Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 48 : Arnold vs Hendry part 4.


__ADS_3

Terdiam dan terperangah.


Hanya kedua hal itu yang bisa menggambarkan ekspresi wajah dari Hendry. Dia tidak menyangka, bahwa Arnold yang nyawanya sudah ada di ujung tanduk masih mencoba untuk berdiri dan melawan.


Belum lagi, senyuman tak kenal takut dan matanya yang menatap tajam kearah Hendry tanpa keraguan sedikitpun.


Entah mengapa, tiba-tiba Hendry merasakan rasa merinding yang luar biasa. Dan karena itulah dia memutuskan untuk melompat mundur dan menjaga jarak darinya.


(Apa-apaan bocah ini? bahkan setelah aku tusuk perutnya..... Dia masih tetap berdiri tegak..... Meski dia berada di ambang kematian..... Bagaimana bisa di punya tenaga seperti itu?).


Hendry kebingungan dengan apa yang ada didepan matanya, ketika dia melihat Arnold masih berdiri tegak.


"Hei, Hendry-san....... Apa yang kau takutkan?".


Dengan ekspresi wajah dan senyuman menyindir Arnold bertanya kenapa Hendry seperti menjaga jarak darinya.


"..... Huh?..... Aku takut?..... Maksudmu..... Aku takut pada..... Bocah sepertimu?".


Tidaknya menjawab, Arnold merespon pertanyaan itu dengan senyuman penuh sindiran. Menyadari hal itu, tentu saja amarah Hendry semakin memuncak.


"Jangan terlalu besar kepala, bocah tengik..... Sekarang aku telah memiliki kekuatan yang kuat dan sempurna.... Diriku yang sekarang adalah wujud dari makhluk tinggi".


(Iya itu benar.... Sekarang aku tidak akan terkalahkan..... Dan aku pasti bisa membunuh kedua orang itu).


Bayangan di saat Hendry di kalahkan dan di permalukan oleh Luke dan Rufus. Dan itu kembali membuat emosinya kembali meningkat drastis.


"AKU TIDAK PERNAH MERASA TAKUT....!!!".


"Aku tahu kok".


Belum bisa menyelesaikan perkataannya, Arnold kembali memotong perkataan Hendry.


"Aku tarik kembali pujian ku soal dirimu yang "jenius"..... Karena nyatanya..... Alasan kenapa kau kalah dari Luke-san dan Rufus-san..... Itu karena....... Kau itu lemah".


Mendengar perkataan Arnold sambil menunjukkan kearah Hendry, dan membuatnya semakin tambah emosi.


"Aku.... Lemah.... Katamu".


"Iya.... Kau memang lemah".


Hendry kembali tersentak mendengar ejekan dari Arnold tanpa ragu sedikitpun. Kemudian, Hendry sempat mengambil beberapa tarikan nafas sebelum akhirnya dia tenang dan tersenyum kearah Arnold.


"Hah..... Kalau begitu...... TUNJUKKAN PADAKU!!!!".


Setelah mengatakan itu, Hendry segera melesat kearah Arnold dengan kecepatan tinggi dan mendaratkan serangan kepada Arnold.


Adu pedang dengan kecepatan tinggi terjadi kembali diantara keduanya, dan kali ini Hendry mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia punya untuk benar-benar mengalahkan Arnold.


Tapi, sekeras apapun usaha yang di kerahkan Hendry bahkan sampai melapisi dan memperkuat serangannya dengan sihir.


Arnold masih tetap berdiri dan bertahan dari semua hujaman serangan yang tidak ada hentinya itu. Melihat hal itu, membuat Hendry semakin kebingungan dan mulai panik.


(Bagaimana, bagaimana bisa..... Dia masih berdiri dengan tegaknya..... Apa yang sebenarnya terjadi?).


"Fiuh.... Nah, ayo kita lanjutkan, Hendry-san".


