Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Senja Sakit Lagi


__ADS_3

Kedatangan Akira Hiroto ke Indonesia dan beberapa timnya selain untuk Rapat Umum Pemegang Saham, juga membahas progres proyek pembangunan pabrik baru di Jawa Timur, dimana progres saat ini adalah perizinan sudah selesai dan tinggal prosesi peletakan batu pertama satu minggu lagi.


Akira Hiroto tentu sangat bangga dengan pencapaian putranya ini. Dalam setahun memimpin telah berhasil meningkatkan penjualan maka dari itu pembangunan pabrik baru menjadi sangat perlu dilakukan, walaupun proses feasiblity study atau uji kelayakannya juga menghabiskan waktu tak sebentar.


"Omedetou (selamat), jangan lupa segera resmikan hubungan kalian," pesan sang Papa saat berjalan keluar dari ruang meeting.


"Terima kasih Pa," jawab Ryota begitu senang dengan respon sang Papa dan dewan komisaris lainnya terhadap pencapaiannya ini, serta terhadap restunya dengan Senja.


Selesai meeting, Ryota beserta Senja mengantar Papa dan Mama Ryota ke bandara, karena malam ini keduanya harus kembali ke Jepang. Banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan di sana.


"Senja, kamu telepon Mama ya kalau Ryota mulai nakal," pesan Bu Dewi saat mereka tengah berpelukan untuk berpisah di bandara.


"Siap Bu, eh Ma," jawab Senja, sejak semalam Bu Dewi meminta Senja memanggilnya Mama agar makin akrab demikian juga panggilan Papa untuk papanya Ryota.


"Saat orang tua Senja telah memberi restu, segera hubungi kami biar kita bisa langsung melamar Senja," Pak Hiroto menimpali. Bu Dewi telah bercerita banyak tentang Senja dan keluarganya maka dari itu Pak Hiroto setuju jika Senja bersanding dengan putranya, apalagi Senja adalah pribadi yang tulus dan berjiwa sosial tinggi.


"Siap Pa," jawab Ryota sedangkan Senja tersipu karenanya.


Dalam perjalanan pulang, Senja terlihat mulai pilek dan tak jarang bersin-bersin.


"Sayang kamu sakit?" Ryota terlihat cemas hingga dia mengarahkan tangannya ke kening Senja.


"Panas lo yang," ucap Ryota kembali.


"Kayaknya gegara semalem deh minum es kebanyakan sama keramasnya kesorean" jawab Senja meraih tisue untuk membuang ingusnya.


Srot... srot... "Ta maaf," Senja merasa tak enak hati telah membuang ingus saat masih di mobil, keduanya tidak mungkin berhenti karena sedang di atas tol yang jauh dari SPBU.


"Sayang gapapa, aku gak jijik kok, mau ke dokter dulu atau pulang aja?" tanya Ryota, sungguh dia tak pernah merasa jijik untuk sekedar ingus dari kekasihnya, bahkan sebelumnya dia pernah melihat noda darah di celana yang dipakai Senja.


"Pulang aja deh Ta, aku pusing mau tiduran dan pula ada obat kok di kosan, aku kirim pesan ke pak Radit dulu deh," jawab Senja sambil mulai menyenderkan kepalanya ke kursi dan mengetik pesan kepada atasannya.


"Nanti saja aku izinin langsung ke Radit, kamu tiduran aja," ucap Ryota.


"Jangan Ta, kalau kayak gitu orang ngiranya aku manfaatin jabatan kamu, ini Pak Radit udah bales ok kok," jawab Senja kemudian memejamkan mata agar tidak terlalu pusing.


"Baik nona," Ryota kadang tak habis pikir dengan Senja, padahal maksudnya agar saat ini Senja bisa lekas tidur dan tak memusingkan kantor.


Sebelum tiba di kosan, Ryota berhenti terlebih dahulu di salah satu restoran untuk membeli makan siang agar nanti bisa Senja makan sebelum minum obat, mengingat keduanya juga belum makan siang.


"Mau digendong atau bisa jalan sendiri?" tawar Ryota saat sudah sampai di halaman kosan Senja.


"Bisa jalan sendiri kok, kamu mau makan siang disini dulu atau langsung balik ke kantor?" tanya Senja sebelum keluar.

__ADS_1


"Disini aja yang, sekalian ke apartemen juga deh udah jam segini juga," jawab Ryota setelah melihat jam tangan yang menunjukkan pukul 15.30. Keduanya kemudian menuju kamar Senja.


"Besok malam, Tsubaki ngajak makan malam semoga sayang udah sembuh jadi bisa menemaniku," ajak Ryota karena dirinya merasa tak enak dia hanya berdua bersama Tsubaki, setelah diinfokan bahwa Raka tidak bisa join, begitu pula Radit kemungkinan juga dipastikan tak bisa join.


