Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 20 : Tekad Baru Dan Keberangkatan.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Diruang kerja, saat ini Hyoga sedang duduk di kursi meja kerjanya dan Dylan yang sedang berdiri menghadapnya dengan mendekap kedua tangannya.


Dari ekspresi wajah keduanya terlihat bahwa masing-masing dari mereka mengirim tatapan tajam dan serius.


"Bisa ayah, ulang apa yang ayah katakan kemarin?".


"Kau dan Fira akan masuk ke Akademi Estonia musim semi di Ibukota besok".


"AKU SUNGGUH BENCI IDE INI!!!".


Mendengar jawaban tegas Dylan yang benar-benar kukuh menolak untuk bersekolah. Membuat Hyoga hanya bisa memegang kepalanya seperti menahan pusing.


"Ayah tahu. Bahkan tanpa sekolah pun.... Kau itu sudah dianggap jenius.... Aku akui itu..... Dan bukannya aku tidak tahu bahwa kau sebenarnya tidak suka bertemu dengan anak-anak bangsawan dari rumah lain".


(Bukan itu sih alasannya. Lebih tepatnya, aku hanya ingin menghindari pertemuan dengan Reiner dan para calon Haremnya. Agar aku tidak ikut terseret kedalam masalah apapun yang disebabkan oleh mereka nantinya).


"Hanya saja, yang satu ini sangat sulit untuk dihindari maupun ditolak".


"Huh? Apa maksudmu, Ayah?".


Dylan yang tadi bergumam sendiri, seketika bingung dengan perkataan ayahnya. Tanpa menunggu lagi, Hyoga segera menyerahkan sebuah surat yang berstempel simbol Kerajaan.


Menerimanya, Dylan segera membuka dan membaca isinya. Selesai membaca, Dylan semakin kebingungan dan mempertanyakan maksud surat itu.


"Ayah apa-apaan ini?.... Bagaimana aku bisa dapat surat rekomendasi dari Yang Mulia langsung..... Kami ini tidak pernah bertemu, lalu bagaimana bisa dia melakukan ini?".


Dylan yang kebingungan segera bertanya kepada ayahnya tentang surat rekomendasi itu. Dan Hyoga segera menjawab kegelisahan putra nya itu.


"Ayah tahu apa yang kau pikirkan.... Tapi, ada kemungkinan surat rekomendasi ini sebenarnya adalah permintaan langsung dari Putri Ritzia".


"Huh? Ritzia? Ngapain dia ngelakuin sesuatu yang ngak guna kayak gini?".


"Yah, mungkin saja dia tertarik pada mu saat pesta Ball".


Dylan yang masih kebingungan, kembali bertanya kepada Hyoga.


"Huh? Apa-apaan itu? Kenapa Raja malah mengabulkan keinginan Ritzia?".


"Meski tidak tampak dari luar.... Sebenarnya, Yang Mulia Conrad itu sangat menyayangi Putri Ritzia di bandingkan Putri Vanessa.... Yah, itu semua tidak terlepas dengan renggangnya hubungan antara Raja dan Ratu pertama..... Yah, semua jadi wajar jika Yang Mulia melakukan ini".


"Maaf ayah, aku ngak peduli juga soal renggangnya hubungan Raja dan Ratu pertama saat ini".


Hyoga tersenyum mendengar jawab cuek Dylan yang spontan.


"Kau benar, itu bukanlah urusan kita..... Ah, aku lupa..... Kau juga kemungkinan akan satu sekolah dengan keduanya.... Bahkan, putri Vanessa sampai mengirim surat yang bertuliskan.... [Aku harap kita bisa berkerja sama dan berkonstribusi membangun Kerajaan ini]..... Yang artinya "Ayo kita berteman" seperti itu".


"Cih".


(Nih, cewek ngapain coba? Hobi banget ngeganggu hidup orang).


Hyoga tiba-tiba tersenyum dan kembali membuka mulutnya.


"Mulai dari sini adalah opiniku sebagai seorang, Ayah. Mungkin ini terdengar egois.... Tapi, sebagai orang tuamu..... Ayah ingin kau melihat dunia ini lebih luas.... Dylan kau ini kuat, dan ayah akui itu.... Bahkan, kau dengan senang hati mau mengabdikan diri untuk mengurus wilayah Arcadia dan siap sedia melindungi semua penduduk nya.... Tapi, ayah juga ingin agar kau bertemu dengan orang-orang hebat diluar sana dan belajar banyak hal dari mereka.... Ayah ingin kau terinspirasi dan menginspirasi orang-orang.... Maka, tidak ada waktu lagi selain saat ini".