Melihat Arnold yang berdiri tersenyum dan bersiap untuk kembali melanjutkan pertarungan. Entah mengapa rasa merinding yang dirasakan Hendry semakin kuat.


Dan sekarang, dia melihat kedua tangannya yang mulai bergetar menandakan bahwa rasa merinding yang dia rasakan tidak lain adalah rasa takut yang teramat sangat.


(Tidak mungkin.... Aku ini kuat.... Aku makhluk sempurna).


Meski begitu, Hendry mencoba untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak takut sama sekali.


"TIDAK, TIDAK, TIDAK, TIDAAAAAAK......!!!!!!!".


Sambil berteriak sekeras-kerasnya, dari lengan kiri Hendry mulai muncul sesuatu yang mirip dengan gagang pedang.


Dan ketika di tarik keluar, ternyata itu adalah sebuah pedang besar tajam dan panjang yang muncul secara misterius.


Lalu, Hendry dengan tatapan mata penuh dengan amarah dia kembali berbicara.


"Aku adalah Hendry fou Anselmus..... KSATRIA TERKUAT DAN KEBANGGAAN KERAJAAN STROST...... Gram Thunder Sword : Blaze Purple Of Glory!!!"


"MAJULAH KESINI, HENDRY-SAN..... Siden Sword Technique : Absolute Destroying Cyrcle!!!".


Tabrakan dua bilah pedang kuat yang di lapisi sihir terjadi. Ledakan dahsyat hang di hasilkan benar-benar sanggup menghancurkan arena sekitar nya.


Efek hembusannya saja dapat, menerbangkan bebatuan, air, dan debu kemana-mana. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi karena terang nya kekuatan keduanya yang saling beradu.


Lalu, hal yang mengejutkan terjadi.


Secara tidak langsung, serangan Arnold berhasil dipatahkan oleh Hendry. Yang membuat Arnold terkejut.


"TAMATLAH KAU, AL!!!!".


Belum sampai di situ saja, melihat adanya celah Hendry berusaha menusuk lagi Arnold dengan pedang besarnya. Karena tidak mau tertusuk untuk kedua kalinya, Arnold mencoba memblokir serangan itu dengan pedangnya.


"Ugh".


Akibatnya, karena tidak kuat menahan serangan yang sangat kuat itu, Arnold pun terpental kebelakang dengan kecepatan tinggi dan menabrak dinding goa dengan sangat keras. Kemudian terkapar tak berdaya di tanah.


Melihat Arnold yang terkapar tak berdaya membuat Hendry tersenyum puas. Tapi.


"HIHIHIHI......... Hahahaha....... ".


Arnold yang terkapar tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras, bahkan suaranya menggema di dalam goa itu. Setelah itu, Arnold perlahan-lahan mulai bangkit kembali.


"Norak sekali...... Apa kau sudah mulai gila?".


Hendry yang kebingungan dan keheranan mengejek sikap Arnold yang menurutnya mulai aneh.


"Uh-uh...... Aku tahu.... Apa yang diperlukan untuk menghadapi kelemahan mu sendiri..... Untuk melawan kembali........ Kurangnya pengalaman Anda.... dan..... Mencoba untuk mengatasinya.... Dibutuhkan kebulatan tekad....... Dan semangat juang yang tak kenal lelah.... Sayangnya kau tidak memiliki kedua hal itu..... Dan itulah alasan kenapa kau sangat lemah".


"APA?!!!!".


Hendry benar-benar dibuat terkejut dengan perkataan Arnold. Dan tak berselang lama energi sihir dari tubuh Arnold mulai meningkat drastis dan itu juga mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Sekarang....... Aku kerahkan seluruh kekuatanku untuk melawan...... Unique Skill aktifkan..... Unstoppable Force".


Sebuah ledakan energi sihir yang sangat luar bisa kembali terjadi dan kali ini berpusat pada Arnold. Kejadian itu membuat Hendry menggunakan kedua tangan untuk menghalau debu-debu yang berterbangan.


