Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 47 : Ritzia vs Mereleona part 1.


__ADS_3

"Lumayan...... Ini pasti menarik".


Mereleona kembali berdiri sambil meludahkan darah dari mulutnya setelah menerima serangan Dropkick dari Ritzia.


Tapi, dia seketika terkejut ketika Ritzia yang tiba-tiba sudah muncul di depannya dan hendak melayangkan tinjunya dengan tangan kirinya.


Namun, tinju Ritzia segera di block oleh Mereleona.


"Apa kau pikir, akan aku biarkan".


Tanpa Mereleona dari sebuah tinjuan dari arah lain yang mendarat di wajahnya dengan sangat keras. Rupanya, Ritzia melayangkan sebuah tinjuan Russian Hock dengan tangan kanannya.


Sangking kerasnya tinjuan itu, sampai membuat Mereleona yang lebih tinggi dari Ritzia tertunduk.


"Sudah selesai".


Tak mau membuang kesempatan emas yang ada di depannya, Ritzia mengarahkan sebuah tendangan kaki kiri ke arah wajah Mereleona yang tertunduk.


Sayangnya, tendangan Ritzia berhasil di-block lagi. Dan tanpa ragu sedikitpun dia menarik kaki Ritzia dan melemparkannya.


Akibatnya, badan Ritzia terpental karena ayunan yang kuat itu. Saat Ritzia kebingungan, Mereleona tiba-tiba muncul di depannya sambil tersenyum lebar.


"Giliran ku".


BUNG.


"Ugh".


Dengan sekuat tenaga, Mereleona mendaratkan sebuah tinjuan yang keras di perut Ritzia. Dan yang sangking kuatnya, tubuh Ritzia melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam dinding dan menghancurkannya.


Ritzia yang menerima serangan itu tentu saja merasakan rasa sakit yang luar biasa. Bahkan sampai memuntahkan darah dari mulutnya.


(Apa-apaan itu barusan..... Aku yakin dia cuma melayangkan tinju biasa..... Tapi, kenapa rasanya luar biasa sakit..... Seolah-olah, aku baru saja kena hantaman bola meriam).


"Woi, woi.... Jangan tumbang dulu gadis kecil..... Karena keseruannya........ Baru dimulai".


Ritzia yang sedang merenung dikejutkan oleh Mereleona yang muncul di hadapannya lalu melayangkan sebuah tinjuan yang sangat cepat.


Untungnya, Ritzia berhasil menghindar kesamping, tapi yang membuat dia terbelalak adalah hanya dengan satu tinjuan Mereleona bisa menghancurkan dinding beton dengan sangat mudah.


"Lumayan...... Tapi, coba hindari yang ini".


Tanpa menunggu jeda lebih lama Mereleona kembali melayangkan tinjunya berkali-kali kearah Ritzia. Dan dia berusaha untuk menghindari setiap serangan tinjuan beruntun yang terus berdatangan.


"Kahahahahaha.....".


Sambil terus tertawa bak orang gila Mereleona terus melayangkan tinjunya yang membabi buta. Dan setiap kali tinju Mereleona berhasil mendarat ke dinding beton, pasti akan menghancurkan dan meninggalkan bekas tinjuan di sana.


Setelah itu, Ritzia yang sudah berkali-kali berhasil menghindari serangan Mereleona, tiba-tiba berhenti bergerak dengan wajah menunduk kebawah.


"Sudah lelah, ya.... Gadis kecil? Sekarang..... TERIMALAH INI!!!".


Mereleona segera melesatkan sebuah tinjuan yang kecepatan bahkan lebih cepat dari suara dan hendak menghantam wajah Ritzia.


Sebelum tinju itu mengenai wajahnya Ritzia mencoba menahannya dengan menggunakan tangan kirinya, terjadi suara keras antara tabrakan telapak tangannya dan tinju Mereleona.


"Martial Arts Technique : Swordless Seize Technique".


Secara ajaib badan Mereleona tiba-tiba berputar-putar dan baru berhenti setelah wajahnya menghantam lantai.


"Fiuh..... Yang tadi hampir saja.....".


Apa yang barusan di lakukan Ritzia?.


