
Dylan memberikan sebuah kotak kecil sebagai hadiah. Begitu dibuka Pavline terkejut dan terkesan saat melihat isinya.
Dylan memberikan hadiah berupa kalung berlian Hope Diamond yang dia beli saat berada di ibukota Algrand.
Dylan yang melihat ibunya yang terkesan kembali melanjutkan ucapannya.
"Yah, mungkin ini tidak seberapa dengan semua kasih sayang yang ibu berikan kepadaku.... Tapi, setidaknya kalung itu bisa menjadi simbol bahwa aku sangat menyayangi ibu".
"Dylan".
Pavline segera memeluk Dylan yang membuatnya tersipu malu.
Tapi, hal yang mengejutkan terjadi.
Entah mengapa, tiba-tiba Pavline dengan sangat cepat membanting Dylan ke lantai dan tanpa basa-basi memberikan kuncian tangan padanya.
Dylan yang tersadar segera merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"AW, AW, AW, AW........ IBU APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!!!".
Dylan yang terkejut segera bertanya kepada Pavline soal kenapa dia melakukan ini. Dan dengan ekspresi jengkel di wajahnya Pavline mengungkapkan alasannya dan semakin menguatkan kuncian nya.
"Oh Dy-chan!!!... Apa kau pikir dengan memberiku hadiah berupa kalung mahal di hari ulang tahunku itu akan meredakan emosiku kepadamu. Putraku Sendiri, huh?!!!!..... Ibu tidak akan pernah memaafkan sikap selengean dan kebiasaan mu yang selalu memuat ibu dan semua orang di sekitarmu khawatir.... Jadi, anggap saja ini sebagai bentuk kasih sayang dan ucapan terimakasih dari ibumu yang tercinta ini?!!!!.... Bahkan sampai detik ini aku terus bertanya-tanya di dalam hati kecilku.... Kenapa aku bisa melahirkan anak bandel dan selengean sepertimu? Padahal aku yakin, tidak pernah mengidam hal-hal yang aneh saat mengandung mu!!!!!".
'AW, AW, AW. INI SEMAKIN SAKIT.... AYAH, FIRA TOLONG AKU.... DAN KALIAN JANGAN DIAM SAJA? CEPAT BANTU AKU?".
Dylan semakin kesakitan karena Pavline semakin memperkuat kuncian nya. Karena itu dia meminta bantuan kepada Ayahnya, Filaret dan para pelayan untuk menolongnya.
Tapi, jawaban yang Dylan terima benar-benar mengejutkan.
"Pavline sayang, patahin aja tangan tuh anak berandalan".
"Ibu, beri Nii-san rasa sakit lebih parah lagi. Aku belum puas melihatnya".
"Benar nona lakukan itu".
"Jangan kasih ampun, tuan Dylan".
"Buat dia sadar akan sikap berandalan nya itu".
"Tuan memang pantas menerima hal itu".
"Terimakasih karena sudah mewakili rasa kejengkelan kami semua"
"Jangan lepaskan dia, Nona".
"PENGKHIANAT KALIAN SEMUAAAAA!!!!!".
Ternyata Hyoga, Filaret dan semua orang yang bekerja di Mansion Arcadia merasakan kejengkelan yang sama dengan Pavline akibat tingkah selengean Dylan.
Jadi, mereka tidak mau membantu Dylan yang saat ini sedang kesusahan dan malah mendukung tindakan Pavline yang menghajar putranya itu.
Adegan pergulatan itu menjadi hiburan tersendiri para tamu yang datang dan mereka tidak bisa berhenti tertawa melihat kelakuan Dylan dan Pavline.
(---------------)
__ADS_1
"Pengkhianat...... Kalian semua pengkhianat....".
Dylan terus saja mengomel sambil terus menahan rasa sakit pada lengan tangannya yang mendapat kuncian kuat dari Pavline sambil berjongkok di pojok aula.
"Sudah, sudah, anggap saja itu sebagai "karma" atas perbuatan mu selama ini".
"Buset, cara menghibur macam apa itu, njir".
Hyoga yang menemani berusaha untuk menghibur Dylan meski putranya itu tidak merasa terhibur sama sekali.
Selang beberapa saat, Dylan yang tadi berjongkok segera berdiri dan mulai berbicara dengan ayah nya sambil pandangan menatap lurus kearah para tamu yang hadir
"Ayah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan".
"Soal pertemuan ku dengan Yang Mulia, kan?".
Hyoga yang paham akan maksud putranya segera menyela ucapannya. Dylan menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada sesuatu yang terlalu penting..... Hanya saja, Yang Mulia ingin mengkonfirmasi sendiri tentang laporan dari Rufus".
"Hou....".
"Tentu saja ayah mengatakan yang sebenarnya...... Tapi, baik ayah maupun Rufus tidak mengatakan bahwa kau orang yang membunuh Oscar".
"Hmmm..... Apa Yang Mulia menawarkan sesuatu?".
Hyoga sempat terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.
"Beliau menawarkan akan "menyatakan perang" dengan syarat, bahwa aku harus setuju".
"Tapi, tentu saja aku menolaknya..... Lagian, aku tahu tindakan Oscar bukan atas dasar titah Yang Mulia William.... Melainkan para The Oracle's.... Jadi, aku pribadi tidak memasalahkan hal itu".
"Baguslah kalau begitu..... Aku tidak bisa membayangkan kalau perang akan pecah..... Tapi, bukankah tawaran Raja itu hanyalah kiasan bahwa beliau sebenarnya ingin berperang dengan Kerajaan Rachael.... Dengan dalih "penyerangan Kerajaan Rachael ke wilayah Arcadia", Ayah?".
Hyoga lalu menggeleng kepala sebagai tanda ketidak setujuan nya.
