Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 15 : Tawaran Dylan Dan Situasi Kerajaan Rachael.


__ADS_3

Begitu Dylan memasuki panti, hal pertama yang dia pastikan adalah bahwa tempat ini "tidak layak huni".


Terlepas dengan tampak bagus dari luar, didalamnya sangatlah memperhatikan. Meja dan tempat duduk kayu yang usang.


Tembok yang retak bahkan sampai bata nya terlihat. Atap kayu yang berlubang. Dan masih banyak lagi yang sangat memprihatikan.


Melihat kondisi tempat itu, dan anak-anak yang tampaknya sangat bersyukur bisa tinggal disitu. Membuat Dylan teringat kehidupan nya yang sebelumnya.


Waktu itu, dia yang masih berusia 10 tahun di beritahu bahwa kedua orang tuanya mati dalam insiden kecelakaan mobil.


Sejak saat itu dia menjadi yatim-piatu dan harus membesarkan adik laki-laki nya yang masih berusia 6 tahun seorang diri.


"Nii-nii. Ayah dan Ibu kapan pulang? Apa mereka sudah membenci kita?".


Itu adalah pertanyaan adik laki-laki nya yang bahkan tidak bisa dia jawab.


Belum lagi, tidak ada sanak saudaranya. Baik dari keluarga Ayahnya maupun Ibunya yang bersedia merawat mereka.


Bahkan salah satu dari saudari ibunya dengan seenaknya mengusir mereka dari rumah peninggalan kedua orang tuanya.


"Nii-nii, kenapa bibi mengusir kita? Apa kita anak nakal?".


Dia hanya bisa memeluk adiknya yang menangis itu tanpa bisa menjawab.


"Nii-nii, kenapa kita tidak seperti anak normal yang lainnya?".


Setelah flashback itu, tanpa sadar Dylan meneteskan air mata. Aria yang melihat itu langsung panik dan bertanya.


"Dylan-san.... Kenapa kau menangis? Apa ada sesuatu?".


"Oh, ini. Tenang saja. Hanya debu yang masuk ke mata".


"Maaf ya, kalau tempat ini berantakan..... Kalau begitu, silahkan duduk".


Dylan yang melihat Aria panik segera mengusap air matanya dan mencoba untuk memberi alasan lain.


Dan Aria segera meminta maaf karena merasa tidak enak menjamu Dylan di tempat yang belum di bersihkan.


Keduanya, duduk saling berhadapan dimeja makan. Di sana Aria berusaha menyuguhkan sesuatu, tapi yang dia punya hanyalah air.


Tapi, Dylan tidak mempermasalahkan nya dan dengan santai meminum air yang Aria tuang ke gelasnya.


"Sekarang izinkan aku memperkenalkan diriku dengan benar. Namaku adalah Ariana Royce, seorang biarawati yang bertugas menjaga dan merawat anak-anak di panti ini".


"Aku Dylan van Arcadia, putra dari Earl Arcadia yang tinggal di wilayah Arcadia pinggir laut dekat perbatasan Kerajaan Ingrid. Salam kenal Aria".


"Eh?......EEEEEEEEHHHHHH?".


Mengetahui Dylan adalah seorang bangsawan membuat Aria terkejut setengah mati sampai berdiri dari duduknya.


"D-dylan-san..... A-adalah.... Ba-bangsawan...... Maaf atas tindakan tidak sopan saya dan anak-anak ini kepada anda".


Aria yang masih terkejut dan badan yang bergetar segera menundukkan kepala atas tindakannya dan anak-anak yang terkesan tidak sopan.


"Santai saja, tidak usah kau pikirkan..... Lagipula yang pantas disebut bangsawan itu para leluhurku dan Ayahku. Sementara aku cuma numpang gelar saja. Jadi, kau tidak perlu terlalu formal denganku".


"Benarkah? Anda tidak masalah dengan itu?".


Menanggapi ketakutan Aria, Dylan dengan santai hanya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa dia tidak masalah.


"Begitu ya....... Syukurlah".


Hal itu membuat Aria menjadi sangat lega dan kembali duduk.


