Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 27 : Masa Lalu Oscar part 2.


__ADS_3

Kemudian, Oscar mendaftarkan diri sebagai ksatria dan dalam waktu singkat dia berhasil mendapatkan prestasi yang banyak.


Seiring berjalannya waktu, Oscar mulai sering diberikan misi-misi penting dan mendapatkan banyak kepercayaan dari banyak orang.


Oscar sendiri memanfaatkan gelarnya sebagai ksatria sekaligus untuk mengasah kemampuan dan skill Berserk yang dia miliki.


Prestasi dan pencapaian Oscar, akhirnya berhasil dilirik oleh para The Oracle's dan menawarkan untuk menjadi bagian dari 10 ksatria suci bawahan The Oracle's.


Sekaligus menjadikannya seorang bangsawan meski tanpa wilayah untuk di kelola. Dan dia diberi nama belakang Niville Dragonia.


Meski sudah menjadi bagian dari 10 ksatria suci. Oscar tidak melupakan keberadaan Irene, bahkan dengan bantuannya. Irene berhasil mendapatkan pekerjaan di Istana Raja sebagai seorang pelayan.


Dan karena berhasil menunjukkan kemampuan nya sebagai pelayan, Irene diberi mandat untuk menjadi pelayan pribadi Putri Sylvia sendiri.


Oscar sendiri masih melakukan tugasnya sebagai anggota 10 ksatria suci. Keduanya sepakat untuk berpura-pura tidak saling mengenal saat berada di Istana.


Setelah menjadi ksatria suci selama hampir 8 tahun lamanya, momen yang ditunggu oleh Oscar datang.


Raja William yang mendapat titah dari para The Oracle's memberikan pengumuman kepada 10 ksatria suci bahwa dia akan memilih salah satu dari mereka sebagai pasangan dari Putri tercintanya Sylvia fou Rachael dengan syarat mereka harus saling bertarung.


Terlepas dari Viviana de Spawn, Yumaria Fin Lindsay karena keduanya adalah 2 anggota Ksatria suci yang wanita.


Luke James Asher sebagai ketua 10 Ksatria suci menolak tawaran Raja William, karena merasa merasa itu titah yang aneh dan mencurigakan.


Tersisa 7 anggota termasuk Oscar yang setuju dengan tawaran ini. Dan akhirnya pertarungan antar mereka dimulai.


Selama pertarungan berlangsung Oscar dengan mudahnya mengalahkan 6 ksatria lainnya dan berhasil menang. Tapi, seketika perasaannya campur aduk.


Di satu sisi, dia senang karena tinggal satu langkah lagi akan menjadi Raja. Di sisi lain, dia merasa muak.


Karena dia merasa teman sesama ksatria nya sangatlah lemah, Luke yang menolak seolah-olah meremehkannya, dan seorang Raja yang tidak punya wibawa yang dengan mudah di perintah oleh The Oracle's.


Menyadari fakta ini, Oscar mengeluarkan kekuatannya dan mulai mengayunkan pedangnya ke segala arah sambil mengeluarkan semua keluh kesahnya.


"SIALAN, APA-APAAN INI?!!! KALIAN PARA KSATRIA DAN RAJA DI SANA ITU SANGATLAH LEMAH!!! DASAR SEKELOMPOK ORANG-ORANG BAJINGAN!!! KALIAN PARA KSATRIA, KAN?!!!! KENAPA KALIAN SELEMAH INI!!! APA YANG SEMUA KALIAN LAWAN ITU ORANG LEMAH?!!! ITULAH KENAPA KALIAN MENJADI LEMAH!!!..... ATAU KALIAN SUDAH PUAS DENGAN PENCAPAIAN KALIAN SELAMA INI?!!!".


Kemudian Oscar menodongkan pedangnya kearah Raja William dan mulai berbicara.


"DAN KAU!!!! KAU ADALAH SEORANG RAJA, KAN?!!! DIMANA KEWIBAWAAN MU ITU?!!! MANA KEBIJAKSANAAN MU DAN KEHEBATAN MU SEBAGAI RAJA!!!! KENAPA KAU MENYERAHKAN KEPUTUSAN SOAL NASIB KERAJAANMU INI DAN PUTRIMU SENDIRI DI TANGAN PARA TUA BANGKA SIALAN ITU?!!!! JANGAN DIAM SAJA!!!! JELASKAN SEMUANYA, BANGSAT!!!!! AAAAAGGGGHHHH...!!!!".


Puas mengamuk dan mengeluarkan seluruh keluh kesahnya, Oscar tertunduk dan mulai meneteskan air mata.


"Kenapa aku harus berjuang dan bekerja keras?..... Lalu untuk apa aku berusaha menjadi yang terkuat?..... Bukankah, kekuatan yang menjadikan kalian Ksatria suci dan seorang Raja........ SIALAN!!!!".


Oscar menangis sejadi-jadinya, dan hal itu disaksikan oleh semua orang dengan pandangan penuh belas kasihan bukan tatapan kebencian.


