Reborn As Villain

Reborn As Villain
Chapter 38 : Hasil Dan Rekaman.


__ADS_3

Tanpa perlu di jelaskan.


Siapapun yang melihat bagaimana kelompok Dylan dan kelompok Vanessa bertemu saat ini, akan bilang bahwa "ada ketegangan" diantara mereka. Keduanya, sama-sama memancarkan aura kebencian yang bisa di rasakan oleh semua orang yang melihatnya.


"Jadi, ada perlu apa kau datang kesini?".


Dylan menjadi orang pertama yang memecah suasana keheningan diantara mereka. Butuh beberapa detik bagi Vanessa untuk benar-benar menjawab pertanyaan itu.


"Pertama, saya dan pengikut saya ingin memastikan apa benar kabar bahwa tuan Dylan dan tuan Awin benar-benar sudah kembali dengan selamat".


"Hou....".


"Dan yang kedua adalah.....".


Vanessa segera menundukkan badannya ke depan. Melihat hal itu, semua pengikut Vanessa sangat terkejut terutama Stella. Sementara Dylan dan yang lain hanya menaikkan salah satu alisnya.


"........ Aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah aku perbuat saat itu........ Jujur, aku selalu di penuhi oleh rasa penyesalan setiap mengingat kejadian waktu itu...... Namun, karena aku keselamatan yang lain...... Maka, aku tidak punya pilihan untuk memberikan perintah yang lain".


Vanessa dengan ekspresi dan sikap yang tulus benar-benar berusaha untuk meminta maaf apa yang sudah dia lakukan kepada Dylan dan Awin waktu di Dungeon.


"Tuan putri..... Anda tidak seharusnya tidak perlu meminta maaf kepada kedua orang ini".


"Itu benar, putri Vanessa...... Saat itu situasinya benar-benar genting........ Dan kita tidak punya pilihan".


"Benar yang dikatakan, Stella-san dan Zuzan-san..... Saat itu anda tidak punya pilihan..... Dan setidaknya..... Mengorbankan 2 nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa, itu adalah pilihan yang terbaik".


Mendengar apa yang dikatakan Gnecci sambil tersenyum sinis barusan, membuat Awin, Ritzia, Filaret, Ornest, Arnold, Garcia, Emilia, Sylvia, dan Oliva terkejut dan memancarkan aura membunuh yang kuat.


"Aku setuju dengan yang dikatakan, tuan Gnecci".


"Iya, lagian mereka benar-benar tidak menjalankan tugas pembersihan dengan baik".


"Belum lagi, mereka berdua bilang kita ini lemah, dasar bangsawan miskin tak beraadap".


"Keselamatan Putri Vanessa adalah prioritas utama..... Dari nyawa mereka berdua yang tidak ada harganya".


"Bukan cuma itu saja..... Si Awin itu dengan kasarnya memukul wajah Reiner-san yang kita banggakan".


"Dia bilang Reiner-san itu beban...... Padahal Reiner-san itu lebih kuat dari mereka".


"Iya...... Bahkan Reiner berani menantang Falma-senpai yang terkenal kuat".


Dylan segera melirik kearah sekelompok wanita yang sepertinya sedang memuji Reiner, bukan tanpa alasan.


Itu karena, secara tak samar Dylan kembali teringat akan pertandingan antara Reiner dan Falma-senpai. Dylan yang masih penasaran, memutuskan untuk memikirkan itu nanti. Dan pandangan kembali kearah Vanessa yang masih membungkuk.


"Bisa kita hentikan drama sok menyayat hati ini?...... Hoah....... Aku dan Awin capek karena perjalanan jauh...... Lagian...... Apa punggungmu itu ngak pegel karena membungkuk terus?..... Dan baik kau maupun pengikut mu itu tidak perlu meminta maaf.....".


"TAPI, NII-SAN!!".


"Karena.....".


"Eh?".