Ritzia baru saja menggunakan teknik Swordless Seize miliknya. Ritzia mencoba untuk mengelabui Mereleona dengan berpura-pura pasrah menerima serangan.


Dan saat serangan Mereleona hampir mengenainya, Ritzia menangkis serangan Mereleona dengan membalikkan kuda-kudanya. Itu adalah sebuah teknik yang secara efektif dapat menandingi kekuatan fisik lawannya.


Saat Ritzia bernafas lega, tiba-tiba Mereleona bangkit dan hendak menangkap nya. Ritzia yang menyadari hal itu segera melompat ke belakang Mereleona.


Dan dengan memanfaatkan momentum saat masih di udara. Ritzia memberikan tendangan Dropkick yang kali ini di punggung nya dan memanfaatkan itu sebagai pijakan.


Mereleona yang terkena serangan itu, sempat menghantam tembok, namun karena serangan Ritzia tidak terlalu kuat, makanya itu tidak memberikan damage apapun.


Mereleona segera menengok kebelakang kearah Ritzia yang baru saja selesai mendarat sambil tersenyum lebar.


"Serangan barusan itu benar-benar mengejutkan ku, gadis kecil..... Kenapa kau tidak serius melawanku sejak awal?".


Mereleona memuji serangan mengejutkan yang di lakukan Ritzia sebelumnya sambil membalikkan badan kearahnya.


"Maaf saja, Mereleona-san..... Tapi, aku lagi ngak ada waktu untuk meladeni mu".


"Hahahaha...... Jangan gitu, dong...... Ayo kita bersenang-senang bersama..... Dan ngomong-ngomong siapa kau gadis kecil?.... Rasanya ngak enak saja memanggilmu begitu".


Sempat terdiam sebentar, Ritzia yang memperbaiki posisi berdirinya dan kemudian berbicara.


"Namaku, Ritzia Sera Ingrid..... Panggil saja aku Ritzia".


"Huh? Ritzia?..... Emmmmm...... Tunggu sebentar..... Kok namamu itu kayak pernah aku dengar, ya..... Tapi, kapan?".


Mereleona mulai berpikir keras saat tahu nama lengkap Ritzia. Dan tak berselang lama, dia membelalakkan matanya sebagai tanda bahwa dia sudah mengingat sesuatu.


"Heeeee..... Tunggu dulu.... Maksudmu.... Kau itu adalah.... Putri pertama Kerajaan Ingrid..... Ritzia Sera Ingrid..... Yang itu".

__ADS_1


"Iya, itu memang aku".


Tanpa berusaha menyangkal, Ritzia membenarkan apa yang dikatakan oleh Mereleona.


"Tapi, kenapa seorang putri ada di sini?..... Juga, kalau boleh jujur..... Putri Kerajaan mana yang bertarung dengan teknik tangan kosong?".


"Maaf jika ekspektasi mu terhadapku tidak sesuai kenyataan..... Tapi, memang beginilah aku..... Sejak dulu, aku bukanlah putri yang elegan".


"Tidak-tidak.... Justru sebaliknya..... Aku malah terkesan dengan seorang Putri sepertimu...... Baiklah, aku akan panggil kau Ritzia dan kau panggil aku Leona bagaimana?".


"Suka-suka kau saja".


"Kalau begitu.....".


Mereleona bersiap untuk mengambil ancang-ancang yang sangat kuat sampai tekanan dari kakinya saja sampai menghancurkan lantai yang dia pijak.


Dengan kecepatan tinggi Mereleona melesat kearah Ritzia dan melancarkan banyak tinjuan dan tendangan yang sangat cepat, kuat dan keras bertubi-tubi.


Walau Ritzia berhasil menghindar dari semua serangan gila itu, tapi setiap tinjuan dan tendangan yang dilancarkan Mereleona selalu saja menghancurkan baik itu dinding maupun lantai beton.


(Dia semakin cepat..... Tapi, tidak hanya itu.... Dia melihat gerakan ku dan beraksi dengan cepat).


"Hahahaha....... Kau benar-benar bergerak licin seperti belut, Ritzia-chan...... KALAU BEGITU AYO KITA UBAH SERANGANNYA!!!!".


