Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 22 : Pengumuman Hasil Tes Dan Penculikan.


__ADS_3

Di mansion milik Duke Arbor.


Charles de Arbor sedang mabuk-mabukan di kamarnya untuk melampiaskan emosi karena dia dikalahkan oleh Dylan hanya dengan satu serangan saja.


"DASAR BAJINGAN!!! Berani-berani nya, bocah itu meremehkan ku!!! Apa dia tidak tahu siapa aku?!!!".


"Mah. sudah, sudah Charles.... Tenangkan dirimu".


Rupanya, Charles tidak sendirian di dalam kamarnya. Ada seorang pria asing yang juga menemani nya.


"Bagaimana aku bisa tenang.... Bocah itu menghancurkan harga diriku dengan sangat mudahnya.... Belum lagi, dia menatapku dengan tatapan merendahkan.... Padahal, dia tidak bisa sihir atribut..... Berani-beraninya dia menghinaku tanpa tahu apa-apa soal berpedang....".


Charles langsung menenggak minuman di gelasnya dengan cepat, dan begitu kosong dia membanting gelas itu kelantai dengan sangat keras.


"SIALAN!!!!! TIDAK AYAHNYA, TIDAK ANAKNYA!!!! KEDUA-DUANYA SAMA SAJA!!!!".


Charles mengungkapkan emosinya yang menggebu-gebu. Sepertinya, Charles tahu siapa Dylan sebenarnya itu terbukti dengan Charles yang menyamakan sifat Dylan dengan sifat Hyoga.


Yang artinya, di masa lalu. Charles juga pernah dipermalukan habis-habisan oleh Hyoga dalam hal ilmu berpedang.


Makanya, dia bisa berkata bahwa Dylan dan Hyoga itu sama. Sama-sama orang yang mengalahkannya dan mempermalukan nya.


"Biarkan mereka mengatakan, apa yang mereka inginkan.... Alasannya adalah karena mereka iri dengan kemampuan mu, Charles".


"Kau benar, Reiz..... Mereka itu hanya orang-orang rendahan yang tidak bisa melihat kehebatan seseorang".


Pria misterius bernama Reiz ini berhasil menghibur Charles dan membuatnya tenang.


*Heee..... Jadi, pemuda yang mengalahkan Charles adalah putra dari Pendeta Pedang Es dan Cahaya, Hyoga van Arcadia ya? Aku semakin tertarik dengan bocah itu.... Aku mau melihat sendiri*.


Tanpa sepengetahuan Charles, Reiz sangat penasaran dengan seperti apa seorang pemuda bernama Dylan ini.


Dan dia berencana untuk mencari tahu lebih banyak lagi.


(---------------)


Beberapa hari kemudian, setelah rangkaian tes yang melelahkan.


Pengumuman untuk di kelas mana para peserta siswa tahun pertama Akademi Estonia berada, dipajang di papan besar yang terletak di pinggir taman.


Sudah banyak siswa disana yang berkumpul untuk melihat di kelas mana mereka masuk. Melihat kerumunan siswa yang saling mendesak satu sama lain membuat Dylan dan Filaret menatap jijik.


"Ugh.... Nii-san, bukannya ini terlalu berlebihan, ya?".


"Iya, aku juga berpikir seperti itu".


"Kalau gitu, Nii-san..... Kau saja yang melihatnya, aku mundur dulu".


"Eh?".


Filaret segera pergi dengan secepat kilat meninggalkan Dylan seorang diri untuk mengecek papan pengumuman itu seorang diri.


"Yare, yare... Dasar Fira.... Selalu saja ngasih bagian yang merepotkan kepadaku".


Meski sempat mengeluh, Dylan tetap berjalan untuk melihat di kelas mana dia dan Filaret akan berada.


(Hmmm.... Kira-kira dimana, ya namaku)


"Hei, kau minggir".


(Sangking banyaknya nama aku sampai bingung mencarinya).


"Kau dengar tidak!!".


(Yah, mungkin ini akan sedikit memakan waktu).


"KAU ITU TULI APA?".


