
"Untuk merayakan awal dari kehidupan sekolah.... Dan persahabatan kita.... Mari kita.... Bersulang".
"""""Bersulang!!!""""".
Dimalam harinya. Setelah upacara penyambutan siswa baru.
Ritzia mengajak semua teman sesama kelas S untuk merayakan sendiri pesta dengan tujuan untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi, tidak ada Sylvia disana.
Mereka melakukan pesta di sebuah kedai makan yang sudah dibooking. Selesai dengan pidato penyambutan Ritzia mereka dengan meriah mulai makan, minum dan saling memperkenalkan diri.
Meski yang lain menikmati pesta sederhana ini, Dylan masih terdiam karena masih memikirkan kejadian yang sebelumnya, dimana dia bertemu dan bertatap muka langsung dengan sang Pahlawan dan karakter utama "Long Life Brave" yaitu Reiner fou Stenly.
(Aku tahu, cepat atau lambat.... Kita akan bertemu.... Tapi, aku tidak menyangka akan secepat ini.... Yah, karena masih belum ada masalah atau event yang penting..... Lebih baik aku perlahan-lahan menjauh darinya).
"Jadi, ngomong-ngomong semua.... Kelas kita akan dimulai besok. Aku penasaran siapa yang akan menjadi wali kelas kita nanti?".
Ritzia kembali memecah suasana dengan memulai obrolan ringan.
"Hmm.... Kalau aku sih, berharap Olga-sensei yang menjadi wali kelas kita".
"Itu benar, Fira... Aku setuju dengan pendapat mu".
"Ku pikir itu akan sangat menyenangkan..... Mengingat dia seperti wanita yang sangat baik".
"Aku juga setuju, dia punya impres yang baik saat menjadi pengawas tes sihir".
Pertanyaan Ritzia segera dijawab Filaret yang mengharapkan Olga sebagai wali kelas mereka. Dan hal itu, disetujui oleh Emilia, Ritzia sendiri dan Olivia.
"Yah, kalau aku.... Berharap, Alex-sensei yang menjadi wali kelas kita".
"Pikiranku juga sama denganmu".
"Kurasa, kita akan bertambah kuat jika dilatih oleh orang itu".
Sementara itu, Awin, Ornest dan Arnold sangat menginginkan Alex sebagai wali kelas mereka.
"Kalau kau bagaimana, Dylan.... Siapa yang kau harapkan menjadi wali kelas kita?".
"Selama dia bisa memberi arahan yang baik dan ilmu yang bermanfaat..... Siapapun tidak masalah".
"Heeee..... Begitu ya".
Dylan tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi wali kelas mereka besok. Mendengar jawaban itu, membuat Garcia mengangguk paham.
Kemudian, Emilia mulai berbicara.
"Btw, Dylan.... Pidato mu tadi pagi, itu benar-benar gila.... Berkatmu, aku bisa puas melihat ekspresi jengkel dari para bangsawan songong itu..... Kau itu benar-benar tau cara meroasting orang, ya.... Kau memang Provokator handal".
Emilia tampak sangat puas bahkan sampai memuji pidato kurang ajar Dylan tadi pagi. Di bahkan memuji Dylan sebagai provokator yang handal.
"Memangnya, siapa orang yang kau maksud itu, huh?...... Aku bukan seorang provokator...... Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dipikiran ku".
"Dan pikiran mu itu mewakili kami semua".
Dylan hanya mengatakan yang ada dipikirannya saat berpidato tadi. Tapi, hal itu malah mewakili perasaan dari Awin dan yang lainnya.
"Apa segitunya, kalian membenci kaum bangsawan".
""""""BANGET!!!!"""""".
"..... Hou.....".
Karena penasaran Dylan bertanya kepada rekan sekelasnya, dan langsung mendapatkan jawaban cepat dari teman-teman barunya.
"Hanya karena mereka Cantik dan Tampan, mereka pikir bisa tebar pesona seenak jidat".
"Mereka selalu saja berlomba pamer barang-barang mewah".
"Itu benar..... Apa mereka tidak sadar, kalau uang yang mereka pakai itu adalah uang pajak dari rakyat".