"...... Aku bisa merasa "tidak adanya ketulusan" di dalam permintaan maaf mu itu..... Singkatnya, berhentilah berakting seolah-olah kau merasa bersalah..... Toh, kau juga tidak tahu bagaimana rasanya, kan?".


(Itu baru Kakakku yang bermulut busuk).


Dylan mengatakan itu dengan senyuman sinis dan gestur badan yang seperti mengejek permintaan maaf Vanessa. Dan Awin tersenyum dan bergumam dalam hati mendengarnya.


Mendengar hal itu, tanpa di sadari siapapun. Vanessa benar-benar terkejut sampai membelalakkan kedua matanya. Amarahnya meningkat drastis dan terlihat jelas di mana dia dengan keras menggenggam kuat-kuat telapak tangannya. Dan mendecitkan gigi belakangnya.


"Saya bisa memahami bahwa tuan Dylan dan tuan Awin masih menyimpan amarah kepada saya..... Tapi, saya benar-benar meminta maaf akan hal itu".


Vanessa yang berhasil memperbaiki sikapnya, kembali tegak dan dengan memasang senyuman ceria dia meminta maaf lagi kepada Dylan dan Awin.


"Terserah kau sajalah...... Kebetulan, ada yang ingin aku dan Awin tanyakan kepada kedua penjilat setia mu itu".


Setelah mengatakan itu pandangan Dylan beralih dari Vanessa ke Zuzan yang berdiri disebelah kiri Vanessa, sementara Awin melihat kearah Stella yang berada di sebelah kanan Vanessa.


"Etto..... Zuzan, kan namamu?...... Bagaimana soal sihir bola api mu itu?...... Apa sudah lebih baik daripada waktu di Dungeon?".


"Eh?".


"Ah, benar juga Dylan...... Stella bisa kau ajarkan padaku bagaimana juga caranya membuat bola sihir dari elemen petir?..... Boleh,kan?".


Mendengar pertanyaan itu, seketika membuat Zuzan tiba-tiba terkejut diam dan tidak bisa berbuat apa-apa, sementara Stella sebisa mungkin untuk menyembunyikan keterkejutan nya.


Mendengar hal itu juga, Ornest, Arnold, Garcia, Sylvia, Olivia, Ritzia, Emilia dan Filaret segera mengalihkan pandangan ke arah keduanya.


"Ka-ka-ka-kau...... I-i-i-ni..... Ngo-ngo-ngomong apa sih, Dylan?..... Ma-ma-mana mungkin..... A-a-aku bi-bi-bisa sihir api...... Si-si-si-sihirku itu angin dan tanah..... I-i-i-itu NGAK MASUK AKAL!!!!".


"Awin..... Aku tahu kau masih sakit hati karena pembatalan pertunangan kita.... Tapi, menuduhku menembak mu dengan bola sihir petir..... Itu sudah keterlaluan..... Kau ini mantanku, kan?.... Seharusnya kau tahu kalau aku hanya bisa sihir air saja".


Zuzan menyanggah pertanyaan Dylan dengan ekspresi penuh kepanikan badan yang bergetar dan meneteskan keringat dingin. Stella dengan tetap tenang juga mencoba menyanggah apa yang di tanyakan Awin.


"Hou..... Begitu ya Zuzan?..... Aku pikir kau itu punya sejenis hobi untuk "bermain-main dengan bola api, lalu melemparkannya ke orang lain"...".


Dylan terus menatap Zuzan dengan tatapan yang tajam seolah-olah dia tahu kalau apa yang di katakan nya adalah sebuah kebohongan.


"Justru karena aku sudah kenal lama dan pernah menjadi tunangan mu lah..... Makanya aku tidak ingin belajar sihir petir dengan orang lain..... Selain Kau".


Sama halnya dengan yang Dylan lakukan kepada Zuzan. Awin juga menatap tajam kearah Stella yang masih mempertahankan sikap tenang, meski Awin tahu bahwa dia sedang panik.