Kemudian, pandangan Dylan tertuju pada list nama-nama siswa yang masuk ke kelas S. Di sana tertulis, Daftar siswa Kelas S :



Dylan van Arcadia.


Awin de Asford.


Ritzia Sera Ingrid.


Filaret van Arcadia.


Sylvia fou Rachael.


Ornest Fin Ames.


Garcia de Housepour.


Arnold Lakes Volgograd.


Emilia fou Reinfield.


Olivia von Tringel.



Setelah beberapa saat, Dylan menemukan namanya ada di list siswa kelas S bersama dengan nama Filaret yang tertera disana.


(Ah... Iya disitu rupanya.... Nama ku dan Fira ada di kelas S..... Hm?).


Kemudian pandangan Dylan teralihkan ke nama seorang siswa yang tidak asing baginya, yaitu Sylvia fou Rachael.


Melihat nama itu, Dylan sempat terkejut untuk sesaat dan kemudian mulai berpikir sejenak.


"HEI, RAMBUT HITAM ACAK-ACAKAN.... DENGAR NGAK, SIH?!!!".


(Tunggu dulu, Sylvia..... Sylvia fou Rachael mendaftar di Akademi ini? Seriusan? Tapi, bagaimana........ Oh, ya aku hampir lupa..... Karena aku membunuh Oscar maka alurnya benar-benar berubah dan sulit untuk ku prediksi kan...... Namun, kenapa dia mendaftar ke sebagai siswa pindahan dari Kerjaan Rachael ke sini?...... )


"DASAR BODOH.... BISA MINGGIR APA TIDAK?!!!".

__ADS_1


"BUSET!!! BERISIK TAHU!!".


"KYAAAAAAA".


Dylan yang masih sibuk dengan pemikirannya di ganggu oleh seorang gadis yang dari tadi menyuruhnya untuk pergi.


Karena sudah merasa sangat risih, Dylan tanpa basa-basi langsung membentak gadis yang dari tadi mengganggunya. Dan karena terkejut, gadis itu terjatuh ketanah.


Dia seorang gadis cantik yang memiliki rambut berwarna ungu plum panjang yang di kuncir dua sisi dan mata yang berwarna sama.


Ketika mata mereka bertemu, gadis itu kembali berdiri dan dengan ekspresi marah dan langsung mencecar Dylan.


"APA YANG BARUSAN KAU LAKUKAN?!!!! TEGA-TEGANYA KAU MEMBENTAK SEORANG GADIS SAMPAI MEMBUATNYA TERJATUH!!!!".


"Huh? Kau ini ngomong apa? Dari tadi kau itu terus berteriak-teriak ngak jelas? Begitu aku balas, kau malah marah dan bertingkah seolah-olah kau itu korbannya".


Dylan memberikan argumen yang tidak bisa dilawan oleh gadis itu.


"Be-be-beraninya kau!!! Aku ini Fermina von Ritzburg!!!! Putri dari Marquis Ritzburg!!! Tunjukkan rasa hormat mu itu!!!".


(Ritzburg? Rasanya aku pernah dengar?).


Tak kehabisan akal, Gadis Fermina ini mulai menggunakan kekuatan otoritas keluarganya untuk membuat takut Dylan.


"Wow. Luar biasa... Selamat untuk mu dan keluarga mu, deh!!!!".


"HUH?"


Ternyata hal itu tidak membuat Dylan gemetar atau kebingungan sama sekali bahkan Dylan masih bisa memberikan ucapan selamat.


Melihat respon Dylan yang tampak santai membuat Fermina semakin emosi dan mulai meluapkan nya.


"Aku ini putri kedua keluarga Ritzburg".


"Ya, tentu".


"Kau pikir bisa lolos tanpa hukuman setelah macam-macam dengan ku".


"Emangnya aku pikirin...... Lagipula, menggunakan pengaruh keluarga mu di sekolah itu dilarang lho!!!! Apa kau benar-benar tidak membaca aturannya?".


