
Setelah Camping yang menyenangkan, Dylan dan teman-temannya berserta Frey-sensei sudah kembali ke Akademi.
"Baiklah dengarkan aku..... Sebenarnya, selama 2 Minggu ini, aku hanya ingin mengetes sampai mana kesabaran kalian dan tindakan apa yang akan kalian ambil, saat menghadapi sikap acuh dan selengean ku selama ini...... Soalnya, aku tidak mau mengajar mereka yang tidak sabaran.... Ternyata, kalian semua masih bersabar dan terus masuk walau aku mengabaikan kalian..... Dan itu, sudah cukup membuatku berpikir untuk sudah saatnya melatih kalian sekarang".
Frey menjelaskan bahwa sikap nya selama ini hanya untuk menguji semua siswa kelas 1-S. Apakah mereka tetap bersabar dan menunggu atau emosi dan mulai komplain dengan sikap Frey.
Ternyata, Dylan dan yang lain memilih untuk bersabar dan menunggu sampai Frey mulai memperhatikan mereka.
"Nah, seperti perkataan ku di hutan..... Aku tidak akan fokus pada pelajaran teori saja...... Jadi, persiapkan diri dan mental kalian karena pelatihan yang akan aku berikan benar-benar sangat berat dan berbahaya..... Apa kalian siap?".
""""""""SIAP, SENSEI!!!!!!"""""""".
"Kalau begitu tunggu apa lagi, latihan di mulai sekarang".
Sambil tersenyum Frey segera memberikan instruksi kepada murid-muridnya untuk memulai pelatihan di mulai.
Hal pertama yang di ajarkan Frey adalah cara membuat tubuh bergerak sesuai dengan kemauan mereka. Yaitu dengan melakukan "Langkah Sihir".
Caranya cukup sederhana, dimana Dylan dan yang lainnya hanya harus melompati tangga tali yang ada di depan mereka sesuai instruksi dari Frey.
Banyangkan seperti anak kecil yang bermain sedang bermain Ken, Ken, Pa.
[Note : Ken, Ken, Pa itu mirip seperti permainan Engklek atau Jingkat-jingkat di Indonesia].
Meski terlihat mudah, nyatanya ini benar-benar latihan yang sulit bahkan untuk Dylan dan Filaret sendiri.
Karena saat Frey menyuruh mereka memfokuskan sihir pada kaki dan melompat ke samping mereka justru melompat lurus begitupun sebaliknya.
"Latihan anak tangga ini, untuk melatih kemampuan kaki kalian dan meningkatkan kemapuan atletik seperti berbalik dengan tumit..... Terlebih latihan ini, akan mempercepat proses latihan kelincahan, respon dan kecepatan kalian..... Kesalahan kalian sebelumnya, adalah karena kalian terlalu fokus untuk melangkah..... Contohnya, kalian tidak bisa menulis sebuah kalimat sambil menatap dan berbicara dengan lawan bicara kalian...... Dalam bernyanyi, itu seperti kalian bernyanyi di lagu yang sangat keras atau nada tinggi..... Dalam pertarungan, wajar jika terkadang gerakan tubuh tidak sejalan dengan pikiran kita...... Taklukan itu, maka kalian akan bisa menggerakkan tubuh sesuai dengan pikiran kalian".
Penjelasan Frey membuat Dylan tersadar akan sesuatu. Teringat akan pertarungannya dengan Fafnir dan Oscar.
(Benar apa yang di katakan, Frey-sensei..... Jika aku ingat lagi, aku sangat kesulitan beraksi pada serangan Fafnir maupun kecepatan ayunan pedang Oscar.... Saat aku berpikir soal bereaksi, itu sudah terlambat).
"BAIKLAH!!! AYO LATIHAN LAGI!!!!".
"IYA, SENSEI!!!".
Dengan aba-aba dari Frey, Dylan dan yang lainnya memulai latihan dasar ini walau sangat kesusahan mereka terus melakukan latihan ini terus menerus sampai terbiasa.
Latihan selanjutnya adalah menambah jumlah lubang sihir pada tubuh.
"Setiap manusia memiliki yang disebut gudang sihir di dalam diri mereka....... Dari sanalah sihir bisa diaktifkan dan dilepaskan.... Maka dari itu, penyimpanan ini bisa terdapat "Lubang Sihir".... Banyaknya lubang sangat mempengaruhi kekuatan sihir orang tersebut...... Sebagai contoh kalau membuat lubang pada kantong air, makin banyak lubangnya, semakin banyak air yang keluar..... Begitulah, tubuh kalian..... Sedikitnya lubang sihir itu semakin sedikit juga sihir yang bisa kalian keluarkan".
