
{Halo, selamat malam nona Vanessa}.
"Selamat malam juga, Brandon-san".
Karena rasa penasaran yang dia rasakan setelah melihat Frey, Dylan, Awin, Ritzia dan Filaret yang pergi entah kemana dengan terburu-buru.
Vanessa memutuskan untuk menghubungi salah satu orang yang bekerja di Istana. Guna bertanya apa ada sesuatu yang mungkin saja mereka ketahui.
Dan orang yang dia hubungi adalah Brandon Swift. Seorang pria paruh baya yang sudah menjadi pelayan senior di Istana selama lebih dari 30 tahun, sekaligus orang yang menjadi pelayan pribadi dari Yang Mulia Conrad.
{Maaf sebelumnya..... Tapi, ada keperluan apa tuan Putri Vanessa sampai repot-repot menelpon saya secara pribadi}.
Dengan nada sedikit cemas Brandon bertanya apa tujuan Vanessa menelponnya langsung. Dan Vanessa kemudian memberikan alasannya.
"Brandon-san..... Apa Ayah pernah menghubungi tuan Leon untuk membahas sesuatu?".
{Eh?..... Selama 2 hari ini, saya tidak melihat Yang Mulia menghubungi siapapun bahkan tuan Leon}.
"Hmmmm....... Lalu, apa Ayah pernah mengadakan pertemuan atau diskusi dengan seseorang akhir-akhir ini?".
{Etto...... Kalau tidak salah...... Beberapa hari yang lalu..... Yang Mulia mengadakan diskusi dengan tuan Rufus...... Memangnya ada apa, nona?}.
(Rufus? Maksudnya si Panglima jutek yang selalu ngobol santai dengan Ayah itu? Memangnya ada perlu apa? Lagian, kenapa orang kayak dia yang ngak mau kasih aku dukungan, harusnya dicopot aja dari jabatannya).
Mendengar nama Rufus, Vanessa teringat dengan sosok Panglima militer cabang Chivalric Order, Rufus Dom Silva.
Meski bisa dihitung sebagai "teman lama" Ayahnya. Vanessa sama sekali tidak menyukai sosok pria itu.
Awalnya, Vanessa hendak meminta dukungan dari pihak militer apabila kelak terjadi perang perebutan kekuasaan antara dirinya dengan Ritzia.
Saat dia berhasil mendapat dukungan dari Magical Order, yang dipimpin oleh seorang penyihir Kerajaan bernama Helga Fin Cifer alias Ibunya Zuzan. Vanessa juga berencana untuk mendapatkan dukungan dari Chivalric Order.
Namun, sayang hal itu ditolak mentah-mentah oleh Rufus selaku panglima tertinggi Chivalric Order. Dia juga berkata bahwa "Chivalric Order akan selalu berada di pihak netral".
Mendapati fakta itu, Vanessa tidak bisa menyembunyikan rasa bencinya kepada pria itu. Dia secara diam-diam mencoba untuk membuat Rufus di pecat dan di copot dari gelarnya.
Bahkan ada beberapa komandan di Chivalric Order yang sependapat dengannya. Terutama Casillas fou Chamble, ayah dari Stella fou Chamble.
Namun entah mengapa, hal itu tidak pernah terjadi. Dan Yang Mulia sepertinya masih tetap mempertahankan Rufus sebagai seorang Panglima Chivalric Order.
"Hmmm..... Bisa kau beritahu aku apa yang mereka bahas?".
{A-Ano..... Maaf nona..... Seperti yang anda tahu..... Saya adalah pelayan pribadi Yang Mulia..... Dan saya sudah di sumpah untuk tidak mendengar-----}.
"Brandon-san".
Vanessa memotong perkataan Brandon dengan nada yang sangat mengintimidasi. Dan itu berhasil membuat Brandon ketakutan.
"Katakan saja apa yang kau tahu...... Atau..... Kau sudah tidak mau melihat keluargamu lagi...... Terutama cucu kesayangan mu".
Dengan nada dingin Vanessa mengancam Brandon apabila tidak ingin memberi tahukan apa yang dia dengar.
{Hiiiii...... Kumohon nona..... Tolong jangan libatkan keluargaku dalam masalah ini...... Baiklah-baiklah saya akan ceritakan semua yang saya ketahui}.
Karena ketakutan akan ancaman Vanessa yang berpotensi menyakiti keluarganya. Maka Brandon tidak punya pilihan lain selain menceritakan semua yang dia dengar dan secara tidak langsung dia mengingkari sumpahnya.
{Begitulah yang saya tahu, nona.... Selebihnya saya tidak tahu menahu}.
"Hmmm..... Kerja bagus.... Kalau kau melakukan apa yang aku katakan..... Maka aku tidak akan membawa-bawa keluargamu..... Kau mengerti kan, Brandon-san?".