Fermina semakin emosi dengan jawaban cepat dari Dylan yang juga menunjukkan aturan tertulis di Akademi Estonia yang tidak boleh untuk menggunakan pengaruh keluarga nya. Meski begitu, Fermina masih belum menyerah.


"Hehehe.... Apa kau pikir, ada seorang guru di Akademi ini yang berani menghentikan ku?".


Fermina tersenyum karena berpikir bahwa dia bisa menghukum Dylan tanpa ada yang berani mengganggunya termasuk para guru.


"Berhenti sampai disitu".


Lalu dari arah belakang terdengar suara seorang gadis yang menyuruh Fermina agar berhenti. Reflek, baik Dylan maupun Fermina segera melihat kearah gadis yang berjalan menuju kearah mereka.


"Menggunakan kekuatan keluarga untuk menyakiti orang lain di sekolah merupakan perbuatan yang dilarang.... Hukuman yang berat akan diberikan kepada mereka yang melanggar.... Dan itu bukan hanya sekedar aturan Akademi. Melainkan aturan Kerjaan".


"Ka-kau adalah....".


"Atau kau..... Berani menantang Keluarga Kerajaan?".


(Ou... Ritzia rupanya).


"Tidak... Aku tidak berpikir demikian".


"Kalau begitu aku minta kau, untuk berhenti membuat masalah disini.... Kau akan mengganggu yang lainnya".


Fermina menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Namun, dia sempat mengirim tatapan jengkel kearah Dylan yang hanya direspon dengan menaikan salah satu alisnya.


Melihat sosok Fermina menghilang di kerumunan, Dylan dan Ritzia segera melakukan tos bersama.


"Yo, Dylan lama tidak bertemu".


"Ini baru beberapa bulan setelah pesta Ball... Jangan katakan seolah-olah sudah puluhan tahun".


"Iya, iya deh..... Kau pasti sedang mengecek list namamu disini, kan? Jadi, dikelas mana kau masuk?".


"Aku dan Filaret masuk ke kelas S.... Kau sendiri?".


"Aku juga sama dengan kalian".


"Heeee.... Selamat kalau begitu".


Dylan memberikan ucapan selamat kepada Ritzia yang berhasil masuk kelas S yang sama dengannya. Walau sebenarnya, Dylan merasa ada yang tidak beres.


"Oh, ya Ritzia..... Aku penasaran akan satu hal?".


"Oh, soal dia, ya?".


Tanpa memerlukan penjelasan, Ritzia tahu apa yang ingin Dylan tanyakan. Dan tanpa membuang waktu lagi, Ritzia mulai bercerita.


"Seperti yang dia katakan, Fermina adalah putri dari Malcom von Ritzburg yang mengelola wilayah Ritzburg pusat tambang batu bara di Kerajaan ini....... Dia memiliki rasa sangat superioritas, karena Keluarga nya berada di fraksi Vanessa yang banyak mendapatkan dukungan dari rakyat..... Jadi, dia selalu berpikir bisa berbuat seenaknya".


"Hou.....".


"Sebenarnya, Marquis Ritzburg sudah mendapatkan banyak keluhan dari berbagai pihak karena sikap Putri keduanya yang angkuh..... Tetapi, Marquis sama sekali tidak peduli".


"Huh? Alasannya?".


"Kabarnya, Marquis Ritzburg sangat mencintai selir nya Lilit yang merupakan ibu kandung Fermina daripada almarhumah Istri pertamanya.... Itu terbukti dengan beliau yang membawa Lilit dan Fermina tinggal di kediaman Ritzburg, 1 bulan tepat setelah pemakaman Istri pertamanya".


"Begitu ya".


Dylan yang masih sedikit penasaran kembali bertanya kepada Ritzia.


"Tadi, kau bilang Fermina itu adalah putri kedua, kan?.... Lalu siapa nama Kakak perempuan nya?".


"Kakak perempuan nya itu jarang muncul di publik..... Karena Marquis Ritzburg lebih suka membawa Fermina setiap ada acara sosial.... Tapi, kalau aku tidak salah ingat.... Namanya itu adalah Claudia von Ritzburg".


"Apa katamu?".