"I hope, yaudah habis makan kamu lekas pulang biar aku bisa cepat tidur," perintah Senja.


"Baik, nyonya Ryota," goda Ryota.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya Senja sudah segar, walaupun hidungnya masih agak mampet tapi tidak bersin-bersin seperti semalam. Dia sangat bersyukur sehingga nanti bisa menemani Ryota untuk makan malam dengan Tsubaki, ahh pokoknya dia tidak mau sang kekasih hanya berduaan dengan mantannya itu.


"Udah enakan Mbak?" tanya Dila saat melihat Senja sudah datang dan bersiap duduk di tempat kerjanya.


"Alhamdulillah udah Dil, kemarin sore aman?" tanya balik Senja menanyakan keadaan di kantor saat dia izin pulang.


"Siapp 86," jawab Senja sudah siap beraktifitas seperti biasa.


Sebelum mulai memeriksa dokumen-dokumen Senja memutuskan untuk mengambil air di dalam gelasnya agar bisa melarutkan vitamin C, iya dia harus minum vitamin C rutin agar daya tahan tubuhnya meningkat setelah kejadian kemarin yang mendadak flu.


Dia berjalan menuju meja gelas dan galon, namun saat di depan meja Radit, dia memanggilnya.


"Nanti sore tolong temani sachou, dinner meeting dengan CEO Sato Construction ya, sebenarnya saya yang diminta join, tapi saya ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan nanti malam," pinta Radit untuk menggantikan makan malam bersama Tsubaki.


"Ohya baik Pak, sachou kemarin juga sudah sempet info," jawab Senja.


"Kamu udah sehat kah? sempet takut siapa yang gantiin kalau kamu gak masuk hari ini," ucap Radit.


"Aman Pak, ini mau saya boost vitamin C biar makin sehat," jawab Senja.


"Baiklah makasih ya" ucap Ryota.


"Sama-sama Pak," ucap Senja kemudian menuju tempat gelas dan mengambil air.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Malam hari selepas ibadah maghrib Ryota telah nongkrong di depan kosan Senja untuk menjemputnya. Senja masih di kamarnya dandan sebaik mungkin agar tidak memalukan Ryota. Dan gaun yang dipilihnya adalah gaun malam berwarna cokelat dengan payet bordir dan berlengan panjang sehingga tetap terlihat sopan. Tak lupa dia juga mengenakan perhiasan seperti anting dan gelang untuk mempercantik penampilannya.


Senja yang tiba di bawah, langsung masuk ke dalam mobil Ryota. Karena Ryota memutuskan menunggu saja di dalam mobil. Dan dia begitu terpukau dengan penampilan sang kekasih, apalagi dia nampak menggunakan perhiasan dan juga high heels, sesuatu yang tidak pernah Senja tampakkan selama ini, biasanya dia berpenampilan sederhana dan terkesan cuek.


"Hey Ta, kok bengong aneh kah? atau mau ganti baju lain tapi aku gak punya yang lain haha," tawa Senja, dia hanya memiliki satu baju pesta saja sudah sangat beruntung. Gaun ini rencananya dibeli untuk menghadiri pesta pernikahan Amar yang diadakan di salah satu ballroom hotel mewah yang acaranya malam hari, namun sayang dia tidak bisa datang saat itu, alhasil gaun ini belum pernah terpakai.


"No, sayang kamu cantik banget, sini aku bantuin pake sabuk pengaman," modus Ryota, yah namanya juga usaha kan.


"Big No, mau modus ya haha," Senja segera memasang sendiri sabuk pengamannya dan mobil segera dijalankan Ryota, sedangkan Ryota hanya menyengir setelahnya.


"Kamu kenapa sih gak pernah dandan kalau tiap ke kantor?" tanya Ryota karena menurutnya kekasihnya akan bertambah cantik jika dia dandan.


"Ribet ahh Ta, mending biasa aja, atau kamu pengen aku dandan?" tanya balik Senja menoleh ke arah Ryota.


"Senyaman kamu ajalah sayang, dandan gak dandan juga kamu tetep cantik," goda Ryota sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Senja.


"Ihh nacal yaa haha," Senja menepuk lengan Ryota.


"Makan malamnya di hotel mana yang?"


"Shangrila yang, coba bantuk cek maps nya ya," pinta Ryota. Kemudian Senja bantu mengarahkan maps untuk Ryota agar tak salah arah.


.


.


.


.


.


"Dengan ini kamu akan segera menuju surga dunia, Ryota," Tsubaki menyeringai sambil memasukkan beberapa obat yang akan digunakan untuk menjebak Ryota.


Setelah obat dimasukkan ke dalam dompetnya, dia kemudian mengelus perutnya "Ryota junior harus bisa tumbuh disini, dan kami akan berbahagia memiliki keluarga dengannya."

__ADS_1


__ADS_2