Sosok Mereleona tiba-tiba hilang dari pandangan Ritzia. Merasa ada yang tidak beres Ritzia segera menengok kearah atas dan menemukan Mereleona yang menempel di atas.


Mendapat perhatian Ritzia, Mereleona segera melesat turun sambil mendaratkan tendangan kaki kanannya yang menghancurkan lantai dan menerbangkan debu.


Walau berhasil menghindar, gelombang dari tendangan itu membuat Ritzia terhempas beberapa meter kebelakang.


"Bagaimana dia bisa melakukan gerakan tadi dengan badannya yang besar?..... Sial, debu-debu ini menghalangi pandangan ku..... Sekarang, aku tidak tahu dia akan menyerang dari mana?".


Tanpa Ritzia sadari, Mereleona sudah ada di depannya. Saat Ritzia sadar, itu sudah terlambat.


"Ugh".


Karena bertepatan itu, Mereleona langsung memberikan sebuah sundulan kepala tepat di ulu hati Ritzia dengan kecepatan tinggi. Dan sangking kerasnya, mereka sampai menghancurkan tembok dan memasuki ruangan lain.


Ritzia kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa dari sundulan kepala Mereleona sampai membuatnya kembali memuntahkan darah.


"Sudah lelah, ya.... Ritzia-chan?".


Tak mau membiarkan Ritzia istirahat atau lolos Mereleona mengarahkan sebuah tendangan Vertikal yang kekuatannya di fokuskan pada ketajaman ujung pangkal belakang kakinya.


Ritzia berhasil melompat mundur, tapi karena tendangan itu sangatlah kuat sampai menciptakan gelombang kejut. Ritzia yang sebenarnya tidak berdiri dengan tepat, akhirnya terpental.


Melihat Ritzia yang masih berdiri dengan gagahnya meski sudah dia bombardir serangan. Mereleona tidak bisa menghilangkan senyuman dari wajahnya.


"Luar biasa...... Tak aku sangka di dunia ini, akan ada seorang putri Raja yang sekuat ini..... Biasanya, seorang putri Raja yang aku tahu..... Adalah orang yang akan terus berada di dalam istana, duduk dibalik meja, melakukan beberapa pekerjaan ngak penting, dan selalu mengadakan dan menghadiri teh party".


"Tidak........ Justru aku sedang memujimu..... Kalau boleh jujur, aku benci banget dengan tipe putri seperti itu....... Ah, kok kita ngomong nya jadi ngak jelas..... Yosh, aku kita lanjutkan".


"Iya, kau benar..... Meski aku seorang gadis..... Aku tidak suka basa-basi".


Kemudian baik Ritzia dan Mereleona kembali memasang kuda-kuda bertarung mereka dan bersiap untuk melanjutkan urusan mereka.


"Aku sudah cukup melihat kekuatanmu...... Sekarang...... Akan aku tunjukkan padamu, Leona-san..... Kempuan ku yang sebenarnya".


"Tunjukkan padaku, Ritzia-chan".


(Bagaimana caranya, dia bertahan dari semua serangan beruntun ku?..... Padahal tendangan tadi, aku niatkan untuk menjatuhkan..... Harus aku akui, kalau ketahanan fisiknya memang luar biasa).


Meski terlihat tersenyum, didalam pikirannya Mereleona sebenarnya bertanya-tanya, bagaimana Ritzia masih bisa bertahan dari semua serangannya.


Tapi, dia memutuskan untuk mengabaikan hal itu dan fokus kepada Ritzia yang ada di depannya sekarang.


"Nah, Ritzia-chan....... Tunjukkan kepadaku lebih banyak lagi.... Sekarang..... AYO KITA MULAI!!!!".


Dengan memanfaatkan momentum yang dia dapat Mereleona melesat kearah Ritzia dengan kecepatan tinggi. Saat jarak mereka berdekatan, Mereleona segera melancarkan tinjuan tangan kanannya.


Tapi anehnya, Ritzia hanya menghindari tinjuan Mereleona dengan menggerakkan tubuhnya sedikit kesamping kiri.


(Kau sangat kuat, Leona-san.... Kau bahkan tidak bisa di sebut manusia..... Dan izinkan aku..... Untuk memanfaatkan kecepatan mu itu).