Dylan seketika terkejut ketika mendengar nama Kakak perempuan Fermina. Seketika dia, teringat akan satu karakter di dalam game "Long Life Brave" yang dia mainkan.

__ADS_1


"Yah, sama halnya denganku dan Vanessa..... Meski disebut Kakak perempuan umur mereka itu sama..... Karena keduanya terlahir dari ibu yang berbeda...... Dylan, kau kenapa?".


Ritzia seketika dibuat bingung karena sikap Dylan yang tiba-tiba berubah diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Dylan? Dylan? Dylan, kau baik-baik saja?".


Ritzia yang heran mencoba menggoyang kan badan Dylan beberapa kali sampai akhirnya dia kembali bereaksi.


"Oh, Ritzia..".


"Dylan, kau kenapa? Apa kau tidak enak badan?".


"Ha... Tidak, aku baik-baik saja kok..... Aku hanya, teringat sesuatu".


"Hmmm.... Ya sudah kalau begitu".


Dylan yang tidak ingin membuat Ritzia khawatir segera membuat alasan. Mendengar hal itu Ritzia merasa sedikit lega.


"Kalau begitu, Dylan.... Aku pergi dulu karena masih banyak hal yang harus aku urus".


"Baiklah, sampai jumpa. Ritzia".


"Kau juga, ya Dylan".


(--------------)


Ritzia segera melangkah pergi meninggalkan Dylan seorang diri. Ketika sosok Ritzia sudah tidak terlihat dari pandangannya.


Dylan mencari sebuah bangku untuk duduk dan kembali tenggelam kedalam pikirannya. Hal itu terjadi, karena Dylan mendapatkan sebuah informasi dari percakapannya dengan Ritzia.


(Claudia von Ritzburg..... Salah satu dari 15 anggota Harem dari Pahlawan Reiner.... Dia digambarkan sebagai gadis cantik berambut biru gelap panjang dan mata yang berwarna sama dengan dadanya yang berisi.... Di gamenya, dia adalah karakter yang sebenarnya baik hati dan sangat penuh welas asih..... Tapi, dia punya penyakit Androphobia yang parah.... Semua itu terjadi karena dulu dia pernah mengalami tindakan pelecehan seksual oleh seorang bangsawan..... Tapi, kasus itu mengalir begitu saja tanpa ada tindakan apapun..... Bahkan Ayahnya bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa..... Ketika bertemu dengan Reiner, dia sangat ketakutan karena phobia nya..... Namun, seiring berjalannya waktu dia mulai terbuka dan sudah tidak takut lagi kepada Reiner..... Mengetahui aku bertemu dengan Adik perempuan Claudia..... Ini sungguh diluar dugaan..... Lalu langkah apa yang harus aku ambil?).


Dalam pikirannya, Dylan kembali mengingat-ingat karakter bernama Claudia ini.


(Kalau boleh jujur..... Sebenarnya, aku sama sekali ngak peduli dengan apa yang terjadi sama dia..... Tetapi, mengingat ini adalah kasus pelecehan.... Mana mungkin aku membiarkannya..... Aku tahu, tindakanku ini mungkin mempersulit diriku untuk kedepannya..... Tapi, aku harus menolongnya..... Karena ini, bentuk rasa simpati ku sebagai manusia dan tugas seorang pria).


Kemudian Dylan kembali berdiri dari duduknya dan segera pergi. Tapi, langkahnya terhenti dan segera menatap langit dan berkata.


"Pertemuan antara Claudia dan Reiner itu terjadi pada tahun ke 2...... Dan pelecehan itu terjadi pada tahun pertama, setelah pengumuman hasil tes masuk.... Yang artinya........ Kejadian pelecehan itu akan terjadi malam hari ini".


Dylan segera mempercepat langkahnya. Dan bersiap-siap untuk menolong Claudia dari kasus pelecehan yang akan dia alami.


Meski dia tahu ini akan berdampak besar pada alur cerita. Tapi, sikap moral dalam diri Dylan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.


(----------------)


Di sebuah jalan di kota Algrand yang sepi saat malam hari.


