
"Aniki..... Aniki...... ANIKI!!!!!".
Merasa namanya terus menerus dipanggil, Dylan atau Ritsuka perlahan-lahan membuka matanya. Setelah berkedip beberapa kali, dia melihat sosok Awin yang sedang berpangku tangan menatapnya.
"Ada apa sih?..... Pagi-pagi udah ribut aja, berisik tahu".
"Berisik jidatmu itu..... Ini sudah pagi, mau sampai kapan kau tidur terus.... Cepat, nanti sarapannya keburu dingin".
"Hoah...... Iya, iya...... Ya ampun..... Ngak di dunia ini, ngak di dunia sebelumnya...... Kau masih adikku yang menyebalkan".
"Dan kau tetap saja menjadi Kakakku yang malas".
Dylan dan Awin segera duduk di meja makan dan mulai memakan sarapan pagi mereka yang hanya berupa, Sandwich ikan dan teh hangat.
Sudah 1 bulan lamanya, Dylan dan Awin terjebak di dalam Dungeon. Saat ini keduanya sedang memulihkan diri di tempat yang sepertinya adalah lantai terakhir dalam Dungeon.
Tempat ini hampir mirip seperti kabin tua dan memiliki pemandangan seperti air terjun di Venezuela yang terkenal indahnya.
Bagaimana mereka bisa sampai di tempat ini?
Setelah Dylan mengalahkan Nidhogg, tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir yang langsung metelport mereka ke lantai ini.
Begitu tersadar keduanya segera mencoba mencari tahu apa tempat ini. Dan setelah memastikan ini lantai terakhir dan tidak ada tanda-tanda keberadaan monster keduanya menjadi sangat lega. Dan memutuskan untuk beristirahat di sana.
Selama beristirahat di sana, Dylan dan Awin juga mencoba mencari sebuah sihir atau gerbang yang mungkin bisa membawa mereka kembali ke permukaan.
Hasilnya mereka berhasil menemukan sebuah buku Sihir Kuno yang di dalamnya menjelaskan soal sihir telport, bukan cuma itu saja. Dylan dan Awin juga menemukan beberapa buku sihir elemen dan sihir non atribut.
Tapi, karena di tulis dengan bahasa kuno. Mau tidak mau, Dylan dan Awin harus menerjemahkannya satu persatu sambil memulihkan luka yang mereka terima.
Hasilnya, mereka berhasil belajar dan bahkan bisa mempraktekkan sihir telport itu. Berkat itu juga Dylan berhasil mempelajari beberapa sihir non atribut terbaru. Sama halnya dengan Awin yang juga mempelajari sihir berelemen baru.
"Aniki..... Bagaimana dengan lengan kananmu?".
"Oh, tenang saja".
Kemudian Dylan melihat lengan kanannya yang seluruhnya di tutupi oleh sejenis kain perban sampai pundaknya.
"Meski kurang sedikit nyaman..... Tapi, aku sudah terbiasa..... Bahkan aku sudah bisa menulis lancar dengan lengan Fafnir ini".
"Syukur deh..... Tapi, kenapa kau membalutnya dengan perban segitu banyaknya?".
"Ini bukan perban..... Ini segel".
"Hou..... Maksudnya kau sengaja menyegel lengan Fafnir mu dan menyamarkannya dengan perban seperti tampak kau habis terkena luka bakar".
"Tepat sekali...... Tapi, jangan beritahu Fira, soal ini ya...... Jika di tanya, katakan saja lenganku terbakar".
"Beres.... Rahasia mu aman sama aku".
Awin mengerti, tujuan Dylan menyegel lengan Fafnir nya dengan tujuan untuk tidak membuat semua orang tahu bahwa Dylan adalah Half-Dragon dan membuat Filaret panik.
Awalnya, saat Awin penasaran bagaimana lengan kanan Dylan bisa tumbuh kembali dengan wujud lengan naga.
Karena tidak tahu harus menjawab apa Dylan memutuskan untuk menceritakan soal pertarungannya dengan Fafnir dan Unique Skill miliknya dan dirinya yang menjadi Half-Dragon.