"Berarti, mereka yang memiliki lebih banyak lubang sihir akan lebih cepat menggunakan sihir.... Benar seperti, kan Sensei?".
Ornest mengangkat tangan dan bertanya kesimpulan yang dia ambil dari penjelasan Frey barusan.
"Yap, Ornest..... Namun, itu hanya berlaku kepada mereka yang terlahir dari Keluarga penyihir..... Karena kemungkinan besar orang itu sudah terlahir dengan banyaknya lubang sihir....... Sekarang, fokus kita adalah untuk menambah lubang sihir di tubuh kalian dengan cara Alternatif".
"TUNGGU DULU, FREY-SENSEI!!! APA BENAR-BENAR ADA CARA LAIN?!!!.
"Yap.... Ada kok".
"KALAU MEMANG IYA!!! LALU BAGAIMANA CARANYA?!!!".
Pertanyaan Frey segera membuat semuanya langsung tersentak, Sylvia dan Emilia sampai berteriak meminta penjelasan. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi Frey memberikan jawaban yang mereka tunggu.
"Lewat Akupuntur".
Frey kemudian menjelaskan metodenya, dengan menusukkan jarum ke setiap titik lubang sihir di tubuh dengan sangat cepat dan halus.
Sebelum melakukan, Frey juga memberikan peringatan bahwa melakukan ini tidak akan mudah karena setiap satu lubang sihir yang terbuka rasanya akan seperti seluruh tubuhmu ditusuk bersamaan dengan pisau-pisau yang sangat tajam dan daging akan terasa terbakar.
Dan benar saja, baru satu kali melakukannya. Ornest, Arnold, Garcia, Sylvia, Ritzia, Emilia, Oliva dan bahkan Filaret langsung kejang-kejang dan pingsan.
Sementara Dylan dan Awin baru mengalami kejang-kejang dan pingsan saat keduanya berhasil melakukan untuk ketiga kalinya.
__ADS_1
Meski menyakitkan, mereka tetap melakukan metode ini. Dan hasilnya, mereka bisa merasakan tubuh yang lebih ringan dan diliputi oleh kekuatan sihir yang melimpah.
Namun, ini bukan berarti pelatihan Frey selesai begitu saja.
(-------------------)
Pelatihan berat masih terus berlanjut.
Latihan kekuatan fisik.
Frey menyuruh Dylan dan yang lainnya memanjat sebuah tebing setinggi 500 meter. Dengan di beri semacam pemberat di kedua tangan dan kaki mereka.
Setiap pemberat di masing-masing bagian seberat 50 kg. Dan total pemberat yang harus mereka bawa adalah 200 Kg. Dengan catatan tidak boleh menggunakan sihir untuk menguatkan fisik mereka.
Yang lebih gila lagi, Frey memberikan batas waktu selama 3 jam lamanya untuk mereka bisa sampai ke puncak dan tanpa ramuan Exilir.
Latihan Halang rintang.
Frey menyuruh Dylan dan yang lainnya berlari sambil melewati berbagai jenis rintangan yang sudah dia sediakan. Terkadang dia akan membawa mereka ke hutan dan ke tengah perkotaan. Latihan ini hampir mirip dengan latihan yang dilakukan oleh para atlit Parkour.
Tujuannya, untuk membuat Dylan dan yang lainnya bisa beradaptasi dengan berbagai jenis Medan pertempuran dan memanfaat semua material yang ada di sekitarnya. Baik untuk bertarung atau menggunakan untuk mengelabuhi lawan.
Latihan pengelihatan dan insting.
Frey menyuruh Dylan dan yang lain untuk membaca banyak buku tebal yang setiap halaman tidak boleh dibaca lebih dari 5 detik. Lalu, menebak angka pada bola yang di lempar dengan kecepatan suara. Kemudian, menghindar berbagai serangan baik anak panah dan bombardir sihir dengan melihat langsung bahkan dengan mata mereka tertutup.
Yang paling penting Frey tidak lupa melakukan Sparing battle baik dengan masing-masing siswa atau terkadang dengan dirinya.
