
Malam harinya di Mansion milik Akademi Estonia.
Dylan, Awin, Ritzia dan Sylvia berserta beberapa siswa sudah kembali dari kunjungan nya ke Museum Lazarus. Karena sudah besok mereka harus kembali ke Algrand.
Mereka segera memasuki kamar masing-masing. Meski berada dalam satu gedung Mansion yang samanya. Nyatanya, tentu saja asrama bagi siswa laki-laki dan siswa perempuan di bagi.
Siswa laki-laki dan guru laki-laki akan beristirahat di kamar yang berada di lantai 1. Sementara, siswa perempuan dan guru perempuan berada di lantai 2.
Setelah berpisah dengan yang lain, Dylan memasuki kamar yang sudah menjadi bagiannya. Begitu masuk, dia segera merebahkan badannya di atas tempat tidur.
"Ah,..... Leganya...... Tidak lebih enak daripada rebahan setelah seharian jalan-jalan".
Tampak wajah bahagia terpancar dari wajahnya. Namun tak berselang lama, sambil menatap langit-langit kamar. Pikiran Dylan mulai melalang buana.
(Hmmm...... Mau sekeras apapun aku memikirkannya..... Entah kenapa tidak ada yang salah dengan kegiatan ini...... Tapi, entah mengapa perasaan curiga dan tidak enak terus saja menggangguku...... Sejak kami semua tiba di kota ini).
Dylan kemudian berdiri dan duduk bersila sambil tangannya mulai memegang dagu sebagai tanda dia sedang berpikir keras.
(Aku sudah diskusikan ini dengan Kenji.... Dan dan dia juga merasakan hal yang sama dengan ku..... Tapi, tetap saja kami tidak bisa menemukan petunjuk apapun..... Harus aku akui, Frey-sensei memang ahlinya menyembunyikan sesuatu).
PYAR!!!!".
Tak berselang lama Dylan dibuat terkejut oleh lampu yang tiba-tiba saja mati, belum sampai di situ saja. Dia sempat mendengar suara seperti jendela pecah di susul dengan teriakan seorang siswa perempuan.
"KYAAAAAA.....!!!!".
"Itu suara teriakan?...... Dari suaranya..... Itu dari lantai atas".
Dylan dengan sigap melompat dari tempat tidurnya membuka pintu dan segera berlari sekencang-kencangnya.
Bukan hanya Dylan saja, Awin yang juga mendengar suara itu juga ikut berlari meninggalkan siswa yang lain dalam kebingungan.
Ketika sampai di lantai atas mereka sempat melihat-lihat sekitar, sampai pandangan mereka melihat sekelompok siswa yang sedang berkerumun berdiri di depan kamar.
Tak mau membuang waktu, Dylan segera berlari kearah segerombolan siswi itu.
"Dylan-san, Awin-san".
Seorang siswi yang tidak lain adalah Lafia segera manggil Dylan begitu melihatnya.
"Fia..... Apa yang terjadi di sini?..... Dan kamar siapa ini?".
Dylan yang panik segera bertanya kepada Lafia dengan harapan dia mengetahui sesuatu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi...... Tapi, ini adalah kamar yang digunakan Claudia-san..... Dan Claudia-san....... Claudia-san......".
Dengan ekspresi wajah yang sedih dan perkataan yang gemetar memberitahu apa yang terjadi. Meski begitu, Dylan sama sekali masih belum mengerti.
"Ada apa dengan, Claudia...... Fia?".
Dengan sedikit desakan dari Awin. Lafia kembali buka mulut dengan nada yang sedikit di perkuat meski bergetar.
"CLAUDIA-SAN... SUDAH DI CULIK!!!".
""Apa kata mu?"".
Butuh beberapa detik bagi mereka untuk benar-benar mengerti apa yang di katakan Lafia. Sampai, akhirnya dia mulai memahami semuanya.
Bahwa seorang siswa perempuan sudah di culik oleh seseorang malam hari ini dan siswi itu adalah Claudia von Ritzburg.
(-------------------)
Para siswa dan siswi yang panik dan terkejut segera di kumpulkan di ruang aula mansion oleh para guru.