Setelah perkenalkan itu, Dylan segera mengeluarkan kantong besar yang berisi 70 tusuk sate yang tadi dia beli dari item boxnya di meja.


"Nah, Aria ini makanan yang ingin aku berikan kepada anak-anak disini, tolong terimalah.".


"Baiklah dengan senang hati akan aku terima".


"Dan ini ada beberapa uang mungkin tidak banyak. Tapi, aku harap cukup untuk membeli kebutuhan nutrisi anak-anak ini".


Dylan juga menyodorkan sebuah kantong berisi uang sebanyak 50 koin emas di dalamnya. Melihat hal itu, Aria benar-benar sangat terkejut.


"Sekali lagi, terimakasih Dylan-san. Karena sudah membantu anak-anak ini".


"Ya, santai saja".


Terjadi keheningan diantara mereka berdua untuk sesaat sampai akhirnya Dylan yang penasaran akan beberapa hal memutuskan untuk bertanya.


"Ngomong-ngomong, Aria..... Aku mendengar semuanya, saat kau tadi berbicara dengan si Kepala Jamur..... Bisa kau ceritakan padaku kronologi kenapa kalian bisa berakhir di tempat seperti ini?".


Aria sempat dia sesaat, lalu mulai bercerita bagaimana kondisi pada pantinya bisa seperti sekarang.


"Semua dimulai sekitar 1 tahun yang lalu..... Awalnya, aku tidak sengaja bertemu dengan Gnecci saat sedang berbelanja kebutuhan panti di sebuah toko..... Tahu-tahu dia muncul di hadapanku dengan wajah sombong dan bertanya siapa namaku dan aku menjawabnya...... Dia memperkenalkan namanya sebagai Gnecci anak Duke Rostvard..... Lalu, orang itu tiba-tiba memegang tanganku tanpa izin dan langsung bilang "jadilah gadis" dengan senyuman dan tatapan mesum".


"Hmmm....".


"Secara spontan aku menarik tanganku dan menamparnya dengan sangat keras sampai membuatnya jatuh..... Saat itu, aku sadar bahwa dia hanya mengincar tubuhku saja..... Tidak ada cinta ataupun kasih sayang dari ucapan dan tindakannya itu".


"Hou....".


"Aku mengatakan bahwa aku bukan "barang" yang bisa kau ambil dan bawa..... Lalu meninggalkannya begitu saja..... Selang beberapa hari, aku dapat pemberitahuan dari pihak gereja bahwa mereka akan menghentikan suntikan dana pada panti ini..... Saat aku minta penjelasan, mereka tidak bisa memberiku penjelasan apapun".


".....".


"Sebenarnya, selain suntikan dana dari gereja. Kami memilik penghasilan tambahan berupa menjual tanaman obat-obatan yang kami tanam sendiri.... Tapi,..... Entah mengapa tempat yang biasa menjadi langganan kami. Memutuskan untuk berhenti membeli tanaman kami".


Aria mulai menunjukkan emosi seiring dia bercerita.


"..... Belum sampai disitu saja. Tiba-tiba gereja memutuskan untuk memindah rumah panti yang tadinya ada di pusat kota Algrand..... Menjadi di pinggiran kota.... Dan rumah itu adalah yang kami tempati sekarang ini".


".......".


"Setelah beberapa hari pindah kesini. Gnecci datang beserta pengawalnya datang kesini...... Dan saat itulah dia memberi tahuku, bahwa sejak awal itu adalah ulahnya".

__ADS_1


Aria mulai meremas tangan.


"Dia bilang semua ini adalah akibat dari perbuatan ku yang sudah dengan beraninya menolak nya..... Dengan otoritas keluarganya, dia menekan gereja agar tidak memberiku dana bantuan dan memaksa kami pindah ketempat lain, dan dia juga menutup jalur masuk penghasilan kami".


"Begitu ya....".


"Dia bilang akan mengembalikan semua dengan syarat, aku harus menjadi "gadisnya"..... Awalnya, aku mau menyerahkan saja.... Jika di teruskan bukan hanya aku yang akan menjadi korban, anak-anak yang tidak tahu menahu soal ini pun akan jadi korbannya.... Tetapi,...... ".


