
Di lantai selanjutnya.
"Apa? kau terbunuh karena menghajar para perampok yang masuk ke rumah kita".
Setelah mengetahui identitas asli masing-masing di kehidupan sebelumnya. Saat ini, Dylan dan Awin sedang sibuk menghajar beberapa monster yang mirip seperti Spinosaurus. Yang saat ini sedang mengepung mereka.
"Iya itu benar, Aniki...... Tapi, kau pasti terkejut dengan salah satu dari para perampok yang membobol rumah kita".
"Memangnya kau kenal dengan salah satu dari mereka itu?".
"Iya..... Dia Tanjirou ojii-san".
"Apa? Maksudmu si babi tua jelek itu....... Sekaligus sepupu dari Ayah?".
"Kau ingat dia, kan? Aniki".
"Jelaslah...... Mana mungkin aku lupa dengan babi pengangguran yang selalu saja meminta uang bulanan pada Ayah...... Lalu kebiasaannya menatap mesum kepada para gadis SMA.... Belum lagi, aku sempat memergoki dirinya hampir melecehkan anak SMA di sebuah gang".
Dylan kembali teringat akan suatu peristiwa menjijikkan dimana dia memergoki pamannya hampir melakukan tindakan pelecehan kepada seorang gadis SMA.
Tidak bisa melihat hal itu, Dylan alias Ritsuka segera maju melindungi gadis itu dan menghajar paman nya itu habis-habisan. Beruntung baginya, pamannya itu tidak ingat dengan wajah keponakannya sendiri.
"Lalu, kenapa dia merampok rumah kita?.... Apa kau tahu sesuatu?".
"Entahlah..... Tapi, yang jelas di detik-detik terakhirku, aku gorok balik lehernya setelah dia menusuk leherku dengan pisau".
"Begitu, ya".
Awin atau Kenji kembali mengingat momen saat dia berhasil membunuh beberapa anggota perampok yang masuk ke rumahnya. Tersisa satu perampok lagi, yang langsung menancapkan pisau ke lehernya.
Begitu dia menoleh, Kenji tersadar bahwa itu adalah pamannya. Dengan sangat brutal dia melepaskan pisau yang tertancap di lehernya dan menggunakan nya untuk menggorok leher pamannya itu.
Luka gorok itu seketika membunuh pamannya di tempat, begitupun dengan Kenji yang terkapar tewas kehabisan darah.
Keesokan harinya, berita di Jepang memberitakan Kenji sebagai orang yang berhasil menggagalkan perampok rumahnya sendiri namun berakhir tewas bersama dengan para perampok itu.
"Lalu, kau tahu dunia apa ini, Aniki?..... Aku selalu kebingungan dengan semua hal yang ada dunia ini?".
"Ini adalah dunia game yang berjudul "Long Life Brave", kau tahu itu kan?".
"APA KATAMU?!!!".
Awin berteriak sambil melompat dan menebas Spinosaurus. Setelah mendarat dia kembali berbicara sambil terus menebas Spinosaurus yang datang.
"MAKSUDMU......... INI DUNIA DARI GAME RPG AMPAS FAVORITMU YANG PUNYA REVIEW RENDAH DAN PUNYA ALUR CERITA SAMPAH..... DASAR DEWA SIALAN GARA-GARA KAU..... AKU MENDERITA DI DUNIA YANG ABSRUD DAN NGAK OTAK INI..... AWAS AJA KAU, YA.... KALAU KETEMU, BAKAL GUA GEPREK ELU!!!!!".
"KALAU ELU BENERAN MAU GEPREK DEWA!!!! JANGAN NGELAKUIN SENDIRIAN AJAK ABANG ELU INI JUGA!!!!! BAKAL GUA BEJEK-BEJEK MUKANYA ITU DEWA!!!".
Sambil terus melawan monster yang berdatangan mereka terus saja berbicara dan mengeluarkan keluh kesah.
"Tunggu dulu, Aniki..... Biasanya seseorang akan bahagia saat dia bereinkarnasi ke dunia game yang menjadi favorit nya..... Tapi, kenapa kau ngak?".
