Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 36 : Ekspresi Dungeon part 7.


__ADS_3

Firasat buruk bukan hanya di rasakan oleh Aria saja. Bahkan anak-anak panti asuhan yang di tolong Dylan juga merasakan hal yang sama. Dimana, mainan yang pernah Dylan berikan kepada mereka tiba-tiba jatuh dan hancur begitu saja.


Di Mansion Arcadia sendiri.


Hyoga yang dari tadi terus mengetik dokumen dengan mesin ketik nya berulangkali selalu salah dan membuang semua ketikan itu berkali-kali. Bukan karena dia tidak konsentrasi, melainkan pikirannya menjadi kau karena tiba-tiba saja, wajah putranya selalu terlintas di benaknya.


"Kenapa ini?...... Kenapa aku sangat sulit untuk konsentrasi?......... Dan kenapa wajah Dylan selalu terlintas di pikiran ku?".


Kemudian pandangan Hyoga teralihkan ke perangkat Protas yang ada di sebelahnya.


"Apa aku tanya Leon saja..... Mungkin dia tahu sesuatu?".


Saat hendak mengambil Protas itu Hyoga segera mengurungkan niatnya dan kembali.


"Tidak.... Lebih baik ngak...... Kalau aku menghubungi nya...... Yang ada si brengsek pirang itu..... Akan mengomeli ku karena tidak pernah mengabarinya selama hampir 20 tahun lamanya".


Hyoga kemudian melanjutkan pekerjaannya, meski diliputi dengan perasaan tidak nyaman.


Kembali ke Dungeon.


"Aniki.... Bertahanlah!!!".


Awin segera berlari mendekati Dylan yang sedang terkapar. Hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan Dylan masih hidup atau sudah mati dengan memeriksa denyut nadi di lehernya.


"Ah.... Syukurlah dia masih hidup".


Tanpa pikir panjang lagi, Awin langsung menuangkan Exilir untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya dengan kain yang dia dapat dengan merobek baju lengannya.


Kemudian dia menaruh tangan kanannya di ulu hati Dylan dan mulai memfokuskan sihir dan merapalkan mantra.


"Dark Magic : Black Healing".


Ini adalah sihir penyembuh ciptaan Awin sendiri. Awalnya, dia berpikir "Apa cuma sihir cahaya yang bisa di gunakan untuk sihir penyembuh?".


Berdasarkan pemikiran itu, Awin mencoba mengganti rangkaian formula sihir dan mantra pada sihir penyembuh.


Dengan berkali-kali percobaan yang gagal, hasil akhirnyanya, dia berhasil menciptakan sihir penyembuh dengan sihir Kegelapan miliknya.


Meski tidak sebaik dan secepat saat menggunakan sihir cahaya. Tapi, efek penyembuhan yang dihasilkan tetaplah sama.


"Aniki..... Istirahatlah sebentar...... Nidhogg sialan aku yang mengurusnya".


Setelah menyembuhkan Dylan, Awin segera berdiri dan menggenggam lagi Misery Cleaver miliknya dengan wajah yang diliputi oleh amarah yang luar biasa.


Kemudian.


Awin segera melesat kearah Nidhogg dengan kecepatan yang tinggi. Dan saat Nidhogg sudah dekat dengannya Awin segera menganyunkan senjata Misery Cleaver miliknya dengan sangat cepat.


"Hiyaaaaaa.......".


Sambil di iringi teriakan untuk menambah semangat dalam dirinya, Awin menganyunkan Misery Cleaver seperti menggunakan senjata Tripple Stick ke wajah Nidhogg.


Meski serangannya gagal karena tebal dan kerasnya sisik Nidhogg tidak memerahkan semangat juang Awin untuk menumbangkan makhluk yang satu ini.


Nidhogg sendiri yang sudah merasa jengkel dengan serangan Awin, juga memutuskan untuk melakukan serangan balik.


Nidhogg mencoba untuk menyambar Awin dengan menggunakan akan cakarnya. Namun, Awin berhasil melompat mundur dan menghindar.


Tak mau membuang waktu, Awin segera melesat kearah Nidhogg dan mencoba untuk menyerang lagi.


Tak mau lawannya mendekat duluan, sosok Nidhogg tiba-tiba menghilang dan muncul dibelakang Awin membuka mulutnya hendak menerkamnya.


Tapi, Awin tidak mau kalah langkah dari Nidhogg. Awin yang menyadari itu segera melompat untuk menghindar.


Namun, justru momen inilah yang ditunggu Nidhogg. Karena sebelum Awin bisa mendarat Nidhogg segera membalikkan badannya. Dan menyambar Awin dengan ekor tajamnya.