"Mereka itu sekelompok orang bodoh, yang tidak tahu betapa susahnya mencari uang.... DASAR PARA PENGEMIS BERBAJU MEWAH!!!!".
"Merasa dirinya hebat, padahal cuma amatiran cengeng".
"Selalu bertingkah seperti "korban"... Padahal mereka sendiri "pelaku" nya".
"Sok, menegakkan keadilan.... Tapi, mereka sendiri yang melanggar".
"""Oh, begitu ya""".
Dylan, Fira dan Ritzia hanya bisa terdiam dan terkejut mendengar Awin, Arnold, Garcia, Ornest, Emilia, dan Olivia mengungkapkan rasa jengkel nya kepada para bangsawan.
"Btw, kalian tahu.... Tadi pagi terjadi kehebohan di kelas A".
"Kehebohan apa? Al".
Tiba-tiba Arnold mulai membicarakan sebuah kehebohan yang terjadi pada kelas A setelah upacara penyambutan. Perkataan Arnold sukses membuat semua orang tertarik untuk mendengarkan. Itu terbukti dengan Olivia yang langsung bertanya.
"Kalian tahu seorang gadis bernama Fermina?".
Semua orang mengangguk sebagai tanda tahu siapa yang dimaksud Al. Kecuali, Filaret yang tidak tahu siapa gadis itu.
"Dia membuat keributan dengan Kakak perempuan nya sendiri Claudia.... Karena tiba-tiba saja tunangan nya yang bernama Dirk fou Watson menghilang entah kemana..... Dia menuduh Claudia sebagai orang yang bertanggung jawab atas menghilangnya Dirk".
Disaat semua penasaran, Dylan menjadi satu-satunya orang yang merinding setelah mendengar hal itu.
Penyebabnya, Dylan tahu betul apa yang sebenarnya terjadi kepada Dirk yang tiba-tiba saja menghilang.
"Eh? Lha kok bisa?.... Terus siapa itu Dirk?.... Kayaknya aku pernah dengar itu nama?"
Sementara itu, Filaret menaikkan salah satu alisnya karena dia tidak tahu siapa orang yang teman-teman nya maksud. Menyadari hal itu, Olivia segera buka suara.
"Itu loh, Fira..... Laki-laki yang berkelahi dengan Dylan sewaktu tes sihir berlangsung".
".... Oh, Si brengsek muka tengil itu, ya...... Aku ingat sekarang".
Selang beberapa saat, Filaret teringat dengan sosok laki-laki tengil yang di hajar habis-habisan secara sepihak oleh Dylan.
__ADS_1
"Tapi, Fermina itu siapa?".
"Fermina itu, gadis yang pernah aku ceritakan padamu itu loh, Fira.... Masa kau lupa?".
"Ah.... Maksudnya, si gadis rese yang berani membentak Nii-san itu, ya.... Begitu ya, aku paham".
Filaret yang tidak tahu siapa itu Fermina kembali teringat karena dia adalah sosok gadis yang pernah Dylan ceritakan.
"Menuduh Kakaknya sendiri sebagai penyebab hilangnya Dirk? Bukankah, itu tidak masuk akal?".
"Palingan dia lagi ngak ada kerjaan aja, sampai nuduh Kakaknya yang aneh-aneh".
Seketika, semua orang kecuali segera mengalihkan pandangannya ke Filaret dan Dylan.
"Eh? Kenapa kalian melihat kami?".
"Etto.... Dylan, Fira..... Jangan bilang, kalian tidak tahu apa-apa?".
Keduanya sama-sama menaikkan alisnya. Menyadari hal itu Ritzia memutuskan untuk sedikit bercerita.
"Jadi begini, sebenarnya Fermina dan Dirk adalah sepasang tunangan..... Awalnya, Dirk mengajukan proposal pertunangan untuk Claudia..... Tapi, entah mengapa Marquis Ritzburg malah menggantikan Claudia dengan Fermina sebagai tunangan Dirk".
"Eh? Kok bisa? Bukankah, proposal itu untuk Claudia, ya? Kenapa malah jadi Fermina?".
Filaret yang terkejut secara spontan bertanya. Ritzia segera melanjutkan ceritanya.