Dalam gerakan lambat, Ritzia mengarahkan sebuah tinjuan telapak tangan ke arah ulu hati Mereleona. Jika diperhatikan, apa yang dilakukan Ritzia hanya menyentuh badan Mereleona saja.


Tapi, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.


Bersamaan dengan Ritzia yang menghembuskan nafas dari mulut. Entah bagaimana, tubuh Mereleona merasakan sebuah getaran yang sangat kuat, dan tiba-tiba dari mulutnya mulai memuntahkan darah.


"Bwuh!!!".


Dan dalam sekejap mata, tubuh besar nya melesat dengan kecepatan tinggi dan sampai menghancurkan dinding beton.


"Nah, bagaimana Leona-san?..... Teknik ku ini juga menyenangkan, bukan?".


Melihat Mereleona tertunduk karena serangannya, sambil tersenyum Ritzia bertanya kepada Mereleona bagiamana rasanya terkena tekniknya.


(-----------------------)


Gate Of Celestial.


Sebuah teknik tangan kosong yang melepaskan seluruh bebannya sendiri dan lawan lalu memfokuskan nya ke dalam tinjuan telapak tangan yang sederhana.

__ADS_1


Meski hanya singkat, dengan teknik ini Ritzia memiliki kecepatan reaksi dan kelincahan yang melampaui batas normal.


Setelah kejadian tak terduga itu, Mereleona mulai bangkit dari posisi yang sempat tertunduk. Namun, baru beberapa langkah dia kembali muntah darah.


Sambil melihat darah yang ada di telapak tangannya, Mereleona mulai bergumam.


(Sial..... Serangan apa itu, barusan?..... Aku yakin, gadis ini cuma menyentuhku saja..... Tapi, apa-apaan rasa sakit yang kurasakan ini?...... Seolah-olah dia baru saja menghancurkan organ dalam ku).


Sementara itu, Ritzia terkejut dan keheranan melihat bagaimana Mereleona berhasil bangkit walau sudah terkena serangan telak darinya.


(Yang benar saja, padahal dia sudah ku banting dengan sangat keras... Tapi, kenapa dia masih bisa berdiri?).


"Aku paham....... Teknik yang barusan kau gunakan..... Adalah teknik untuk mengalihkan kekuatan serangan ku kepada diriku...... Dengan cara memanipulasi aliran kekuatan".


Mereleona kemudian berdiri dan memperbaiki posisi bertarungnya. Dan menatap lurus kearah Ritzia.


"Karena kau sudah benar-benar serius..... Maka aku akan tunjukkan padamu betapa seriusnya aku".


Tiba-tiba, Mereleona memukul dada nya sendiri. Tak berselang lama, ada sesuatu yang terjadi kepada tubuhnya.


"WOOOOOOAAAAAA......!!!"""".


Tak berselang lama, sebuah ledakan energi sihir terjadi diikuti oleh teriakan Mereleona yang menggema.


Kemudian, secara perlahan-lahan tubuh Mereleona mulai berubah. Kulitnya yang agak kecoklatan berubah menjadi biru abu-abu. Bukan cuma itu saja, punggung menunjukkan otot-otot yang keras. Telapak kakinya berubah menjadi lebar. Matanya yang hitam berubah menjadi kuning. Telinga mulai menyusut dan muncul semacam cula panjang di tengah wajah nya.


Ritzia tidak mengerti apa yang terjadi, yang dia lakukan adalah menghalau debu-debu yang berterbangan dengan kedua tangannya.


Dan saat ledakan itu berhenti, perlahan-lahan Ritzia mulai menurunkan kedua tangannya, dan dibalik debu itu ada sosok aneh yang besar.


Ketika debu-debu itu menghilang dan menunjukkan sosok itu, Ritzia terkejut setengah mati. Karena sosok Mereleona yang berubah drastis menjadi makhluk gabungan antara manusia dan badak.


"Ini adalah kekuatan baru...... Hasil dari evolusi gabungan antara manusia dan binatang sihir yang luar biasa...... Dan aku beri nama mode ini adalah...... Chimera's Mode : Springgan".