Mendengar hal itu, Awin hanya bisa memegang kepalanya seolah-olah sedang menahan rasa sakit kepala yang luar biasa.
"Oh ya, bagaimana dengan pakaian kita?".
"Sudah selesai kita...... Dan sesuai rencana.... Hari ini kita akan pergi meninggalkan Dungeon ini".
"Kalau gitu, ayo habiskan sarapan kita dan pergi dari sini".
Keduanya kembali memakan sarapan mereka dengan sedikit lebih cepat. Karena keduanya sudah tidak sabar untuk segera meninggalkan Dungeon dan kembali ke Akademi Estonia.
Setelah selesai sarapan, mandi dan ganti baju. Dylan dan Awin mulai melakukan persiapan sihir gabungan untuk menciptakan sihir telport.
Sedikit memakan waktu, akhirnya lingkaran sihir telport itu sudah selesai dan keduanya segera masuk dan berdiri di tengah nya.
"Sudah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada tempat ini".
"Iya..... Meski sangat menyakitkan..... Aku merasa bahwa karena tempat inilah..... Aku merasa bisa bertambah kuat".
Begitulah kesan Awin saat dia mengingat lagi semua momen yang dia lalui di dalam Dungeon ini, bahkan saat menyakitkan melawan Nidhogg. Berkat pengalaman itu, dia merasa semakin bertambah kuat.
"Aku paham apa yang kau rasakan, Kenji..... Tapi, ingat..... Jangan asal menggunakan kekuatan baru kita...... Mungkin diluar sana..... Kekuatan baru milik kita akan dianggap sebagai hal tabu".
"Iya, aku tahu".
"Ah, satu hal lagi".
"Hm?".
"Saat di Akademi atau di keramaian, aku akan memanggilmu Awin dan kau memanggilku Dylan.... Tapi, saat kita sendiri aku akan panggil kau Kenji dan kau boleh memanggilku Aniki".
"Tak perlu kau jelaskan..... Aku juga sudah tahu itu".
"Syukurlah deh.... Kalau begitu".
Bersamaan dengan itu, tubuh keduanya segera menghilang di telan oleh cahaya putih yang terang yang membawa mereka kembali ke permukaan.
(------------------)
Sesaat kemudian mereka akhirnya tiba di permukaan. Sempat menyeka kilau cahaya sihir telport.
Perlahan-lahan kilauan itu mulai menghilang dan di gantikan pemandangan hutan rimbun yang cerah dari atas tebing.
__ADS_1
Melihat hal itu, butuh beberapa detik bagi Dylan dan Awin untuk mencerna apa yang terjadi. Sampai akhirnya mere berdua sadar kalau mereka sudah benar-benar keluar dari dalam Dungeon.
"Aniki".
"Iya... Kita berhasil".
Tak berselang lama keduanya mulai membuat pose aneh seperti hendak ingin menari.
Begitu gerakan dimulai, tiba-tiba entah dari mana asalnya mulai terdengar lagu berjudul I Got You (I Feel Good) yang dinyanyikan oleh James Brown.
Mereka berdua menarik bahagia dengan wajah tersenyum sambil diiringi oleh lagu itu. Bahkan sampai ikut melakukan gerakan patah-patah sesuai dengan lagu yang dinyanyikan.
"Lho?..... Dylan-san, Awin-san..... Kenapa kalian ada disini?".
Tiba-tiba gerakan tarian mereka berhenti setelah mendengar suara seseorang yang mengetahui nama mereka. Karena merasa malu, keduanya yang gemetar sambil menahan rasa malu segera menoleh ke sumber suara.
Dan saat mereka menoleh ke belakang, rupanya orang yang memanggil keduanya tidak lain dan tidak bukan adalah Ariel yang membawa keranjang penuh dengan tanaman herbal dan jamur hutan.
"He-hei.... A-riel..... Lama ngak berjumpa ya".
"Hm?".