Awin keheranan dengan keinginan Dylan yang ingin ikut-ikutan diri menghajar Dewa.
"Kalau aku bereinkarnasi sebagai karakter utama atau paling buruk..... Karakter sampingan sepertimu.... Aku ngak akan protes dan malah bersyukur pakek banget...... Tapi, aku sekarang ini...... Malah terlahir sebagai karakter penjahat nya".
"Jadi, maksudmu aku sekarang ini adalah karakter penjahat di dalam game favoritmu itu?".
Awin atau Kenji yang tidak tahu apapun mengenai game Long Life Brave sangat terkejut mendengar Kakaknya sekarang adalah salah satu dari Karakter penjahat di dalam nya.
"Iya itu benar...... Sejak saat itu sampai sekarang...... Aku terus putar otak untuk menghindar dari setiap Death Flag yang akan datang padaku..... Dan sekarang, aku mulai khawatir kalau aku akan mengalami kebotakan dini karena terlalu stres".
Setelah mengatakan itu, Dylan kembali melihat segerombolan Spinosaurus yang mendekat.
"Cih. Mereka ngak ada habis-habisnya..... Kenji, ayo kita lari".
"Baiklah".
Keduanya segera berlari sekencang-kencangnya sambil terus dikejar oleh segerombolan Spinosaurus di belakang.
"Aniki, sebelah sana".
Awin menunjuk sebuah gua kecil yang dia lihat, tanpa perlu penjelasan yang panjang lebar keduanya segera berlari kearah gua itu dan langsung masuk kedalam.
Melihat Dylan dan Awin masuk kedalam sebuah goa, entah mengapa para Spinosaurus yang mengejar mereka berdua, berhenti dan segera berbalik pergi.
"Fiuh..... Akhirnya kita lolos juga".
Awin menghembuskan nafas penuh kelegaan setelah mengetahui mereka lolos dari kejaran para Spinosaurus itu.
Namun, tidak dengan Dylan.
Melihat pergerakan Spinosaurus yang tiba-tiba menjauh membuat dia sedikit curiga dan merasa ada yang tidak beres.
(Ini aneh..... Kenapa para monster itu langsung berbalik arah saat kami masuk kesini?..... Seolah-olah mereka sedang menghindar dari "sesuatu").
"Aniki..... Kau kenapa?"
"Ah, tidak ada.... Tenang saja".
Awin yang melihat Dylan sempat terdiam sejenak berusaha bertanya akan kondisinya. Yang segera di jawab baik-baik olehnya.
"Kalau gitu ayo kita lanjut..... Sepertinya goa ini akan membawa kita ke lantai selanjutnya".
Keduanya kembali berjalan menelusuri goa itu untuk mencari jalan menuju lantai selanjutnya. Berjalan cukup lama, tiba-tiba entah mengapa Awin merasakan sesuatu yang janggal.
__ADS_1
"Hei, Aniki...... Aku tidak merasakan apapun sejak memasuki goa ini..... Tapi, malah aku punya firasat yang amat sangat buruk tentang ini".
"Hati-hati Kenji,..... Ada beberapa monster yang bisa menyembunyikan hawa keberadaannya.... Jadi, tetaplah waspada".
Dylan dan Awin yang berbagi perasaan yang sama mencoba untuk saling waspada dan terus memperhatikan sekitar mereka.
Tapi, tanpa di sadari ada sosok yang tersenyum saat melihat mereka di balik bayangan. Kemudian.
"ANIKI!!! AWAS!!!".
Teriakan Awin membuat Dylan terkejut dan menoleh kebelakang, lalu sebuah cahaya yang terang tiba-tiba muncul di sertai dengan lesatan pasak yang muncul entah dari mana.
Tak bisa menghindar, Dylan dan Awin terpaksa harus menangkis setiap pasak yang datang.
"Sialan!!! Darimana datangnya-----".
"ANIKI, LARI!!!".