Untungnya, Awin mencoba menghambat Sambaran ekor itu dengan menggunakan senjatanya. Meski begitu, Awin masih tetap di kirim terbang dengan kecepatan tinggi.


Tubuh Awin berhenti melesat setalah punggungnya menabrak sebuah dinding batu dan terjatuh ke tanah.


Mengabaikan rasa sakit yang luar biasa, Awin kembali berdiri sambil menyeka darah yang mereka dari mulutnya.


(Apaan kekuatan nya ini?..... Dia bahkan lebih kuat saat di jembatan waktu itu?..... Bukan cuma sisiknya saja yang semakin keras...... Kecepatan...... Daya serangnya..... Sihirnya..... Dan yang lebih penting..... Tubuhnya sekarang bisa mementalkan sihir apapun).


Awin sambil terus menghindar dan menyerang balik Nidhogg didalam pikirannya Awin mencoba untuk menganalisa kekuatan Nidhogg.


(Sebenarnya..... Untuk bisa memberi damage padanya..... Setiap serangan yang aku lancarkan harus ku perkuat dan ku lapisi dengan sihir..... Tapi......).


Nidhogg yang jengkel kembali terbang ke udara, lalu tubuhnya mulai dilapisi oleh sihir yang banyak. Kemudian dia melesatkan bola atau peluru sihir dari seluruh tubuhnya ke arah Awin.


Awin yang tahu bahwa dia tidak bisa menghindar, mau tidak mau harus menangkis setiap bola atau peluru sihir yang datang beruntun.


"Dark Misery Cleaver : Black Fury Burrial".

__ADS_1


Sebuah serangan berbentuk cekungan berwarna hitam dengan jumlah yang banyak melesat dan menghancurkan setiap bola atau peluru sihir yang datang kepadanya.


(....... Jika aku menyerangnya dengan sihir..... Aku akan berakhir sama seperti Aniki).


Meski itu terbukti efektif, Awin tahu bahwa itu belum cukup untuk benar-benar menangkis semua serang bola atau peluru sihir Nidhogg. Karena itu, sambil menceritakan lidahnya Awin berkali-kali merapalkan mantra yang sama.


Sambil terus menangkis setiap bola atau peluru sihir Nidhogg yang berdatangan, Awin tahu alasan kenapa lengan Dylan bisa terpotong adalah karena serangan Phantom Blade yang dia lesatkan kearah Nidhogg, berbalik dan dan memotong lengan kanannya tanpa Dylan sadari.


Karena itu lah, Awin tidak berusaha menyerang balik fisik Nidhogg dengan serangan sihir karena dia tahu serangannya akan di pentalkan balik kepada nya.


(..... Maka satu-satunya cara untuk mengalahkan nya..... Adalah dengan serang fisik murni...... Tapi, apa itu cukup?).


Didalam pikirannya Awin tahu satu-satunya cara mengalahkan Nidhogg adalah serang fisik langsung tanpa sihir apapun. Namun, disisi lain dia merasa hal itu sangatlah mustahil. Mengingat ketebalan dan kekerasan fisik Nidhogg yang sulit untuk di tembus.


Selama memakan waktu yang cukup lama berkutat dengan bola atau peluru sihir dari Nidhogg. Serangan itu akhirnya berhenti, dan Nidhogg kembali turun.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!!".


Sambil meraung keras, Nidhogg tampaknya semakin jengkel karena serangan bola atau peluru sihir beruntunnya masih belum bisa menumbangkan Awin.


Awin yang kelelahan masih mencoba berdiri sambil terus menatap tajam kearah Nidhogg yang meneriakinya.


"Sial..... Apa tidak ada..... Cara-----".


Awin seketika tersentak, alasannya karena dia baru saja mengingat sesuatu yang dia lupakan selama ini. Lalu, dia melihat telapak kanannya yang bergetar sambil berpikir.


"Tidak..... Ada cara lain...... Tapi..... Jika aku menggunakan nya...... Energi sihir ku akan terkuras lebih dari 3/4 nya".


Kemudian pandangan teralihkan pada Dylan yang terkapar jauh darinya. Lalu dia memejamkan matanya dan mengepal tangan kanannya yang gemetar dengan sangat kuat.


"Namun..... Jika ini bisa membuat kami berdua selamat...... Maka.....".


Seketika sebuah aura sihir berwarna merah gelap muncul, membara dan meliputi seluruh tubuh Awin sampai menciptakan hembusan angin yang kuat. Lalu rambutnya berubah menjadi berwarna putih terang. Dan saat dia membuka matanya, warna berubah menjari oranye. Bukan itu saja, bahkan setiap luka yang Awin terima segera tertutup dengan sempurna.