Meski badannya bergetar karena rasa malu yang luar biasa, Dylan menjadi satu-satunya yang menyapa Ariel yang tampaknya bingung dengan kehadiran Dylan dan Awin yang muncul tiba-tiba.
(-----------------)
"Begitu ya..... Jadi, kalian sedang melakukan ekspedisi di hutan Elbrand sebagai latihan kedisiplinan militer, ya".
"Iya, begitulah".
Dylan dan Awin terpaksa berbohong pada Ariel soal mereka yang sedang melakukan ekspedisi untuk menyelidiki aktivitas para monster yang ada di hutan Elbrand.
"Iya sih..... Memang akhir-akhir ini banyak monster yang berkeliaran dan mulai menyerang orang-orang yang melintasi hutan Elbrand...... Tapi, setahuku...... Bukankah penyelidikan seperti ini biasanya pihak kstaria yang akan ditugaskan..... Kenapa menyuruh kalian yang seorang siswa Akademi".
Mendengar kesimpulan acak Ariel membuat Dylan mulai panik dan meneteskan sedikit keringat dingin, dia tidak tahu harus membuat alasan apa lagi.
"Berkaca pada kasus yang menimpa desa Hage.... Kepala Akademi Estonia, Tuan Leon Sera Belmont terus di hantui oleh rasa bersalah...... Karena itu, dari pada mengandalkan para ksatria.... Lebih baik dia mengirim kami kesini untuk melakukan penyelidikan sendiri..... Ini sebagai bentuk penyesalan dan rasa bersalah beliau pada apa yang sudah terjadi pada Desa Hage..... Atas kelalaiannya".
"Oh begitu ya.... Kami benar-benar berterimakasih".
"Akan aku sampaikan rasa terimakasih kalian kepada beliau".
Awin mengganti Dylan yang tidak bisa menjawab pertanyaan Ariel dengan wajah santai tanpa sedikitpun kepanikan. Dan Ariel yang mendengar itu tampak sangat lega. Di satu sisi, Dylan menatap diam ke arah Awin.
*Hei, Kenji.... Bagiamana kau bisa berbohong dengan wajah tenang begitu?*.
*Itu karena aku belajar dari seorang Abang laknat...... Yang bilang untuk "menggabungkan kebohongan dengan kejujuran" agar tidak menimbulkan kecurigaan*.
Dylan segera bergetar setelah mendengar apa yang baru saja di dengarnya dari Awin bahwa. Dia belajar bagaiman cara berbohong seperti itu tidak lain dan tidak bukan karena dirinya sendiri.
"Eh?..... Oh, iya".
"Kalau begitu kebetulan..... Paman Jeffry akan pergi ke ibukota untuk mengantar pesanan dengan kereta kuda..... Bagaimana kalau kalian ikut menumpang di sana?".
"Eh? Serius nih.... Ngak papa?".
"Santai saja, aku yakin paman Jeffry pasti mengizinkan".
Sempat melirik satu sama lain, akhirnya keduanya sepakat untuk menerima tawaran itu.
Setelahnya Dylan dan Awin kembali ke Ibukota Algrand dengan menumpang kereta kuda ke milik Jeffry.
Begitu sampai di Ibukota mereka berdua segera menyampaikan ucapan terima kasih dan berpisah dengan Jeffry untuk kembali ke Akademi.
Seketika mereka berdua memasuki gerbang Akademi Estonia, semua siswa di buat terkejut melihat keduanya yang kembali dan berjalan santai melintasi mereka semua.
"Woi.... Bukankah mereka...".
"Ini tidak mungkin....".
"Ini sudah satu bulan lamanya".
"Bukankah mereka seharusnya sudah mati".
"Bagaimana mereka masih hidup".
Melihat Dylan dan Awin yang berjalan melintas di hadapan mereka membuat semua siswa dan siswi itu terkejut bukan main. Ibarat mereka melihat seseorang yang baru saja kembali dari kematiannya.
"Wah, wah..... Lihat siapa 2 orang yang baru saja lolos dari kematian".
""Frey-sensei"".
Orang yang menghadang keduanya adalah wali kelas mereka yaitu Frey yang sedang mendekap tangannya sambil mengirimkan senyuman puas kearah keduanya.
