
Di saat Awin sedang sibuk bertarung dengan Nidhogg.
Tubuh Dylan yang pingsan terhempas dan tenggelam kedalam sungai. Karena berada di dalam air dan tidak bisa menggerakkan badannya orang yang biasa pasti berpikir bahwa itu akan menjadi ajalnya.
"Ritsuka..... Ritsuka".
Tiba-tiba Dylan yang tenggelam mendengar suara seorang wanita yang memanggil-manggil namanya.
"Suara ini...... Aku rasa..... Pernah mendengar nya".
Meski tidak bisa membuka matanya, Dylan merasa cukup familiar dengan suara wanita yang memanggil nama lamanya itu.
"Ritsuka..... Tolong buka matamu, nak...... Kenji..... Kenji..... Butuh bantuan mu".
Mendengar dipanggil anak, dalam ketidak sasaran Dylan, dia tahu siapa identitas wanita yang memanggil namanya itu. Tapi, dia masih merasa ragu untuk benar-benar yakin siapa wanita yang memanggilnya itu.
Dengan sekuat tenaga Dylan berusaha membuka kedua matanya untuk memastikan siapa sosok wanita yang memanggilnya.
Ketika dia berhasil, yang di hadapannya adalah seorang wanita dewasa dengan rambut hitam panjang menggunakan celemek dan bermata kuning. Melihat sosok wanita di depannya itu membuat Dylan tersenyum lembut.
"I...... Bu.....".
Iya sosok itu adalah Almarhumah Ibu Dylan dan Awin di kehidupan sebelumnya.
"Ritsuka..... Kenji sedang dalam bahaya..... Tolong dia, nak..... Dia tidak bisa mengalahkan monster itu tanpa dukungan Kakaknya".
Melihat Ibunya memohon, Dylan hanya bisa tertunduk lesu sambil melihat lengan kanannya yang sudah terpotong.
"Maaf, Bu...... Aku tidak bisa...... Sekarang..... Aku sudah tidak berdaya..... Lengan kananku juga sudah tidak ada...... Jika aku membantu Kenji..... Yang ada aku hanya jadi penghalang untuknya".
"Seorang pria dan Kakak sejati..... Akan berusaha melindungi adiknya apapun resikonya..... Bukankah itu, yang selalu ajarkan padamu.... Ritsuka?".
Tiba-tiba muncul suara seorang pria yang muncul entah dari mana. Begitu Dylan menoleh kearah sumber suara. Ternyata yang berbicara itu adalah seorang pria dewasa yang tampan berambut hitam dan mata hitam.
"Ayah..... Kau juga disini?".
"Kami selalu disini, nak..... Bersamamu dan Kenji".
Ucapan Ayahnya sambil menyentuh ulu hati Dylan. Melihat hal itu dia sadar, meski kedua orang tua mereka sudah mati, tetapi keduanya selalu mengawasi dirinya dan Awin baik di kehidupan sebelumnya maupun yang sekarang.
"Karena itu, Ritsuka..... Jangan pernah ragu maupun menyerah dengan segala situasi".
"Karena kau dan Kenji adalah....".
""Doa dan Harapan terbesar Kami".
Dylan segera meneteskan air mata mendengar apa yang di harapkan oleh Ibu dan Ayahnya. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari lengan kanannya Dylan.
Dan dari dalam cahaya merah itu muncul tumbuh sebuah kerangka lengan dan kemudian dari kerangka itu dilapisi oleh daging yang tebal, dan sebuah sisik berwarna hitam dan keras muncul.
Merasakan hal aneh itu Dylan segera melihat lengan kanannya yang tumbuh secara misterius.
"Lengan ini........ Bukankah..... Ini lengan Fafnir".
Dylan sadar bahwa lengan kanannya yang tumbuh mirip dengan lengan kanan Fafnir. Kemudian, Ibu dan Ayahnya memeluknya dari kedua sisi dan berbicara.
