Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 34 : Kembali Dan Hasil Penyelidikan.


__ADS_3

"Jadi, singkatnya..... Kepala desa dan para warga menyuruh mu untuk "menemani" ku malam hari ini sebagai bentuk ucapan terimakasih atas apa yang sudah aku lakukan".


"Iya, benar".


Dylan saat ini sedang berdiri menyandarkan punggungnya di tembok sambil berbicara dengan Ariel yang terduduk di tempat tidur soal tujuannya datang ke kamar Dylan larut malam.


"Ariel, berapa usiamu?".


"Aku baru 14 tahun".


"14 tahun, ya...... Kau setahun lebih muda dariku...... Juga masih punya masa depan yang cerah....... Jadi, kenapa kau tidak menolaknya saja?.... Lagian kau itu masih 14 tahun..... Dan kau tahu, kan?.... Resiko apa yang akan kau tanggung dari ini?".


Ariel sempat menundukkan kepalanya dan terdiam sesaat sebelum akhirnya dia kembali buka suara.


"Aku tidak bisa.... Bagaimana pun... Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk berterimakasih kepada warga desa ini".


"Huh? Apa maksudmu?".


Dylan yang tidak paham dengan yang dikatakan Ariel segera bertanya.


"Aku ini yatim-piatu sejak lahir.... Bahkan, aku tidak tahu siapa kedua orang tua ku..... Meski begitu, para warga saling bahu-membahu merawat ku dari kecil sampai sekarang.... Aku berpikir untuk membalas semua kebaikan mereka semua selama ini..... Karena itu, aku mengajukan diri untuk "menemani" salah satu dari kalian.... Dan kebetulan orang yang dipilih oleh kepala desa adalah anda, Tuan Dylan".


"Heeee.......".


"Seandainya, aku mengandung anak Tuan..... Tuan tidak perlu untuk bertanggung jawab.... Karena para warga berjanji akan membantu saya untuk membesarkannya".


Mendengar cerita lengkap Ariel sekaligus tentang niatannya, membuat perasaan Dylan campur aduk. Dia bingung harus merespon apa soal kondisi saat ini.


"Kembali lah".


"Eh?".


Ariel terkejut dengan apa yang barusan Dylan katakan. Merasa Ariel tidak paham dengan perkataannya, Dylan kembali berbicara.


"Seperti yang aku katakan.... Kembali lah ke rumahmu.... Aku tidak butuh sesuatu seperti ini.... Meski aku ini brengsek.... Tidak pernah terlintas dipikiran ku untuk melakukan hubungan esek-esek dengan seorang wanita".


"Apa saya tidak menarik bagi anda?".


Ariel dengan tampak panik bertanya apakah dia tidak menarik di mata Dylan.


"Aku akan jujur.... Kau menarik.... Kau cantik.... Dan masih muda..... Jangankan orang lain..... Bahkan aku sendiri saja.... Terpikat olehmu.... Tapi, aku tipe orang yang lebih mengedepankan akal sehatku dari pada menuruti hawa nafsuku yang sesaat..... Karena itu, kau kembali lah pulang..... Dan katakan bahwa.... "Aku dan rekan-rekan ku menolong kalian benar-benar ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun".... Kepada Tuan Jilk.... Apa kau mengerti?".


Ariel hanya terdiam menatap Dylan yang dengan tegas menolak tawarannya dan menyuruh nya untuk segera pergi.


"Sebelum itu".


Dylan melangkahkan, mengambil jaket olahraga nya dan memberikannya kepada Ariel.


"Malah hari ini sangat dingin..... Pakailah itu untuk menghangatkan badanmu dan pulang lah".


Ariel segera berdiri dan membungkuk badannya sambil memeluk erat jaket yang dipinjamkan oleh Dylan.


"Kalau itu yang tuan Dylan inginkan..... Saya mohon undur diri dahulu.... Selamat malam".


"Iya, selamat malam".