Setelah ledakan itu mulai mereda, Hendry terkejut dengan apa yang dia lihat. Yang dia lihat adalah Arnold yang berdiri tegak menatap tajam kearahnya, dengan badannya yang sudah pulih dari semua luka, bahkan luka tusukannya Sudak tertutup sempurna.


Dan yang lebih mengejutkan adalah, munculnya garis-garis yang seperti aliran mirip dengan garis pada sebuah sirkuit sihir berwarna kuning.

__ADS_1


Setelah itu, Arnold menodongkan pedang kearah Hendry dan mulai buka suara.


"Sekarang, saat kita masuk kebagian klimaksnya.... Setuju, kan? Hendry-san".


"Bocah tengik".


Umpat Hendry ketika dia mendengar tantang dari Arnold yang tersenyum sinis tak kenal takut kearahnya.


(------------------------)


Di mansion milik Akademi Estonia.


Saat ini Reiner sedang berdiri diam di balkon sambil menatap langit malam yang di hiasi oleh bintang-bintang dan cahaya rembulan.


Meski menatap langit malam yang indah, nyatanya pikiran Reiner justru sedang memikirkan hal yang lain.


Yang dia pikirkan adalah kejadian dimana Lafia menamparnya di depan banyak orang dan juga secara sepihak membatalkan pertunangan mereka.


2 kejadian yang tidak pernah dia sangka terjadi begitu cepat. Tentu saja, itu membuatnya kesulitan untuk mencerna bahkan dia masih saja sempat menyentuh pipi bekas tamparan Lafia.


Walau rasa sakitnya sudah hilang, tapi entah mengapa Reiner masih saja memegangnya seolah-olah masih terasa.


(Lafia..... Apa yang sebenarnya terjadi padamu?..... Kau menamparku tanpa alasan yang jelas? Lalu membatalkan pertunangan kita?...... Padahal, aku hanya ingin menyelamatkan, Claudia-san?...... Dan, apa maksudnya mulai kita adalah orang asing?).


"Disini, rupanya kau Reiner".


Saat Reiner sedang merenungi semua yang terjadi, suara seorang gadis tiba-tiba terdengar menyapanya.


Begitu dia menoleh rupanya suara itu berasal dari Flora yang muncul di hadapannya.


"Oh, Flora".


"Sedang apa kau disini?".


Sambil tersenyum ceria, Flora menanyakan alasan Reiner berada di balkon sendirian sambil menatap langit malam.


"Oh..... Aku hanya sedang mencari udara segar saja".


Meski mendapatkan jawaban cepat dari Reiner, Flora bisa tahu alasan kenapa Reiner berada di balkon, karena dia sempat melihat cincin pertunangan yang dikembalikan Lafia di tangannya.


"Ayolah, aku tahu alasan sebenarnya kau ada disini...... Kalau kau tidak keberatan kenapa kau tidak sedikit cerita kepadaku".


Sambil berdiri di sebelahnya Flora meminta Reiner untuk menceritakan semua yang terganjal di hatinya.


Terdiam sesaat, Reiner akhirnya mulai bercerita.


"Jujur saja...... Aku tidak tahu harus bagaimana? Entah kenapa belakangan ini, sifat Lafia terhadapku mulai berubah drastis..... Dia dulu selalu menjadi gadis yang mengikuti ku kemanapun aku pergi..... Dan setiap kali aku tanya, dia akan menjawab "aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak mau berpisah dengan mu"...... Meski sikapnya terkesan seperti penguntit, tapi aku tidak mempermasalahkan nya karena aku sendiri sangat senang bila dia terus bersamaku..... Bahkan saat dia bilang akan ikut mendaftar ke Akademi Estonia, aku sangat senang mendengar nya".


Lalu Reiner mulai menundukkan kepala dan melanjutkan ceritanya.