"Itu karena Marquis Ritzburg sangat menyayangi Fermina lebih dari Claudia.... Dan karena ada keuntungan politik jika putrinya bertunangan dengan keluarga Watson.... Makanya, dia menggantikan Claudia dengan Fermina".
"Oh....".
"Di satu sisi Fermina sudah lama jatuh cinta dengan Dirk sejak pertama kali mereka bertemu.... Aku yakin, dia sendiri yang memohon pada Tuan Ritzburg agar dia yang menjadi tunangan Dirk daripada Claudia..... Dan hal itu tentu saja di setujui oleh kedua orang tua Dirk..... Karena menurut mereka mau Claudia atau Fermina itu sama saja".
"Hmm...".
"Tapi, tampaknya Dirk tidak menyukai Fermina sama sekali...... Semua itu karena sikap angkuh nya dan dia yang sering cemburuan dengan gadis lain.... Terutama dengan Claudia, Kakaknya sendiri".
Saat Filaret semakin penasaran, di satu sisi Dylan sudah paham sisa dari cerita Ritzia.
"Sebenarnya, Dirk itu menyimpan perasaan dengan Claudia.... Fermina yang mengetahui itu merasa tidak terima dan terus-menerus mengganggunya..... Bahkan sampai tingkat dimana dia tidak ragu menyakiti Claudia".
"Benarkah?..... Bukankah itu sudah keterlaluan? Harusnya, Claudia itu segera melapor ke ayahnya".
Mendengar pernyataan Filaret. Baik Ritzia, Olivia dan Emilia menggelengkan kepala. Sebelum akhirnya cerita dilanjutkan oleh Olivia.
"Claudia pernah melakukannya.... Tapi, ayahnya bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa..... Bahkan, Kakak laki-laki nya Virgil juga tidak bisa berbuat apa-apa".
"Eh? Kok bisa?".
"Ini hanya rumor, sih..... Sepertinya, Fermina berencana menyingkirkan Claudia dari keluarga Ritzburg..... Dan, ingin menjadi Putri satu-satunya yang dimiliki dan disayangi Marquis Ritzburg..... Makanya, begitu dia masuk ke kediaman Ritzburg.... Dia mulai cari perhatian Marquis..... Dan itu terbukti sukses, sekarang keberadaan Claudia hampir tidak dianggap ada oleh Ayahnya..... Dan Kakak laki-lakinya diancam apabila masih peduli dengan Claudia".
"Begitu ya".
Filaret langsung terduduk diam seribu bahasa. Cerita tentang apa yang dialami Claudia tidak jauh beda dengan dirinya. Di dalam hatinya, Filaret tahu rasa sakit dari diabaikan oleh keluarga sendiri.
(Aku tidak menyangka akan ada latar cerita seperti itu mengenai karakter Claudia..... Sekarang mulai masuk akal kenapa kasus pelecehan Claudia tidak ditangani dengan serius di game nya..... Itu karena, Ayahnya tahu bahwa Dirk lah pelakunya.... Jika kasus ini di lanjutkan kemungkinan akan memperburuk hubungan Marquis Ritzburg dan Keluarga Duke Watson....... Paling parahnya, jika pertunangan Fermina dan Dirk batal..... Keluarga Ritzburg akan menerima kerugian yang besar..... Berbeda dengan Kakaknya, yang memperjuangkan nasib adiknya......... Ayahnya tidak melaporkan atau memproses kasus ini...... Lebih memilih "reputasi" dibandingkan "mental" sang anak...... Cih, Dasar Bajingan tengik).
Berdasarkan cerita Ritzia dan Olivia, sekarang Dylan tahu alasan lain kenapa kasus pelecehan Claudia di game tidak ada kejelasannya.
Karena hari sudah mulai larut, mereka segera mengakhiri pesta dan kembali ke asrama masing-masing untuk beristirahat.
(--------------)
Besok paginya.
Alex sedang berjalan di koridor sekolah seorang diri, dari rute mana yang dia ambil sepertinya dia sedang berjalan menuju kelas 1-S.
Tapi, pandangan nya teralihkan dengan sosok pria berambut biru navy yang sedang berdiri didepannya sambil tersenyum lebar.
"Yahoooo..... Alex-kun, selamat pagi!!!!".