Namun, tidak dengan Dylan dan Awin yang justru malah ada di kamar Claudia. Tujuannya, untuk mencari petunjuk yang mungkin di tinggalkan oleh sang pelaku.
Setelah menyusuri dan memperhatikan setiap sudut ruangan. Dylan setidaknya tahu apa yang terjadi. Saat sedang berpikir, pandangan teralihkan setelah Awin memanggilnya.
"Aniki.... Lihat ini".
Awin menunjukkan sebuah benda yang mirip seperti tabung kecil dari besi. Karena penasaran, Dylan mencoba mencium aroma yang keluar dari tabung itu. Setelah dicium, Dylan langsung menutup hidungnya, karena bau nya yang menyengat.
"Ini Halothane".
"Maksudnya, obat bius berbentuk gas yang digunakan untuk Anastesi dalam kedokteran".
"Iya, ngak salah lagi".
"Apa Aniki tahu cara kerjanya?".
"Kalau aku tidak salah ingat......... Cara kerja obat ini adalah dengan menurunkan sistem kinerja syaraf pusat yang akan mempengaruhi pernafasan dan kontraktilitas pada jantung..... Sehingga, apabila seorang menghirup gas ini dalam dosis tinggi...... Maka, dia akan langsung pingsan ditempat".
Mendengar penjelasan itu, Awin setidaknya mulai mengerti apa yang terjadi dengan Claudia.
"Begitu ya..... Aku tahu urut-urutan kronologi nya".
Dylan segera menoleh kearah Awin, dan tanpa perlu ditanyakan Awin langsung menjawab pandangan Dylan.
"Pertama, pelaku jelas berjumlah lebih dari satu orang..... Kedua, pelaku sengaja mematikan aliran listrik di Mansion ini untuk menyamarkan keberadaan mereka dalam gelap....... Ketiga, sebelum masuk para pelaku melemparkan gas ini ke dalam kamar tepat saat Claudia hendak menutup jendela...... Keempat, mendapati Claudia sudah pingsan mereka lalu menerobos masuk dengan memecahkan jendela dan membawanya pergi".
__ADS_1
"Dan sayangnya, suara kaca jendela yang pecah terdengar oleh siswi dari kamar sebelah..... Makanya mereka buru-buru pergi begitu saja...... Namun, sayangnya siswi sempat melihat mereka dan berteriak sekeras-kerasnya".
Awin dan Dylan secara bergantian saling mengungkapkan dugaan bagaimana kronologi dari penculikan Claudia.
"Heeee...... Sudah kuduga kalian berdua benar-benar punya intuisi yang baik".
""Frey-sensei"".
Suara Frey yang sudah berdiri di pintu kamar segera mengejutkan keduanya. Melihat keduanya menyadari terkejut karena ke hadirannya.
Frey memperbaiki posisi berdirinya dan dengan tatapan serius segera berbicara.
"Kurasa sudah saatnya memberitahu kalian semua........ Dylan, Awin tolong panggil semua siswa kelas 1-S dan suruh mereka berkumpul di kamarku..... Ada hal penting yang ingin aku sampaikan".
Setelah mengatakan itu, Frey segera pergi meninggalkan Dylan dan Awin yang sepertinya mulai paham sebagian soal apa yang ingin di sampaikan oleh wali kelas mereka ini.
Di kamar yang digunakan Frey.
Sudah ada seluruh siswa kelas 1-S yang berdiri disana. Bukan hanya mereka dan Frey, di ruangan itu ada Kepala Akademi, Leon.
"Jadi, Frey-sensei..... Apa yang ingin Anda sampaikan?".
Karena masih bingung dengan situasi yang terjadi dan alasan mereka di kumpulkan, Ritzia mencoba untuk bertanya kepada Frey.
"Baiklah..... Sudah saatnya aku memberi tahu yang sebenarnya...... Atau lebih tepatnya, Tuan Leon yang akan memberikan penjelasan".
Meski sempat menggaruk kepala belakangnya, Frey melirik kearah Leon sebagai tanda bahwa dia yang akan menjelaskan apa yang terjadi.