Aria melirik kearah anak-anak yang sedang bermain diluar.


"...... anak-anak ini beritahu untukku menolak tawarannya. Karena mereka tidak mau berpisah denganku. Dan berkata "kita pasti bisa melalui ini semua, Aria nee-san" membuat hatiku tersentuh... Jadi dengan tegas aku kembali menolak tawarannya".


(Dasar si Kepala Jamur. Aku tahu dia itu hina. Tapi aku tidak menyangka bahwa dia benar-benar se hina ini).


Dylan yang paham akan masalah yang dihadapi Aria dan anak-anak itu, menemukan sebuah ide.


"Aria. Aku punya sebuah penawaran. Untukmu dan anak-anak ini".


"Apa itu?".


Dylan kembali menoleh ke Aria dengan tatapan serius.


"Maukah kau dan anak-anak ini pindah ke Arcadia?".


"Eh?".


Aria terkejut dan tidak paham dengan apa yang katakan Dylan.


"Begini, aku memiliki sebuah panti asuhan di kota Linic pusat perintah di wilayah Arcadia. Di sana, anak-anak ini tidak akan hanya dibesarkan saja. Mereka juga akan mendapatkan pendidikan seperti membaca, berhitung serta pelatihan agar saat dewasa mereka sudah siap masuk ke dunia kerja".


"Eh?".


"Dan kebetulan kami sedang kekurangan staf untuk merawat anak-anak... Jika kau mau kau bisa bekerja dan membantu di sana..... Tentu saja, kau juga akan dapat bayaran untuk pekerjaanmu itu..... Bagaimana? Apa kau tertarik?".


Aria yang mendengar itu, tertunduk untuk sesaat. Lalu, akhirnya dia mengangkat wajahnya dengan penuh harapan dan tekad.


"Jika Dylan-san serius dengan perkataan anda. Dan itu akan menjamin masa depan anak-anak ini. Maka...... Mohon bantuannya".


Aria setuju untuk menerima tawaran Dylan.


"Yosh, kalau begitu. Bersiap-siaplah, 3 hari lagi kita akan berangkat. Soal biaya transportasi biar aku yang mengurusnya. Jadi kalian tinggal mengemas barang-barang saja".


"Terimakasih banyak".


Aria sekali berterima kasih pada Dylan yang dengan senang hati mau membantunya dan anak-anak ini.


"Woi.... Anak-anak. Kemarilah!!!!".


Dylan berteriak memanggil anak-anak yang sedang bermain.


"Ada apa Nii-chan?".


Salah seorang anak bertanya, dan Dylan berdiri lalu berbicara.


Dylan mengajak anak-anak itu jalan-jalan sambil menunjuk dirinya menggunakan ibu jari


"Eh? Benarkah?".


Dylan menganggukkan kepalanya sebagai tanda iya.


"HOREEEE!!!!".


Anak-anak itu langsung senang dengan ajakan Dylan.


"Aria kau juga boleh ikut".


"Ba-baiklah".


Dylan menoleh kearah Aria dengan senyuman di wajahnya meski wajahnya tetap terkesan kaku.


(Tidak sombong dan tidak bangga akan statusnya sebagai bangsawan.... Dia tidak ragu untuk pergi bersama anak-anak yang baru dia kenal..... Dylan van Arcadia.... Sungguh orang yang luar biasa).


Di dalam hati kecilnya, Aria tanpa sadar menumbuhkan rasa kagum pada Dylan yang seiring berjalannya waktu.


Perasaan itu akan semakin berkembang.


(-----------)


Di Kerajaan Rachael.


Saat ini Raja William fou Rachael dan Putri Mahkota Sylvia fou Rachael sedang mengadakan sebuah pertemuan dengan beberapa anggota Dewan Mentri.


"Selamat malam. Para Dewan Mentri tanah airku sekalian. Ku ucapkan banyak terimakasih atas kehadiran kalian malam hari ini".


Raja William memulai pertemuan dengan mengucapkan terimakasih kepada para Dewan Mentri yang bersedia hadir.