Diantara mereka hanya Dylan dan Awin lah yang berhasil menempelkan ujung senjatanya ke leher Frey dan membuat pedang lepas dari genggaman nya. Mendapatkan fakta itu, Frey segera menunjuk Dylan sebagai ketua kelas 1-S dan Awin sebagai wakilnya.
Awalnya, keputusan ini sangat di tentang oleh Filaret. Dia tidak terima ada orang lain yang bisa berjajar di samping Dylan selain dirinya.
Makanya, Frey memberi saran agar Filaret dan Awin untuk bertarung untuk menentukan posisi wakil ketua, dan hasilnya sudah jelas. Awin memang mudah dari Filaret dan mau tidak mau Filaret harus menerimanya.
Latihan mereka terus-menerus dilakukan dan seiring berjalannya waktu Dylan dan yang lainnya semakin bertambah kuat. Bahkan saat terjadi hujan deras sekalipun, Frey masih memaksa mereka untuk berlatih.
"Sudah kuduga, kalau dia benar-benar serius..... Anak-anak yang diasuh pasti akan menjadi kuat..... Bahkan Putri Ritzia sekarang lebih kuat dan lebih baik dari Putri Vanessa..... Menempatkan Frey di Kelas 1-S memanglah pilihan yang tepat".
Leon terus menatap Frey yang melatih Dylan dan teman-teman dari jendela kantor milikinya.
(-------------------)
Waktu Istirahat.
Dylan, Awin, Ornest, Arnold dan Garcia sedang bersama menikmati jam istirahat dengan cara duduk bersama di taman.
Namun, bukan duduk di bangku atau di atas rumput. Kelimanya, saat ini malah duduk di dahan pohon besar yang ada di taman sekolah sambil menikmati semilir angin.
"Btw.... Kira-kira apa yang musti kita lakuin buat Teh party nya?".
Ornest bertanya kepada Awin, Dylan Garcia dan Arnold soal acar Teh party yang harus mereka adakan. Ini juga semacam praktek langsung dari materi etiket bangsawan.
"Saran ku, sih..... Undang saja, seseorang dari keluarga Baron atau seorang gadis dari keluarga Viscount".
"Sangat setuju dengan saran mu, Al..... Bagaiman denganmu, Awin?".
"Asal ada seorang gadis yang mau datang, aku sih ngak masalah..... Kalau kau bagaimana, Dylan?".
Awin menengok ke dahan yang ada di atasnya, dimana Dylan sedang rebahan. Mendengar pertanyaan Awin dia segera menjawabnya.
"Ngak.... Aku ngak mau buang-buang uangku hanya untuk sekedar Teh party saja".
"Heeeee....".
Awin hanya memberikan respon santai menanggapi jawaban Dylan.
"Tapi, jika kau tidak melakukan itu.... Para gadis akan membicarakan mu di belakang dan kemungkinan akan mempersulit dirimu nanti untuk menemukan tunangan.... Dan juga, bintang mu akan dikurangi".
__ADS_1
Ornest berusaha memperingatkan Dylan bahwa Teh party ini akan mempengaruhi masa depannya jika tidak dilakukan.
"Itu bayaran yang setimpal untuk tindakan yang aku lakukan.... Lagipula, Teh party ini tidak lebih dari sekedar agar bisa membaur dan membuat koneksi dengan gadis dari rumah lain.... Dan aku males banget ngelakuinnya".
"Hmmm.... Iya juga, sih..... Argumen mu ngak salah".
Dylan memberikan argumen tentang keinginan nya yang tidak mau mengadakan Teh party. Argumen itu ditanggapi Awin dan Arnold dengan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Yah, meski begitu.... Tidak ada jalan lain, kan..... Lupakan soal pengurangan bintang... Jika kita tidak ikut ambil andil dalam acara Teh party..... Lalu rumor tersebar.... Maka, akan sulit bagi kita membuat koneksi dengan rumah lain dan menghancurkan kesempatan kita untuk menikah di masa depan".
Ornest berusaha memberikan argumen dan apa yang akan terjadi kedepannya jika mereka tidak mengikuti etiket para bangsawan ini.
"Kau ini ngomong apa, Ornest?..... Lagian, gak ada jaminannya ada mau menerima ajakan dari para "bangsawan perbatasan miskin" seperti kita ini".
Ornest seketika tertunduk lesu, mendapat jawaban menyakitkan dari Dylan yang memaparkan fakta, tentang sudut pandang para bangsawan terhadap mereka.
Tak berselang lama kemudian.