"Pertama, aku ingin mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian para siswa kelas 1-S...... Dan yang kedua...... Soal kegiatan "kemaritiman" yang sudah kalian jalani sebenarnya...... Hanyalah sebuah kedok semata dan alasan yang kami buat-buat".
Mendengar hal itu, seketika semua langsung dibuat terkejut dan mereka semua terdiam. Suhu di ruangan itu menjadi sangat dingin karena terjadi ketegangan diantara mereka.
(---------------------)
Sekarang kita kembali ke percakapan antara Leon dan Rufus sebelumnya.
{Ini soal dugaan adanya semacam fasilitas penelitian ilegal yang ada dibawah tanah kota Monarch...... Berdasarkan penyelidikan timku.... Tidak salah lagi, tempat itu dijadikan sebagai penelitian dan eksperimen tak manusiawi yang sudah terjadi selama bertahun-tahun}.
"Alasannya?".
{Informan ku..... Mendapati bahwa sudah beberapa kali terjadi transaksi penyelundupan beberapa budak manusia yang sepertinya hendak digunakan sebagai tikus percobaan...... Belum sampai disitu saja....... Kami sempat menemukan sebuah tempat seperti reruntuhan kuno yang di gunakan sebagai tempat pembuangan mayat dari korban eksperimen yang gagal}.
"Apa kau sudah laporkan ini kepada Yang Mulia?".
{Ya sudah, dan yah kau tahulah..... Dia langsung marah dan ngomel soal betapa payahnya dirinya sendiri karena lalai dan terlambat mengetahui hal ini}.
Leon kemudian teringat momen saat dia, Hyoga, Rufus, Verna, Pavline, Lexia, Augnus, Alex, Frey, Olga, Liara, dan Monica yang saat itu masih menjadi bagian dari militer Kerajaan Ingrid menatap prihatin kearah Conrad yang sepertinya menyesali perang antara Kerajaan Ingrid dan Kerajaan Strost yang menelan banyak korban jiwa.
Setelah mengingat kejadian itu, Leon kembali bertanya kepada Rufus.
"Rufus..... Apa mata-mata atau informan mu tahu...... Kegiatan penelitian apa yang dilakukan disana?".
{Ini hanya dugaan ku saja....... Tapi, jika kau tanya...... Maka aku tidak akan ragu untuk menjawab mereka sedang berusaha menciptakan pasukan "Chimera" menggunakan tubuh dari para budak manusia yang di selundupkan}
Leon seketika terkejut bukan main mendengar hal itu, dia tidak bisa berkata-kata apapun.
{Leon...... Hanya dengan ini...... Kau mengerti apa maksudku kan?........ Tempat itu adalah...... Fasilitas penelitian miliki Kerajaan Strost...... Yang artinya....... Thousand Faces dan Morgan Fin Forger....... Terlibat di dalamnya}.
Ekspresi wajah Leon menjadi sangat gelap dan tertunduk untuk saat, dia kembali berbicara. Dan kembali berbicara untuk mengetahui alasan Rufus menelponnya.
"Jadi...... Apa alasan sebenarnya kau menelpon ku?".
{Aku dan Yang Mulia, sepakat untuk meminta bantuan kepadamu....... Kami ingin kau memerintah beberapa orang murid yang bisa kau percaya..... Untuk menyelidiki dan menemukan fasilitas ini}.
"Huh?".
Leon terkejut dengan permintaan tak masuk akal dari Rufus dan Yang Mulia Conrad yang tiba-tiba meminta beberapa orang siswa yang bisa dipercaya untuk menyelidiki dan menemukan fasilitas ini.
{Tanpa berkata apapun kau tahu jawaban mu..... Tapi, baik aku dan Yang Mulia tidak punya pilihan lain lagi...... Soalnya.....}.
Di sudut pandang Rufus dia sedang berdiri didepan jendela kamar sambil terus memantau situasi diluar.
{Sejak kematian Lexia dan Augnus lalu kau, Hyoga, Pavline dan Verna yang tiba-tiba mengundurkan diri dari Kemiliteran...... Situasi di kementerian Militer baik Chivalric Order dan Magical Order mulai berubah drastis..... Tidak ada lagi orang yang bisa aku dan Yang Mulia percayai...... Belum lagi...... Akhir-akhir ini aku merasa seperti sedang diawasi....... Karena itu, untuk tidak menimbulkan kecurigaan..... Maka satu-satunya cara adalah meminta tolong kepadamu}.