"Nah, sekarang kembalilah keatas dan selamat----tidak, kalahkan Nidhogg itu..... Dan bersama-sama keluar dari Dungeon ini dengan selamat".
"Dan jangan khawatir....... Kami akan jadi kekuatan mu".
Bersamaan dengan itu, roh kedua orang tua Dylan bersinar terang dan berubah menjadi 2 pedang katana baru yang melebih kuat dan lebih tajam.
Menerima dan melihat kedua pedang katana di genggamannya, Dylan memejamkan mata dan mulai bergumam.
"Terimakasih.... Ayah..... Ibu".
Selesai dengan ucapan itu, Dylan membuka kedua matanya yang berubah menjadi merah menyala seperti Fafnir sambil memancarkan aura yang kuat.
"..... Kita pasti akan keluar dari Dungeon ini hidup-hidup, Kenji".
Dan dengan sekali dorongan kedua kakinya, Dylan langsung melesat kembali kepermukaan dengan kecepatan yang luar biasa.
Berhasil sampai di permukaan, tanpa membuang waktu lagi. Dylan segera melesat diantara Awin dan Nidhogg yang hendak mencakar nya dan mengeluarkan sihir non atribut terbarunya.
"Eternal Blade : Heaven Blade".
Dalam sekali ayunan, lengan kiri Nidhogg langsung terpotong dengan kecepatan cahaya. Hingga membuatnya berteriak kesakitan.
"Kerja bagus, Aw---tidak Kenji...... Sisa serahkan padaku".
Dylan menatap tajam kearah Nidhogg dengan aura membunuh yang kuat dan matanya yang menyala merah terang seperti Fafnir.
__ADS_1
Melihat Dylan yang berdiri melindunginya dari Nidhogg membuat Awin tersenyum karena melihat sosok Kakak nya yang gagah di depan matanya.
"Keparat..... Kalau..... Sudah bangun..... Bantuin gua dong dari tadi...... Dasar..... Abang...... ******....".
Setelah menggunakan sisa-sisa terakhir tenaganya Awin segera pingsan di tempat, Dylan yang sempat melihat melirik kebelakang dan mulai bergumam.
"Maafkan Abang ****** mu ini yang tidak datang di saat kau membutuhkannya, Kenji".
Kemudian Dylan menatap tajam kearah Nidhogg dengan aura membunuh yang kuat dan matanya yang menyala merah.
"Hei..... Jelek..... Siapkanlah dirimu..... Untuk membayar semua..... YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA ADIK KU!!!!...... BANGSAT!!!!!".
Bersamaan dengan itu, Dylan menggenggam keras dadanya dan segera menarik rantai tak kasat mata yang membelenggunya. Yang berarti Dylan dengan segera mengaktifkan Unique Skill miliknya yaitu Limitless.
"ROOOOOOOAAAAAAARRRRRR.....!!!!!".
Dengan teriakan yang sangat keras kekuatan baik fisik, sihir dan Fafnir di dalam tubuh Dylan langsung keluar dan meluap-luap. Sampai membuat semua yang di sekitarnya terhempas dan menggetarkan bukan hanya tanah, tapi seluruh lantai Dungeon.
Para monster yang merasakan tekanan yang kuat itu membuat semua binatang monster terkejut dan segera berlarian. Bahkan Nidhogg sendiri sampai melompat mundur sebagai tanda waspada.
Dengan aktifnya Skill Limitless, Dylan sekarang hanya punya 2 menit untuk mengakhiri pertarungan ini.
(------------------)
Apa yang terjadi pada Nidhogg setelah Dylan mengaktifkan Limitless?
Jawabannya, pertarungan sebelah pihak.
Benar.
Dengan kekuatan 2 pedang Katana baru dan lengan Fafnir Dylan menghajar habis-habisan Nidhogg tanpa memberikannya waktu atau jeda untuk melakukan serangan balik.
"Limitless, Twin Eternal Blade : Limitless Blast Blade".
Hujaman tebasan pedang dengan jumlah banyak langsung menyerang Nidhogg. Belum sampai disitu saja, setiap tebasan yang melintas dan mengenai tubuh Nidhogg akan menciptakan sebuah ledakan yang bertubi-tubi.