"Yang Mulia Conrad bukanlah orang seperti itu, aku tahu persis siapa dia".
"Benarkah?"
"Yah, sebenarnya beliau adalah Raja paling termuda dalam sejarah Kerajaan Ingrid.... Semua itu terjadi, karena Raja sebelumnya...... Atau bisa dibilang Ayah Yang Mulia meninggal karena faktor usia.... Saat itu Kerjaan sedang terlibat konflik perang dengan Kerajaan High Montana..... Walau kami berhasil memenangkan kemenangan.... Kosong nya singgasana menimbulkan banyak kepanikan.... Karena itu Yang Mulia yang masih berusia 17 tahun saat itu segera naik tahta..... Itu karena, Raja tidak punya pewaris lain selain dia".
"Hmmmm.....".
"Tapi, karena usia beliau yang masih sangat muda dan kurangnya pengetahuan akan politik membuat semuanya menjadi kacau balau".
Hyoga kemudian memberikan tatapan hangat dan kembali berbicara.
"Meski begitu, Yang Mulia tidak mau menyerah..... Dengan waktu singkat, beliau bisa membalikkan keadaan dan kembali menstabilkan kondisi Kerajaan yang kacau..... Dan saat dia dipuji atas kerja kerasnya dia mengatakan "Semua ini adalah kerja keras semua bahwan ku. Tanpa mereka saya tidak akan bisa apa-apa, Meski aku seorang Raja". Begitulah katanya".
"Heeeee..... Tapi, kenapa masih banyak bangsawan yang tampak tidak puas dengan dirinya?".
"Yah, namanya juga politik.... Terkadang saat kita membuat sebuah kebijakan yang baik saat itu juga menjadi kebijakan yang buruk untuk yang lain".
Setelah meneguk tehnya Hyoga melirik kearah Dylan dan kembali berbicara.
__ADS_1
"Bahkan beliau tidak ambil pusing soal tindakan seseorang yang menyiram putrinya dengan secangkir teh didepan semua orang".
"Ugh".
Dylan langsung tersentak begitu mendengar perkataan Hyoga yang tahu, bahwa dialah pelakunya.
"Yah, terserahlah..... Pokoknya itulah yang kami diskusikan".
"Aku mengerti".
Walaupun Dylan bilang mengerti, tapi sebenarnya ada beberapa hal yang mengganjal baginya.
(Dari raut hangat ayah saat menceritakan tentang Yang Mulia Conrad..... Berarti semua yang dikatakan Ayah memang benar adanya..... Tapi, siapa "Rubah" yang di maksud oleh Ayah waktu itu?..... Kalau bukan Raja? Lalu siapa?..... Kalau aku bertanya, ayah pasti tidak mau menjawabnya.... Berarti aku harus cari tahu sendiri siapa si "Rubah" ini).
Lalu pandangan Dylan teralihkan kepada ibunya dan Filaret yang tertawa sambil menikmati pesta.
"Yah kita pikir itu lain kali".
Dylan kemudian melangkah pergi meninggalkan Hyoga sendiri.
"Oh, ya Dylan aku hampir lupa...... Pada musim semi besok alias musim panas disini, kau dan Filaret akan bersekolah di Akademi Estonia di Ibukota".
Seketika, Dylan terguncang dan menghentikan langkah kakinya. Dengan badannya yang bergetar lalu dengan perlahan-lahan menoleh kearah Hyoga.
"A-a-apa?".
(Sek bentar..... Sekolah? Artinya, aku masuk ke Akademi Estonia?..... Kenapa, ayah menjatuhkan bom saat suasana hatiku sudah mulai tenang).
"Sebenarnya, ada beberapa masalah yang rumit. Aku ingin mengurusnya sendiri. Tapi, yang satu ini tidak bisa Ayah tolak.... Kita bicarakan itu-----".
GEDEBUG.
Terdengar sesuatu seperti benda jatuh yang mengejutkan semua orang. Dan saat mereka mencari tahu dari mana asal suara itu.
Mereka semua dibuat terkejut dan heran, karena sumber suara itu berasal dari Dylan yang entah bagaiman tiba-tiba terkapar di lantai.
"DYLAN!!!".
"DY-CHAN!!!".
"NII-SAN!!!".
(Aku sudah menduganya kalau ini akan segera terjadi..... Tapi kalau boleh jujur, "sekolah" itu bukannya kata "kutukan" ya?..... Bahkan itu kata yang aku benci di kehidupan ku sebelumnya..... Terus tempat itu adalah pusat hampir seluruh cerita "Long Life Brave"... Yang berarti, aku akan bertemu dengan pahlawan dan haremnya...... Ini bukan lawakan lucu ,lho?)
Semua orang langsung berkumpul di sekitar Dylan. Mereka juga heran karena saat ekspresi Dylan yang gelap dan badannya tidak bergerak sama sekali. Tapi, anehnya mulutnya bergerak sambil mengatakan sesuatu.
"Ooooh. Ya ampun, kok aku jadi males banget, ya?..........Jangankan gerak, nafas aja kayak nyusahin banget".
"""LAH BUSET!!!!! TINGKAT KEMALASAN NYA UDAH EDAN TENAN, SAMPAI NAFAS BUAT DIRINYA SENDIRI AJA MALES!!!!"""".
Semuanya kebingungan, panik dan terheran dengan tindakan aneh Dylan yang mengejutkan semua orang.
Tapi, tindakan Dylan sekarang ini adalah sebagai bentuk kewajaran. Karena dia tahu apa yang terjadi jika dia bertemu dengan Pahlawan dan Haremnya.
Namun, dia tidak bisa bercerita karena takut dianggap sebagai orang gila.
__ADS_1