"Aku meminta kalian semua berkumpul malam hari ini, yaitu untuk membahas masa depan Kerajaan Rachael. Sejak aku mengambil alih posisi sebagai Raja, Kerajaan kita telah berjalan damai dan sejahtera tanpa adanya pertikaian dengan Kerajaan-kerajaan lain.... Terlebih, meski kita belum sepenuhnya bekerja sama dengan Kerajaan Ingrid... Kita sudah membangun hubungan yang baik dengan Hyoga van Arcadia... Pendeta Pedang Es dan Cahaya yang saat ini mengelola wilayah Arcadia......".


Lalu ekspresi Raja William mulai menjadi mendung dan tangannya menggenggam erat tongkat yang dia bawa sebelum melanjutkan ucapannya.


"..... Tapi, tampaknya hubungan baik kita dengan Hyoga harus berakhir dengan terpaksa.... Karena ulah dari salah satu Ksatria suci, Oscar Niville Dragonia yang menyerang wilayah Arcadia dengan atas izin para The Oracle's..... Meskipun, serangan Oscar berhasil dihentikan dan kita terhindar dari situasi terburuk. Namun, seandainya Hyoga akan memusuhi kita. Dan hal itu terdengar, ke telinga Raja dan Dewan petinggi, kemungkinan "alasan" itu yang akan digunakan Kerajaan Ingrid untuk menyerang kita..... Memang, sampai saat ini Hyoga tidak memberikan pernyataan apapun atau menunjukkan hilangnya rasa percayanya kepada kita..... Tapi, kita tetap harus membangun kembali rasa percaya itu meski bukan hal yang mudah".


Selesai Raja William berbicara, salah seorang menteri mulai berbicara.


"Paduka William,.... Memang benar seperti yang paduka katakan, tapi tetangga dari Kerajaan kita bukan hanya wilayah Arcadia maupun Kerajaan Ingrid saja. Dan paduka berharap untuk bisa kembali membangun hubungan dengan Pendeta Pedang Es dan Cahaya, tuan Hyoga dan berharap beliau menjadi jembatan yang menghubungkan Kerajaan kita dengan Kerajaan Ingrid. Jika begitu, maka ada kemungkinan hubungan kita dengan Kerajaan lain akan menjadi buruk".


Lalu salah Mentri yang lain juga ikut berargumen.


"Itu benar, kami tidak masalah jika Paduka ingin kembali memperbaiki hubungan dengan tuan Hyoga. Dan kami tidak akan pernah lupa atas jasa terbesarnya yang membatu menyelamatkan Kerajaan kita..... Tapi, jika Paduka berharap tuan Hyoga menjadi jembatan penghubung antara kita dengan Kerajaan Ingrid. Saya rasa itu terlalu berlebihan..... Sementara di satu sisi, paduka tahu ada Kerajaan yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan Kerajaan Ingrid".


Sylvia sempat terkejut karena dia tahu Kerajaan apa yang para menteri itu maksud.


"Jadi maksudnya.... Kekaisaran Iscoa?".


"Benar Putri Sylvia..... Dan besar kemungkinan kalau Oscar, beberapa rekan kami dan para The Oracle's memiliki hubungan dengan Kekaisaran Iscoa".

__ADS_1


Orang yang spontan menjawab pertanyaan Sylvia adalah seorang laki-laki tampan berambut merah dengan pakai serba putih.


"Apa maksud anda dengan mengatakan beberapa rekan anda di Ordo ksatria dan para The Oracle's terlibat, tuan Luke?".


Nama pria itu adalah Luke James Asher. Pemegang kursi pertama dari 10 ksatria suci. Meskipun dia menduduki kursi pertama, Luke sama sekali tidak pernah mau menuruti perintah atasannya yaitu The Oracle's.


Itu terbukti dengan dirinya dan 3 rekannya yang saat ini juga ikut dalam pertemuan yang diadakan Raja William.


"Berdasarkan penyelidikan yang aku lakukan.... Tujuan Kekaisaran Iscoa yaitu mencegah hubungan Kerajaan kita dengan Kerajaan Ingrid atau terkhususnya dengan tuan Hyoga. Dengan menyuruh para The Oracle's agar meminta Oscar untuk menyerang wilayah Arcadia. Dan jika rencana mereka berhasil, pada akhirnya mereka mungkin akan membunuh Oscar dan para The Oracle's lalu mengambil alih Kerajaan ini dan Kerajaan Ingrid".