"GIYAAAAA......!!!!!
Sangking kerasnya ledakan itu bukan hanya menghancurkan sisik keras Nidhogg tapi juga membuat tubuh besarnya terpental ke sana kemari bak bola yang dipantul-pantulkan ke di dinding.
Tak mau terus menerus di permainkan, Nidhogg mulai melapisi seluruh tubuhnya dengan sihir. Kemudian dari seluruh tubuhnya melesatkan bola atau peluru sihir yang kali ini dia fokuskan kearah Dylan.
Melihat banyak bola atau peluru sihir yang datang padanya, tentu saja Dylan tidak akan tinggal diam.
Dengan sekali ayunan pedang katana nya, Dylan menangkis semua serangan bola atau peluru sihir yang di keluarkan Nidhogg. Yang membuatnya lebih gila lagi, Dylan tidak membelokkan serangan itu kearah lain. Melainkan membalikkan ke Nidhogg sendiri.
"GIYAAAAAAAA.......!!!!".
Nidhogg yang merasakan serangannya sendiri semakin merasa kesakitan yang luar biasa dan tidak berdaya.
Merasa mustahil untuk melawan Dylan, Nidhogg mencoba untuk memaksakan dirinya untuk terbang pergi meski hanya dengan satu sayap saja.
"MANA MUNGKIN KU BIARKAN!!!!!.....".
Dengan sekejap mata Dylan sudah berada dia tas Nidhogg yang sedang terbang. Lalu tanpa ampun segera mengeluarkan serangannya.
"Limitless, Eternal Blade : Power Slash Exceed".
Satu ayunan pedang katana yang sangat kuat cepat dan tajam, seketika memotong satu-satunya sayap Nidhogg dan menjatuhkannya kembali ke tanah.
Ledakan yang sangat besar terjadi ketika badan Nidhogg langsung bertabrakan dengan tanah.
"GIYAAAAAAAA.......!!!!!!!!".
Nidhogg kembali berteriak sekeras-kerasnya yang menggema di seluruh arena merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Kemudian pandangan teralihkan kepada Dylan yang sekarang berada di depannya menatap tajam, sambil menyarungkan kedua pedang katana nya.
"Mari kita akhiri ini sekarang, Nidhogg".
Dengan nada yang sangat dingin, Dylan menyapa Nidhogg yang sepertinya juga ingin mengakhiri pertarungan ini.
Nidhogg mulai bersiap merapalkan sihir yang dia fokuskan kepada ujung mulutnya, sementara Dylan memasang kuda-kuda pertarungan tangan kosong dan memusatkan seluruh sihirnya ke telapak tangan Fafnir nya.
Keheningan terjadi untuk sesaat, dan karena pertarungan keduanya sudah berjalan selama 1 menit lebih 55 detik.
Berarti hanya tersisa 5 detik lagi bagi Dylan untuk melancarkan serangan terakhirnya sebelum Limitless kembali tersegel.
5 detik lagi
Kedua-duanya masih bersiap.
__ADS_1
4 detik lagi
Keduanya mulai mengambil ancang-ancang.
3 detik lagi.
Dalam momentum itu, Dylan segera melesat kearah Nidhogg. Dan Nidhogg segera melepaskan tembakan sihir yang lebih kuat dari sebelumnya saat melawan Awin.
2 detik lagi.
Terjadi ledakan yang sangat keras ketika Dylan dan tembakan sihir Nidhogg saling bertabrakan. Dan Nidhogg yakin dengan sepenuh hatinya. Dylan sudah kalah karena dia tidak mencoba menghindar dari serangannya barusan.
Tapi, hal yang mengejutkan terjadi.
Dalam gerakan lambat, sebelum Tembakan Nidhogg benar-benar mengenainya, Dylan berhasil menghindar kesamping sehingga dia tidak terkena serangan kuat Nidhogg.
1 detik lagi.