Nidhogg yang melihat itu seketika melompat mundur. Karena entah mengapa dia merasakan kekuatan luar biasa yang muncul dari dalam diri Awin.


"..... Ini adalah bayaran yang setimpal".


Dengan penuh tekad yang kuat, Awin bersiap untuk mengalahkan Nidhogg yang ada di depannya.


(------------------)


Setelah mengatakan itu.


Sosok Awin tiba-tiba menghilang entah kemana. Nidhogg yang tidak dapat melihat keberadaan Awin mencoba untuk mencarinya ke sana kemari. Tapi----.


Sebuah tebasan yang sangat cepat berhasil menembus sisik keras Nidhogg. Dan dari sayatan itu darah mulai mengucur deras.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!".


Nidhogg yang mulai merasakan sakit segera berteriak sekencang-kencangnya. Belum sampai di situ, serangan sayatan yang lebih cepat dan lebih banyak datang bertubi-tubi.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!".


Nidhogg yang merasakan sakit karena luka sayatan yang terus berdatangan berteriak sekeras-kerasnya.


Tapi, begitu dia melihat sosok Awin di depannya. Tanpa pikir pajang dia mulai membuka mulutnya dan dan menembakkan sihir kearahnya.


Bukannya berlari menghindar Awin malah melesat maju dan menerjang tembakan sihir itu.


"Hiyaaaaa........".


Terjadi ledakan yang sangat luar biasa ketika tembakan sihir itu bertabrakan dengan Awin yang berlari kearahnya. Hembusan dari ledakan itu sampai menghempaskan semua rerumputan di sekitar, bahkan badan Dylan yang terkapar sampai terhempas dan tercebur kedalam sungai.


Merasa Awin sudah hancur Nidhogg mulai tampak tenang. Tapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Dari kobaran api yang sangat panas sampai bisa melelahkan tanah, muncul sesosok bayangan yang melesat kearah Nidhogg.


"ITU..... BUKAN...... MASALAH!!!!".


Iya, sosok itu adalah Awin yang melesat dan mendaratkan tebasan Misery Cleaver yang sangat kuat dan tajam ke Nidhogg.


Serangan itu terbukti efektif, karena berkat serangan itu Awin berhasil melukai mata kiri Nidhogg. Belum sampai di situ saja.


Bahkan serangan Awin itu sanggup memotong tanduk tebal dan sayap lebar Nidhogg dalam sekali serangan.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR.....!!!!!".


Awin menoleh kebelakang kearah Nidhogg yang berteriak kesakitan sambil tersenyum mengejek.


"Nah, sekarang..... Bagiamana?..... Rasanya menjadi tak berdaya?...... Jika kau bertanya kekuatan apa ini?...... Maka akan aku beritahu sebagai bekalmu ke akhirat".


Awin segera berbalik dan mengepalkan tangan kirinya lalu berbicara kepada Nidhogg dengan percaya diri.

__ADS_1


"Ini adalah Unique Skill milik ku.... Namanya, Ultra Ability.... Keren, kan".


Ultra Ability.


Itu adalah Unique Skill milik Awin.


Skill ini dapat membuat semua kemapuan Awin baik secara fisik, sihir, maupun serangan akan mencapai tingkat maksimal begitu di aktifkan. Syarat untuk mengaktifkan Skill ini adalah dengan memberikan sugesti pada diri sang pengguna "Bahwa aku lebih kuat dari lawan ku". Dengan begitu Skill ini akan aktif dan bekerja sesuai dengan sugesti tersebut.


Namun, tentu saja ada kekurangannya.


Pertama, begitu skill ini aktif energi sihir pengguna akan termakan sampai 3/4 nya. Kedua, adalah skill ini hanya bisa di gunakan 1 kali dan bisa digunakan lagi setelah 2 hari berikutnya. Ketiga, skill ini akan gagal aktif apabila pengguna menanamkan sugesti "Aku lebih lemah dari lawan ku" atau sejenisnya.


Setelah mengatakan apa nama Unique Skill miliknya, Awin tiba-tiba mulai muntah darah.


"Kurasa tubuhkan sudah tidak kuat lagi..... Lagian, aku mengaktifkan skill ini saat badanku terluka cukup parah.... Jadi, aku tidak bisa menggunakan skill ini lebih lama".


Kemudian Awin melihat kearah Nidhogg yang menatap tajam kearahnya, seperti bersiap melakukan sebuah serangan.