Tiba-tiba sebuah serangan berupa tebasan sihir bereelemen Kegelapan mengarah ke Dylan, untungnya Dylan berhasil menghindar dari serangan itu.
Tanpa perlu dijelaskan, Dylan tahu dari siapa serangan itu berasal. Ya, serangan itu berasal dari Awin.
Tapi, itu bukan niatannya. Melainkan saat ini, Awin sedang di kendalikan oleh sesosok monster gadis dengan badan bagian badan berbentuk seperti bunga yang tersenyum lebar sambil tangannya mengelus-elus wajah Awin.
"Aniki.... Maaf.... Tubuhku.... Bergerak-----".
BANG.
"Eh?".
Awin di buat mati kutu di tempat. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Dan yang terjadi barusan adalah.
Sebuah tembakan sihir non atribut langsung dilesatkan oleh Dylan tepat mengenai monster tanaman itu dan seketika meledakkan kepalanya sekaligus membebaskan Awin dari kendalinya.
Kejadian yang begitu cepat itu, sehingga membuat Awin sempat terdiam sesaat karena kaget.
"Yosh..... Masalah selesai.... Sekarang tinggal---".
BUG.
Belum bisa menyelesaikan perkataannya, sebuah bogem mentah langsung melesat kearah wajah Dylan sampai membuatnya terpental.
"....SIALAN!!!! WOI, AWIN APA YANG KAU-----".
PLAK.
Belum selesai dengan perkataan nya, Awin segera menempelkan kaki kanannya tepat di wajah Dylan dan menatapnya dengan penuh kejengkelan.
Awin atau Kenji kembali teringat saat dia di tahan oleh salah satu anggota gen motor. Saat itu tanpa ragu sedikitpun Dylan atau Ritsuka langsung melemparkan linggis ke wajah orang yang menahan Kenji tanpa peduli apakah linggis itu akan terkena Kenji atau tidak.
"Elu harusnya bersyukur bisa selamet berkat gua..... Dan ngak usah ngambek kayak bocah labil..... Lagian, cuma adik keparat yang nempelin kakinya dimuka Abangnya sendiri".
Meski sepat berdebat sebentar, keduanya kembali memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar.
(--------------)
Setelah melewati perjalanan dan terus-menerus turun ke lantai demi lantai sekaligus bertarung dengan setiap monster yang datang.
Akhirnya mereka tiba di sebuah lantai yang menurut mereka luar biasa anehnya. Bagaimana mana tidak?.
Saat lantai-lantai lain hanya di penuhi oleh bebatuan ruang yang gelap dan hanya di terangi oleh batu sihir.
Lantai di mana mereka saat ini sangat berbeda.
Dimana lantai ini di tumbuhi oleh rerumputan hijau yang luas, Pohon-pohon yang rindang, angin yang sejuk, sungai yang mengalir bersih dan Air terjun yang indah. Bahkan tempat itu di terangi oleh batu sihir berukuran raksasa yang ada di atas yang cahaya dan kehangatan nya sama dengan sinar matahari.
Sangking terkesan ya dengan tempat itu, Baik Dylan dan Awin hanya bisa menatap kagum tanpa bisa berkata-kata.
"Tempat apa ini?".
"Entahlah.... Aku tidak tahu".
Keduanya terus berjalan-jalan sambil terus memperhatikan sekitar mereka dengan sek sama. Karena haus, keduanya berhenti di dekat sungai dan setelah melihat betapa bersih, bening dan adanya ikan yang berenang di sungai itu.
Awin tanpa basa-basi langsung mengambil air dengan kedua tangannya dan minum berkali-kali. Bahkan dia sampai membasahi wajahnya juga.
"Fuiha...... Segar rasanya..... Ya, aku benar-benar merasa hidup lagi sekarang".
Dengan ekspresi lega dan duduk dengan meluruskan kakinya Awin menikmati momen itu dengan sangat senang.
Tapi, Dylan justru tidak mengalihkan pandangannya kearah sebuah goa yang berada jauh di atas bukit.