Ditengah ketegangan itu, seseorang tiba-tiba memegang pundak Dylan dan Awin yang rupanya dia adalah Arnold.


"Etto...... Kalian berdua pasti lelah, kan?..... Lebih baik kalian kembali ke kamar dan istirahat lah".


"Yah, kau benar Al".


"Terimakasih sudah mengingatkan kami".


Dylan dan Awin setuju dengan apa yang di sarankan Arnold. Dan rombongan kelas 1-S segera pergi mengabaikan Vanessa dan rombongan nya.


Meski begitu, Filaret dan Emilia tertinggal di belakang sambil melirik kearah rombongan Vanessa khususnya Zuzan dan Stella. Filaret segera berpaling dan menyusul yang lain.


Sementara Emilia.

__ADS_1


"Dengar Stella..... Kalau yang katakan Awin memang, benar...... Maka bersiaplah...... Akan ku buat kau menderita sebanyak lebih dari 100 kali, paham?".


Puas mengatakan itu, Emilia segera menyusul yang lain dibelakang. Sementara, Vanessa mendecitkan giginya dan mulai bergumam sambil mengigit ibu jarinya.


*Kenapa aku bahkan tidak bisa mendapat sedikit perhatiannya? Kenapa?*.


Kembali ke seluruh siswa kelas 1-S yang sedang berjalan di koridor.


"Hei, Al..... Menyuruh kami untuk "istirahat" bukan jadi alasan utama mu, kan?".


"Kau pasti ingin memberi tahu kami sesuatu yang sangat penting".


Seketika, Arnold yang berjalan paling depan berhenti dan menoleh kearah Dyan dan Awin dengan tatapan penuh keseriusan.


"Iya, itu benar".


Dylan dan Awin menghembuskan nafas bersama sebagai tanda dugaan mereka benar.


"Jadi..... Apa yang ingin kau- tidak yang ingin kalian beritahu kan pada kami?".


"Ini soal hasil pertandingan antara Reiner dan Falma-senpai".


Kedua langsung menatap tajam kearah Arnold dan suasana diantara mereka semua menjadi tegang kembali.


(--------------------).


"APA KATAMU?!!!..... FALMA-SENPAI, KALAH?!!!!..... BAGAIMANA BISA?".


Awin seketika terkejut begitu mendengar bahwa Falma yang terkenal kuatnya kalah melawan Reiner dalam pertandingan satu lawan satu.


Pertanyaan dan keterkejutan Awin hanya di respon oleh anggukan semua orang. Kecuali, Dylan yang masih tampak tenang mendengar hal itu.


"Tapi, kalau boleh jujur.... Aku benar-benar sulit mempercayai nya".


"Jangankan kau..... Kami saja yang menonton langsung di sana juga dibuat ngak percaya".


Sambil menghisap es jus mangga Garcia mengatakan bahwa dia masih sulit percaya. Seorang Reiner yang mereka anggap lemah bisa mengalahkan Falma-senpai yang puluhan kali lebih kuat darinya.


"Lalu kemudian.....".


"Iya, Diandra resmi membatalkan pertunangan dengan Falma-senpai dan senpai juga dilarang untuk mendekati Diandra lagi seumur hidupnya".


"Belum sampai disitu saja..... Bahkan, Falma-senpai mulai di ejek habis-habisan oleh rekan sekelasnya dan di jauhi oleh semua orang".


"Bahkan ada beberapa siswa yang bilang "itu karma karena telah memperlakukan tunangannya dengan buruk" dan sebagainya".


Mendengar apa yang di katakan Ornest, Olivia dan Arnold. Tampak jelas ekspresi prihati yang ditunjukkan oleh semua termasuk Awin yang merasa kasihan kepada Senior mereka.


"Apa ada salah satu dari kalian yang merekam pertandingan itu dengan Protas?".