Dengan suara yang sumbang, Mereleona memperkenalkan kekuatan barunya dihadapan Ritzia yang hanya bisa terdiam sambil meneteskan keringat dingin.


[Itu adalah projek atau lebih tepatnya di sebut eksperimen. Dengan menggabungkan DNA Manusia dengan Binatang sihir........]


Dia kembali ingat dengan perkataan Frey yang menjelaskan soal apa itu "Chimera's Project" yang sedang di teliti dan dikembangkan oleh para ilmuwan Kerajaan Strost.


Ritzia juga tidak menyangka bahwa Mereleona adalah salah satu dari beberapa orang yang sukses dalam eksperimen.


"Karena aku sudah dalam mode ini..... Bersiaplah, Ritzia Sera Ingrid...... Karena aku akan..... Menghancurkan mu".


(Sialnya aku).


Ritzia bergumam dalam hatinya yang menganggap dirinya sial, karena harus bertarung dengan Mereleona dalam bentuk Chimera nya.


(------------------)


Kembali ke sisi Dylan dan Awin.


"Iya..... Aku tahu".


Mendengar jawaban Kakaknya, Awin atau Kenji hanya terdiam dan memangku tangannya, lalu dengan tatapan serius dia kembali bertanya.


"Lalu apa itu?".


Terdiam sejenak, Dylan menatap Awin dan mulai berbicara soal yang dia tahu.


"Alasan kenapa Claudia di culik adalah karena gadis itu punya Unique Skill yang sangat langka".


"Dan apa itu?".


"Nama Unique Skill miliknya adalah Amplification".


"Huh? Apa-apaan itu.... Aku sama sekali ngak ngerti?".


Awin semakin kebingungan setelah mendengar alasan kenapa Claudia diculik adalah karena Unique Skill nya. Karena tidak punya pilihan lain Dylan menjelaskan apa yang dia ketahui.


"Amplification adalah Unique Skill yang memungkinkan Claudia untuk menambah kekuatan seseorang yang dia inginkan. Tidak hanya terbatas pada peningkatan sihir saja. Tapi, skill ini akan memberikan tambahan kekuatan fisik dan kecepatan regenerasi dari luka melebihi sihir penyembuh pada umumnya".


"Huh? Berarti Claudia itu bisa memberikan buff yang gila kepada orang yang dia mau?..... Itu curang!!!".


Awin benar-benar dibuat tidak bisa berbicara karena dia terkejut setelah mendengar Unique Skill milik Claudia yang dia anggap sebuah kecurangan.


"Namun, Aniki.... Itu masih belum menjelaskan soal alasan sebenarnya dia di culik".


"Biar aku lanjutkan penjelasannya..... Kau masih ingat penjelasan Frey-sensei soal mereka yang sedang mencari seorang "Katalisator" yang cocok untuk projek ICA mereka?".


"Iya, aku masih ingat......... Tunggu dulu...... Jangan bilang maksudmu?".


Sesaat setelah menjawab pertanyaan Dylan, Awin segera membelalakkan kedua matanya ketika sadar apa maksud perkataan Dylan.


"Jika tebakanku benar..... Mereka berencana untuk menjadikan Claudia sebagai "Katalisator" dan mengekstrak Unique Skill miliknya..... Kemudian, mereka akan menggunakannya untuk menciptakan "Immortal Chimera's Army" dan melakukan invasi ke Kerajaan yang lain".


"Tapi, Aniki.... Apa mereka benar-benar bisa mengekstrak Unique Skill dari tubuh seseorang?.... Bukankah itu mustahil".


"Ya. Mustahil bagi kita.... Tapi, buat mereka, itu hal yang "mungkin" terjadi..... Dan aku yakin akan hal itu".


Awin terkejut setelah mendengar Dylan berkata bahwa ada kemungkinan bahwa para ilmuwan Kerajaan Strost itu, bisa mengekstrak Unique Skill milik Claudia.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi..... Ayo, Kenji".

__ADS_1


"Baiklah, Aniki".


Tak mau membuang waktu, Dylan dan Awin kembali berlari menuju ruangan utama tempat di mana Claudia sedang di tahan.


__ADS_2