"Sudah satu bulan, ya.... Dylan, Awin..... Aku senang kalian berdua baik-baik saja........ Dan seperti yang diharapkan..... Kalian berdua memang sulit untuk bunuh dan mati, ya".
""Terimakasih pujiannya Sensei"".
Keduanya segera menunjukkan rasa senang setelah mendapat pujian dari Frey.
"Aku tahu kalian sangat lelah dan ingin segera memberi tahu kabar kalian kepada yang lain terutama Filaret dan Emilia...... Tapi, ada hal lain yang ingin aku dengar dari kalian".
"Santai saja, Frey-sensei".
"Kami memang berniat bercerita "apa yang sebenarnya terjadi" kepada Sensei dan yang lain".
"Hou..... Kalau gitu, tolong ikuti aku..... Kita bicarakan ini di ruang Kepala Akademi".
__ADS_1
Sesuai permintaan Frey, Dylan dan Awin segera melangkah pergi mengikutinya ke ruang Kepala Akademi untuk menceritakan apa yang mereka alami selama di dalam Dungeon.
(-------------------)
Sesampainya di ruang Kepala Akademi.
Dylan dan Awin mulai menceritakan semua yang mereka alami setelah terjatuh di jurang Dungeon tanpa ada yang dilebihkan maupun di kurangi. Kecuali, fakta bahwa mereka adalah reinkarnator dan lengan Dylan yang berubah menjadi lengan Fafnir.
Sementara itu, Frey, Alex, Sarah dan Leon mendengar kan cerita keduanya dengan seksama dan penuh dengan ke fokusan.
"Hm...... Aku mengerti..... Karena kalian tidak tahu jalan naik ke permukaan..... Makanya kalian memutuskan untuk turun kebawah dengan harapan menemukan sebuah jalan lainnya..... Tapi, kalian harus melawan berbagai monster yang berbeda-beda di setiap lantainya...... Hingga kalian kembali melawan Nidhogg dan mengalahkannya".
"Iya itu benar, Tuan Leon".
"Baiklah....... Kalau begitu kalian sudah boleh pergi dan istirahatlah...... Gunakan 2 hari ke depan untuk benar-benar memulihkan kondisi kalian..... Setelah itu, kalian bisa ikuti pelajaran seperti biasanya".
"Kalau begitu, kami undur diri".
Keduanya segera berdiri dan memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan. Setelah sosok Dylan dan Awin keluar dari ruangan.
Leon segera tertunduk dan memegang wajahnya, tampak keringat dingin keluar dari wajahnya.
"Nidhogg...... Yang benar saja....... Aku sangat yakin...... Pavline dan Lexia sudah menyegelnya waktu itu....... Tapi, kenapa segelnya terbuka".
Melihat Leon yang tampak kebingungan, membuat Frey berpikir keras sampai akhirnya dia mengambil sebuah kesimpulan.
"Kalau tebakanku benar..... Pasti ada seseorang yang membuka bisa membuka segelnya".
"Itu mustahil, Frey".
Kesimpulan Frey segera di sangkal oleh Alex yang mendengar hal itu.
"Kau dan aku ada di sana saat itu..... Kita berdua tahu betapa gilanya sihir segel gabungan Pavline-san dan Lexia-san..... Untuk melepasnya saja butuh waktu sekitar 1000 tahun lamanya".
"Aku tidak akan pernah melupakan momen itu, Alex..... Hanya saja, firasat ku bilang ada "seseorang" diluar sana yang lebih hebat dalam hal sihir melebihi Pavline-san dan Lexia-san..... Dan......".
"Dan?".
"...... Dan aku merasa...... Kalau "seseorang" ini sengaja menargetkan keduanya...... Atau mungkin tepatnya...... "Seseorang" yang aku maksud ini..... Menargetkan Dylan".
Keheningan terjadi diantara mereka berempat dan suhu ruangan yang harusnya hangat karena sinar matahari yang masuk berubah menjadi sangat dingin.