"Kau juga merasakannya, Aniki...... Meskipun tempat ini dan goa di sana itu tampak baik-baik saja..... Instingku juga mengatakan bahwa ada "yang tidak beres" di sekitar kita".
" "Tenang Sebelum Datangnya Badai".... Kurasa itu istilah yang menggambarkan situasi kita saat ini...... Bukankah ini sempurna..... Karena itu artinya...... Kita semakin dekat dengan tujuan kita".
"Aku setuju.... Apapun yang menghalangi.... Ayo kita singkir----".
Tiba-tiba keduanya merasakan aura yang sangat kuat sampai membuat keduanya tidak bisa bergerak dari tempat.
Dylan dan Awin tahu, aura ini adalah aura yang pernah mereka rasakan saat berada di jembatan waktu itu.
Dan sesuai dengan dugaan mereka. Tiba-tiba sebuah portal aneh muncul entah dari mana. Dan benar saja, sosok Nidhogg yang terjatuh bersama mereka keluar dari portal itu.
__ADS_1
Tapi, ada yang sedikit berbeda.
Karena Nindhogg itu lebih besar dan sisiknya lebih tebal, tanduknya lebih panjang, cakarnya lebih tajam dan lebih garang dari sosoknya saat berada di jembatan.
"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!!!!".
Melihat sosok Nidhogg yang menurut Dylan dan Awin sudah berevolusi, membuatkan keduanya hanya bisa terkejut dan bahkan meneteskan keringat dingin.
Tidak seperti sebelumnya, dimana mereka punya "kesempatan" untuk melarikan diri. Tapi kali ini keduanya tidak bisa dan mau tidak mau keduanya harus melawan Nidhogg ini meski hanya berdua saja.
Sementara itu.
Gadis bertudung itu tampak sangat kegirangan karena melihat pertemuan antara Dylan, Awin kembali lagi dengan Nidhogg.
"Hmmmmm.... Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.... Kira-kira akan seperti apa ya? Pertarungan mereka..... Dan kejutan apa yang akan bocah Irregular itu berikan...... Karena itulah, untuk membuat ini menjadi pertarungan yang *******.... Aku sengaja membuat Nidhogg itu berevolusi ke wujud terkuatnya dan bahkan aku juga memberikan 2% dari kekuatanku untuk memperkuatnya..... Baik itu fisik maupun sihirnya...... Nah sekarang..... Tolong hibur aku ya!!!!!".
Gadis tudung itu tampak bersemangat dan tidak sabar menunggu pertarungan antara Dylan, Awin melawan Nidhogg untuk kedua dan terakhir kalinya.
(----------------)
Pertarungan antara Dylan, Awin dan Nidhogg dimulai.
Baru bersiap memasang kuda-kuda bertarung. Mereka dikejutkan dengan sosok Nidhogg yang tiba-tiba menghilang dari pandangan.
Belum bisa merespon apapun mereka kembali terkejut dengan sosok Nidhogg yang sekarang ada di belakang mereka dan langsung menyambar keduanya sampai terpental dan berguling di tanah.
Baru saja berdiri Nidhogg itu dengan sangat cepat muncul di hadapan Dylan dan kembali menyambarnya sehingga Dylan langsung terpental sampai menumbangkan beberapa pohon.
"ANIKI!!!".
Reflek, Awin meneriaki Dylan yang terpental. Tapi hal yang sama juga menimpa Awin Nidhogg muncul di hadapannya dan langsung menyambarnya.
Belum puas melihat Dylan dan Awin yang tertunduk sambil memuntahkan darah, Nidhogg segera terbang ke atas.
Lalu tubuhnya mulai memancarkan cahaya sihir berwarna merah. Setelah beberapa saat, tembahakan bola atau peluru sihir dalam jumlah banyak menyebar dan mengarah kepada keduanya.
Tidak punya pilihan lain, keduanya segera berdiri dan berusaha berlari sambil mengindari setiap serangan yang datang.
