Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 26 : Pembicaraan Dan Percobaan Pembunuhan.


__ADS_3

"Hal pertama yang ingin aku sampaikan adalah permintaan maaf yang sebesar-besarnya dari Yang Mulia William kepada tuan Dylan dan keluarga besar Arcadia atas perbuatan Oscar-san".


Sylvia menundukkan kepalanya sebagai bentuk penyesalan yang mendalam atas apa yang sudah Oscar perbuat.


"Soal itu, Ayahku dan aku sudah memaafkan dan melupakannya.... Dan kami paham betul, bahwa tindakan Oscar bukan atas dasar titah Yang Mulia William".


Mendengar jawaban Dylan yang sangat santai, membuat Sylvia menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan.


"Tidak semudah itu tuan Dylan..... Ini masalah penting.... Atas kelalaiannya kami, Oscar bertindak atas kemauan dan titah The Oracle's..... Lalu dengan brutal menyerang wilayah Arcadia.... Belum lagi, anda hampir terbunuh saat mencoba menghentikannya..... Kami sangat menyesal akan hal ini.... Bisa dimaafkan semudah itu..... Rasanya, kurang pantas bagi kami..... Jadi, kami benar-benar sangat menyesal dan siap menerima apapun resikonya".


Meski sudah mendapat maaf dari Dylan dan Hyoga atas perbuatan Oscar. Sylvia tetap merasa bersalah dan yakin mereka seharusnya tidak dimaafkan semudah itu.


(Buset, ini cewek keras kepala banget..... Asal kau tahu saja, aku ini benci banget sama politik tahu).


Melihat Sylvia yang keras kepala untuk meminta maaf, Dylan hanya bisa bergumam sambil menggaruk kepala belakangnya.


"Aku ingin mengatakan beberapa hal..... Pertama, aku tidak suka dengan percakapan yang formal seperti ini.... Jadi, mari kita ubah menjadi informal, aku akan panggil kau Sylvia dan kau panggil aku Dylan tanpa gelar apapun.... Selain kita seumuran, kita berada di lingkungan Akademi dan satu kelas..... Kesannya sangat canggung jika kita berbicara dengan cara formal".


Sylvia mulai memperhatikan Dylan yang berbicara.


"Kedua.... Aku dan Ayah sudah paham betul tentang situasi di Kerajaan Rachael dan alasan tindakan Oscar..... Bahkan, dia sendiri yang berbicara saat kami beradu pedang...... Ketiga, Kami tidak punya niatan, untuk memutus hubungan dengan Kerajaan Rachael.... Jadi, jangan terlalu dipikirkan".


"Tapi, meski begitu-----".


"Sudah aku tidak ingin berdebat denganmu".


Sylvia kembali terdiam karena kehilangan kata-kata, karena tidak bisa membuat Dylan mengerti bahwa ini masalah serius.


"Jujur saja...... Aku justru agak penasaran dengan siapa sebenarnya Oscar".


Sylvia terkejut saat mendengar perkataan aneh yang keluar dari mulut Dylan.


"Apa maksud an-- Maksud mu, Dylan?".


Dylan memperbaiki posisi duduknya dan tatapan matanya mulai serius.


"Oscar adalah orang yang menyerang wilayah Arcadia dan hampir membunuh Ayah dan Adikku.... Tentu saja, aku sangat membencinya.... Tapi di satu sisi, entah mengapa..... Ada sesuatu di dalam dirinya yang justru membuatku merasa kasihan kepadanya...... Apalagi, keinginan kuatnya untuk menjadi Raja..... Seolah-olah dia seperti ingin "merubah" sesuatu".


Sylvia terkejut dengan perkataan Dylan yang diluar dugaan justru merasa simpati pada Oscar yang padahal hampir membunuhnya.


"Maaf, Dylan..... Aku tidak tahu banyak soal dia..... Kami hanya beberapa kami bertemu dan itu bukan pertemuan yang baik..... Bahkan, salah satu rekan sesama ksatria suci..... Luke-san tidak mau memberitahu aku soal Oscar".


"Begitu, kah".


Dylan memahami ketidak tahuan Sylvia, sementara Sylvia sendiri masih bertanya-tanya kenapa Dylan bisa bersimpati kepada Oscar yang dari sudut pandang nya adalah orang jahat.