Mendengar harapan Hyoga yang sangat besar kepadanya. Membuat Dylan tidak bisa berkata-kata lagi.


Entah mengapa perkataan itu membawa kembali ingatan akan sosok ayahnya di kehidupan sebelumnya yang juga mengatakan hal yang sama.


(Yare, yare.... Kalau sudah diberi harapan sebesar ini.... Aku tidak bisa mundur lagi).


"Kalau aku menolaknya mentah-mentah... Ayah akan dapat masalah, kan?".


"Iya, begitulah".


Mendapat jawaban, Dylan menghembuskan nafas panjang dan mulai menggaruk kepala belakang nya lalu berbicara.


"Baiklah, aku mengerti.... Aku akan pergi".


"Maaf ya".


Dylan memutuskan untuk menerima tawaran itu, dan Hyoga segera meminta maaf karena dia tahu, tidak seperti Filaret yang antusias. Dylan tampak sangat keberatan.


"Oh, aku hampir lupa.... Dylan pilihlah salah satu pelayan di mansion ini seperti yang Fira lakukan, agar kau bisa fokus belajar".


"Huh? Pelayan? Maksud ayah seorang pengurus, gitu? Buat apa? Aku bisa urus diriku sendiri".


"Hidup sendiri ditempat asing itu sangat sulit".


"Siapa yang sendirian aku kan pergi bersama Fira".


"Tapi, Fira itu adikmu bukan pelayanmu.... Fira saja memilih Tina untuk jadi pelayan selama belajar di Estonia..... Jadi, sudah seharusnya kau juga".


"Heeeee......".


Dylan yang mengetahui fakta itu, hanya bisa menunjukkan ekspresi kaget. Kemudian dia mulai berpikir keras untuk menentukan siapa pelayan yang harus dia pilih untuk menemaninya.


Setelah beberapa saat, Dylan akhirnya memutuskan satu nama, yang sebenarnya Dylan sendiri enggan untuk menunjuknya.


"Kalau gitu, aku pilih Sonia saja..... Toh, sejak dulu dia yang terkadang mengurus keperluan ku.... Walau aku bisa sendiri".


Hyoga sempat terdiam sesaat setelah mendengar Dylan memilih Sonia sebagai pelayannya selam belajar di Akademi Estonia.


"Baiklah, jika itu mau mu........ Meski kau dan Fira punya banyak waktu, sebaiknya gunakan itu untuk mempersiapkan semua yang kalian butuhkan selama di sana".

__ADS_1


Dengan ini.


Dylan yang sudah sekuat tenaga untuk tidak bertemu dengan sang Pahlawan Reiner beserta anggota Haremnya. Mau tidak mau harus bertemu dan terlibat dengan mereka.


Tapi, satu hal yang pasti. Saat kedua nya bertemu kejadian yang seharusnya sesuai dengan scenario pada gamenya akan berubah sangat drastis.


(------------)


Di atap mansion Arcadia pada malam hari.


Dylan sedang tiduran sambil menatap dan menikmati indahnya langit malam yang bertabur bintang seorang diri.


Meski tampak terlihat menatap langit, nyatanya pikiran Dylan sedang melalang buana, karena memikirkan soal dia dan Filaret yang harus pergi ke Akademi bangsawan Estonia di Ibukota Algrand.


(Aku akan pergi ke Akademi Estonia musim semi besok bersama Filaret..... Jujur saja, aku males banget untuk bertemu dengan Reiner dan para Haremnya...... Ditambah, ada kemungkinan bahwa aku akan berurusan dengannya.... Aku bisa saja kabur saat disana..... Tapi, nanti ayah dan ibu akan kena dampak dari perbuatan ku)


Dylan perlahan-lahan bangun dari posisi tiduran nya dan duduk bersila. Kemudian dia mulai menggaruk kepala belakangnya sambil mengeluh.


"Apa tidak ada solusi lainya, sih?"


"Kalau anda tidak mau pergi..... Tinggal tidak usah pergi saja, tuan".


Dylan segera menengok ke belakang untuk menemukan Sonia yang sudah berdiri disana.