Ariel segera melangkah keluar dari kamar Dylan dan menuju pintu keluar penginapan. Dylan sendiri langsung merebahkan badannya di atas kasur.


"Tidak ada kenikmatan lainnya.... Selain rebahan setelah bekerja keras".


Dylan pun akhirnya tertidur pulas karena rasa capek menumpuk yang dia rasakan. Di tambah besok pagi, mereka harus segera meninggalkan desa Hage dan Kembali ke Akademi Estonia.


Di sisi lain.


Ariel yang keluar dari penginapan sambil menggunakan jaket yang dia pinjam, berhenti dan menatap kembali kearah jendela kamar tempat dimana Dylan beristirahat. Dengan ekspresi wajahnya yang senang, mata yang berbinar, pipi yang menjadi merah merona, dan senyuman yang lebut.


Selang beberapa saat, Ariel kembali melangkah pergi ke rumahnya dengan kondisi yang masih sama.


Tanpa di sadari oleh Dylan, ucapannya membuat Ariel yang tadinya takut dengannya berubah mulai tertarik kepada sosok pria yang sudah menyelamatkan desanya itu.


(-----------------)


Keesokan paginya.


Dylan, Awin, Ornest, Garcia, Ritzia, Filaret, Sylvia, Emilia, Olivia, Claudia, dan Lafia. Sudah bersiap untuk meninggalkan desa Hage.


"Sudah lengkap?... Apa ada sesuatu yang tertinggal?".


Pertama Dylan di respon dengan gelengan kepala sebagai tanda tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Baiklah..... Kalau begitu-----".


"Tunggu sebentar".


Dylan dan yang lain dikejutkan oleh semua warga desa yang sekarang datang untuk mengantar kepergian mereka.


"Kami masih belum cukup untuk berterimakasih kepada kalian... Tidak perlu buru-buru begitu, tenang saja".


Jilk meminta mereka untuk tidak pergi terburu-buru dari desa yang langsung di respon gelengan kepala oleh Ritzia.


"Tuan Jilk...... Kami sangat menghargainya.... Tapi, kami ini masih seorang siswa.... Dan siswa memiliki kesibukan lainnya".


"Begitu ya.... Mau bagaimana lagi".

__ADS_1


Tampak wajah sedih yang di tunjukkan oleh Jilk dan para warga Desa Hage. Ritzia yang tidak enak hati, tidak tahu harus berkata apa.


"Jika kami memiliki waktu luang.... Kami akan berkunjung kembali kesini".


"Benarkah?".


"Iya, itu benar, kan?".


Perkataan Dylan yang mengambil peran Ritzia, membuat Jilk dan para warga kembali ceria dan senang. Dylan juga melirik kearah rekan-rekan dan mereka segera menganggukkan kepala.


"Tunggu....... Jangan pergi dulu".


Tiba-tiba dari rombongan warga desa, Ariel mendesak dan berhasil sampai di depan Dylan dan yang lain.


"Lah buset!!!!.... Siapa ini cewek..... Cakep amet, njir".


"Ariel".


"Eh?".


Garcia yang terpukau dengan kecantikan Ariel langsung panik dan menunjukkan kehebohan yang luar biasa. Namun, itu seketika sirna saat tahu Dylan mengenal Ariel.


Menyadari, Dylan yang tampaknya mengenal Ariel. Membuat Filaret, Sylvia, Ritzia, Lafia dan Claudia menatap tajam kearahnya dengan aura yang mengcenkam. Belum lagi, Garcia yang mendekatkan wajahnya sambil menangis darah.


"Woi.... Awin, aku kok tiba-tiba merasa sesak nafas, ya?".


"Hmm.... Aku juga padahal kita ada di tempat terbuka".


"Yah, itu karena "perubahan" udara disekitar kita".


Awin menjawab pertanyaan Arnold dan Ornest dengan menatap kearah lain sebagai tanpa bahwa dia tahu dan malas menjelaskan situasi saat ini.