Begitupun dengan Irene yang ikut meneteskan air mata. Setelah mendengar semua keluh kesah dan rasa lelah yang disembunyikan Oscar selama ini.


(--------------)


Beberapa hari kemudian.


Oscar sedang berbicara dengan Irene di depan gerbang Istana. Dia berencana untuk melancarkan aksi nya, yaitu menyerang Kerajaan Ingrid dengan menginvasi wilayah Arcadia.


"Kalau begitu, aku pergi dulu Irene".


Irene tertunduk diam karena dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi, dia segera mengangkat wajahnya dan mulai berbicara.


"Kumohon jangan pergi.... Aku yakin pasti ada cara lainnya".

__ADS_1


Irene berusaha mencegah Oscar pergi dan melancarkan aksi nya. Namun, Oscar hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak kesetujuan nya.


"Begitu ya".


Oscar segera berbalik dan meninggalkan Irene yang tertunduk. Baru berjalan sampai depan gerbang, langkah Oscar terhenti dan dia sempat melirik kearah belakang nya.


"Apa ini?.... Aku yakin, kau tidak datang kesini untuk membiarkan ku pergi, kan. Luke?".


Ternya, Luke sudah berada di belakangnya Oscar sambil menyandarkan punggungnya ke dindingnya.


"Benar..... Sebagai Ketua dan atasanmu, aku harap kau merubah keputusanmu itu.... Jika kau melakukannya, ini akan menjadi masalah yang besar..... Sekalipun, kau bisa mengalahkan "Pendeta Pedang Es dan Cahaya" Hyoga.... Kerajaan Ingrid masih memiliki orang-orang yang setara dengan nya..... Terutama, si "Pedang Matahari" Leon Sera Belmont.... Memangnya, kau pikir bisa mengalahkan keduanya?".


"Huh? Ngak usah sok peduli denganku.... Aku tidak sudi, berbicara dengan seseorang yang bahkan tidak mau melawanku dalam pertandingan".


Oscar mengeluarkan aura mengintimidasi yang kuat. Namun, Luke menanggapi nya dengan santai dan mulai berbicara.


"Oh, itu benar..... Tapi, kau pasti tahu, kan?..... Apa yang akan terjadi padamu..... Jika aku terlibat".


"Cih".


Oscar meludah karena dia paham apa yang dimaksud oleh Luke barusan.


"Hei, Luke..... Jika di dunia ini, ada yang bisa menghentikan seseorang hanya dengan ucapan dan janji manis. Hidup itu tidak akan sulit.... Itulah kenapa, kita memerlukan kekuatan.... Jadi, ingatlah itu baik-baik".


"Hmmm.... Kalau begitu lakukan saja sesukamu, aku tidak akan menghentikan mu".


Luke mengatakan bahwa dia tidak akan menghentikan Oscar dalam melaksanakan rencananya.


"Dengar Luke..... Kerajaan ini akan aku rubah.... Setelah akan merebut posisi Raja..... Kemudian, akan aku singkirkan para The Oracle's itu dengan cara ku sendiri".


Oscar kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Luke yang menatapnya dari belakang


(----------------)


Kembali ke Irene dan Dylan yang saat ini ada di taman Asrama.


"Ummm.... Dylan-san.... Kau orang yang mengalahkan Kakakku, kan?...... Bagaimana saat terakhirnya?..... Apa dia mengatakan sesuatu?".


Dylan terdiam sesaat dan mengingat kembali ketika dia menghadapi detik-detik terakhir Oscar.


"Dia bilang pertarungan kita sangat menyenangkan".


Irene berbalik dan menatap langit malam penuh bintang.


"Ah..... Kalau begitu, baguslah..... Setidaknya, dia bersenang-senang..... Dengan pertarungan nya".


Irene kemudian mulai meteskan air matanya, yang menandakan bahwa dia benar-benar sangat sedih saat kehilangan sosok penyelamat dan Kakak laki-laki nya.


Melihat itu, Dylan hanya bisa memberikan tatapan hangat tanpa bisa berkata apa-apa. Walau ekspresi wajah tetap tenang, di dalam hatinya Dylan merasakan perasaan yang campur aduk.


(Rasa sakit dari kehilangan seseorang yang kau sayang adalah hal yang wajar..... Namun, aku tidak merasa bersalah atas apa yang sudah aku lakukan..... Di dalam game, Oscar adalah orang yang bertanggung jawab atas hancurnya wilayah Arcadia dan memakan banyak korban jiwa..... Tapi, aku cukup beruntung bisa mengehentikan nya..... Dan semua itu kulakukan semata-mata hanya untuk menghindar dari Death Flag..... Tapi, itu tidak merubah fakta pertarungan kami itu adalah untuk bertahan hidup dan siap yang lebih pantas...... Sekarang, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Irene..... Dia merasakan rasa sakit dan kesedihan yang sama denganku dimasa lalu..... Rasa sakit dan sedih saat kehilangan kedua orang tuaku.... Jadi, aku tidak punya hak atas-----).


"Hei.... Dylan....".


Dylan yang sedang merenung di kejutkan oleh panggilan Irene.