Tidaknya menjawab, Alex langsung memberikan tatapan jijik kearah Frey yang menyapanya dengan penuh senyum ceria.
"...... Kau mau apa?..... Menyapaku di pagi hari, itu bukan "tujuan" mu, kan?".
"Hehehe..... Kau tahu banget aku, ya".
Alex semakin jijik saat Frey semakin tersenyum kepadanya
"Cih.... Jadi, apa mau mu?".
"Ah. Soal itu......".
Dengan nada dan ekspresi serius, Frey segera mengatakan apa tujuannya. Mendengar hal itu, Alex menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, meski dia menggaruk kepala belakangnya.
(----------------)
Di kelas 1-S.
Dylan dan teman-teman nya, sudah menunggu. Hari ke dua ini, mereka akan memulai pelajaran dan mengetahui siapa yang akan menjadi wali kelas mereka.
Tak berselang lama, Alex memasuki kelas S dan berdiri di depan meja untuk guru yang terletak di tengah ruangan. Setelah menghembuskan nafas dia kemudian berbicara.
"Hai, hai, hai..... Para siswa kelas S mohon perhatiannya...... Perkenalkan namaku, adalah Alexander von Geogrovic yang akan menjadi wali kelas kalian.... Atau itu yang ingin aku katakan".
Alex berhenti sejenak sambil menggaruk kepalanya dan kemudian melanjutkan ucapannya.
"Atas perintah kepala Akademi, Tuan Leon.... Aku dipindahkan ke kelas lain.... Jadi, orang yang menggantikan ku adalah..... Dia".
Seorang pria masuk kedalam kelas, melihat sosok pria itu semuanya terkejut, karena orang itu yang akan menjadi wali kelas 1-S.
"Yahoo...... Apa kabar semuanya?".
Frey dengan santai memberikan senyuman lebar saat melihat semua siswa. Tak mau membuang waktu Alex segera pergi menuju kelas lain.
Tapi, saat dia melintasi Frey dia tiba-tiba berucap sesuatu yang aneh.
"Hei, Frey..... Jangan ajari mereka, cara menguliti manusia hidup-hidup".
__ADS_1
Seketika semua orang langsung merinding begitu mendengar apa yang dikatakan Alex. Namun, Frey mengabaikan itu dan mulai berbicara kepada semua siswa 1-S.
"Hai, semua... Perkenalkan namaku Frey de Highland, panggil saja aku Frey-sensei..... Seperti yang dikatakan Alex, aku yang akan jadi wali kelas kalian selama kalian berada di Akademi ini...... Dan supaya kita semakin akrab, maka biarkan aku mengabsen kalian satu persatu..... Baiklah kita mulai.... Dylan Van Arcadia....".
"Hadir".
"Awin de Asford".
"Hadir".
"Ritzia Sera Ingrid".
"Hadir".
"Filaret van Arcadia".
"Hadir".
"Sylvia fou Rachael".
"Hadir".
"Ornest Fin Ames".
"Hadir".
"Garcia de Housepour".
"Hadir".
"Arnold Lakes Volgograd".
"Hadir".
"Emilia fou Reinfield".
"Hadir".
"Dan yang terakhir, Olivia von Tringel".
"Hadir".
Frey tersenyum setelah mengetahui tidak ada siswa yang absen. Lalu dia hendak mulai sesi pelajaran nya.
"Pertama-tama, mari kita mulai pelajaran hari ini".
Tapi dia langsung merubah argumennya.
"Yah,.... Sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Tapi,..... Pertama-tama aku ingin menjelaskan bagaimana cara sekolah ini memberikan nilai..... Aku akan memberikan "benda" ini kepada kalian masing-masing".
Frey segera menunjukkan sebuah Kartu identitas siswa yang di dalamnya tertulis 2 bintang. Melihat itu, semuanya menjadi sangat heran.
"Anggaplah ini, sebagai bentuk keistimewaan kalian di Akademi ini..... Mulai besok, setiap seminggu sekali. Kami akan cek berapa jumlah bintang yang kalian miliki...... Cara untuk bisa mendapatkan banyak bintang adalah dengan mendapatkan nilai bagus di hampir semua mata pelajaran..... Dan tentu saja sebaliknya..... Berapa banyak bintang yang kalian miliki akan menentukan peringkat kalian di Akademi ini.... Tapi.... Jika kalian memiliki kurang dari sepuluh bintang atau paling parah itu nol..... Maka, bersiaplah untuk di depak dari Akademi ini..... Tentu saja, ada "hak khusus" bagi mereka yang berhasil mengumpulkan bintang paling banyak....... Baiklah, sekarang akan aku panggil satu persatu".