{I-iya, nona..... Saya mengerti}.
Setelah itu, Vanessa mematikan perangkat Protas nya dan mulai tenggelam kedalam pikirannya.
(Aku tahu ini masalah yang menyangkut keamanan Kerajaan..... Tapi, kenapa Ayah tidak memberi tahuku apapun?...... Belum lagi, Ayah dan Rufus-san sepakat untuk meminta bantuan kepada tuan Leon..... Yang secara tidak langsung memilih Dylan dan Nee-sama untuk menyelesaikan masalah ini).
"Hmmm..... Sekarang bagaimana caraku memanfaatkan situasi ini, ya?".
Vanessa terus berusaha berpikir keras untuk mencari cara bagaimana dia bisa memanfaatkan situasi ini demi keuntungan nya. Sampai akhirnya, dia tersenyum karena berhasil menemukan sebuah ide.
"Aku tahu harus apa....... Pertama, aku akan dengan sengaja membocorkan ini semua dan memanipulasi nya dengan dalih bahwa suruhan ku yang menemukan lokasi mereka..... Kedua, aku merayu mereka untuk membantuku memberantas orang-orang itu..... Ketiga, aku akan umumkan pencapaian ini ke Khalayak publik..... Dengan begitu, maka reputasi ku akan semakin baik dimata masyarakat...... Hmm.... Tapi, aku butuh orang yang bisa aku jadikan "sampulnya".... Siapa ya?".
Vanessa berpikir kembali untuk menentukan siapa orang yang cocok untuk menjadi "sampul" dari seluruh rencananya ini.
Ketika pikiran sudah menemukan orang yang cocok, Vanessa segera tersenyum lebar. Dan kemudian dia mulai melangkah masuk kedalam Mansion yang kali ini tujuannya adalah Aula dimana para siswa Akademi Estonia sedang di kumpulkan.
(---------------------)
Di Aula Mansion.
Para murid saat ini masih sedikit panik dengan kejadian yang baru saja terjadi. Karena itulah mereka dikumpulkan di Aula oleh para guru dengan tujuan untuk bisa membantu mereka sedikit lebih tenang.
"Dominic bagaimana kondisi mereka?".
__ADS_1
Orang yang di tanyai oleh Jason adalah Dominic de Howard. Dia di gambarkan sebagai pria tampan yang santai tapi tidak sesantai Frey dengan rambutnya yang berwarna merah bata dan mata yang berwarna sama. Dia seorang guru yang bertanggung jawab soal pelajaran Kimia, itu tampak dari jubah lab berwarna putih yang dia pakai.
"Seperti yang kau lihat sendiri, kan?..... Mereka masih panik dengan kejadian ini".
Jawab Dominic sambil hendak menyalakan rokok nya. Tapi, tiba-tiba Jason mengambil rokok itu dari mulutnya, menjatuhkannya kelantai dan menginjaknya.
"WOI, JASON!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!!!! ITU ROKOK TERAKHIR KU!!!!".
"Kita sedang di hadapan para murid.... Setidaknya tahan dirimu sebentar..... Lagian, tidak merokok sehari saja..... Tidak akan membunuhmu, kan?"
"Tapi, bibirku bakalan pahit seharian jika aku tidak menghisap satu puntung rokok saja".
"Makanya berhentilah jadi perokok".
"Ugh".
Dominic tidak bisa berkutik dengan perkataan Jason yang menyuruhnya untuk berhenti menjadi seorang perokok. Baginya, itu adalah hal yang paling sulit.
"SEMUA MOHON PERHATIANNYA!!!".
Tiba-tiba terdengar suara seorang siswa yang menggema di aula itu. Saat semua mengalihkan pandangannya kearah podium Aula.
Di sana sudah ada Reiner yang sepertinya dialah yang berbicara barusan. Setelah memperhatikan sekitarnya dan berhasil mendapatkan perhatian semua orang, Reiner mulai kembali bicara.
"Rekan-rekan satu sekolah yang aku banggakan.... Aku tahu bahwa saat ini kita sedang panik, karena insiden penculikan ini.... Tapi meski begitu, aku ingin meminta satu hal dari kalian semuanya".
Reiner kemudian membungkukkan badannya ke depan, hal itu membuat semua orang menjadi kebingungan.
"KUMOHON PINJAMKAN AKU KEKUATAN KALIAN!!!".
Mendengar Reiner yang memohon kepada mereka untuk meminjamkannya kekuatan membuat mereka semakin kebingungan.
"Kau tahu kalian pasti kebingungan dengan apa yang aku katakan barusan.... Jadi, biarkan aku jelaskan".
Kemudian Reiner mulai mengatur nafasnya dan melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya aku sudah tahu siapa sekelompok yang menculik nona Claudia".
