Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 21 : Tes Ujian Masuk Akademi Estonia part 3.


__ADS_3

2 tes sudah selesai.


Sekarang, para peserta calon siswa digiring menuju ke Arena bertarung milik Akademi. Banyak jumlah peserta yang berkurang karena tes ke 3 ini tidak diwajibkan untuk diikuti.


Karena menurut para Guru Akademi Estonia tidak semua calon siswa bisa bertarung. Jadi, tes ke 3 ini hanya diikuti oleh para calon siswa yang merasa punya kemampuan untuk bertarung saja.


Begitu sampai, semuanya calon siswa dibuat terpana karena melihat betapa besar dan megahnya arena bertarung itu.


"Wow... Luar Biasa".


"Ini megah sekali".


"Ini sangat hebat untuk arena pertarungan".


Para peserta calon siswa sengat terpukau dengan besarnya dan luasnya arena itu. Selagi yang lain merasa kagum, Dylan yang penasaran akan satu hal bertanya kepada Filaret yang ada di sebelahnya.


"Woi, Fira.... Aku tidak melihat Laura, dimana dia?".


"Laura-san, bilang dia tidak berbakat dalam pertarungan jadi dia lewati ujian ini".


"Hou.... Begitu ya".


Dylan menanyakan keberadaan Laura yang tiba-tiba menghilang tanpa memberitahu apapun.


Tak berselang lama, dari arah podium muncul seorang laki-laki berambut coklat acak-acakan dan mata yang berwarna sama dengan setelan kaos switer hitam lengan panjang tapi, membawa sebilah pedang dipinggang kanannya.


Pria itu sekarang menatap para peserta calon siswa dari atas podium, dan setelah beberapa kali hembusan nafas dia mulai berbicara.


"Selamat datang, para peserta calon siswa Akademi Estonia. Namaku adalah Alexander von Geogrovic. Aku adalah guru yang bertanggung jawab untuk tes ketiga ini....... Aturannya cukup mudah, aku akan panggil nama kalian semua satu persatu dan kalian akan berhadapan dengan beberapa ksatria yang kami pilih..... Mengingat ini hanya sekedar tes..... Pertandingan dinyatakan selesai, apa bila senjata milik salah satu peserta terlepas dari tangan".


Seperti halnya para penanggung jawab lainya, Alex juga menjelaskan aturan dalam tes pertarungan kali ini.


".... Tanpa membuang waktu lagi, aku akan panggil nama kalian satu persatu sementara sisanya silahkan menunggu giliran di tempat duduk penonton".


Alex mulai memanggil nama peserta calon siswa dan juga para ksatria yang akan jadi lawan tanding mereka.


Setelah memakan waktu yang cukup lama hasilnya banyak peserta yang langsung kalah dengan satu kali ayunan senjata para Ksatria.


Bahkan ada peserta yang tidak terima berusaha menekan ksatria yang mengalahkan menggunakan otoritas dari keluarganya. Namun, sayang nya itu sia-sia saja.


Kemudian, giliran nama Filaret dipanggil untuk bertarung di tengah Arena melawan seroang ksatria wanita.


Tak berselang lama, Filaret mampu mengalahkan kesatria wanita itu dan menodongkan sabitnya ke leher Ksatria itu.


Kemenangan, Filaret tentu saja tidak lepas dari latihan yang dia jalani selama ini dengan Dylan sehingga dia bisa menang dengan mudah.


Meski begitu, banyak orang yang mencibir gaya bertarungnya. Mengingat Filaret mendaftar sebagai penyihir bukan seorang ksatria.


"Kerja bagus, Fira".


"Terimakasih, Nii-san.... Kau satu-satunya orang yang menghibur di tengah cibiran orang-orang".


"Sudah, tidak usah kau pikirkan.... Nih, minumlah kau pasti lelah".


"Syukurlah, aku benar-benar haus".


Filaret langsung meminum minuman yang diserahkan Dylan. Kemudian, Alex kembali memanggil nama peserta lainnya.


"Selanjutnya, Awin de Asford silahkan maju ke depan".


Seorang pemuda berambut merah burgundi yang menggunakan sihir kegelapan saat tes sihir maju ketengah arena.


"Dan lawan mu adalah Hendric Fin Corales".


Seorang ksatria maju berambut coklat maju ketengah arena.


Begitu berhadapan keduanya memberikan hormat satu sama lain dan memulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing.


Tapi, ada yang aneh.


Saat Hendric menggunakan senjata kapak. Awin mengeluarkan senjata yang mirip gabungan antara 2 mata pisau besar dan nunchaku.


"Hei, senjata apa itu?".


"Bentuknya aneh?".

__ADS_1


"Memangnya itu bisa dipakai untuk bertarung?".


Mengabaikan keterkejutan dari orang-orang disekitar, Alex memberi aba-aba.


"Baiklah..... Mulai!!!".


