
Hari Minggu.
Adalah hari libur bagi hampir semua orang, tak terkecuali para siswa Akademi Estonia yang tidak mengadakan kegiatan belajar mengajar atau kedisiplinan militer.
Semua siswa dan para guru tampak menikmati hari ini sebaik-baiknya untuk mengobati rasa penat selama 6 hari menjalari rutinitas.
Meski begitu, saat ini ada 2 orang yang malah tidak menikmati hari libur ini dan memilih untuk melakukan sparring battle bersama sejak pagi.
"Hiyaaaa.....".
Salah satu orang itu adalah seorang wanita yang sedang melayangkan beberapa pukulan kepada lawannya yang seorang pria.
Sang pria tidak menghindar melainkan berusaha menangkis setiap pukulan yang ada. Tak puas, gadis itu memutar badannya dan melakukan tendangan lokomotif yang sangat keras.
Untuk bisa menghindar, sang pria memiringkan badannya. Dan itu terbukti efektif, karena tendangan itu hanya melintas melewati wajahnya.
Tahu serangan nya berhasil di hindari, gadis itu memutuskan untuk melompat mundur dan mengambil jarak. Kedua memanfaatkan jeda itu untuk menarik nafas dalam-dalam.
Sebelum keduanya berlari dalam momentum yang sama. Dan saat jarak mereka berdekatan, kedua-duanya melayangkan tendangan yang sangat keras. Terjadi hembusan angin yang sampai membuat debu dan beberapa helai daun berterbangan.
Kemudian keduanya kembali menjaga jarak lagi.
"Hiyaaaa....".
Namun, sang gadis yang tidak sabaran kembali menyerang maju. Tapi serangannya gagal, karena Sang pria menjegal kaki sang gadis.
Karena tidak bisa menjaga keseimbangan badannya, gadis itu hampir terjatuh. Sang pria memanfaatkan itu, dengan mengunci tangan sang gadis dan langsung membantingnya ke tanah.
Menyadari dia sudah tidak bisa melawan balik, sang gadis tampak menunjukkan ekspresi wajah yang kesal.
"Lumayan, tinjuan dan tendangan mu semakin bagus saja ya, Ritzia".
"Iya, iya.... Terimakasih atas pujiannya.... Tapi, bisa kau lepaskan aku sekarang?..... Kuncian mu sakit tahu".
Dylan segera melepaskan Ritzia dari kuncian nya. Terbebas, Ritzia segera melemaskan pundak tangannya. Kemudian Dylan mengulurkan tangannya hendak membantu Ritzia untuk berdiri.
"Apa kau baik-baik saja, Ritzia?".
"Ah, Iya".
"Bagaimana kita istirahat sebentar?".
"Aku terima tawaranmu".
Dan tentu saja dengan senang hati di terima olehnya. Setelah itu keduanya, duduk bersila di koridor sambil meminum air putih yang mereka bawa.
"Hei, Dylan.... Bagaimana kau bisa sekuat ini meski usiamu 15 tahun?.... Kalau aku boleh tahu alasannya".
(Itu karena aku ingin menghancurkan Death Flag yang akan datang..... Itulah alasannya kenapa aku berusaha menjadi kuat...... Tapi, mana mungkin aku mengatakannya..... Ngeles aja dah).
"Hmmmm....... Sejak dulu, aku terus berlatih bersama orang dewasa..... Mengikuti ekspedisi merupakan hal yang biasa untukku...... Selama itu juga, aku sudah sering bertarung dengan berbagai jenis monster yang berada di perbatasan.... Terkadang aku juga melawan beberapa bandit yang suka merampok desa-desa....... Tentu saja, aku sudah beberapa kali menghadapi kematian....... Dan merenggut nyawa musuhku..... Adalah hal yang tidak bisa aku hindari".
Ritzia terus menatap Dylan dengan penuh rasa ingin tahu dan penuh perhatian saat mendengarkan ceritanya.
"Singkatnya, diriku yang sekarang ini adalah hasil dari apa yang ku perjuangkan dengan nyawaku sendiri sebagai taruhannya".