Tanpa di ketahui dan di sadari Nidhogg Dylan sekarang sudah berada di bawahnya dan langsung mengeluarkan serangan pamungkasnya.
"Limitless. Totalitas Magic : Divine Great Spriral".
Begitu detik menunjukkan angka 0.
Sebuah serangan tornado sihir yang sangat kuat dan besar langsung menghantam dan menembus badan Nidhogg sekaligus menerbangkan darah, daging, syaraf dan organ tubuhnya.
"Giyaaaaaa.........!!!!!!".
Nidhogg yang merasa sangat kesakitan berteriak sekeras-kerasnya sebelum akhirnya teriakan nya perlahan-lahan mulai menghilang, matanya menjadi putih dan badannya menjadi lemas.
Tak berselang lama, badan Nidhogg yang sudah lemah segera jatuh dan tumbang kesamping.
BUM!!!
Suara badan Nidhogg yang terjatuh menghantam tanah. Bersamaan dengan itu juga, Skill Limitless miliki Dylan kembali tersegel dan dia mulai kembali
"Ha.... Ha..... Sudah selesai....".
Bersamaan dengan itu, Dylan yang mulai merasakan efek samping dari Limitless dan badannya mulai merasa sakit dan lemah sebelum akhirnya dia segera pingsan di tempat.
(---------------)
Di sisi lain.
Gadis bertudung yang menonton pertarungan Dylan, Awin vs Nidhogg tidak henti-hentinya tersenyum penuh kegilaan sambil wajahnya menjadi merah merona.
"Hahahaha....... Luar biasa.... Luar biasa...... Hahaha...... Sudah kuduga bocah Irregular memang luar biasa...... Tapi, tidak aku sangka ada bocah burgundi itu adalah seorang Exception".
Kemudian gadis itu mulai tersenyum. Sambil memegang dagunya seperti menemukan sesuatu yang menarik.
"Irregular dan Exception di era yang sama, ini benar-benar luar biasa".
BOOM.
Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang dahsyat. Tapi, saat debu berterbangan gadis bertudung itu masih baik-baik saja.
"Ya ampun..... Menyerang secara dadakan sepeti itu bukan sikap yang baik, loh?..... Terutama untuk Arc Angel sepertimu, Sonia-chan".
Benar. Orang yang menyerang gadis bertudung itu, adalah Sonia yang tadi tiba-tiba menghilang setelah merasakan firasat buruk.
"Kau.... Apa yang kau inginkan.... Sampai membuat Dylan sampai seperti ini?".
"Tidak ada kok...... Aku hanya ingin dihibur saja, kok".
Mendengar hal itu, seketika Sonia naik pitam dan langsung menyerang nya tanpa basa-basi lagi. Ledakan yang lebih besar terjadi, bahkan sampai meratakan gunung dan hutan yang ada sampai jadi padang pasir dalam sekejap mata.
Setelah ledakan itu, Sonia sadar bahwa gadis berkerudung tadi tidak ada di depannya.
"Jangan emosian sampai merubah gunung menjadi padang pasir dong, Sonia-chan".
Sonia segera menoleh kearah suara gadis tudung itu yang sekarang terbang di udara.
"Yah, aku juga lagi ngak mau berurusan dengan mu kok.... Jadi, aku undur diri dulu".
Lalu gadis itu, melakukan gerakan tangan yang tiba-tiba membuka sebuah portal.
"Sampai berjumpa lagi ya, Sonia-chan".
Ucap gadis itu sambil menghilang memasuki portal itu.
"Iya, sampai jumpa..... Dan jika bertemu lagi..... Akan aku kucabut jantung dan sayap mu dan mengirim mu ke penjara waktu untuk selamanya".
__ADS_1
Sonia menatap jengkel kearah gadis yang pergi itu dan memberinya sedikit ancaman kepadanya. Entah siapa gadis bertudung itu, tapi yang jelas.
Sonia tidak akan membiarkan gadis itu menganggu atau mempermainkan Dylan di masa depan nanti.