Begitu aba-aba di nyatakan, keduanya langsung melesat dan bentrok di tengah arena. Setelah berapa saat keduanya mulai saling menjaga jarak sebelum akhirnya saling adu senjata.


Selama pertandingan terlihat jelas bahwa Hendric benar-benar dibuat kewalahan oleh gerakan bertarung Awin yang sangat cepat dan lincah.


Apa lagi, cara Awin menggunakan senjatanya benar-benar sangat luar biasa, para penonton hanya bisa dibuat terperangah dengan aksi Awin yang luar bisa.


Karena tidak bisa menahan bombardir serangan dan mengimbangi kecepatan Awin, kapak yang dipegang Hendric terlepas dari tangannya.


Melihat itu, Alex segera menghentikan pertarungan.


"Sudah cukup.... Pemenangnya, Awin de Asford".


Para peserta calon siswa dibuat tidak percaya dengan hasil ini. Meski begitu banyak dari mereka yang mulai memberikan ejekan kepada gaya bertarung Awin yang dianggap sangat aneh dan pengecut.


Tapi, tidak dengan Dylan. Alih-alih terpukau atau mengejek, Dylan justru merasa sangat familiar dengan senjata dan cara bertarung yang ditunjukan Awin.


(Tunggu dulu, senjata itu..... Rasanya, aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi kapan?..... Dan juga.... Kuda-kuda yang dia gunakan, cara berjalan dan cara bertarungnya itu..... Hanya satu "orang" yang aku kenal bisa melakukannya).


Dylan sebenarnya tidak yakin. Tapi setidaknya dia ingat bahwa dulu ada seseorang yang dia kenal yang bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Awin.


(--------------)


"Selanjutnya, Dylan van Arcadia. Silahkan maju ke depan".


Setelah menunggu lama, akhirnya giliran Dylan untuk maju.


"Dan yang akan menjadi lawannya adalah Charles de Arbor".


Seorang ksatria yang membawa pedang di tangan kanan dan perisai datang kirinya maju ketengah arena.


Tidak seperti ksatria lainnya, Charles menatap Dylan dengan tatapan sombong dan meremehkan nya.


"Hou.... Jadi, kau bocah yang menjadi lawan ku, ya... Ingatlah, kau hanya bocah ingusan yang tidak bisa menggunakan sihir atribut.... Bersenang lah, karena Charles yang hebat ini.... Akan mengajarimu apa itu ilmu "berpedang"".


"Cih. Bocah kurang ajar aku benci sikapmu itu".


"Kalian berdua hentikan percakapan ini..... Sekarang, bersiaplah".


Alex segera menghentikan percakapan mereka, dan menyuruh mereka berdua untuk bersiap-siap bertarung.


Dylan mengambil pedang katana nya dan memasang kuda-kuda bertarung.


"Eh? Apa itu?".


"Pedang apa itu? Bentuk nya aneh?".


"Belum lagi gaya bertarungnya itu tidak biasa".


"Benar-benar aneh".


Melihat gaya bertarung dan pedang katana yang dia bawa membuat semua orang kebingungan bahkan Alex sendiri juga merasakan hal yang sama. Tapi, dia memilih untuk mengabaikan hal itu.


"Baiklah.... Mulai!!".


Tanpa basa-basi Charles langsung menyerang Dylan dengan sekuat tenaga, tetapi Dylan dengan mudahnya menangkis setiap serangan yang datang.


(Sialan, apa-apaan dia ini?..... Padahal aku sudah kerahkan seluruh tenagaku.... Tapi, dia dengan mudahnya menangkis semuanya...... Keparat, kalau begitu aku akan tambah Kekuatan ku).


Menyadari hal itu membuat Charles mulai merasa jengkel. Karena Dylan seolah-olah tidak berniat untuk melakukan serangan balik dan merasa dirinya sudah diremehkan.


Ketika mereka saling mengambil jarak, Charles yang sudah emosi langsung mengaktifkan sihirnya. Dan tanpa basa-basi langsung menyerang Dylan dengan banyak bombardir serangan.


Kejadian itu membuat semua orang sangat terkesan. Tapi, tidak dengan Alex yang menghembuskan nafas, karena dia tahu, betapa arogannya Charles.


(Si Charles sialan itu....... Yah, toh dia itu memang berdarah panas dan gila kehormatan. Jadi, wajar kalau dia seperti ini).


Alex menganggap tindakan yang dilakukan Charles adalah kebiasaan yang selalu merasa dirinya yang paling hebat.


Merasa bahwa Dylan tidak benar-benar mempedulikannya, Charles mencoba untuk memprovokasi nya.

__ADS_1


"Hei, bocah... Apa hanya segini kekuatanmu.... Kau hanya bisa menangkis serangan ku tanpa melakukan perlawanan.... Dasar lemah".


Dylan hanya menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda dia tidak paham dengan yang Charles katanya.