Dylan menatap telapak tangan kanannya sambil bercerita pengalaman yang dia alami selama ini, walau sebenarnya, cerita itu hanya alasan saja.
"Begitu ya..... Aku tidak menyangka, meski kau seorang bangsawan ternyata kau menjalani kehidupan yang sangat berat yang bahkan tidak bisa aku bayangkan".
"Hm?".
"Maksudnya..... Aku tahu kalau di perbatasan itu, banyak sekali monster yang berkeliaran..... Belum lagi, para bandit sering muncul di sana.... Dan sebagai tuan tanah, kau terus menerus melawan mereka tiap harinya..... Kurasa karena itulah aku tidak bisa mengalahkan mu..... Dan....".
Ritzia menundukkan kepalanya kebawah dan ekspresi nya berubah sedih.
"..... Meski aku tahu itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa..... Tidak seperti Vanessa yang bisa menggerakkan orang lain dengan kata-kata saja....... Di istana tak ada satupun yang mau mendengarkan ku........ Aku merasa..... Bahwa aku benar-benar sudah gagal menjadi Putri Raja...... Kurasa itulah alasan kenapa aku tidak bisa mengalahkan mu".
Mendengar apa yang Ritzia katakan, Dylan tidak bisa mengatakan apa-apa selain menatap nya dengan penuh rasa keprihatinan. Kemudian Dylan mengalihkan pandangannya dan menatap langit pagi yang cerah
(Kehidupan, ya....... Lagipula, kerasnya kehidupanku tak bisa dibandingkan dengan betapa keras kehidupan Ritzia yang seorang Putri Raja..... Setiap hari, dia harus bersikap dengan penuh standar "putri yang ideal"..... Meski sudah berusaha sekuat tenaga.... Selalu saja, ada beberapa kritikan yang dia terima dari orang-orang sekitarnya.... Yang mengabaikan setiap usaha kerasnya..... Meski begitu, dia tetap menjalani nya.... Aku tidak bisa membandingkan diriku dengan nya).
Lalu Dylan kembali mengalihkan pandangannya kearah Ritzia lagi.
(..... Terlepas dari dia yang dianggap bukan "putri yang ideal"......... Selain bakat bertarung yang luar biasa..... Dia tidak ragu terjun langsung menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan..... Bukan sekedar menolong saja..... Dia juga sekuat tenaga untuk menuntun orang-orang itu secara sabar....... Berbanding jauh dengan Vanessa yang lebih memilih memerintah orang lain untuk mengerjakan hal itu semua).
"Are?.... Ada Dylan dan Ritzia disini toh".
Dylan dan Ritzia mengalihkan perhatian ke suara yang baru saja mereka dengar. Dan ternyata orang itu adalah Awin yang datang menggunakan kaos polos, celana pendek selutut, sepatu olahraga dan handuk kecil yang dia gantung di lehernya.
Tampak keringat keluar dan mengalir di wajahnya, dan dia berusaha menyekanya dengan handuk yang dia bawa.
"Kalian sparring battle pagi-pagi begini tanpa mengajakku, ya?.... Jahat banget".
"Aku dan Dylan sudah ke kamarmu, tapi pelayan mu bilang..... Kalau kau sudah pergi Joging.... Ya sudah, kami sparring battle saja sendiri".
"Heeee......".
__ADS_1
Ritzia memberitahu Awin bahwa sebelumnya, dia dan Dylan sudah mengunjungi kamar Awin. Tapi, pelayan pribadinya yang bernama Neiya memberitahu mereka kalau Awin sudah pergi Joging sejak pagi.
"Btw, aku bertemu dengan kalian disini.... Jadi ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian".
Sambil ikut duduk bersila, Awin memberi tahu ada yang ingin dia bicarakan dengan Dylan dan Ritzia.
"Apa itu?".
"Soal batu sihir yang kau dapat setelah mengalahkan Minotaur itu..... Apa Frey sudah memberikan keterangan nya kepada kalian?".
"Tidak".
"Sensei bilang bahwa batu sihir itu masih di teliti oleh Olga-sensei, dan itu butuh beberapa waktu untuk menemukan hasilnya".