"Tapi, justru sejak saat itulah sikapnya kepadaku menjadi berubah.... Entah kenapa, dia tiba-tiba perlahan demi perlahan menjauh dariku.... Dia juga jarang berbicara denganku..... Setiap kali aku mengajaknya pergi, dia selalu saja menolak dengan berbagai alasan...... Awalnya, aku kira dia hanya ingin fokus belajar selama di Akademi.... Jadi, aku putuskan untuk sedikit mengabaikannya..... Namun, entah mengapa dia menjadi sangat marah kepadaku hanya karena ingin menolong nona Claudia...... Bahkan dia sampai menamparku tadi dan tiba-tiba ingin membatalkan pertunangan kita".


Reiner kemudian melihat cincin pertunangan kedua


"Aku terus kepikiran, kenapa dia bisa berubah sikap seperti itu..... Sebenarnya apa yang sudah terjadi?".


Reiner tertunduk lesu setelah bercerita kenapa Lafia yang sikapnya tiba-tiba berubah. Mendapati Reiner yang tampak lesu.


Flora tidak menunjukkan rasa simpati sama sekali, sebenarnya Flora sendiri tidak begitu peduli dengan perubahan sikap Lafia. Karena sejak awal mengenal gadis itu, Flora tidak menunjukkan ketertarikan apapun. Bahkan di tingkat dia tidak peduli sama sekali.


"Emmm..... Jujur, aku tidak tahu harus mengatakan apa?..... Tapi, Reiner-san.... Ini hanya opiniku saja sih, "mungkin saja" perubahan sikap Lafia kepada mu....... Itu karena pengaruh dari orang lain".


Reiner seketika tersentak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Flora. Dan dengan sigap dia langsung menoleh kearah Flora yang terduduk di sebelah kanan.


"A-apa maksud, Flora?..... Apa kau ingin bilang bahwa sikap Lafia berupah karena dipengaruhi oleh orang lain?".


Melihat respon Reiner, membuat Flora tersenyum dan kembali berbicara.


"Etto..... Itu sih cuma dugaan ku saja..... Tapi, bukankah itu aneh?..... Soalnya, Lafia itu kan sangat mencintai mu. Bahkan dia rela melakukan apapun yang kau minta dengan segala cara dan mengikuti mu kemanapun kau pergi...... Namun, entah kenapa sejak dia masuk Akademi, sikap nya itu mulai menjadi dingin kepadamu..... Bahkan terkesan tidak peduli lagi kepadamu..... Menurutku, sikapnya itu kepadamu tidak akan bisa berubah begitu saja tanpa ada campur tangan dari oleh orang lain, kan".


Reiner segera merenung dengan sangat dalam setelah mendengar apa yang dikatakan Flora. Dan setelah sedikit memakan waktu, Reiner kembali berbicara.


"Kau benar juga..... Lafia tidak akan berubah begitu saja, tanpa ada yang mendoktrin nya....... Lalu Flora, apa kau punya orang yang kemungkinan besar menjadi pelakunya?".


Reiner yang merasa perkataan Flora itu benar, mencoba bertanya kepadanya.


"Etto..... Aku sih mungkin saja tahu siap orang nya..... Tapi, rasanya aku ngak enak yang mengatakannya".


"Tidak apa-apa katakan saja".


Dengan sedikit paksaan dari Reiner, akhirnya Flora memutuskan untuk buka suara soal orang yang mungkin menjadi penyebab perubahan sikap Lafia.


"Etto...... Kurasa..... Orang itu..... Adalah..... Dylan".


"Eh?...... Dylan, katamu?".


Seketika Reiner terdiam mematung. Pikirannya menjadi kosong karena sulit mencerna apa yang didengarnya dari mulut Flora.