"Sonia".


"Rekomendasi dari Yang Mulia Conrad sangat berat nilainya.... Tapi, yang paling penting adalah keinginan tuan Dylan..... Kalau masih ada keraguan di hati tuan. Anda tidak perlu melakukannya dan tetaplah di sini".


Dylan menghembuskan nafasnya setelah mendengar ucapan Sonia yang tampak khawatir.


"Aku senang kau mengatakan pendapat mu, Sonia..... Tapi masalahnya, ini soal rekomendasi dari Yang Mulia Conrad langsung dan bahkan Ritzia juga ikut terlibat..... Jika aku menolaknya, Ayah dan Ibu akan mendapatkan masalah..... Mana mungkin aku biarkan hal itu".


Sonia hanya terdiam sambil mendengarkan perkataan Dylan, tapi ekspresi wajahnya malah menjadi sangat gelap.


"Kalau Dylan tidak mau... Kau tidak perlu melakukannya.... Tapi, jika mereka masih memaksa...... Maka......".


Sonia menganggakat wajahnya yang dan menunjukkan kedua matanya yang menyala hijau dan berubah menjadi seperti jam, sambil terus mengeluarkan aura membunuhnya yang kuat.


"....... Bagi Kerajaan yang memaksa Dylan untuk berbuat hal yang tidak Dylan inginkan..... Aku bisa menghapusnya dari dunia ini".


"Sonia......".


Dylan sempat terkejut dengan pernyataan Sonia yang sangat berbahaya.


"...... Terimakasih karena sudah mencemaskan ku, Sonia. Tapi, kau tidak perlu sampai bercanda seperti itu, kan bahaya kalau ada yang mendengar".


"Aku tidak bercanda sama sekali".


Sonia menyatakan bahwa dia serius dengan perkataannya. Lalu, Dylan berdiri dan menatap langit malam dan berbicara.


Sonia langsung tersentak mendengar perkataan Dylan yang sekarang mulai menyentuh dadanya.


"Aku...... Takut dengan kekuatan ku sendiri..... Aku berpikir dengan kekuatan yang besar pasti ada bayaran yang setimpal..... Aku tahu.... Aku sudah terlalu lama lari dari kenyataan.... Tanpa sadar, bahwa ada orang diluar sana, yang melihat ku dengan pandangan penuh keyakinan.... Dan berharap aku bisa menjadi sosok yang luar biasa..... Agar aku dapat meraih harapan dan melindungi apa yang tidak bisa mereka lindungi maupun raih".


(Memang benar semua tindakanku ini hanya untuk menghindar dari Death Flag saja.... Tapi, ini takdirku. Aku tidak bisa lari terus.... Aku akan merubahnya, apapun resikonya).


"Juga.... Aku ingin melindungi tempat dimana keluarga dan orang-orang berhargaku berada".


Dylan segera melihat kearah Sonia dengan tatapan penuh tekad.


"Aku akan pergi dan bertemu dengan orang-orang kuat lainnya. Dan dari mereka aku akan belajar banyak hal. Lalu dengan pengalaman itu, aku akan menjadi cukup kuat untuk melindungi apa yang berharga bagiku dan merubah takdirku".


Sonia hanya terdiam saja saat melihat kebulatan tekad yang kuat ditunjukkan Dylan.


"Yah.... Aku bicara begitu, tapi nyata nya aku juga agak cemas. Agak aneh rasanya orang kayak aku berbicara kayak gitu.... Tapi, aku jadi lega karena Sonia bilang begitu..... Aku pikir..... Aku bisa melakukan sesuatu yang lebih keren".


"Dylan".


"Karena itu jangan cemas. Aku ini sudah 14 tahun".


"Dylan".


"Aku bukan anak kecil lagi dan ini hanya pergi ke Akademi saja".


"Dylan, Dylan".


"Ya ampun.... Iya, iya aku deng---".


Dylan terhenti saat melihat Sonia menatapnya dengan pandangan yang hangat. Lalu tiba-tiba Sonia berlari dan memeluk Dylan.


Dylan yang terkejut karena tindakan tiba-tiba Sonia yang memeluknya hanya bisa terdiam.


"So-sonia?".


Tidak ada jawaban untuk beberapa saat, barulah Sonia mulai berbicara.


"Apapun yang kau katakan di depanku. Kau tetaplah anak-anak".