Frey segera memanggil dan memberikan bintang masing-masing berjumlah 2 di dalam kartu itu.
"Nah, mulai sekarang.... Kalian semua akan bersaing untuk mengumpulkan bintang paling banyak..... Namun yang paling harus kalian ingat adalah..... Kemajuan kalian di Akademi ini, semua itu tergantung pada diri kalian sendiri....... Intinya, kalian semua harus melakukan yang terbaik untuk mendapatkan bintang.... Itu saja dariku".
Setelah mendapatkan bintang itu, Dylan memperhatikan kartu yang dia terima dan mulai memikirkan sistem penilaian ini.
(Cara kerja sistem nilai ini cukup bagus juga..... Dengan sistem ini, para bangsawan yang berlagak sombong akan sangat kebingungan.... Karena mereka tidak mendapatkan perlakuan yang istimewa dalam penilaian).
Dengan penjelasan ini, dimulailah kehidupan sekolah Dylan di Akademi Estonia.
(---------------)
Istirahat siang.
Dylan sedang menikmati bekal roti sandwich yang dibuat oleh Sonia di taman Akademi seorang diri.
Sementara Filaret sedang berada di kantin Akademi karena dia sangat penasaran mencoba menu populer yang ada disana bersama Emilia dan Olivia.
Saat menikmati makan siang, tiba-tiba seorang gadis berpakaian seperti pelayan datang menghampiri nya.
"Anda yang bernama Dylan?".
"Ya, itu aku".
"Nona, saya ingin bertemu dengan anda..... Bisakah, anda ikut dengan saya?".
"Baiklah".
Tanpa basa-basi Dylan segera berdiri dan mengikuti pelayan itu dari belakang.
Kenapa Dylan bisa dengan mudahnya mengiyakan permintaan pelayan itu?
Sebenarnya, Dylan sudah tahu siapa Nona yang dimaksud oleh pelayan ini. Dan dia sendiri memang ingin mengobrol dengan orang itu.
Selama perjalanan, Dylan tak melepas pandangan dari pelayan yang ada di depannya. Bukan karena tertarik, melainkan ada sesuatu perasaan tidak nyaman yang dia rasakan.
Berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju yaitu perpustakaan Akademi.
(Memilih Perpustakaan sebagai tempat bertemu, ya? Aku akui ini pilihan yang bagus, karena kecil kemungkinannya ada orang yang menguping pembicaraan kami).
Memasuki perpustakaan, disana sudah ada seorang gadis berambut putih yang duduk di meja sambil membaca sebuah buku.
Sadar, akan kehadiran Dylan dan pelayan yang membawanya. Gadis itu menoleh dan memberi instruksi agar pelayan itu segera meninggalkan mereka berdua.
Sementara Dylan sendiri langsung duduk di kursi tanpa menunggu aba-aba dari orang itu. Keheningan terjadi diantara mereka, sampai akhirnya gadis itu memulai pembicaraan.
"Maaf karena memaksa anda kesini hanya untuk menemui ku".
Perkataan yang pertama keluar dari mulut gadis itu adalah permintaan maaf kepada Dylan yang sudah seenaknya memaksanya untuk bertemu.
"Santai saja..... Aku sendiri juga ingin... Yah, ngobrol sebentar denganmu".
Diluar dugaan dari gadis itu, Dylan tidak mempermasalahkan tindakan yang dilakukan gadis itu kepadanya.
__ADS_1
"Jadi,..... Bisa kita langsung ke inti pembicaraan nya, Putri Mahkota Kerajaan Rachael.... Sylvia fou Rachael".
Mendengar namanya disebut, Sylvia tersenyum sebagai bentuk rasa senang karena dia tidak perlu repot-repot mengenalkan dirinya sendiri dan Dylan tahu apa tujuan dari pertemuan mereka.