(Seseorang yang lebih hebat dalam hal sihir melebihi Pavline dan Lexia yang sudah dianggap jenius sihir..... Siapa dia?...... Apa dia dari Kerajaan lain?...... Tapi, apa tujuannya sampai harus mengincar Dylan?).
Meski tidak tampak di dalam hatinya, Leon benar-benar pemasaran dengan sosok orang yang di maksud oleh Frey.
Di saat Frey, Alex, Sarah dan Leon berpikir keras.
"DYLAN!!! AWIN!!!!!".
Dylan dan Awin yang baru saja keluar dari ruang kepala Akademi segera di kejutkan oleh teriakan dari semua rekan di Kelas 1-S yang berlari kearah mereka keduanya.
Melihat sosok Kakaknya yang kembali dengan selamat Filaret berlari secepatnya dan langsung melompat dan memeluk Dylan begitupun dengan Emilia yang ikut melakukan hal yang sama kepada Awin.
Karena tidak bisa menahan dorongan itu, keduanya terjatuh dan duduk di lantai.
"UWAAAAAA........ !!! SYUKURLAH, SYUKURLAH!!!!!! NISA-SAN MASIH HIDUP!!!! UWAAAAA........ !!!!!.
"UWAAAAAA........ !!!!!! AKU SENANG KAMU MASIH HIDUP AWIN!!!!!! KUMOHON JANGAN TINGGALKAN AKU LAGI!!!!!! KARENA AKU NGAK TAHU HARUS APA JIKA TIDAK ADA KAU!!!!!!! UWAAAAAA.......... !!!!!".
Filaret dan Emilia segera menangis sejadi-jadinya sebagai tanda mereka sangat bersyukur dan bahagia bahwa kedua orang yang berarti di hidup mereka. Yang banyak orang bilang sudah mati, ternyata masih hidup.
"Tuh dengerin".
Kemudian pandangan Dylan dan Awin melihat Sylvia yang berdiri dan matanya mulai berlinang air mata.
"Makanya kalau buat keputusan itu........ Jangan bikin orang khawatir".
Sambil mempertahankan sikap marahnya Sylvia segera mengomeli Dylan dan Awin akan rencana konyol mereka menahan Nidhogg hanya berdua.
"Maaf, ya...... Kami sudah membuat kalian khawatir".
"Aku dan Dylan janji.... Tidak akan mengulangi nya".
'Helleh..... Palingan juga di ulangi lagi".
Kemudian Dylan dan Awin segera menunduk kepalanya sebagai bentuk penyesalan dan permintaan maaf mereka atas kecerobohan yang mereka lakukan.
Namun, permintaan maaf keduanya malah diabaikan oleh Ritzia dan membuat semua yang mendengar itu tertawa.
Tapi, suasana bahagia itu tak berlangsung lama. Karena.
"Aku kira kabar kalian masih hidup itu cuma omong kosong...... Ternyata itu memang benar, ya".
Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara yang cukup familiar untuk mereka. Dylan dan Awin segera menoleh ke sumber suara hanya untuk membuat ekspresi malas saat melihat sosok yang berbicara itu.
Begitu dengan Ornest, Arnold, Olivia, Sylvia, Ritzia yang memasang ekspresi jengkel. Tidak lupa dengan Filaret dan Emila yang langsung tidak menahan ekspresi dan aura bencinya kepada orang yang berbicara itu.
"Ah, aku kira siapa........ Rupanya kau toh, Vanessa".
"Luar biasa...... Seperti yang diharapkan dari "Putri Berbudi Luhur" dan kelompok nya..... Masih "punya nyali" untuk menemui kami, ya".
Benar.
Orang yang baru saja menyapa Dylan dan Awin adalah Putri kedua Vanessa Sera Ingrid, bersama dengan Flora, Stella, Finne, Zuzan dan beberapa pengikutnya yang masing-masing dari mereka tersenyum lembut kearah Dylan dan rekan-rekannya.
Dan ketegangan pun meningkat diantara kedua kelompok ini yang sama-sama memancarkan aura kebencian.
__ADS_1