Dylan yang dari tadi terdiam tiba-tiba bertanya kepada yang lain. Mendengar pertanyaan Dylan membuat mereka semua menggelengkan kepala sebagai tanda mereka tidak melakukannya.


"Aku merekamnya, kok".


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang berbicara kepada mereka. Saat menoleh rupanya, dia adalah Claudia von Ritzburg yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Iya.... Tapi, aku menaruhnya di kamarku..... Kalau Dylan-san tidak keberatan, aku bisa menunjukkan nya disana".


"Baiklah.... Lagi, pula aku juga penasaran..... Tapi, apa kau tidak keberatan jika aku melihatnya di kamar mu?".


"Tentu saja.... Apa sih yang ngak untuk Dylan-san".


Sambil tersenyum bahagia dan antusias Claudia menggenggam tangan Dylan dengan sangat erat. Melihat adegan itu, Awin sempat melirik kearah Filaret, Sylvia dan Ritzia yang mengirim tatapan tajam kearah Claudia.


Tapi, bukannya merasa tidak nyaman. Claudia yang menyadari tatapan ketiganya, malah mengirim tatapan dan senyuman yang menyindir kearah ketiganya sekaligus membuat mereka naik pitam.


*Ngak dulu, ngak sekarang..... Kenapa kau tidak pernah peka dengan perasaan gadis-gadis yang menyukaimu.... Aniki, Aniki*.


Sambil mengalihkan pandangannya kearah lainnya, Awin mulai bergumam dengan ketidak pekaan Kakak laki-laki nya.


Di kamar Claudia.


(Aku tahu..... Aku datang ke kamar Claudia karena ingin melihat hasil rekaman pertandingan antara Reiner dan Falma, tapi........ Kenapa gadis ini malah duduk di dekatku..... Dan ini terlalu dekat).


Sesuai dengan keinginan nya, Dylan dan rekan-rekannya ingin melihat rekaman pertandingan antara Reiner dan Falma melalui Protas milik Claudia.


Tapi, yang jadi masalah buat Dylan saat ini adalah pembagian tempat duduknya.


Dimana Dylan dan Claudia duduk di atas tempat tidur, dan berdekatan sampai bahu mereka saling menyentuh, sementara yang lain duduk di kursi yang terpencar-pencar.


Terlepas Dylan yang merasa canggung. Tampak wajah bahagia di tunjukkan oleh Claudia karena duduk bersebelahan.


Belum lagi, Filaret, Ritzia, Sylvia yang menatap keduanya dengan penuh aura mengintimidasi yang kuat, Garcia yang iri sampai menangis darah.


Ornest, Arnold, Emilia dan Olivia yang tersenyum canggung. Dan Awin yang melirik kearah lain sambil menghembuskan nafas.


"Kalau begitu, ayo kita mulai dengan posisi yang seperti ini".


Dengan sangat senang, Claudia segera memulai untuk memutarkan rekamannya yang dia pancarkan ke dinding kamar.


"Tapi, aku lebih baik duduk di....".


"Seperti ini saja".


Dylan yang merasa canggung mencoba berdiri dan pindah posisi duduk ke kursi yang kosong, tapi dengan sigap Claudia mencegahnya dan tetep memintanya duduk di sebelahnya.


Karena tidak punya pilihan lain, Dylan memutuskan untuk tetap mengikuti apa yang Claudia ingin kan. Tapi, matanya melirik ke arah Helena seraya untuk meminta bantuan.


Menyadari hal itu, Helena hanya memalingkan wajahnya sambil menutup matanya dan mulai bergumam sendiri. Tapi, gumaman bisa di dengar jelas oleh Dylan yang menunjukkan Vena biru di kepalanya.


*Oh, nona Claudia ku yang manis dan polos.... Sudah berubah menjadi gadis yang pemberani*.


(Dasar Pelayan ngak guna).


Terlepas dari itu. Claudia mulai menunjukkan rekaman hasil pertandingan Reinner dan Falma.