Namun, seolah-olah tidak ingin mereka kabur. Setiap bola atau peluru sihir itu mengejar mereka kemanapun mereka lari dan bersembunyi.
Karena luka yang mereka terima dan rasa lelah yang dirasakan. Baik Dylan dan Awin tidak bisa lagi menghindar atau lari dari serangan Nidhogg yang terus mengejar mereka.
Akibatnya, keduanya terkena tembakan bola atau peluru sihir itu berkali-kali sampai tercipta ledakan yang beruntun dimana keduanya juga terlempar ke sana ke mari karena terkena dampak dari ledakan sihir Nidhogg.
Seketika tempat yang indah itu sekarang hancur di penuhi oleh kawah berapi akibat ledakan. Dylan dan Awin terkapar di tanah dengan luka yang cukup parah.
"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR......!!!!".
Nidhogg segera turun setelah melihat kedua orang yang di anggapnya lawan sudah tumbang. Dan kemudian dia berteriak sekeras-kerasnya sebagai tanda dia mereka sudah menang.
Dylan yang terluka parah mencoba untuk kembali berdiri. Meski badannya sempoyongan, Dylan memperbaiki posisi bertarungnya mengabaikan semua rasa sakit yang dia rasakan.
"Hei, jangan berpikir kalau kau itu sudah menang..... Hei..... DASAR MONSTER JELEK!!!!".
"ANIKI!!!"
Tanpa rencana apapun, Dylan segera melesat kearah Nidhogg dengan kecepatan tinggi. Melihat Kakaknya yang dengan nekat menerjang Nidhogg langsung tanpa rencana apapun membuat Awin berteriak memanggilnya.
"Phantom Blade : Narrow Blade".
Sebuah tebasan yang cepat, tajam dan tipis mengarah ke bagian wajah Nidhogg.
Tapi, sesuatu yang di luar nalar terjadi.
Serangan itu tidak meninggalkan bekas apapun di wajah Nidhogg sama sekali. Dylan pun seketika dibuat keheranan.
Bukan karena serangannya yang gagal.
Melain kan, Dylan merasakan dingin yang luar bisa pada lengan kanannya. Lengannya terasa mati rasa bahkan dia tidak bisa merasakan pedang katana miliknya yang dia pegang.
Karena penasaran, Dylan segera melihat kearah lengan kanannya sendiri. Dan seketika dia terkejut karena lengan kanannya sudah terpotong tanpa dia sadari atau bahkan dia rasakan.
"Haaaaaaaaa..........!!!!!".
Bersamaan dengan teriakan Dylan, rasa sakit yang luar bisa mulai dia rasakan dan darah tidak henti-hentinya keluar dari lengan kanannya.
Belum sampai disitu saja. Nidhogg memanfaat keterkejutan dan kepanikan Dylan untuk langsung menyambarnya.
Dylan yang terkena segera berguling-guling di tanah sampai, akhirnya dia terkapar dengan matanya yang perlahan-lahan kehilangan cahaya dan wajahnya yang menjadi kaku.
"Aniki..... ANIKIIIIIII!!!!!".
Melihat kondisi Dylan, Awin hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Di satu sisi.
"Ouch".
Lebih tepatnya di Asrama panti-asuhan wilayah Arcadia. Aria yang sedang memotong bawang untuk memasak, jarinya tiba-tiba teriris pisau yang dia gunakan..
"Jariku terluka..... Tapi, perasaan tidak nyaman apa ini?..... Kenapa dari tadi aku terus memikirkan Dylan-san?".
Sambil menutup lukanya, Aria menoleh kearah jendela untuk melihat langit cerah dengan perasaan yang buruk.
"Dewa Aesir yang Maha Kuasa...... Kumohon dengan sangat...... Tolong selamatkan dan lindungi Dylan-san dari segala hal yang ingin berbuat buruk padanya".
__ADS_1
Dengan mengepal kedua tangannya, Aria berdoa agar Dylan selalu mendapatkan keselamatan perlindungan dari Dewa Aesir. Seperti seorang Istri yang khawatir dengan keadaan Suaminya.