"Serius.... Baiklah..... Akan aku bantu deh".
Sambil menggaruk kepala belakang nya, Leon bersedia membantu. Mendengar hal itu, Rufus segera bernafas lega dan segera meminta maaf.
{Maaf ya membuatmu kerepotan..... Meski kau sudah tidak menjadi bagian dari Chivalric Order lagi}.
"Santai saja..... Kalau kau ingin membalas ku.... Bantu aku, untuk menghajar Hyoga jika kita bertemu lagi....... Si keparat itu ngak pernah mengasih kabar apapun selama hampir 20 tahun lamanya".
{Hahaha..... Pastinya..... Pokoknya, terimakasih ya...... Kau memang Mantan Wakil Komandan Divisi 1 Chivalric Order yang bisa diandalkan..... Kalau begitu, selamat malam}.
"Ya, selamat malam".
Setelah menutup Protas nya, Leon kemudian terduduk dan berpikir keras. Dia sedang memikirkan siapa sekelompok siswa dan guru di Akademi yang bisa dia percaya untuk menjalankan misi ini.
Belum lagi, dia harus menutupi misi ini seolah-olah mereka sedang melakukan studi. Butuh waktu yang lama bagi Leon untuk benar-benar memikirkan siapa yang bisa dia percayai.
__ADS_1
Sampai akhirnya, dia menemukan sebuah ide dan secercah harapan.
"Tidak salah lagi...... Hanya anak-anak itu dan dia yang bisa aku percaya"
Dengan tatapan penuh dengan keyakinan, Leon berencana membahas soal misi ini kepada salah satu dari mereka besok pagi saat di Akademi.
(------------------)
Tok, tok, tok
"Masuklah".
Keesokan paginya. Di kantor tempat Leon bekerja ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan Leon dengan senang hati mengizinkan orang itu untuk masuk.
Ketika pintu dibuka, ternyata orang yang masuk ialah Frey de Highland. Guru Praktek pertarungan Akademi Estonia sekaligus wali kelas 1-S, kelas dimana Dylan belajar.
"Selamat pagi, Tuan Leon..... Ada yang bisa aku bantu?".
"Selamat pagi.... Duduklah dulu".
Leon mempersilahkan Frey untuk duduk di kursi sofa yang ada di sana, sementara Leon duduk di kursi mejanya.
"Maaf sebelumnya..... Karena pagi-pagi begini, aku memanggilmu kesini, Frey".
"Kalau anda memanggil saya atau Alex pagi-pagi begini, sendirian tanpa di adanya asisten anda Sarah..... Maka itu hal yang sangat penting, kan?".
"Yap, kau benar sekali".
Tanpa menyembunyikan niatan apapun Leon mengatakan bahwa dugaan Frey memanglah tepat.
"Lalu apa itu?".
"Jadi begini....... Aku ingin meminta tolong sesuatu hal kepada mu, tidak lebih tepatnya kau dan seluruh siswa kelas 1-S yang bina".
"Hm?".
Frey yang kebingungan menaikkan salah satu alisnya, karena itu Leon kembali berbicara dan menjelaskan permintaan apa yang dia maksud secara keseluruhan.
Frey dengan seksama mendengar baik-baik penjelasan yang Leon berikan sambil terus berpikir.
"Garis besarnya, aku sudah paham........ Tapi, apa anda dan Rufus-san benar-benar yakin untuk menyerahkan misi ini kepada kami?".
Meski memahami semuanya, Frey kembali bertanya kepada Leon soal keseriusan nya untuk meminta tolong kepada dirinya dan seluruh siswa kelas 1-S binaanya.