(----------------)

__ADS_1


Meski di perangkat Protas adalah alat sihir yang diutamakan untuk komunikasi jarak jauh. Nyatanya, perangkat itu juga bisa di gunakan sebagai alat perekam dan menjadi layar proyektor.


Selama menonton rekaman itu.


Tampak jelas bahwa Reiner benar-benar kesulitan dan terus-menerus menyerang Falma dengan sangat arogan tanpa membuat rencana apapun.


Bagi Kelas 1-S dan Claudia apa yang dilakukan Reiner hanyalah asal maju dan mengayunkan senjatanya.


Dan Falma hanya dengan santainya menangkis dan menahan setiap serangan dari Reiner seolah-olah itu bukan masalah baginya.


Para penonton yang bersorak sorai, memuji Reiner yang di kira berhasil memojokkan Falma.


Tetapi, kemudian Falma segera melakukan serangan balik yang dengan sangat cepat segera membalikkan keadaan. Dan dia benar-benar membuat Reiner dalam kondisi terpojok.


Kemudian hal yang janggal mulai terjadi.


Saat Falma hendak melayangkan satu serangan pamungkas, tiba-tiba Falma terpental kearah samping sampai dia berguling-guling beberapa kali.


Memanfaatkan hal itu, Reiner segera menodongkan pedangnya kearah Falma yang mau bangun tepat di lehernya.


Melihat rekaman itu, Dylan segera meminta Claudia untuk menghentikan pemutarannya. Karena dia melihat sesuatu yang tidak beres.


"Dia, bisa kau hentikan rekamannya".


"Baiklah".


Sesuatu permintaan Dylan, Claudia menghentikan rekaman itu.


"Tolong putar ulang dan hentikan sewaktu Falma-senpai terpental".


Claudia kembali memutarkan adegan di mana Falma tiba-tiba terpental. Dylan dengan seksama memperhatikan gambar yang dia lihat dengan penuh ke konsentrasi. Sama halnya, dengan Awin yang melakukan hal yang sama.


"Dia, bisa kau perbesar layar..... Terutama di bagian, pinggang sebelah kiri Falma-senpai".


"Baiklah".


Claudia kembali melakukan apa yang Dylan minta. Dan setelah di perbesar dan diperjelas.


Meski samar-samar Dylan bisa melihat ada sekelebat hijau yang sepertinya menyerang Falma dari samping.


Melihat hal itu, Dylan segera menutup wajahnya dengan tangan kanannya kemudian dia mulai tertawa. Ikuti oleh Awin yang melakukan hal yang sama.


Melihat hal itu, membuat semuanya keheranan sambil menaikkan salah satu alisnya. Kemudian, Dylan mulai berbicara.


"Hihihi.......... Aku memang merasa ada yang tidak beres..... Hihihi..... Tapi, tak ku sangka ternyata memang begitu adanya..... Hihihi".


"Hihihi..... Kau benar Dylan..... Aku bahkan tidak bisa berhenti tertawa...... Hihihi.......".


"Ano......... Kenapa kalian berdua tertawa?......... Dan memang apa ada yang lucu?".


Karena penasaran, Olivia bertanya alasan kenapa Dylan dan Awin tertawa. Lalu, Dylan segera mengatakan apa alasannya.


"Livia..... Kami tertawa bukan karena ada yang lucu..... Melainkan menertawakan apa yang kami lihat".


Olivia semakin tidak paham dengan apa yang di katakan Dylan. Tapi, Dylan segera menjelaskan apa yang dia maksud.


"Orang-orang mungkin bilang ini adalah "kemenangan" Reiner...... Tapi, setelah melihat ini..... Aku akan mengatakan "kemenangan" Reiner..... Merupakan sebuah kecurangan".


"Eh?".


Seketika ruangan itu menjadi senyap dan sunyi. Semuanya terkejut dan keheranan dengan kesimpulan yang diambil oleh Dylan setelah melihat rekaman pertandingan itu.