Sebuah kereta kuda sedang berjalan melintasi sunyi nya jalan malam yang dingin diselimuti oleh kabut tipis.


Dari simbol yang tampak pada kereta kuda itu, adalah simbol keluarga Ritzburg. Di dalamnya ada seorang gadis cantik berambut biru gelap dengan gaun yang indah ditemani oleh seorang maid yang juga tidak kalah cantiknya.


"Bbbrrrr.... Malam ini sungguh dingin sekali, ya Nona Claudia?".


Pelayan itu memanggil gadis yang ada di depannya Claudia. Yang berarti bahwa gadis itu adalah Claudia von Ritzburg salah satu karakter yang kelak akan menjadi bagian dari anggota Harem pahlawan Reiner.


"Ya, itu wajar sih Helena.... Karena kita baru beberapa hari memasuki musim semi..... Jadi, suhu dingin ketika musim dingin masih terasa saat malam hari".


Claudia memanggil pelayan yang ada di depannya dengan panggilan Helena. Dari cara mereka berbincang, terlepas dari status mereka Claudia menganggap Helena seperti Kakak perempuan nya.


"Nona, dari tadi anda terus tersenyum sambil melihat jendela.... Memangnya ada sesuatu yang lucu?".


"Tidak, tidak ada".


"Lalu apa penyebab Nona terus tersenyum?".


"Itu karena aku sangat senang bisa keluar dari Mansion Ritzburg setelah sekian lamanya".


Helena seketika tersentak dan mulai menatap Claudia dengan tatapan hangat. Sementara Claudia melanjutkan ucapannya.


"Kau, tahu sendiri kan, Helena?..... Sejak, ibu meninggal..... Ayah tidak pernah punya waktu untukku dan bahkan dia juga melarang ku keluar dari Mansion apapun kondisinya..... Dan Virgil Nii-sama selalu sibuk dengan pelajaran untuk menjadi pewaris selanjutnya sampai tidak banyak waktu luang denganku...... Belum lagi, rasa sedih saat tahu ayah lebih menyayangi Fermina daripada denganku".


"Nona Claudia".


"Tapi, saat ini.... Aku merasa bahagia.... Karena aku kembali bisa keluar dari Mansion Ritzburg dan melihat dunia luar".


"Saya ikut senang mendengar nya".


Helena tersenyum lembut dan ikut senang setelah mendengar apa yang Claudia katakan. Begitu juga dengan Claudia yang juga membalas senyuman dari Helena untuknya.


Rasa tenang dan damai.


Itulah yang dirasakan keduanya saat ini. Tapi, itu tidak berlangsung lama.


Dalam sekejap Claudia dan Helena dibuat terkejut karena guncangan kereta kuda yang tiba-tiba berhenti mendadak.


"Helena, apa yang terjadi?".


"Entah lah, saya juga tidak tahu".


Claudia yang kebingungan dan panik segera bertanya tentang situasi mereka kepada Helena. Namun, dia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi.


"KYAAAAAAA".


Kemudian, pintu kereta dibuka dengan sangat paksa. Dan ketika keduanya melihat kearah pintu, didepan sudah ada beberapa orang berjubah hitam misterius.


"Si-siapa kalian? Mau apa kalian?".


Helena yang merasakan bahaya segera berusaha untuk melindungi Claudia. Tapi, orang-orang berjubah itu tidak menjawab dan langsung menerobos masuk dan menangkap keduanya.


"Hei, apa yang kalian lakukan? lepaskan".


"Lepaskan nona Claudia. Jangan sakiti dia".


Keduanya segera diikat dan mulut mereka disimpulkan supaya tidak menimbulkan suara yang didengar oleh orang-orang.


Keduanya dengan kasar di seret masuk kedalam sebuah kereta kuda yang lain. Berniat membawa mereka pergi ke suatu tempat yang mereka sendiri tidak tahu dimana tempat itu.

__ADS_1


Sebelum berangkat orang-orang itu, memeriksa situasi sekitar untuk memastikan tidak ada saksi mata. Setalah yakin, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2