.


Tak mau membuang-buang waktu lagi, Ritzia kembali menyerang Mereleona dengan 2 tinjuan yang keras di badannya.


Belum sampai disitu, Ritzia memutar badannya dan memberikan tendangan kaki kanan yang dia arahkan ke wajahnya dengan sangat keras.


(Apa-apaan gadis ini?..... Setelah melakukan serangan beruntun seperti ini, seharusnya dia sudah kelelahan...... Kenapa dia, tidak kelelahan atau bahkan melambat).


Di dalam hati, Mereleona keheranan dengan Ritzia yang sama sekali tidak lelah setelah dia melakukan berbagai serangan tanpa adanya jeda.


Ya, alasan kenapa Ritzia bisa melakukan serangan bertubi-tubi tanpa kelelahan itu tidak lepas dari semua latihan gila dari Frey dan rutinnya dia melakukan Sparing Battle dengan rekan sesama kelas 1-S nya. Terkhusus nya, Dylan dan Awin.


Tak mau terus menerus di pojokan oleh bombardir serangan Ritzia yang gila. Tiba-tiba dari tangan Mereleona muncul sesuatu yang aneh seperti sepasang sayap. Terkejut Ritzia memutuskan untuk melompat mundur.


"HEI, RITZIA!!!! SEKARANG AKU BISA MENERIMA SEMUA YANG KAU LEMPARKAN KEPADAKU!!!".


Rupanya yang dilakukan Mereleona adalah mengembangkan otot pada kedua lengannya untuk menciptakan perisai kokoh dari kulit tebalnya.


"Baiklah, Leona-san..... Mari kita lihat.... Perisai otot Badak mu..... Dengan tinjuan dan tendangan ku...... MANA YANG LEBIH KUAT!!!!"


Meski sempat terkesan, Ritzia kembali menyerang perisai tebal itu dengan berbagai bombardir serangan tinjuan maupun tendangan.


""WOOOOOOAAAAAA.......!!!!"".


Teriakan dari kedua orang itu untuk meningkatkan dan membakar semangat juang mereka. Dan sebagai bukti bahwa baik Ritzia maupun Mereleona tidak ada yang mau tumbang.


Seiring berjalannya waktu, Mereleona adalah orang pertama diantara mereka yang mulai kewalahan menghadapi gempuran serang Ritzia yang tidak ada habisnya.


(Apa-apaan ini?..... Bahkan dengan wujud Chimera sekali pun..... Aku malah kewalahan menghadapinya..... Dan mau sampai kapan dia terus melakukan ini?...... Aku tidak percaya.... Bahwa seorang putri Raja bisa melakukan ini..... Jika ini terus berlanjut...... Aku tidak akan bertahan).


Di dalam hatinya, Mereleona benar-benar dibuat tidak percaya dengan kekuatan gila yang di keluarkan Ritzia. Bahkan Mereleona sampai tidak percaya kalau Ritzia adalah seorang Putri Raja.


Kemudian secara mengejutkan, Ritzia mengangkat kaki kirinya keatas dan melayangkannya di antara kedua tangan Mereleona.


Hal itu, membuat Mereleona terkejut.


Dengan sekuat tenaga Ritzia menarik kaki kirinya itu sehingga kedua tangan Mereleona seperti menadah. Memanfaatkan momentum itu, Ritzia menggunakan kaki kiri sebagai dorongan untuk melompat.


Rupanya, tujuan Ritzia adalah menggunakan kedua tangan Mereleona sebagai batu pijakan agar dia bisa melompat di udara.


"AKAN AKU AKHIRI INI, LEONA-SAN!!!!".


Dengan memfokuskan sihir api di kedua kakinya, Ritzia terus dengan memutar badannya seperti gerakan salto ke depan.


Secara otomatis, bagian Tungkal belakang telapak kaki Ritzia yang di lapisi sihir api, mengenai mata kiri Mereleona.


Belum sampai di situ saja, bahkan serangan itu juga meninggalkan bekas luka bakar yang besar di badan Mereleona.


Setelah mendarat, Ritzia segera mengambil jarak dari Mereleona yang menahan rasa sakit dari dagingnya yang terkoyak dan terbakar kemudian.


"Bagaimana menurut, Leona-san..... Apa serangan ku.... Terasa panas".


Ritzia yang masih mempertahankan tatapan mengerikannya bertanya kepada Mereleona soal serangannya barusan.


Tapi, respon yang diterima justru mengejutkan.


Perlahan-lahan, Mereleona mulai membasahi bibirnya dengan lidah. Kemudian dia mulai tersenyum lebar sambil tertawa kearah Ritzia.

__ADS_1


"Kahahahaha....... Ini baru yang nama pertarungan".


__ADS_2