Perkataan Reiner membuat semua orang terkejut bukan main.
"Eh?".
"Apa-apaan itu?".
"Yang benar saja?".
Begitulah, reaksi semua orang saat mendengar apa yang barusan di katakan Reiner.
"Mereka adalah para peneliti dari Kerajaan Strost yang melakukan eksperimen gila secara diam-diam di Kerajaan ini".
Seketika semua orang dibuat terkejut bukan main, bahkan Jason dan Dominic sampai membelalakkan matanya.
"Memang, aku masih belum tahu alasan mereka menculik nona Claudia..... Tapi, berkat mata-mata yang dikirim oleh Putri Vanessa beberapa hari yang lalu...... Sekarang aku tahu, bahwa mereka sedang melakukan semacam eksprimen yang tak manusiawi dan sudah memakan banyak korban..... Tujuan, mereka adalah untuk menciptakan pasukan monster yang akan mereka gunakan untuk menyerang ibukota..... Karena itulah, aku berencana untuk menghentikan tindakan kejam mereka dan membebaskan orang-orang yang mereka culik untuk menjadi tikus percobaan".
Kemudian Reiner menundukkan kepalanya sambil meremas kedua lengannya.
"Tapi, aku sadar..... Kekuatanku sendiri saja tidak akan cukup.... Karena itulah, aku ingin meminjam kekuatan kalian semua..... Dan bersama-sama kita akan menyelamatkan para sandera sekaligus menyelamatkan Kerajaan ini dari ancaman mereka..... Karena itu semua..... PINJAMKAN AKU KEKUATAN KALIAN!!!!".
Terjadi keheningan setelah Reiner berpidato untuk meminjam kekuatan para siswa Akademi Estonia untuk melawan para peneliti dari Kerajaan Strost.
"Yah, ayo kita lakukan".
"Ayo kita hajar orang-orang itu".
"Kalau Reiner-san atau Nona Vanessa yang meminta..... Dengan senang hati akan kami bantu".
"Aku tidak kenal Claudia.... Tapi, demi Reiner-san aku akan melakukannya".
Mereka semua dengan penuh semangat yang membara bersedia untuk membantu Reiner. Sementara itu, Vanessa tersenyum puas bahwa semua berjalan sesuai dengan rencananya.
"Nona Vanessa".
Suara seorang gadis tiba-tiba memanggilnya, tenyata dia adalah Stella.
"Apa nona juga akan ikut turun tangan?".
"Tentu saja..... Itu adalah tanggung jawab ku sebagai Putri Raja.... Aku harus menangkap orang-orang itu".
"Kalau begitu, tolong izinkan saya untuk melindungi anda..... Takkan aku biarkan mereka menyentuh dan melukai nona".
"Baiklah, Stella.... Mohon kerjasama nya".
Vanessa mengizinkan Stella untuk ikut bersama dengan tujuan sebagai pengawalnya.
__ADS_1
Sementara itu, Dominic dan Jason hanya menatap semua kejadian itu dengan menaikkan salah satu alis sebagai tanda bahwa mereka tidak memahami apa yang terjadi.
"Woi, Jason..... Ada apa dengan anak itu?..... Dia bilang ingin melawan orang-orang dari Kerajaan Strost?..... Apa dia gila?".
"Aku tidak peduli dia waras atau gila?...... Tapi, yang menggangguku adalah..... Jika yang dia dan Putri Vanessa katakan itu, memang benar adanya...... Bagaimana dia bisa tahu soal hal yang sifatnya sangat rahasia seperti ini?".
Jason tidak peduli apakah pidato dan tindakan Reiner yang meminta bantuan seluruh siswa untuk melawan para peneliti dari Kerajaan Strost itu gila atau tidak.
Yang jadi masalah untuknya adalah. Bagaimana bisa seorang Putri Kerajaan bisa mengetahui informasi sepenting dan rahasia itu dengan begitu mudahnya.
Belum lagi, dengan mudahnya dia membocorkan informasi itu kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan urusan internal Kerajaan.
"Huh? Kau ngomong apa? Apa kau lupa gadis itu siapa? Dia adalah Putri Kedua, Vanessa Sera Ingrid yang terkenal..... Wajar baginya untuk mengetahui hal-hal penting dan bersifat rahasia seperti ini..... Mata-mata nya itu dimana-mana, bro".
Ucap Dominic sambil menghisap rokok di mulutnya. Jason yang melihat itu, hanya bisa menatap keheranan.
"Woi, Dominic dari mana kau dapat rokok itu?".
"Oh, ini..... Ini bukan rokok..... Cuma kertas tebal yang aku gulung sampai padat dan berbentuk puntung..... Yah, anggap saja ini..... Rokok darurat".