"Wajar jika kau meragukan nya...... Aku bisa memahami itu...... Masalahnya, ini bukan hanya permintaan dari aku dan Rufus saja...... Tapi, juga keinginan dari Yang Mulia Conrad sendiri....... Dan saat aku berpikir keras tadi malam...... Entah kenapa kau dan murid-murid mu lah yang terus-menerus muncul di pikiranku....... Dan aku akan merasa lebih tenang jika kalian melakukannya...... Mengingat bahwa misi ini harus dirahasiakan..... Maka, orang-orang yang mengemban misi ini adalah mereka yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan siswa lain...... Terkhusus mereka adalah anak-anak bangsawan yang kurang mendapat perhatian dari yang lain...... Berdasarkan kedua hal itu....... Maka tidak ada siswa lain selain para siswa kelas 1-S yang kau bina".
Leon menjelaskan alasannya kenapa memilih Frey dan seluruh siswa kelas 1-S. Meski begitu, Frey kembali bertanya.
"Andai jika kami menerima misi ini....... Lupakan soal Alex, Alberto, Dominic, Jason, Liara, Olga, dan Elsa......... Tetap saja, akan munculnya kecurigaan dari para guru dan para siswa yang lain..... Soal kami yang tiba-tiba menghilang untuk menjalankan misi ini..... Bagaimana caranya supaya misi yang kami emban ini tidak menimbulkan kecurigaan?".
"Soal itu, aku sudah memikirkannya...... Kita akan pergi ke Monarch dengan dalih melakukan kegiatan "Kemaritiman"..... Dengan begitu, para guru dan para siswa tidak akan curiga sama sekali...... Tentu saja, untuk membuat ini meyakinkan..... Kita benar-benar akan melatih mereka disana".
"Heeeee".
Frey dengan santai menanggapi dan memahami soal rencana Leon untuk mengadakan kegiatan Kemaritiman sebagai kedok dari misi mereka.
"Tapi....... Kita masih punya satu masalah lagi, Tuan Leon?".
"Hm?..... Apa itu?".
"Ini soal Dylan dan Awin".
Leon menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan dari perkataan Frey.
"Lupakan soal, putri Ritzia dan yang lainnya...... Selama 3 bulan aku melatih mereka semua..... Aku sadar bahwa Dylan dan Awin memiliki intuisi yang tajam..... Melebihi siswa pada umumnya..... Sekalipun, kita dengan sekuat tenaga berusaha menyembunyikan misi ini dari mereka..... Cepat atau lambat, kedua bocah itu pasti merasa ada yang tidak beres dan berasumsi bahwa kita sedang menyembunyikan sesuatu".
"Hmmmm....... Aku bisa memahami kegelisahan mu itu..... Tapi, perlu kau tahu..... Aku memang tidak ada niat menyembunyikan misi ini kepada keduanya...... Di saat yang tepat nanti...... Aku sendiri yang akan memberitahu mereka semua".
Leon menyatakan bahwa sejak awal dia memang tidak berniat menyembunyikan apapun dari Dylan maupun rekan-rekan nya. Dan dia memang berniat untuk memberitahu mereka saat waktu yang tepat.
"Kalau begitu, satu pertanyaan lagi".
Frey kemudian melirik kearah Leon dengan tatapan yang tajam dan kembali berbicara.
"Apa misi ini anda berikan kepada kami sebagai Leon sang "Kepala Akademi Estonia"...... Atau Leon sang "Wakil Komandan Divisi 1 Chivalric Order".... ?".
Terjadi keheningan diantara mereka berdua untuk sesaat. Sampai Leon la yang memecah keheningan itu.
"Misi ini aku berikan kepada kalian sebagai Leon sang "Wakil Komandan Divisi 1 Chivalric Order"...".
Mendengar hal itu, Frey dengan sigap berdiri tegak menghadap Leon dan langsung memberinya hormat militer.
"Saya Frey de Highland siap sedia melaksanakan misi ini..... Dan berjanji tidak akan membuat anda kecewa, Pak".
Leon kemudian berdiri dan memberikan salam hormat sebelum dia kembali berbicara.
"Kalau begitu. Laksanakan".
"Siap, laksanakan".
__ADS_1
Dengan mempertahankan sikap militernya, Frey menyanggupi permintaan Leon dan berjanji akan melaksanakan dengan baik.
Beberapa hari kemudian. Seluruh siswa Akademi Estonia melakukan perjalan ke kota Monarch untuk melakukan kegiatan Kemaritiman sebagai kedok dari misi penyelidikan yang mereka terima.