"Hou... Begitu ya...... Jadi kau ingin mengakhiri ini juga iya...... Baiklah...... Aku terima tantangan mu".


Awin yang mengerti maksud dari Nindhogg, segera bersiap melakukan serangan untuk mengakhiri pertarungan ini.


Keduanya sama-sama mulai merapalkan mantra sihir. Nidhogg memfokuskan serangan pada ujung mulutnya. Dan Awin yang bersiap dengan Misery Cleaver miliknya.


Keheningan terjadi sesaat diantara mereka, keduanya sama-sama fokus untuk mengakhiri ini semua.


Dan. Dalam momen yang bersamaan keduanya mulai melesatkan serangan pamungkas mereka. Dimulai dari Nidhogg yang melesatkan tembakan sihir yang lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya.


"Ultra Dark Misery : Ultra Blast Fury".


Awin juga melesat sebuah serangan yang tak kalah kuatnya melesat dan bertabrakan dengan serangan Nidhogg.


"Hiyaaaaaa..........!!!!!".


Ibarat ledakan bom yang sangat besar dapat menghancurkan seluruh 2 gedung apartemen. Itulah yang menggambarkan apa yang terjadi, ketika serangan Awin dan Nidhogg bertabrakan.


Setelah, beberapa saat kemudian situasi kembali menjadi tenang. Dibalik debu yang berterbangan itu hanya ada sosok yang berdiri di sana.


Dan ketika debu itu menghilang perlahan-lahan, sosok bayangan itu adalah Awin yang sedang tertunduk lelah dan perlahan-lahan kondisi Awin kembali seperti biasa.


Awin kemudian melihat kearah depannya di sana sudah tak terlihat sosok Nidhogg.


"Ha...... Ha...... Ha...... Ha.... Akhirnya....... Aku..... Berhasil.....".


Tapi, harapan Awin seketika sirna.


Tiba-tiba dari arah depannya, sebuah tebasan berbentuk cakaran segera menyambar tubuh Awin dan langsung mengeluarkan darah.


"Eh?".


Butuh beberapa detik bagi Awin untuk benar-benar apa yang sedang terjadi, begitu badannya terpental dan darahnya keluar dari luka cakaran itu. Awin tahu dari mana serangan itu barusan.


Benar.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR.....!!!!!".


Ternyata sosok yang menyerang nya adalah Nidhogg yang masih hidup dengan badannya yang penuh dengan luka dan berteriak sekeras-kerasnya kearah Awin.


"Keparat...... Kau..... Masih.... Hidup..... Saja".


Awin yang sudah kehabisan tenaga dan banyak darah hanya bisa menatap dengan mata penuh dengan kelelahan.


Saat itu dia tahu, bahwa dia sudah tidak punya kesempatan untuk melawan balik. Bersamaan dengan itu, Nidhogg yang sudah mendekat kearah bersiap mencakar nya untuk kedua kalinya. Dan Awin tahu apa yang akan terjadi padanya jika terkena cakaran itu.


"Maaf ya, Aniki...... Kayaknya aku yang bakal pergi duluan..... Hiduplah dengan tenang di dunia ini".


Awin memejamkan matanya, ekspresi wajahnya tampak lelah dan bibirnya mulai tersenyum. Seolah-olah dia sudah pasrah akan kematian.


Kemudian Nidhogg segera menganyunkan cakar lengan kirinya dengan kecepatan tinggi dan Awin bersiap menerimanya dengan pasrah.


Tapi, sebelum cakar itu berhasil mengenai Awin sesuatu yang mengejutkan dan luar biasa terjadi.


"Eternal Blade : Heaven Blade".


Sebuah tebasan yang halus, tajam, lebih cepat dari cahaya. Menyambar lengan kiri Nidhogg dan memotongnya.


"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!!".


Melihat lengannya yang terpotong dan jatuh membuat Nidhogg segera berteriak sekeras-kerasnya mengungkapkan sakit luar biasa.


Awin yang sangat familiar dengan suara yang barusan dia dengar segera membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia.


Karena sosok yang dia lihat adalah Dylan yang sudah bangun dan memotong tangan Nidhogg. Tapi, yang membuat Awin terkejut adalah lengan kanan Dylan yang kembali utuh. Tapi, bukan lengan manusia. Melainkan lengan kanannya mirip seperti lengan seekor naga sambil memegang pedang Katana.

__ADS_1


"Kerja bagus, Aw---tidak Kenji...... Sisa serahkan padaku".


Dylan menatap tajam kearah Nidhogg dengan aura membunuh yang kuat dan matanya yang menyala merah terang seperti Fafnir.


__ADS_2