Jason hanya menatap diam kearah Dominic tanpa bisa berkata apa-apa. Tak berselang lama, seorang guru wanita naik keatas podium.
"Semua tolong tenanglah...... Dan jangan ambil tindakan gegabah".
Guru wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan rambutnya yang berwarna merah pendek dan diikat ekor kuda sebelah kanan. Penampilan semakin menarik dengan baju hem putih dan dadanya yang menonjol dari dalam bajunya dan itu didukung dengan celana panjang pensil hitam dan sepatu bisa berwana coklat.
Dia dengan panik mencoba untuk mencegah para siswa yang bersemangat dan hendak pergi untuk melawan orang-orang dari Kerajaan Strost.
"Kalian itu masih anak-anak..... Belum saatnya bagi kalian untuk melawan orang-orang seperti mereka.... Dan juga, kalian tidak tahu betapa mengerikannya mereka".
Dengan sangat putus asa guru wanita itu berusaha untuk mencegah para murid untuk tidak mengambil tindakan asal-asalan.
"Kau ngomong apa, Monica-sensei?".
"Apa kau ingin membiarkan orang-orang itu menyerang kita?".
"Benar yang dikatakan Reiner-san.... Kita harus serang mereka sebelum mereka menyerang kita".
Suara para murid menggema di aula mencoba untuk menantang perintah dari Monica yang sebenarnya khawatir dengan apa yang akan mereka lakukan.
"De-dengar semua...... A-a-aku tahu kalian sangat bersemangat..... Hanya saja..... Kalian itu masih mudah...... Dan kalian tidak tahu betapa menakutkan Medan perang itu...... Belum lagi, kalian ingin menyerang tanpa tahu apapun soal mereka..... Sebagai guru aku tidak bisa membiarkan itu".
Monica dengan panik mencoba untuk menahan para siswa yang masih ingin melawan orang-orang dari Kerajaan Strost.
"Apa kau meremehkan kami, Monica-sensei?".
"Kau pikir kami ini lemah, huh?".
"Kami ini sudah cukup berpengalaman, tahu?".
"Melawan orang-orang seperti mereka itu, bukan masalah buat kami".
Bukannya semakin mereda dan berpikir soal apa yang dikatakan Monica. Para siswa justru menuduh Monica sedang meremehkan kekuatan dan kemampuan mereka.
Melihat para muridnya yang terus melawan, membuat Monica yang pada dasarnya punya sifat tidak enakan dan mudah panik. Tidak bisa berbuat apa-apa selain kebingungan untuk berkata apa.
"Monica-sensei".
Monica segera menoleh kearah Reiner yang memanggilnya.
"Sensei..... Aku bisa mengerti, bahwa anda khawatir dengan keselamatan kami..... Tapi, ini bukan hanya soal menyelamatkan nona Claudia dan para sandera saja..... Tapi, ini juga menyangkut keamanan Kerajaan.... Dan sebagai bangsawan, sudah tugas kita generasi baru untuk mengambil tindakan..... Karena masa depan Kerajaan Ingrid ada dipundak kami".
Reiner dengan penuh percaya diri berusaha untuk meyakinkan Monica agar dia tidak mengkhawatirkan mereka.
"I-itu memang benar..... Ta-tapi, kalian itu masih anak-anak dan belum berpengalaman.... Jika kalian melakukannya secara asal-asalan..... A-a-aku takutnya.... I-itu akan menimbulkan semacam trauma kepada kalian..... Karena itu....".
"Apa anda berkata bahwa kita hanya harus diam saja, saat mereka melakukan sesuatu yang tak manusiawi?".
"Etto...".
Reiner dengan tegas memotong perkataan Monica dan mengajukan pertanyaan yang membuatnya semakin panik.
"Mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak manusiawi..... Jika terus berlanjut akan banyak orang yang jadi korban..... Karena itulah, aku dan kami semua akan pergi dan melawan mereka.... Kami semua yakin dengan sepenuh hati bahwa..... Tidak peduli sekuat apa mereka.... Kami pasti aka-------".
PLAK!!!!.
"Eh?".
Sebuah tamparan yang sangat keras segera mendarat ke wajah Reiner dan suaranya menggema di seluruh aula.
Semua yang mendengar itu hanya bisa terdiam menyaksikan ada seorang gadis yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan langsung mendaratkan tamparan ke wajah Reiner.
Butuh berapa saat bagi Reiner untuk benar-benar bisa mencerna apa yang terjadi. Dan sambil menyentuh pipinya yang ditampar. Dia menoleh kearah gadis yang menamparnya.
__ADS_1
"Sudah cukup dengan bodohan mu itu, Reiner".
Betapa terkejutnya dia, saat tahu bahwa gadis yang menamparnya barusan tidak lain dan tidak bukan adalah teman masa kecil sekaligus tunangan nya, Lafia Fin Flight.