(-----------------)


"Coba kalian perhatikan baik-baik gambar di depan itu...... Bukankah ada yang aneh?".


Semua segera menoleh kembali dan memperhatikan rekaman yang terhenti itu dengan seksama.


Selang beberapa saat mereka mulai menyadari dan melihat apa yang di maksud dengan tertawaan Dylan dan Awin barusan.


"Sekarang mengerti, kan?........ Alasan kenapa aku dan Dylan tertawa adalah...... Karena saat Falma-senpai hendak melakukan serangan terakhir pada Reiner..... Ada seseorang yang menembakkan sihir kearahnya".


"Dan dari arah laju sihir itu datang..... Penembaknya jelas berasal dari bangku penonton.......".


Mendengar apa yang di jabarkan Dylan dan Awin, membuat Filaret langsung termenung untuk sesaat dan mulai berbicara.


"Begitu ya..... Berarti firasat ku ngak salah waktu itu".


"Eh? Apa maksudmu Fira?".


Emila yang mendengar itu segera meminta penjelasan kepada Filaret soal perkataannya barusan.


"Waktu itu, aku sempat merasakan adanya, energi sihir asing yang keluar diantara para penonton untuk sesaat..... Tapi, karena aku mengira itu hanya perasaan ku saja..... Makanya aku abaikan hal itu".


"Terimakasih, Fira..... Dengan kau berkata itu.... Maka dugaan ku dan Awin semakin kuat kalau Falma-senpai memang di curangi".


"Eh? Kenapa kau berkata begitu Dylan?".


Ornest yang penasaran kenapa Dylan bisa dengan mudahnya percaya dengan perkataan Filaret segera bertanya.


"Sejak kecil, Fira memiliki kemampuan untuk bisa merasakan energi sihir setiap orang yang ada disekitarnya..... Dia juga bisa tahu, apabila ada seseorang di sekitar nya yang tiba-tiba mengaktifkan sihir mereka meski orang tersebut melakukannya dengan energi yang sangat tipis dan halus".


"Eh? Bukankah itu kemampuan yang hebat".


Ornest yang mendengar itu terkejut bukan main, sementara Fira menjadi senang karena kemampuan nya di puji.


"Tapi, kenapa wasit menyatakan ini kemenangan Reiner?".


Claudia yang juga penasaran mencoba untuk bertanya. Dan pertanyaan Claudia segera di jawab oleh Ritzia.


"Juri saat itu adalah seorang guru yang keluarganya berada di Fraksi Vanessa..... Dan kebetulan keluarga Falma-senpai yaitu Hildebrand pernah menolak tawaran bergabung dengan fraksi Vanessa....... Dan lebih memilih berada di Fraksi ku...... Dugaan ku, mungkin orang itu tahu bahwa ada kecurangan..... Tapi, dia memutuskan untuk mengabaikan itu dengan sengaja".


Mendengar hal itu membuat semua orang mulai memahami apa alasan kenapa wasit saat itu menyatakan kemenangan Reiner meski dia sadar dengan adanya kecurangan yang ada.


(Aku tidak menyangka bahwa pertandingan ini juga di manfaatkan untuk menekan orang-orang yang berada di fraksi Ritzia...... Dan aku yakin, kalau Diandra juga menjadi bagian dari kecurangan yang dialami Falma-senpai...... Mengingat betapa bencinya dia dengan Falma-senpai beserta keluarganya....... Sekarang, bagiamana caranya membuktikan bahwa Falma-senpai memang di curangi..... Mengingat pelakunya bagian dari bagian fraksi Vanessa..... Pasti mereka menutupnya dengan sangat rapi..... Berarti sekarang aku, hanya bisa meminta bantuan pada satu orang).


Sambil tersenyum, Dylan tahu di situasi yang tidak menguntungkan ini. Dia sadar untuk meminta bantuan kepada siapa.

__ADS_1


__ADS_2