"Selamat pagi.... Apa kau tidur nyenyak tadi malam?".


" Iya....bererkat Tuan Dylan".


"Syukurlah kalau begitu...... Jadi, ada perlu apa kau sampai buru-buru kesini?".


"Begini.... Aku hendak mengembalikan jaket yang semalam anda pinjaman".


Ariel menyodorkan jaket olahraga milik Dylan yang sudah di lipat rapi, dan Dylan pun menerimanya.


Mendengar apa yang di katakan Ariel, membuat Filaret, Sylvia, Ritzia, Lafia, dan Claudia semakin tajam melihat kerah Dylan. Dan tangisan darah Garcia semakin deras.


"Oh soal ini.... Kau tidak usah repot-repot untuk segera mengembalikannya".


"Tidak.... Bagiamana pun aku harus tetap mengembalikan apa yang sudah aku pinjam.... Dan satu hal lagi".


Ariel mengeluarkan sebuah kotak makan dan menyerahkan kepada Dylan dengan ekspresi yang penuh dengan rasa malu.


Dengan nada yang tersipu malu dan badan yang gelisah Ariel mengungkapkan apa maksudnya memberikan bekal makan itu kepada Dylan.


"Baiklah.... Akan aku terima.... Tapi, aku punya satu permintaan".


"Apa itu?".


"Jika kita bertemu lagi, tolong panggil aku Dylan saja.... Rasanya ngak nyaman kalau aku terus-menerus di panggil tuan".


"Iya pasti... Tuan- tidak Dylan-san".


"Nah, itu baru benar".


POUF.


Melihat Dylan yang tersenyum tipis membuat wajah Ariel menjadi merah dan uap mulai keluar dari atas ubun-ubun nya.


Karena tidak mau salah tingkah, Ariel segera berbalik dan berlari pergi kembali ke rombongan para warga.


"Sekarang..... Kenapa kalian melihatku seperti itu?".


Selesai dengan Ariel, Dylan segera menoleh dan bertanya kepada Filaret dan yang lainnya soal cara menatap mereka.


"Nii-san siapa gadis itu?".


"Bagiamana kalian bisa saling kenal?".


"Lalu, kenapa jaket mu bisa ada pada dia?".


"Apa maksudnya dengan menanyakan dia tidur pulas atau ngak tadi malam?".


"Dan yang lebih penting lagi........ Sihir hipnotis macam apa yang kau gunakan untuk merayu gadis semanis itu, dasar bajingan".


Dylan hanya terdiam dan bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Filaret, Sylvia, Ritzia, Claudia dan Garcia. Karena bingung, Dylan berusaha meminta batuan kepada yang lain.


Namun, respon Awin, Arnold dan Ornest hanya bisa menggelengkan kepala sebagai tanda tidak tahu. Ketika melihat kearah Lafia, dia segera menoleh kearah lain dengan pipi yang dia gembung kan.


Karena bingung harus menjawab apa, Dylan memutuskan untuk mengabaikan itu dan kembali berpamitan dengan warga Desa Hage.


Kemudian mereka semua segera melangkah pergi dengan di beri lambai tangan para warga.


Dan itu juga direspon sama oleh Dylan dan yang lainnya.


(----------------)

__ADS_1


Di kantor Kepala Akademi Estonia saat ini.


Leon Sera Belmont selaku kepala Akademi sedang mengadakan rapat dengan 2 orang guru. Mereka berdua adalah Alexander von Geogrovic wali kelas 1-B dan Frey de Highland wali kelas 1-S.


Mereka bertiga saat ini sedang berbicara soal hasil penyedikan insiden yang terjadi saat kegiatan Trail Running di hutan Elbrand yang menjadi kacau.


"Maaf karena aku terpaksa untuk memanggil kalian berdua ke kantorku di saat kalian masih sibuk-sibuknya".