Karena tidak mendapat respon apapun dari Dylan, Charles segera meningkatkan sihirnya dan melesat bersiap menyerang Dylan dengan kekuatan yang sangat besar.


"HAHAHA.... INI AKHIR BAGIMU YANG SUDAH MEREMEHKAN KU!!!! MATILAH".


(Tidak.... Inilah akhir bagi mu, Charles).


Bersamaan dengan kata-kata itu Charles melayangkan pedangnya yang diperkuat dengan sihir dalam jumlah banyak dengan sekuat tenaga siap menyerang Dylan.


Hal itu tentu saja membuat semua terkejut dan terpukau oleh serangan Charles. Saat itu semua orang menduga bahwa Dylan tidak akan bisa menahan yang satu ini dan dia akan mati. Tapi tidak dengan Alex yang sepertinya tahu bagaimana ini akan berakhir.


"Phantom Blade. The Smooth Combinations Blade".


Ternyata dugaan Alex memang benar.


Secara ajaib dan mengejutkan, serangan yang dilakukan Dylan langsung menghempaskan kekuatan sihir milik Charles dengan begitu mudahnya.


Belum sampai disitu saja, pedang dan perisai yang di bawa Charles langsung hancur seketika. Charles yang terkejut tidak bisa mempertahankan posisi berdirinya dan langsung terduduk di lantai.


"Sialan!!! Eh?".


Charles yang sedang mengumpat dibuat terkejut saat Dylan menodongkan pedangnya kearah leher nya.


"Kenapa? Apa hanya ini saja kekuatan yang kau banggakan itu? Charles de Arbor-san?".


Dylan sekarang menatap Charles yang terduduk ketakutan dengan tatapan mengejek seperti yang dia lakukan kepada Dylan.


"Pertandingan selesai...... Pemenang nya, Dylan van Arcadia".


Alex yang melihat hasil ini, langsung menyatakan kemenangan Dylan yang berarti menyatakan kekalahan bagi Charles.


"Tunggu dulu, Alex..... Aku minta ajubanding".


"Huh?".


"Kali ini aku pasti akan----".


"Kau itu ngomong apa, Charles?..... Ini arena bertarung, bukan ruang sidang..... Kalau kau kalah ya kalah aja".


"Ugh".


Dengan aura mengintimidasi Alex menolak Charles yang meminta pertandingan ulang. Dan Charles hanya bisa tertunduk diam.


"Dylan-kun kau boleh kembali sekarang".


"Terimakasih banyak".


Dylan segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan arena, Charles pun juga sama. Namun, dia sempat melihat kearah punggung Dylan sambil mendecitkan lidahnya.


(Alasan kenapa Dylan sejak awal hanya menangkis serangan Charles..... Karena baginya, setiap serangan dan pertahanan yang ditunjukkan Charles adalah celah yang bisa dia manfaatkan kapan saja..... Tapi, dia hanya menunggu waktu yang tepat..... Dan itu, saat Charles mengeluarkan kekuatan penuhnya..... Lalu tebasan itu sendiri sangatlah menakutkan..... Ayunan pedang yang sangat halus, tipis, kuat, cepat dan aliran laju pedangnya bisa dikendalikan..... Jika Dylan benar-benar serius, dia akan memotong leher Charles tanpa disadari siapapun bahkan oleh Charles sendiri....... Seperti yang diharapkan dari putra, Hyoga-sensei).


Seorang pria minsterius berambut biru navy, mengirimkan senyuman puas saat melihat aksi dan kekuatan Dylan.


Dan bahkan dia tidak ragu memanggil Hyoga dengan panggilan Sensei.


Yang menandakan bahwa Pria misterius itu dan Hyoga memiliki semacam ikatan dimasa lalu.


(---------------)


Disaat semua orang kebingungan dengan aksi Dylan, hanya Awin yang sepertinya mengetahui sesuatu.


(Teknik tebasan halus itu..... Bukankah itu teknik Kendo Kamiizumi-Ryuu.... Memangnya, ada orang di dunia ini yang bisa menggunakan teknik itu?..... Selain itu, bagaimana bisa ada pedang katana Jepang di dunia ini?...... Namun, setelah ku perhatikan lagi.... Baik teknik bertarungnya, pedang katana nya dan bahkan caranya berjalan itu mengingatkanku dengan "seseorang" yang sangat aku kenal...... Jangan-jangan dia.....).


Awin yang berpikir sambil memegang dagunya perlahan-lahan menurunkan tangannya dan.


"...... Aniki".


Tanpa dia sadari, Awin mengatakan kata "Aniki" setalah melihat aksi luar biasa Dylan.


Alex segera memanggil peserta dan ksatria lainnya dan tes itu berlanjut lagi. Dan dalam beberapa hari kedepannya. Pengumuman untuk hasil tes dan dikelas mana para peserta siswa itu akan belajar.


[Note : Aniki adalah panggilan lain dari Nii-san yang berarti Kakak Laki-laki].

__ADS_1


__ADS_2