Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Takut Jatuh Cinta


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Ryota beberapa hari lalu, kini Senja kian sibuk untuk menyiapkan bahan meeting lanjutannya. Apalagi hari senin besok, Radit memintanya untuk review terlebih dahulu sebelum diajukan ke Ryota.


Radit yang melihat keseriusan Senja, kadang merasa tak enak hati ingin membantu, tapi jika hal tersebut dia lakukan akan membuat karyawan lainnya iri dan menjadi bahan pergunjingan di belakang.


Beberapa hari ini Senja selalu pulang larut agar pendingan kerjaan untuk hari berikutnya sedikit, atau kalau dia malas untuk pulang larut, dia akan membawa laptopnya ke kos untuk dikerjakan saat malam harinya.


Jam mejanya sudah menunjukkan pukul 12.00, sudah saatnya untuk mengisi perut. Namun Senja tetap setia di meja kerja sambil menatap laptopnya. Membaca ulang bahan risetnya sambil melahap bekal yang sudah dia beli tadi pagi di warung tegal alias warteg saat perjalanan berangkat ke kantor. Nasi dipadukam dengan ikan kembung, orek tempe serta sayur pare adalah favoritnya. Jika biasanya makan siangnya akan bersama dengan empat sekawannya, kali ini Senja lebih memilih ditemani laptop setianya.


"Senja, ini saya bawakan Americano kesukaanmu" Radit menyerahkan satu cup Americano ukuran Grande dari kedai kopi asal Amerika Serikat tersebut.


"Eh makasih Pak Radit," jawab Senja antusias sambil mulai meminum Americanonya.

__ADS_1


"Kalau lagi berdua gini jangan panggil Pak dong, berasa makin tua hehe," Radit pun kemudian menarik kursi di sebelahnya dan duduk di samping Senja untuk melihat apa yang dia kerjakan.


Senja melihat sekeliling dan ternyata memang hanya mereka berdua di dalam ruangan tersebut, ah ya benar karyawan lainnya sedang istirahat di luar.


"Bukanya udah tua ya hehe," goda Senja. "Trus maunya dipanggil apa?" lanjutnya.


"Hmm Bang boleh atau Kak, atau sayang juga bisa hahaa," Radit mulai menggoda Senja. Senja hanya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian lanjut membahas materi presentasi yang tengah ia siapkan bersama Radit.


Senja sebenarnya cukup peka dengan modus pendekatan yang dilakukan oleh Radit, mulai perhatian kecil dengan memberinya makanan atau minuman kesukaan, menjemput dan mengantar pulang, serta ajakan hangout berdua saat weekend. Namun seringnya Senja menolak hal tersebut. Senja takut merasa nyaman dengan Radit, Senja takut terlalu bergantung dengan Radit, dan terpenting Senja takut jatuh cinta padanya.


Pak Joko ayah Senja selalu berharap putrinya menikah dengan pria dari Jawa Timur terlebih berasal dari kota yang sama, sehingga lebih mudah untuk menerima dan memahami adat dan budaya jawa tersebut. Seperti kedua kakaknya yang menikah dengan perempuan dari kota yang sama namun berbeda kecamatan.

__ADS_1


"Senja, kamu ga salat, ini udah mau pukul 1 loh?" tanya Radit mulai berdiri untuk kembali ke meja kerjanya.


"Lagi libur Pak," jawab Senja singkat, "Ohya Pak," jeda Senja.


"Kenapa?" Radit yang sudah berjalan ke arah mejanya kemudian berbalik menghampiri Senja Terlihat beberapa karyawan pun mulai kembali dari istirahat siangnya.


"Eh maaf gak jadi deh Pak, nanti saya perbaiki ini dulu," jawab Senja mengurungkan niat awalnya untuk menanyakan perihal asal suku dan asal kota nya Radit, karena melihat banyak karyawan lain maka diapun tak enak menanyakan hal pribadi tersebut.


"Dil," sapanya pada Dila yang baru mulai duduk di meja kerjanya, "Pak Radit tu asli mana sih, aku pernah denger dia ngomong sunda deh?"


"Kalau gak salah asli Serang mbak, cuma udah lama pindah ke Jakarta sama orang tuanya, kenapa emangnya mbak?" ucap Dila.

__ADS_1


"Pantes waktu itu aku pernah tanya soal suku baduy dia paham banget, ternyata se provinsi," gumam Senja. Dan Dila hanya menganggukkan kepala kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Maaf Pak Radit sudah masuk blacklist, semoga kamu mendapat jodoh terbaik," batin Senja kemudian membuang cup americanonya yang telah habis.


__ADS_2