"......Kenapa, kau menangis".


"Eh?".

__ADS_1


Tanpa Dylan sadari dia juga ikut meneteskan air mata nya.


"Tidak, aku tidak..... Aku tidak melakukannya untuk menangis. Jadi, kenapa....?".


Dylan buru-buru menyeka air matanya dan membuat alasan agar Irene tidak salah paham.


"Tahu, tidak?.... Kau itu sangat baik".


"Aku...... Tidaklah, sebaik itu".


Nyatanya, Irene malah tersenyum melihat Dylan yang meneteskan air mata. Dan bahkan dia memuji sikap Dylan. Tapi, Dylan mencoba menyangkal pujian Irene.


"Tidak, kamu itu orang baik Dylan-san..... Seorang pria yang mencoba menghancurkan kota dan membunuh keluargamu, dan sekarang kau disini.... Menangis untuk adik perempuan nya..... Aku tidak berpikir ada orang diluar sana yang bisa melakukan apa yang kau lakukan".


"Meski begitu...... Tidak ada jaminan, kalau aku ini sebaik itu".


(Ini hanya simpati dan belas kasihan.... Tidak lebih).


Irene segera membalikkan badannya dan menghadap Dylan dengan tatapan hangat.


"Yah, belas kasihan atau bukan..... Tidak merubah fakta Oscar Nii-san tewas di tangan seorang pria yang masih bisa menangis".


Keheningan terjadi diantara keduanya. Lalu, Irene kembali berbicara untuk memecah suasana.


"Kau tahu, kan? Kalau aku sangat menyayangi nya...... Tapi, aku tidak pernah berpikir bahwa, sikapnya benar soal keinginannya menjadi Raja".


"Benarkah?".


Dylan terkejut dengan apa yang barusan dia dengar dari mulut Irene sendiri. Bahwa dia sendiri tidak setuju dengan keinginan Oscar.


"Kupikir dia mungkin benar.... Kalau musuh, yang sama dari bangsa lain akan menghentikan perselisihan internal yang melanda Kerajaan Rachael..... Tapi, aku yakin..... Jika perang besar yang dia inginkan.... Hanya akan menjadi lebih mematikan daripada yang tengah terjadi saat ini".


"Lalu, kenapa kau tidak menghentikan langkahnya itu?".


Irene menggelengkan kepalanya dan kembali berbicara.


"Dari dalam lubuk hati ku..... Aku paham perasaannya.... Bahkan meski dia melakukannya dengan cara yang salah.... Aku merasa masih ada kesempatan dia bisa membuat semuanya jadi lebih baik..... Kurasa dia juga tahu, kalau dia memilih jalan yang salah.... Tapi, dia tidak mau berhenti selama kami bersama..... Dia ingin melakukan sesuatu.... Apapun itu, untuk orang seperti ku yang jatuh diantara celah retakan tanpa harapan.... Kupikir dia ingin seseorang memberitahu bahwa dia "salah"..... Dia ingin ada orang yang menghentikan "amarah" nya...... Karena Raja dan Ksatria suci selain Luke-san... Hanyalah, boneka mainan para The Oracle's.... Tapi dia sudah tahu, bahwa dia tidak bisa mundur dari pertarungan begitu saja".


"Maksudnya, Oscar ingin dirinya di hentikan?".


"Aku tidak tahu.... Tapi, setidaknya terlihat seperti itu bagiku..... Dan..... Kau, akhirnya bisa menghentikan Kakakku.... Terimakasih, Dylan-san".


Irene menunjukkan rasa terimakasihnya yang paling dalam dari lubuk hatinya dan memberikan senyuman penuh ceria dan kelegaan.


Sementara Dylan membalasnya dengan memberikan tatapan hangat.


"Sudah ku bilang.... Aku tidak sebaik itu..... Semua yang aku lakukan hanyalah mempertahankan diri.... Aku tidak berpikir itu layak mendapatkan ucapan terimakasih".


"Hm... Ucapan itu lebih untuk kepuasan ku sendiri.... Kau mau menerimanya atau tidak, itu tidak masalah.... Aku hanya ingin mengatakannya saja".


"Heeee.... Dasar licik".


"Tehehe....".


Dylan kemudian menatap langit yang perlahan-lahan menunjukkan bahwa matahari akan segera terbit sambil tenggelam dalam pikirannya.


(Aku mengukir di dalam hati dan pikiranku.... Tindakan untuk menghindari Death Flag.... Tidak menjamin akan menjadi hal yang membahagiakan untuk ku maupun orang-orang disekitar yang terpengaruh..... Aku juga ingin melindungi orang-orang yang baru kutemui di kehidupanku ini..... Perjalanan ku masih jauh.... Siapa yang tahu..... Apa yang akan aku hadapi nantinya).


Dengan menatap matahari terbit di langit, Dylan kembali membulatkan tekadnya. Bahwa dia tidak akan menghindar dari Death Flag yang akan datang.

__ADS_1


Tapi, dia akan menantang dan menghancurkan Death Flag kemudian menulis takdirnya sendiri.


__ADS_2