"Coba kau pikirkan baik-baik...... Kita memang tidak tahu kapan Lafia dan Dylan bertemu..... Tapi, terlepas dari itu semua...... Seperti yang kau dan aku tahu..... Akhir-akhir ini, Lafia lebih sering menghabiskan waktu bersama seluruh siswa Kelas 1-S...... Dan bukan sekali saja, kita memergoki Lafia berduaan dengan Dylan, kan?".


Argumen Flora membuat Reiner kembali teringat akan momen-momen dimana dia tidak hanya sekali tapi beberapa kali melihat Dylan dan Lafia terus bersama.


Seperti saat di taman Akademi, di kantin, dan perpustakaan. Dari ingatan itu, Reiner tahu bahwa Lafia menunjukkan ekspresi yang berbeda .


Setiap kali Lafia bersama dirinya, gadis itu selalu menunjukkan ekspresi yang murung dan lelah. Tapi saat bersama Dylan, dia menunjukkan ekspresi yang ceria dan penuh dengan semangat.


Awalnya, dia ragu dengan semua yang dia lihat. Tapi, semua menjadi semakin jelas setelah Lafia dengan tersenyum ceria dan memuji Dylan di depan dirinya dan semua siswa lainnya.


"Kau benar, Flora..... Aku juga merasakan hal yang sama..... Lalu aku harus bagaimana?".


Melihat Reiner yang tampaknya setuju dengan pendapat nya. Flora semakin tersenyum puas dan dia segera kembali berbicara.


"Simpel saja...... Kau harus membuktikan kepada Lafia, bahwa Dylan bukanlah orang baik seperti yang dia katakan dengan segala cara".


Mendengar hal itu, Reiner mulai merenung untuk beberapa saat. Setelah mengumpulkan kesimpulan dalam dirinya, Reiner kembali berdiri dan kali ini tampak wajah penuh percaya diri.


"Kau benar Flora..... Aku harus mencari cara untuk membuktikan bahwa Dylan bukan orang baik seperti yang dia kira...... Terimakasih atas sarannya, Flora..... Aku pasti akan menyadarkan Lafia dan mengembalikan dirinya seperti Lafia yang dulu".


"Berusahalah, aku pasti akan mendukung mu".


Melihat Reiner yang bertekad membuktikan kepada Lafia bahwa Dylan bukanlah orang baik, di dukung sepenuhnya oleh Flora.


Tapi, keduanya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah mendengar percakapan mereka berdua dari tadi dibalik bayangan.


Orang itu adalah gadis cantik berambut hijau dan mata yang berwarna sama dengan dadanya yang berisi. Setelah diperhatikan lagi, rupanya orang itu adalah Zuzan.

__ADS_1


"Ngak Flora, Ngak Vanessa..... Mereka berdua selalu saja menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang mereka mau".


Setelah mengatakan itu, Zuzan mengambil sebuah foto yang dia simpan di sela-sela dada besarnya.


Di foto itu tampak foto dirinya yang masih kecil dengan ekspresi bahagia menggandeng tangan seorang anak laki-laki berambut hitam acak bermata biru tua yang memasang ekspresi cuek.


Melihat foto itu membuat, ekspresi senang tampak di wajahnya dan pipinya menjadi warna merah. Lalu dia memeluk foto itu di dada nya dengan kedua tangannya.


"Awalnya, aku benar-benar jengkel karena "kau" sama sekali tidak mengingatku...... Dan sejak kejadian di Dungeon, aku terus dihantui oleh rasa bersalah karena kelalaian yang aku perbuat sehingga "kau" sampai jatuh ke jurang....... Aku benar-benar tidak sengaja....... Saat "kau" kembali aku benar-benar sangat senang...... Aku ingin sekali mendapatkan pengampunan darimu...... Dan aku ingin "kau" kembali teringat akan "janji" kita waktu masih kecil..... Saat kita dewasa nanti, kita akan menjadi sepasang suami-istri".


Zuzun kembali menoleh kearah, Reiner dan Flora lalu kembali berbicara.