"Begitu, ya...... Jujur saja, aku terus kepikiran..... Bagaimana bisa Minotaur itu muncul tepat setelah kita membabat habis para Serigala tanduk itu..... Seolah-olah.... Minotaur itu sengaja dikirim oleh seseorang".
"Kalau memang, iya..... Maka, Minotaur itu bukan 100% binatang sihir murni..... Melainkan hasil eksperimen..... Dan soal siapa yang ngirimnya.... Dugaan ku, pasti pria berjubah yang terus mengawasi kita waktu".
"Aku juga berpikir hal yang sama denganmu, Dylan..... Tapi, siapa dia?..... Dan apa tujuannya?".
"Tunggu sebentar, tunggu sebentar...... Dari tadi, kalian berdua ini ngomong apa?...... Minotaur?...... Eksperimen?...... Orang berjubah?..... Bisa kalian jelaskan kepadaku".
Ritzia yang berada di tengah antara Dylan dan Awin tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh keduanya dan menuntut penjelasan.
"Jadi begini...... Sewaktu kita istirahat sejenak saat Trail Running, aku dan Dylan merasakan kehadiran seseorang berjubah hitam yang mengawasi gerak-gerik kita di balik pepohonan".
"Kemudian setelah kita mengalahkan Minotaur aku kembali merasakan sosok yang sama sedang mengawasi pertarungan kita...... Jadi, aku dan Awin menduga bahwa orang itulah yang mengirimkan Minotaur untuk menyerang kita tepat setelah kita mengalahkan Serigala tanduk".
Secara bergantian Awin dan Dylan menjelaskan apa yang waktu itu mereka rasakan selama kegiatan Trail Running sedang berlangsung.
"Hmmm.... Berarti dia juga, orang yang menyebabkan ledakan waktu itu, dong".
"Tidak..... Ledakan itu bukan di sebab oleh pria berjubah..... Melainkan orang lain..... Dan dia hanya memanfaatkan momen itu saja".
"Eh?".
Dugaan Ritzia segera di sangkal oleh Awin dengan menyatakan bahwa ledakan itu bukan perbuatan dari si orang berjubah ini, melainkan orang lain.
"Kalau bukan dia lalu siapa?".
Pertanyaan dari Ritzia sempat membuat Dylan dan Awin ragu untuk menjawabnya. Tapi, akhirnya Dylan sendiri yang memutuskan untuk menjawab.
"Pelaku dari ledakan itu adalah siswa kelas 1-B yang terkenal akhir-akhir dan bahkan mendapat panggilan "Masa depan yang cerah"..... Reiner fou Stanley".
"Huh? Maksudmu, putra dari Viscount Stanley!?".
"Bukan hanya dia saja, ada beberapa orang yang juga terlibat.... Diantaranya adalah Gnecci von Rostvard, Fermina von Ritzburg, Flora de Ernest, Stella fou Chamble, Diandra Lakes Stuart dan...... Adikmu, Vanessa Sera Ingrid".
"Berdasarkan penyelidikan, sepertinya mereka tidak "sengaja" memasuki goa bawah tanah yang menjadi sarang Serigala tanduk dan menyerang mereka secara asal-asalan".
"Dasar orang-orang bego..... Apa mereka ngak ngerti resiko dari perbuatannya itu".
Ritzia yang mendengar itu tidak bisa menahan rasa jengkelnya. Dia tidak ambil pusing soal kondisi. Hanya saja, dia merasa jengkel karena mengingat banyaknya korban jiwa karena tindakan sembrono yang dilakukan Reiner dan kelompoknya itu, termasuk Vanessa sendiri.
"Yah, kasus ini segera ditindak tegas oleh Kepala Akademi.... Reiner dan kelompoknya termasuk Vanessa sedang menjalani hukuman dan di awasi oleh Alex-sensei".
"Hmm.... Aku berharap mereka dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini".
Ritzia kembali tenang setelah tahu bahwa Kepala Akademi, Leon Sera Belmont sudah mengambil sikap tegas terhadap Reiner dan yang lainnya.