Teng, Teng, Teng.


"Sepertinya, bel masuk sudah berbunyi..... Kita sebaiknya kembali ke kelas.... Kau tidak mau dapat omelan dari guru, kan?".


"Ah, iya.... Kau benar".


Mendengar bel masuk kelas bergema, Dylan dan Sylvia segera beranjak dari tempat duduknya dan segera kembali ke kelas untuk bersiap-siap untuk pelajaran selanjutnya.


(-----------------)


{Jadi, bagaimana hari-hari sekolahmu, Dylan-san?}.


"Hm, tidak ada sesuatu yang istimewa.... Semua yang diajarkan disini, hampir sama dengan yang aku pelajari selama di rumah...... Yah, ini seperti aku cuma pindah tempat tidur dan tempat belajar saja".


{Hehe.... Begitu, ya}.

__ADS_1


Saat ini, Dylan sedang menghubungi Aria dengan menggunakan Protas. Sebenarnya, Dylan sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan ini, tapi dia tidak ambil pusing akan tindakannya.


"Oh, ya Aria.... Bagaimana kabar anak-anak disana?".


{Mereka baik-baik saja..... Cuma, terkadang akhir-akhir ini.... Mereka terus menanyakan kabarmu..... Terutama, Anna dan Billy sangat kangen sekali dengan mu..... Keduanya, sempat berpikir kalau kau marah kepada mereka}.


"Ah, ya ampun.... Aku cuma pergi untuk sekolah di Akademi saja..... Tolong katakan kepada mereka, aku baik-baik dan tidak marah kepada mereka".


{Baiklah, nanti akan aku sampaikan itu kepada mereka berdua}.


"Lain kali, aku akan berbicara dengan mereka..... Karena hari sudah malam, aku matikan dulu ya..... Mau istirahat...... Kau jaga kesehatan mu, kasihan anak-anak kalau kau sampai sakit".


{Dylan-san juga ya..... Istirahatlah yang cukup, jangan telat makan, dan fokuslah pada pelajarannya.... Anak-anak biar aku yang menjaga dan mengurusnya}.


"Iya, iya, aku tahu.... Kalau gitu, selamat malam Aria".


{Selamat Malam}.


Dylan segera mematikan perangkat Protas. Entah kenapa tampak jelas raut ekspresi senang di wajahnya yang datar.


Ketika dia berbalik, dia sangat terkejut melihat Sonia yang sudah berdiri dibelakangnya dari tadi dengan ekspresi cemberut.


"Kau sedang apa, Sonia? Terus kenapa kau menatapku seperti itu?".


Melihat itu, Dylan yang penasaran mencoba untuk bertanya. Seketika, Sonia malah memalingkan wajahnya dan mulai berbicara dengan nada cemberut.


"Aku hanya penasaran kenapa, tuan tiba-tiba pergi.... Ternyata anda berada disini dan sedang berbicara dengan Aria-chan lewat Protas".


"Ah.... Iya, sih.... Soalnya, aku kepikiran anak-anak panti tadi dan sekalian saja, aku cerita tentang kondisiku di sini.... Makanya aku menghubungi nya.... Lalu, apa masalahnya?".


"Aku mendengar semuanya.... Hanya saja, cara anda bicara dengan Aria dan bagaimana sikap anda saat menyala kondisi anak-anak itu.... Seolah-olah, anda terlihat seperti seorang "Suami" yang khawatir dengan anak dan istrinya".


Sonia hanya bisa menghembuskan nafas, karena melihat reaksi Dylan yang sangat tidak peka akan dirinya yang sebenarnya cemburu dengan kedekatan dirinya dengan Aria.


"Sudah tidak usah pasang wajah seperti itu..... Sekarang sudah malam, ayo kita kembali..... Aku ngantuk banget".


Dylan segera mengajak Sonia kembali, untuk istirahat. Meski begitu, pandangan Dylan teralihkan kearah lain.


Sebenarnya sejak tadi, dia merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari balik gelapnya malam.


Tapi, dia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Dan mengabaikan sesuatu itu.


(---------------)


Pada tengah malam.