"Tak akan aku biarkan siapa pun menyakiti mu".


Dengan tatapan mata yang di penuh dengan tekad kuat. Zuzan berencana untuk mengambil sebuah tindakan untuk melindungi seseorang yang penting baginya itu.


Siapakah orang itu?


Kita bahas lain kali.


(--------------------)


Kembali ke pertarungan antara Arnold dan Hendry yang sudah mencapai klimaksnya.


Unstoppable Force.


Adakah Unique Skill milik Arnold yang memberikan peningkatan efektivitas pada daya serang hingga 50 kali lipat meski cuma ayunan pedang biasa dan fleksibilitas pada pertahanan hingga 50 kali sekaligus memberikan efek kebal terhadap apapun serangan yang dia terima.


Kelemahan dari Unique Skill ini adalah, ketika skill ini di non aktifkan, maka semua damage yang di terima Arnold selama pertarungan akan mulai terasa dan juga seluruh anggota tubuhnya menjadi kaku sehingga dia akan mengalami kelumpuhan untuk sesaat.


Adu pedang kedua benar-benar sangat lah intens, tapi yang membedakannya adalah kali ini bukan Arnold yang kesusahan melainkan Hendry lah yang kesusahan.


Setiap serangan yang dia lancarkan selalu saja tidak berhasil dan bahkan tidak benar-benar memberikan damage yang serius. Di sisi lain, justru serangan Arnold benar-benar memberikan damage yang luar biasa, bahkan serangan nya tidak bisa diblokir dan sulit untuk di hindari.


(Sial, sial, sial, sial...... Siapa sebenarnya bocah ini?!!! Dia sudah berada diujung jurang kematian... Bukankah kekuatannya itu sudah habis?.... Unique Skill apa ini?..... Bagiamana dia tidak takut?.... Bagaimana dia tidak memohon ampun? Bagaimana.... Bagaimana dia masih tersenyum?.... Bagaimana, bagaimana.... Bagaimana dia masih sanggup berdiri dan melawanku?!!!).


Sambil beradu pedang, Hendry dibuat kebingungan karena Arnold sama sekali tidak menunjukkan rasa takut dan bahkan dia masih bisa tersenyum lebar kearahnya.


"Kenapa, Hendry-san?...... KAU MERASA TAKUT, KAN?!!!".


Di momen itu keduanya saling mengayunkan pedang, saling bentrok dan saling dorong satu sama lain sehingga tercipta sebuah ledakan sihir yang dahsyat dari itu.


Setelah itu, kedua kembali mengambil jarak. Lalu kedua melesat dan adu pedang yang intens kembali terjadi diantara keduanya.


""Hoooorrrraaaaaa.......!!!!"".


Kedua nya saling berteriak sekeras-kerasnya sebagai bentuk untuk menambah semangat juang kedalam diri mereka dan sebagai bentuk pertanyaan bahwa keduanya tidak ada yang mau mengalah.


Sampai akhirnya tercipta sebuah celah yang dan itu dimanfaatkan Arnold melakukan serangan dan berhasil menebas dada Hendry.


"Fiuh..... Aku masih belum terbiasa menggunakan skill ini..... Dan apesnya, serangan tadi tidak terlalu dalam".


Mendapati dirinya tertebas membuat dirinya semakin tambah emosi melihat kearah Arnold.


(Mustahil!!!!..... Aku sudah mengerahkan seluruh kekuatan ku tadi!!!!...... Kenapa aku, masih saja terluka?!!!!).


"Kalau begitu....... COBA HINDARI YANG INI!!!".


Hendry kembali berdiri dan mengarahkan sebuah serangan berupa hujaman tusukan yang sangat banyak.


"Gram Thunder Drill : Trust Purple Of Glory!!!".


Hujaman tusukan yang seperti gelombang air segera menerjang Arnold. Menyikapi serangan itu, Arnold sama sekali tidak gentar. Dan dengan memejamkan kedua matanya.