"Aaaa.... Iya, bener juga sih".


"Tapi, jangan cemas. Karena apapun yang terjadi... Aku pasti akan melindungi mu".


Entah kenapa Dylan tersenyum setelah mendengar ucapan Sonia. Kemudian Dylan juga membalas pelukan Sonia sampai membuatnya terkejut.


"Baik... Sonia.... Aku jadi lega sekarang".

__ADS_1


Walaupun angin malam saat itu terasa sangat dingin, tetapi pelukan hangat Sonia membuat Dylan senang dan tenang.


Sekarang, Dylan tidak berniat menghindar dari Death Flag yang akan datang. Tapi, dia berniat menantang setiap Death Flag yang datang dan menaklukkan nya.


(---------------)


Keesokan paginya.


Saat ini Dylan sedang berbicara dengan Filaret di kamarnya. Dylan memberi tahu Filaret bahwa dia akan membawa Sonia sebagai pelayan pribadinya selama bersekolah di Akademi Estonia.


Filaret yang mendengar itu hanya mendengarkan dengan seksama. Dan setelah Dylan selesai bercerita, Filaret mulai buka suara.


"Hmmm... Aku paham kok, Nii-san....... Sebenarnya, kau ini ogah-ogahan buat bersekolah.... Tapi, karena kau tidak bisa menolak rekomendasi dari Raja makanya kau putuskan untuk tetap pergi agar Ayah dan Ibu tidak terkena masalah..... Jujur saja, aku senang bahwa kita akan satu sekolah.... Bahkan, Ayah menyuruh kita untuk masing-masing membawa pelayan..... Saat aku memilih Tina sebagai pelayan ku.... Nii-san memilih Sonia-san sebagai pelayan mu..... Mendengar hal itu aku rasanya ingin bilang "Oh, tentu saja. Kenapa tidak"..... Kau pikir aku akan mengatakannya begitu? Huh?".


Seketika senyuman Filaret berubah menjadi tatapan serius dan menunjukkan ekspresi kejengkelan di wajahnya, saat tahu Dylan memilih Sonia sebagai pelayannya.


"Memang apa salahnya aku memilih Sonia.... Toh, sejak dulu dia selalu menjadi pelayan pribadi ku..... Walau aku bisa mengurus semua sendirian".


"NII-SAN!!! APA KAU SAMA SEKALI NGAK NGERTI?!!!! PELAYAN LAKNAT ITU SELALU SAJA MENGGODA MU SETIAP ADA KESEMPATAN!!! ALASAN KENAPA DIA BELUM BENAR-BENAR MELANCARKAN AKSI BEJATNYA KEPADAMU.... ITU KARENA DI MANSION INI, BANYAK ORANG YANG SELALU MENGAWASI GERAK-GERIK NYA.... KARENA ITU, AKU YAKIN SEKALI.... SAAT DI AKADEMI NANTI ADALAH KESEMPATAN EMAS UNTUKNYA KARENA TIDAK SAKSI DAN TIDAK YANG MENGAWASI MAKANYA DIA AKAN MENYERANG SAAT NII-SAN SEDANG LENGAH.... APA KAU NGAK NGERTI BETAPA BAHAYANYA PELAYAN LAKNAT ITU?!!!!! Huh huh huh.....".


".........Sudah selesai yang teriak-teriak ngak jelasnya?".


Selama Filaret mengungkapkan alasan absrud nya, Dylan hanya memperhatikan sambil terus mendekap kedua tangannya. Dan setelah Filaret selesai berbicara Dylan memutuskan untuk berbicara.


"Dengar, Fira.... Aku kesini hanya untuk memberi tahu mu saja..... Bahwa aku akan membawa Sonia sebagai pelayan ku..... Dan aku tidak terlalu peduli mau kau mengizinkan nya atau tidak, aku akan tetap membawa nya".


Mendengar hal itu, Filaret mencoba untuk membujuk kakaknya.


"Kalau begitu pilih saja yang lainnya, kan bisa?... Ada Cindy, ada Jenny, ada Pricilla...... Mereka bisa menyiapkan semua kebutuhan Nii-san sama seperti Sonia........ Dan juga, jika mereka yang Nii-san bawa setidaknya kekhawatiran ku akan berkurang".


"Kau ini dari tadi ngomong apa? Aku sama sekali ngak paham..... Terus apa-apaan maksud dari "kekhawatiran ku akan berkurang" itu huh?".