"Lalu, berdasar pendapat mu itu. Langkah apa yang harus kita ambil, Luke?".


"Hanya ada satu cara..... Kita harus mengambil tindakan tegas terhadap para The Oracle's..... Karena secara tidak langsung mereka sudah berkhianat pada Kerajaan ini".


Mendengar jawaban tegas dari Luke membuat semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka seseorang yang menjadi bagian dari 10 ksatria suci bawahan The Oracle's bisa berkata seperti itu.


"Maksudmu, menghukum para The Oracle's? Apa kau yakin dengan ini, Luke? Mereka itu adalah atasanmu? Jika mereka terlibat bukankah ada kemungkinan kau juga terlibat?".


Menanggapi provokasi salah satu menteri, Luke hanya tersenyum kecil dan menjawab.


"Kalian semua tahu, kan? Meski aku, Jail, Vivian dan Yuma adalah bagian dari ksatria suci milik The Oracle's. Kami tidak pernah satu kali pun menuruti apapun perintah mereka.... Dan Paduka lebih tahu itu daripada para Menteri sekalian..... Lagipula, aku menjadi ksatria suci semata-mata hanya ingin melindungi Kerajaan ini, tidak lebih dan tidak kurang..... Jika anda masih ragu, silahkan selidiki kami berempat, aku pastikan kami berempat tidak menyembunyikan apapun".


"......HM.... Itu yang ingin aku dengar darimu".


Melihat dan mendengar jawaban tegas Luke, menteri yang bertanya itu segera tersenyum sebagai tanda kepuasan. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Raja William dan mulai bertanya.


"Sekarang, bagaiman tindakan anda, paduka?".


"Mengingat kepercayaan rakyat pada The Oracle's sangatlah tinggi, kita harus menangani ini dengan sangat hati-hati.... Dan kurasa sudah tidak ada alasan lain bagi kita untuk mempertahankan hubungan kita dengan orang-orang seperti mereka. Jadi, satu-satunya jalan yang tersisa bagi kita hanyalah "Membentuk Aliansi" dengan Kerajaan Ingrid".


(------------)


Mendengar keputusan Raja William untuk membuat "Aliansi" dengan Kerajaan Ingrid, membuat semua menteri sangat terkejut. Sampai akhirnya salah satu menteri kembali segera mengeluarkan argumen nya.


"Membentuk Aliansi Kerajaan Ingrid?..... Apa anda serius, paduka?.... JIKA KITA MELAKUKAN ITU, HUBUNGAN KITA DENGAN KEKAISARAN ISCOA AKAN SEMAKIN MEMBURUK. DAN HAL ITU BISA MEREKA JADIKAN ALASAN UNTUK MEMULAI PERANG. KITA TIDAK SEHARUSNYA MEMBENTUK ALIANSI, NAMUN KITA HARUS MENGHIMPUN KEKUATAN KITA SENDIRI DAN MENJADI KERAJAAN NETRAL. TANPA BERPIHAK KEMANAPUN. JIKA TIDAK KITA HANYA AKAN TERLIBAT KONFLIK DENGAN BERBAGAI KERAJAAN!!!".


Mentri yang tampak sudah tua itu dengan lantang mengeluarkan argumennya yang menyangkal pendapat Raja William.


"OI, Kakek. Apa kau tidak mendengarkannya? Ada kemungkinan bahwa Oscar dan The Oracle's berkomplot dengan Kekaisaran Iscoa! Saat ini, Kerajaan kita sudah terlibat konflik yang kau katakan".


Salah seorang menteri wanita yang tidak tahan dengan penyangkalan yang dilakukan menteri yang tua itu akhirnya membuka suaranya.


"APA?!!!".


"Atau kau berpikir, bahwa dengan menjadi Kerajaan Netral. Kita sudah bisa hidup dengan damai?".