Secara mengejutkan, Arnold bisa menghindar dari setiap serangan yang datang dengan sangat mudah.


Melihat Arnold yang bisa menghindar, membuat Hendry semakin naik pitam, dan dia semakin memperkuat serangan brutalnya.


(Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa...... Aku adalah Hendry fou Anselmus....... Ksatria terkuat dan kebanggaan Kerajaan Strost...... Jangan remehkan aku!!!!).


"GEMETAR LAH KETAKUTAN, BOCAH TENGIK!!!!".


Ketika Arnold berhasil mendekat, Hendry menghentikan serangannya. Lalu dia mengangkat tinggi-tinggi pedang besar panjang nya keatas.


"Gram Thunder Sword : Purple Thunder Of Glory!!!".


Diperkuat dengan sihir ya, Hendry dengan sangat kuat, keras dan cepat segera mengayunkan pedangnya kearah Arnold yang ada didepannya.


Arnold yang tidak bisa menghindar akhirnya terkena serangan itu dan terbelah. Melihat lawannya yang terbelah membuat Hendry tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha........... INILAH KEKUATAN DARI---- Eh?


Namun seketika rasa senang dan bahagia yang Hendry rasakan berubah menjadi keterkejutan. Penyebabnya adalah, karena yang baru saja ditebas Hendry rupanya hanya bayangan Arnold saja.


Sementara Arnold yang asli berhasil menghindar dari serangan itu dan sekarang berada di sebelah kanan Hendry.


Dalam gerakan lambat, Arnold dengan mata tertutup. Perlahan-lahan mulai mengangkat pedangnya tinggi dengan kedua tangannya.


Setelah tegak lurus, Arnold menghembuskan nafas dan perlahan-lahan membuka matanya dan mulutnya mulai merapalkan tekniknya.


"Unstoppable Siden Sword : Blade's Of Celestial!!!".


Tebasan pedang tegak lurus secara vertikal langsung menyerang Hendry dengan kecepatan melebihi cahaya. Sehingga, Hendry sama sekali tidak bisa merespon serangan itu.


Tak berselang lama.


Darah mulai mulai keluar dengan sangat deras dari tubuh Hendry. Dan perlahan-lahan tampak sebuah luka tebasan yang ternyata berhasil menembus dan membelah tubuh nya menjadi.


Kemudian, Hendry melirik kearah Arnold dengan mendecitkan giginya dan mulutnya yang mengeluarkan darah. Tampak ekspresi jengkel tergambar jelas di wajahnya.


"Kau...... Kau...... DASAR BOCAH....... BAJINGAN!!!".


Setelah mengeluarkan umpatan terakhirnya, tubuh Hendry segera terpisah dan terjatuh ketanah. Wajahnya menjadi kaku dan matanya mulai memutih.


Dengan ini Hendry fou Anselmus berhasil di kalahkan. Dan Arnold keluar sebagai pemenang nya.


Setelah itu secara otomatis, Unique Skill miliknya kembali non aktif dan Arnold mulai merasakan rasa sakit akibat luka yang terima dan rasa sakit karena tubuhnya yang menjadi kaku.


Terjatuh terkapar sambil melihat langit malam dan berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit di dalam hati dia mulai bergumam.


(Sialan..... Bandan ku sakit semua..... Dan bahkan aku tidak bisa bergerak se mili meter pun.... Rasanya kayak mau mati.... Kalau ngak kepepet dan kebawa emosi.... Aku tidak sudi menggunakan Skill ini).


Didalam hati kecilnya, Arnold sebenarnya menyesal menggunakan Unique Skill miliknya.


Tapi apa daya, dia sendiri juga tahu betul. Jika dia tidak menggunakannya maka dia sendirilah yang akan terbunuh di tangan Hendry.

__ADS_1


__ADS_2