Dylan yang sudah agak jengkel menghembuskan nafasnya dan melangkah pergi. Melihat itu, Filaret segera bertanya.


"Loh? Nii-san kau mau kemana? Aku belum selesai yang ngomong?".


Dylan menoleh kebelakang dan menjawab perkataan Filaret.


"Apapun yang kau katakan keputusan ku sudah bulat.... Aku tetap akan membawa Sonia sebagai pelayan ku..... Lagipula saat ini, ngomong sama kau itu kayak ngomong sama tembok".


Dylan segera menutup pintu dan pergi begitu saja. Meninggalkan Filaret yang shock karena dirinya di samakan dengan tembok oleh Kakaknya.


(----------------)


Meninggalkan Mansion Arcadia. Dylan saat ini berada di panti asuhan untuk bertemu dengan Aria. Tujuannya adalah untuk memberi tahu bahwa dia akan pergi ke Akademi Estonia.


"Eh? Dylan-san akan bersekolah di Ibukota?".


Aria terkejut saat mendengar kabar itu dari mulut Dylan sendiri.


"Yah, begitulah..... Aku akan bersekolah di sana. Dan jujur sebenarnya, aku ogah banget melakukannya".


"Etto.... Tapi, bukannya anda tidak bisa menolak rekomendasi dari Yang Mulia Raja, ya? Tapi, itu berarti Dylan-san tidak akan berkunjung kesini dan menengok anak-anak lagi".


Aria tampak sedikit kecewa dengan kepergian Dylan ke ibukota. Melihat itu Dylan berusaha menenangkan Aria.


"Tidak usah khawatir..... Lagian, aku juga akan sering menghubungi kalian dengan Protas saat libur dan aku kembali ke Arcadia dan mengunjungi kalian jika saat musim liburan datang".


Melihat jam saku dari kantongnya, Dylan segera berdiri dari kursinya dan berpamitan.


"Aku kembali dulu, Aria".


"Eh? Sekarang? Kenapa?".


" Itu karena aku masih ada beberapa hal yang aku persiapkan sebelum keberangkatan ku..... Oh dan satu hal lagi..... Jika kau butuh sesuatu atau ada kendala, jangan ragu untuk menghubungi melalui Protas, sebisa mungkin akan aku bantu... Sampai jumpa".


Dylan segera melangkah pergi meninggalkan Aria yang terlihat tampak cemas. Tapi, dia tidak bisa apa-apa walau sebenarnya dalam hati kecil dia ingin sekali Dylan tidak pergi.


Namun, apa daya.


Dia hanya seorang rakyat biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Dylan melaksanakan tugas nya sebagai bangsawan. Meski Aria sendiri tahu bahwa Dylan tidak mau melakukan nya.


(--------------)


Musim semi. Atau bisa dibilang musim panas di wilayah Arcadia.


Hari ini adalah hari dimana Dylan dan Filaret akan berangkat ke ibukota untuk mengikuti ujian masuk di Akademi Estonia.


Mereka saat ini diantar oleh Hyoga, Pavline dan beberapa staf yang bekerja di Mansion Arcadia.


Sebelum menaiki kereta mereka sempat berpamitan terlebih dahulu. Dimulai dari Hyoga.


"Kalian berdua jaga diri baik-baik disana, ya".


Lalu dilanjutkan dengan Pavline.


"Dy-chan selama di Akademi tolong bersikaplah yang lebih sopan.... Jangan terlalu bandel atau selengean, ya. Itu akan membuat semua orang merendahkan mu".


Kemudian, tidak lupa dengan Lucas.


"Tuan anda tidak usah khawatir. Selama anda di ibukota, saya akan pasti kan projek BMF akan berjalan lancar tanpa hambatan.... Begitupun dengan produksi item sihir yang anda buat.... Dan saya akan terus kirim laporan dan hasil penjualan nya".


"Baiklah, baiklah aku mengerti semua..... Kalau begitu aku dan Fira pergi dulu. Sampai jumpa".


"Tunggu dulu, Nii-san. Jangan tinggalkan aku".

__ADS_1


Dylan segera menaiki kereta disusul dengan Filaret dibelakangnya. Selang beberapa saat kereta pun mulai berjalan meninggalkan kota menuju ibukota Algrand.


__ADS_2