"AKU SAMA SEKALI TIDAK MENGATAKAN HAL ITU... AKU BERKATA BAHWA KITA HARUS "MENGHIMPUN" KEKUATAN UNTUK BERJAGA-JAGA?!".


Tiba-tiba menteri tua itu berdiri dari kursinya dan menunjuk kearah menteri wanita yang ada di hadapannya.


"Kau pikir, sudah berapa banyak korban yang berjatuhan untuk menyatukan Kerajaan ini? Belum lagi korban saat penyerangan Kerajaan High Montana.... Jika sekarang, kita menghadapi perang dengan banyak Kerajaan. Maka Kerajaan ini tidak akan bisa bertahan!!".


Karena sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, menteri wanita itu memukul meja dan berdiri seraya melantang kan suaranya.


"ITULAH KENAPA AKU BILANG BAHWA PERANG ITU SEDANG BERLANGSUNG SEKARANG!!!".


"SEMUANYA DIAM!!!!".


Teriakan Raja William menghentikan debat dari kedua menteri itu dan mengalihkan pandangan menteri yang lain kembali ke padanya. Setelah beberapa kali tarikan nafas Raja Wiliam mulai berbicara.


"Jika saat ini kita terpecah belah, itulah yang diincar Kekaisaran Iscoa.... Aku yakin, kita semua sedang berusaha melindungi rakyat Kerajaan kita. Karena itulah, kita harus menyatukan kekuatan. Jadi, kumohon. Tetaplah bersatu demi rakyat kita".


Melihat Raja yang mereka hormati menundukkan kepala membuat semua orang disitu dan putri Sylvia hanya bisa menatap dengan tatapan penuh rasa belas kasihan.


Karena mereka tahu, betapa baik dan pedulinya Raja William dengan mereka, dan seluruh rakyat Kerajaan Rachael.


Lalu, menteri tua yang tadi berdebat, segera menundukkan kepalanya dan mulai berbicara dengan nada sedih.


"Kenapa? Kenapa kita harus terkekang dengan aturan lama? KENAPA?!!!!!!".


Semua orang hanya bisa terdiam tanpa bisa membalas keluhan menteri tua itu yang sangat membenci aturan lama.


(--------------)


Raja segera mengakhiri rapat ini dan menyuruh para Mentri dan Luke pergi meninggalkan dia dan Sylvia sendiri.


Melihat ayahnya tertunduk lesu, Sylvia segera menunduk dan berusaha menyemangati ayahnya.


"Ayahanda. Sepertinya, belakangan ini Ayahanda tampak lelah. Bukankah sebaiknya Ayahanda istirahat".


"Maaf Sylvia.... Ayah selalu saja membuatmu khawatir".


Raja William meminta maaf pada putrinya karena terus membuatnya khawatir.


"Karena kelemahan ku ini. Aku juga membuat semua orang cemas. Sepertinya memang tidak mungkin bagiku yang sudah kehilangan kekuasaan".


"Ayahanda!!! Satu-satunya orang dapat menuntun negeri ini adalah Ayahanda. Jika Ayahanda merasa putus asa, hal itulah yang membuat semua orang cemas".


"Benar juga yang kau katakan".


Nasehat dari putri tercintanya membuat Raja William menjadi lega.


"Meski begitu, jika keadaan terus seperti ini, bisa saja suatu saat Ayahanda akan jatuh sakit. Jadi sebagai putri dari Raja Kerajaan ini, aku ingin membantu sebisa mungkin. Karena itu-".


Sylvia segera berdiri dan dengan tatapan tegas dia mulai berbicara.


"- kumohon, pada musim semi besok. Jadikan aku sebagai Duta bagi Kerajaan Ingrid. Sekaligus, siswa pertukaran di Akademi Estonia".


"Sylvia".


Sylvia memohon izin pada Ayahnya untuk menjadikan dirinya sebagai Duta perwakilan dari Kerajaan Rachael di Kerajaan Ingrid. Sekaligus, menjadi siswa pertukaran di Akademi Estonia.


Tempat, dimana alur cerita game "Long Life Brave" di mulai.


Dengan ini alur cerita game berkembang sampai tingkat dimana Dylan sendiri tidak tahu seperti apa kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2