Terjadi sebuah keributan yang terjadi di lorong Akademi. Tentu saja, hal itu menyita perhatian Dylan dan yang lainnya yang segera menoleh kearah sumber keributan.
Di tengah kerumunan itu, ada sosok laki-laki yang dikelilingi oleh banyak gadis yang menunjukkan ekspresi senang dan pipi yang merona.
"Reiner-san.... Apa kau mengadakan Teh party juga?".
"Kalau, iya.... Aku harap bisa datang".
"Ahahaha.... Iya, iya.... Aku akan berusaha untuk mengundang kalian".
Reiner yang di kelilingi para gadis tersenyum canggung dan berjanji akan mengundang para gadis itu untuk datang ke Teh party yang dia adakan.
Mendapatkan jawab itu, para gadis langsung senang dan semakin mengelilinginya.
Melihat kejadian itu, Dylan dan yang lainnya hanya bisa menatap dengan tatapan penuh keheranan.
"Woi, woi, woi..... Siapa si ganteng brengsek yang di kelilingi sama cewek-cewek cakep itu?...... Dan lihat, bahkan putri Marquis dan Count juga ada disana".
Garcia adalah orang yang pertama bertanya diantara mereka. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Garcia sangat jengkel dan iri dengan Reiner yang di kelilingi para gadis.
"Oh, dia toh..... Namanya, Reiner fou Stanley..... Siswa kelas 1-B dan Putra Viscount Stanley...... Dia menjadi terkenal akhir-akhir ini dan bahkan di sebut sebagai "jenius sejati"..... Bahkan ada yang bilang dia adalah "masa depan yang cerah" bagi Kerajaan ini".
Arnold menjadi orang yang menjelaskan kepada Garcia soal sosok Reiner yang saat ini di kelilingi oleh para gadis.
"Huh? Jenius Sejati? Dan "masa depan yang cerah"?..... Bukankah itu terlalu berlebihan?...... Memang apa hebatnya dia sampai mendapatkan panggilan seperti itu".
Garcia terheran-heran dan tidak mengerti kenapa Reiner bisa mendapatkan panggilan seperti itu.
"Hanya rumor, sih...... Dia dikabarkan sangat ahli dalam hal berpedang dan menggunakan sihir cahaya dan api..... Nilai akademik nya juga sangat tinggi..... Sikapnya sangat baik kepada semua orang..... Selalu berpikir positif........ Dan yang lebih penting adalah..... Pandangan nya dalam memahami konsep-konsep keadilan itu dianggap luar bisa.... Bahkan sampai membuat anak-anak dari rumah lain terutama para gadis yang rumahnya berpangkat tinggi sangat kagum dan mulai terpikat dengannya".
Arnold menjelaskan semua hal yang dia tahu soal Reiner dari banyaknya rumor yang beredar.
"Kalau dia memang seorang "jenius sejati" dan "masa depan yang cerah"..... Terus, kenapa dia ada di kelas 1-B?.... Lupakan soal, kelas 1-S.... Dia bahkan tidak masuk kelas 1-A?".
Pertanyaan, Awin hanya bisa di jawab dengan gelengan kepala oleh Arnold yang menandakan dia tidak tahu alasan dibalik semua itu.
"Memahami konsep-konsep keadilan, ya?...... Yah, palingan dia cuma orang yang menilai segala sesuatu sesuai dengan kenyamanannya sendiri..... Lagipula, konsep-konsep keadilan setiap orang itu berbeda-beda".
Jawaban sarkas dari Dylan membuat Awin dan yang lain segera mengalihkan pandangan kearahnya. Menyadari hal itu, Dylan melihat rekan-rekannya dan kembali bertanya.
"Woi, kenapa kalian melihatku seperti itu?".
Tidak ada jawaban yang Dylan dapatkan. Namun, Ornest adalah orang pertama memberikan jawaban sambil memejamkan kan matanya.
"Kurasa Emilia memang benar, ya...... Kau itu memang Provokator handal ya, Dylan".
Pernyataan Ornest ditanggapi oleh Awin, Arnold dan Garcia dengan anggukan kepala. Sementara Dylan, hanya menaikkan salah satu alisnya.
Tak berselang lama. Bel tanda masuk kelas menggema di seluruh Akademi sebagai tanda jam istirahat sudah selesai.
__ADS_1
Dylan dan yang lain segera turun dari atas pohon dan segera menuju kelas untuk pelajaran selanjutnya.