"DYLAN!!! AWIN!!! RITZIA!!!!".
Tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara Olivia yang berteriak memanggil nama mereka. Dan saat menoleh, Olivia sedang berlari dengan panik kearah mereka bertiga.
"Livia.... Kenapa kau lari-larian di koridor sambil berteriak-teriak?".
Awin menjadi yang pertama mengajukan pertanyaan kepada Olivia yang masih terengah-engah.
Butuh waktu untuk Olivia mengatur kembali nafasnya, sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Awin.
"Dengar..... Di Lapangan-----".
Dylan, Awin dan Ritzia menaikkan salah satu alisnya sebagai tanda kebingungan dengan apa yang di katakan Olivia.
(-----------------)
Di Lapangan Akademi.
Saat ini banyak orang yang sedang berkerumun untuk menonton apa yang ada di tengah lapangan.
Di sana ada Reiner yang sedang melindungi seorang gadis cantik dengan rambut berwarna coral yang diikat kebelakang dengan mata yang berwarna yellow-green.
Dari seorang pria tampan berambut abu-abu cerah dan mata berwarna aquameal. Pria itu tampak menunjukkan ekspresi yang sangat tegas.
"Hei, Livia.... Sebenarnya, apa yang terjadi disini?".
Dylan, Awin dan Ritzia yang baru saja tiba di sana kebingungan dengan apa yang terjadi. Makanya, Ritzia mencoba bertanya kepada Olivia yang membawa mereka bertiga ke sana.
__ADS_1
"Awalnya sih, mereka hanya cekcok biasa.... Tapi, sekarang berubah menjadi semakin buruk".
"Kalau boleh tahu, selain si Reiner.... Siapa gadis yang ada di belakangnya dan laki-laki yang ada di depannya itu?".
Awin yang penasaran akan dua sosok yang asing selain Reiner itu mencoba bertanya pada Olivia.
"Gadis yang ada di belakang Reiner adalah putri dari Earl Stuart, namanya Diandra Lakes Stuart.... Dan pria berambut abu-abu itu adalah siswa kelas 2-A, putra dari Earl Hildebrand, namanya Falma Fin Hildebrand sekaligus tunangan dari Diandra".
"Heeeee...... Terus kenapa Reiner ikut campur urusan mereka?".
Dari sudut pandang Awin tanpa dijelaskan pun dia tahu bahwa sedang ada sedikit "masalah" antara Diandra dan Falma. Yang membuat Awin terheran-heran adalah kenapa Reiner malah ikut campur ke dalamnya.
Sementara itu, Dylan kembali mengingat salah satu anggota 15 Harem Reiner yang tidak lain sekarang ada di depan matanya yaitu Diandra.
(Diandra Lakes Stuart.... Seorang gadis yang hanya bisa sihir penyembuh dan menjadi support di party pahlawan Reiner.... Dia bisa menjadi Harem Riener karena dia punya hubungan yang kurang baik dengan tunangan nya dan merasa kalau tunangannya sangat overprotektif dan suka mengatur dirinya..... Saat bersama Reiner dia merasa sangat nyaman dan bebas.... Karena itu, dia memilih untuk tetap bersama Reiner dan meninggalkan tunangannya..... Tapi, bukan tanpa alasan kenapa tunangan atau bisa dipanggil Falma sangat overprotektif dengannya..... Itu semau karena sifat manja Diandra yang sangat luar biasa menyusahkan nya..... Gadis itu bahkan tidak bisa memakai pakaiannya sendiri..... Dan aku masih ingat betul di screen gamenya.... Dia dengan manjanya meminta Reiner menggendongnya hanya karena dia lelah berjalan..... Yang paling parah, dia tipe gadis yang selalu menimbulkan masalah di mana pun bahkan di party..... Lalu melimpah kan kesalahan itu kepada anggota Harem yang lainnya..... Terutama ke Filaret...... Yah singkatnya.... Dia gadis yang Tidak Tahu Diri).
"Hiiii.... Reiner, tolong aku.... Dia pasti akan melakukan sesuatu yang mengerikan kepadaku".