Di kamar 107.


Dylan sedang tertidur dengan sangat pulas di tempat tidurnya. Begitupun dengan Sonia yang juga tertidur lelap.


Kemudian, sesosok bayangan muncul dan diam-diam memasuki kamar Dylan. Dengan perlahan-lahan mendekati Dylan yang sedang tertidur.


Setelah berdiri di samping tempat tidur, sosok bayangan itu jelas-jelas menatap Dylan dengan tatapan penuh kebencian.


Lalu, dia mengambil sebuah pisau dari dalam sakunya. Kemudian dengan sangat cepat menghujamkan ke arah Dylan.


Namun, pisau itu tidak pernah mencapai Dylan.


Penyebabnya adalah karena Dylan dengan sangat cepat terbangun dan langsung memblok serangan itu. Dan mendorong sosok itu mundur sampai terjatuh ke lantai.


Belum bisa berdiri, sosok itu merasa ada sebuah benda tajam yang sudah diarahkan ke lehernya. Tapi, bukan Dylan melainkan Sonia yang melakukan itu.

__ADS_1


"Jangan bergerak.... Jika kau bergerak sedikit saja, akan aku gorok lehermu".


Dengan nada yang mengerikan Sonia mengancam sosok itu untuk tidak macam-macam.


"Apa kau tidak apa-apa, tuan?".


"Aku baik-baik saja..... Tidak usah khawatir".


Dylan menjawab pertanyaan Sonia dengan santai. Kemudian pandangan teralihkan ke sosok bayangan itu yang Dylan sendiri tampaknya tahu siapa sosok itu.


"Lagipula, dia bukan orang yang ahli menghilangkan aura keberadaannya.... Benar, kan?.... Nona pelayan pribadi Sylvia".


Begitu lampu dinyalakan, tebakan Dylan memang benar. Sosok itu adalah pelayan pribadi dari Sylvia yang mencoba membunuhnya.


Yang saat ini, sedang menatap Dylan dengan penuh kebencian.


(-----------------)


"Bunuh?".


Tiba-tiba pelayan itu mengatakan sesuatu yang membuat Dylan dan Sonia sempat terkejut.


"Bunuh saja aku...... Aku lemah, jadi sudah tidak ada yang ingin kukatakan".


"Begitu, ya...... Kalau begitu, sampai jumpa".


Sonia hendak mengabulkan permintaan dari pelayan itu. Namun, Dylan langsung mencegahnya.


"Tunggu dulu, Sonia".


"Tuan?".


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan dia, kau mundur saja".


Sonia sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya mundur dan pergi.


"Ku, serahkan sisanya pada anda.... Lagipula, gadis ini sudah tak ada niat untuk membunuh.... Jadi, aku undur diri dulu".


Sonia segera pergi kembali ke bilik tidurnya. Meninggalkan Dylan dan pelayan itu bersama.


"Ayo kita keluar sebentar..... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu".


Kedua segera meninggalkan kamar dan menuju taman Akademi. Untuk berbicara berdua.


"Kalau boleh tahu, siapa namamu.... Rasanya tidak enak jika memanggilmu "pelayan", kan?".


"........... Namaku adalah Irene.... Irene siapa? Tidak akan ku beritahu....".


Dengan nada cemberut gadis itu, memperkenalkan dirinya sebagai Irene. Tapi, dia tidak mau memberitahu nama belakangnya.


"Jadi,..... Apa yang ingin kau bicarakan?..... Asal kau tahu saja, aku ini orang yang mencoba membunuhmu..... Apa kau coba untuk membunuhku?.... Atau kau mencoba menyerahkan ku kepada satuan resimen?".


"Aku tidak punya niatan melakukan salah satu dari kedua hal itu..... Lagian, jika aku menyerahkan mu kepada satuan resimen itu benar-benar merepotkan, tahu..... Aku ogah ditanyai macam-macam sama mereka".


"Heeee....Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?".


Irene merespon santai peryataan Dylan dan kemudian menanyakan tujuan nya.


"....... Aku ingin kau memberitahuku soal Kakak Laki-laki mu..... Maksudku, semua yang kau tahu tentang Oscar..... Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia".


"Eh?".

__ADS_1


__ADS_2