"Jika anda sampai memanggil saya dan Frey ke sini, berarti ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh".


"Iya, benar sekali".


Leon tersenyum karena dia tidak perlu menjelaskan situasi saat ini kepada mereka berdua.


"Baiklah..... Berdasarkan apa yang sudah di selidiki oleh Jason dan Olga, ada beberapa keganjilan dalam Insiden".


Mendengar apa yang Leon katakan Alex dan Frey mulai menatap dengan serius dan fokus dengan apa yang akan Leon katakan selanjutnya.


"Dari hasil penyelidikan, ada beberapa siswa yang mengambil rute tengah...... Tidak sengaja Memasuki semacam Goa bawah tanah yang ada di sana".


"Huh? Goa bawah tanah?".


"Setahuku tidak ada goa pada rute tengah".


"Aku juga baru tahu soal ha itu....... Dan yang lebih mengejutkan lagi..... Goa bawah tanah itu hampir mencakup seluruh hutan..... Selain itu, ada seekor Induk Serigala tanduk yang menghuni tempat itu..... Berdasar sifat alaminya, Serigala tanduk seharusnya tidak berada di hutan Elbrand".


"Kalau dipikir-pikir lagi itu memang benar".


"Jadi, singkatnya?".


Leon menatap dengan fokus yang sangat penuh dan kembali berbicara.


"Ada sekelompok siswa yang memilih rute tengah.... Karena rute itu yang paling pendek dari yang lain......... Namun, mereka tidak "sengaja" memasuki sarang para Serigala tanduk dan memprovokasi mereka..... Lalu tanpa ragu membunuh Induk Serigala tanduk...... Dengan tembakan sihir.... Secara membabi buta.... Itu menjelaskan kenapa terjadi ledakan yang sangat besar, bukan hanya sang Induk saja....... Namun, banyak Serigala tanduk yang tewas terpanggang disana.... Dan ledakan itu, menimbulkan lubang baru yang mengarah ke rute Utara yang sejalan langsung dengan sebuah Desa....... Karena panik, para Serigala tanduk itu pergi melarikan diri lewat jalur itu... Dan hampir menyerang Desa Hage yang berada di Utara hutan Elbrand".


"Jadi, ledakan itu.... Berasal dari sihir yang di tembakan secara asal-asalan, ya".


"Sudah kuduga...... Lalu, apa anda sudah temukan siapa "kelompok siswa" yang melakukan ini?".


Terjadi, keheningan diantara mereka bertiga. Butuh beberapa saat bagi Leon untuk benar-benar menjawab apa yang di tanyakan Frey.


Setelah terdiam cukup lama dan suhu ruangan menjadi terasa dingin. Leon kembali berbicara.


"Akar penyebab dari insiden ini adalah.......... Putri Kedua, Vanessa Sera Ingrid bersama beberapa pengikutnya....... Sekaligus.... Siswa kelas 1-B yang akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian dari siswa dan siswi lain..... Reiner fou Stanley".


Mendengar hal itu, Alex dan Frey hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


(---------------)


"Bocah geblek itu...... Aku tahu dia naif.... Tapi, tidak ku sangka..... Kalau dia memang segoblok ini...... Belum lagi, si Putri narsis itu juga terlibat, ya".


"Mah,..... Ini ngak mengejutkan untuk ku, sih?".


"Hei, Frey.... Apa maksudmu itu?".


Perkataan Frey sukses membuat Alex yang tadi tertunduk dan memegang wajahnya, menjadi beralih pandangan ke arahnya.


"Sebenarnya, aku sudah curiga dan merasa janggal dengan rentetan cerita yang di jabarkan oleh si Vanessa.... Tampak jelas dia berusaha mengelabui ku dengan mencampurkan fakta dengan kebohongan saat berbicara dengan ku..... Belum lagi, gerakan tangan yang tampak sangat gelisah.... Pandangan matanya memang melihat kearah ku.... Tapi, dia tidak fokus melihat ke arah ku".