Diandra yang ketakutan mencoba berlindung di balik Reinner dari tatapan tajam yang di tunjukkan Falma.
"Huh? Kau itu ngomong apa, Dian?...... Aku kesini karena mendengar apa yang sudah kau dan kelompok mu perbuat....... Dan sebagai tunangan mu, aku harus bersikap keras menanggapi tindakanmu...... Jadi, Reiner-kun bisa kau menjauh darinya..... Aku harus menegurnya atas apa yang sudah dia lakukan".
"Aku tidak akan membiarkan mu mendekati Diandra sekali pun senpai adalah tunangan..... Aku sudah mendengar semuanya dari Dian..... Apa senpai tidak tahu, betapa menderitanya dia saat bersama mu?....... Dian selalu menderita dengan sikap kasar yang senpai tunjukkan..... Dan aku yakin, saat ini senpai akan melakukan hal buruk kepadanya, kan?".
Mendengar jawaban Reiner yang dengan tegas menolak membuat Falma menghembuskan nafas panjang sebelum kembali berbicara.
"Begitu ya...... Jadi, kau percaya saja omongannya mentah-mentah..... Lalu, bagiamana caranya supaya aku bisa membuatmu menjauh darinya?".
"Bukan aku yang harus menjauh darinya..... Namun, senpai lah yang harus menjauh darinya".
Mendengar apa yang dikatakan Reiner, membuat semua orang yang ada disana dan Falma terkejut bukan main.
Walau tersirat semua orang yang ada di sana paham betul apa yang berusaha di sampaikan oleh Reiner.
"Hei, hei.... Apa dia serius?".
"Sulit dipercaya?".
"Dia berani sekali menantang seorang senior".
Orang-orang mulai berbisik satu sama lain karena melihat sikap Reiner berani kepada Falma yang notabenenya adalah seniornya. Falma yang mendapat provokasi itu terlihat tampak berusaha setenang mungkin.
"Reiner-kun...... Kau sadar dengan perkataan mu barusan?"
"Iya aku sadar".
"Begitu ya".
Falma sempat memejamkan matanya untuk sesaat sebelum akhirnya dia berbalik badan dan berbicara tanpa melihat Reiner dan Diandra.
"2 Minggu dari sekarang.... Gunakan jeda waktu itu untuk memperkuat dirimu..... Lalu, kita akan bertemu di arena pertarungan Akademi untuk menyelesaikan masalah ini...... Jika aku menang, Diandra harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan".
"Jika aku menang, Senpai harus menjauh dari Diandra selamanya".
"Cukup adil".
Falma segera melangkah pergi dan meninggalkan Reiner, Diandra dan semua orang di lapangan itu. Kemudian------
"Reiner-kun.... Kau luar biasa!!!".
"Aku kagum dengan sikapmu barusan!!!".
"Aku akan mendukung mu!!!".
"Jika ada yang kau perlukan, katakan saja kepadaku".
"Te-terima kasih.... Sudah mau membantuku".
"Nggak apa-apa.... Kami memang mau membantumu".
Dalam sekejap, semua orang segera mengerubungi Reiner, ada yang terkesan dengan sikapnya dan ada juga yang bersedia membantunya.
Di sisi lain.
Dylan dan Awin menatap malas kearah Reiner yang saat ini di kelilingi oleh banyak orang.
"Hei, Awin bagaimana pendapat mu soal ini".
"Entahlah..... Aku no comment aja..... Kalau kau sendiri?".
"Kurasa itu sikap gabungan dari "kebodohan" dan "terlalu percaya diri" yang menghasilkan sikap "tak tahu diri".
"Heeee.......".
Mendengar pendapat Dylan, Awin hanya bisa bergumam panjang. Bukan tanpa alasan Dylan bisa mengatakan hal itu.
Di skenario dalam Game, Reiner akan memenangkan duel dengan Falma.
__ADS_1
Tapi, mengingat sudah banyak hal yang berubah dan melenceng jauh dari alur yang sesungguhnya. Dylan sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pertarungan ini nantinya.
Bagaimana hasilnya, akan kita lihat 2 Minggu lagi. Saat Reiner dan Falma bertarung.