"Begitu, ya".


"Dan soal Reiner..... Aku setuju denganmu, dia hanya bocah Naif yang pandai berbicara..... Bahkan, saat aku minta pendapatnya soal konsep Keadilan.... Jujur saja..... Aku merinding yang mendengarnya..... Singkatnya, dia anak yang tidak bisa membedakan mana hitam dan mana yang putih..... Dan memilih untuk mencampur kedua hal itu....... Pola pikir anak itu benar-benar kacau".


Frey menjabarkan soal kepribadian Reiner yang dia sadari setelah beberapa kali bertemu dengannya. Dan Alex sebagai wali kelas nya, tampak setuju dengan apa yang di katakan oleh Frey.


"Jadi, tuan Leon.... Langkah apa yang akan anda ambil dalam menyikapi hal ini.... Lupakan soal Reiner yang dianggap sebagai "masa depan cerah" Kerajaan ini.......... Insiden ini juga melibatkan salah putri Raja...... Yaitu, Putri yang dikenal sebagai "Putri berbudi Luhur" dan punya banyak pengikut".


Alex segera bertanya pada Leon soal hukuman apa yang pantas untuk di terima anak-anak itu. Berpikir sejenak Leon kembali berbicara.


"Aku tidak peduli siapa dia.... Pelanggaran, tetaplah pelanggaran.... Alex hukum semua siswa yang satu kelompok dengan putri Vanessa termasuk dia sendiri dan Reiner dengan hukuman yang pernah kau berikan kepada kelas 1-S selama 1 minggu lamanya...... Tambah pekerjaan rumah mereka menjadi 5 kali lipat lebih banyak...... Dan kurangin perolehan bintang mereka sebanyak 10 atau lebih".


"Mengingat insiden ini menyangkut banyak nyawa...... Aku pasti akan membuat mereka menderita.... Sampai berpikir kalau mereka "menyesal" telah di hari kan ke dunia ini".


Alex menyanggupi hal itu sambil tersenyum penuh dengan kebencian. Melihat dan mendengar kesanggupan Alex membuat Leon tersenyum puas.


"Lalu Frey, bagaimana dengan Dylan dan rekan-rekannya?"


"Mereka baru tiba tadi siang..... Dan bercerita alasan mereka tidak kembali karena membantu para warga Desa Hage menahan serbuan Serigala tanduk itu".


"Begitu ya..... Kurasa kita harus ke sana dan mengucapkan permintaan maaf langsung kepada mereka yang menjadi korban".


"Iya aku setuju akan hal itu..... Tapi, ada sesuatu yang lebih menarik daripada hal yang lainnya".


Perkataan Frey membuat Leon dan Alex segera menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan.


Frey yang menyadari itu, kemudian mengambil sesuatu semacam batu sihir seukuran telapak tangan yang rupanya itu dia dapat dari Dylan yang mengalahkan Minotaur dan menunjukkan nya kepada mereka berdua.


Melihat batu sihir itu, sontak Leon dibuat terkejut bukan main. Wajahnya yang tenang tiba-tiba menjadi panik dan kulitnya menjadi pucat. Sama halnya dengan Alex yang bereaksi sama.


"Kalian pasti tahu apa maksudnya ini, kan?".


Pertanyaan Frey hanya direspon diam oleh keduanya yang terdiam seribu bahasa dan hanya fokus dengan batu sihir itu.


"Cih.... Bahkan dia masih belum menyerah setelah aku dan Hyoga membantai pasukannya sampai tak tersisa di depan matanya..... Andai si "Rubah" sialan itu, tidak ikut campur..... Aku dan Hyoga pasti sudah membunuhnya saat itu".

__ADS_1


Melihat dari respon Leon yang diliputi emosi, sepertinya dia tahu apa maksud dari batu sihir itu. Dan sepertinya itu bukanlah hal yang baik.


__ADS_2