Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Terjebak


__ADS_3

"Ryota," ucap Tsubaki begitu bahagia. Dia merasa begitu senang karena rencananya berhasil. Pria di hadapannya ini pun nampak begitu menikmati permainan malam hari ini. Mereka rela meninggalkan pesta pernikahan demi pestanya sendiri.


Di bawah pengaruh alkohol dan obat, keduanya melakukan olahraga malam dengan semangat. Puas berkelana, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang. Kedua pasangan tak resmi ini terlelap dalam keadaan polos seperti bayi baru lahir, bedanya kalau bayi begitu suci keduanya ini kebalikannya.


Pagi hari, Tsubaki membuka matanya terlebih dahulu. Dia menyingkapkan selimutnya dan ingin memandang lebih dekat Ryota. Seorang pria di sampingnya mulai membuka mata dan menyapa Tsubaki.


"Ohayou (selamat pagi)," pria itu tersenyum manis menatap dalam Tsubaki.


Tsubaki yang merasa tak mengenal pria asing itu begitu kaget dan sedikit menjerit. Tangannya kembali meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Ahh Tsubaki punya malu juga kali ini.


"Ssi... siapa kamu? kenapa kamu bisa di kamar ku?" selidik Tsubaki penuh kesal.


"Jelas bisa, apa kamu ingin Ryota yang di sini?" tanya balik sang pria.


"Ahhh bukan seperti itu, tapi bagaimana bisa?" Tsubaki mulai berkilah.


Pria tersebut segera bangun, meraih ponselnya dan segera mencari pakaiannya kemudian segera memakainya. "Lantas seperti apa maksudmu nona? apa hubunganmu dengan Ryota hah?" lanjutnya.


"Ti.. ti dak ada," jawab Tsubaki merasa terancam karena tatapan pria itu begitu menakutkan.


"Jawab aja sayang, ceritakan semuanya, atau kamu ingin selamanya tak bisa bangun," paksanya serius sambil menggenggam erat lengan Tsubaki hingga wanita itu meringis kesakitan.


Tsubaki masih meringis kesakitan. Dirinya tak punya pilihan lain untuk menghindar. Dan akhirnya dia menceritakan semuanya. Dia bercerita tentang dirinya yang pernah berpacaran dengan Ryota namun harus putus karena berbeda keyakinan. Kini, dia ingin kembali bersama mantan terindahnya itu agar bisa hamil anak Ryota sehingga restu orang tua Ryota akan mudah didapatkan. Dia juga menceritakan semua rencana jebakannya di hotel ini.


"Hahahha, siapa namamu?" pria asing itu nampak tak mengenal Tsubaki, perempuan yang menjadi partner duetnya semalam.


"Tsubaki... Sato Tsubaki," jawab Tsubaki lirih.


"Oh.. Sato Tsubaki, aku pernah mendengar tentangmu, hmmm sungguh kau tak sejenius yang orang lain bicarakan," ucap pria itu sambil tangannya sibuk berkirim pesan entah dengan siapa.

__ADS_1


"Cepat bersihkan dirimu, ada yang ingin bertemu dengan kita sebentar lagi," perintahnya pada Tsubaki. Tsubaki bangun dari tidur dengan selimut yang melilit tubuhnya. Dia segera menuju kamar mandi. Siapapun yang akan menemui mereka semoga bukan masalah baru.


Bersamaan dengan Tsubaki keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, terdengar pintu terketuk oleh seseorang. Pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Hai brother," sapanya kepada tamu yang datang.


"Are u okay?" tanya tamunya.


"Sangat okay," jawabnya sambil tersenyum senang.


"Ryota, kalian, bagaimana bisa?" Tsubaki terkejut melihat tamu yang baru saja datang adalah Ryota. Seseorang yang seharusnya ada bersamanya di kamar ini semalam.


"Hai Tsubaki, apa kabar?" sapa Ryota saat melihat mantan kekasih sekaligus rekan bisnisnya.


Flashback on


Ryota merasa begitu kering tenggorokannya, dia berpamitan dengan teman-temanya untuk mengambil minum sekaligus menemui Daichi yang beberapa saat lalu mengiriminya pesan untuk meminjam pakaian agar bisa menyamar dari kejaran Risa.


"Permisi, saya ambil ini ya," ucap Ryota kepada pelayan dengan ramah. Pelayan tersebut ikut tersenyum mempersilakan si calon korban menikmati perangkapnya.


Gelas berisi minuman jeruk dingin yang telah dicampur obat itu pun diambil oleh Ryota. Dengan hati-hati dia mulai ingin segera meneguk minuman itu, namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. *Daichi dengan tergesa merebut gelas itu dan meminumnya dengan rakus sekali habis.


Dia nampak penuh berkeringat karena berlarian mencoba menghindari Risa. Saat kedua orang Risa mengajak si gadis imut itu menemui pengantin, Daichi dapat sedikit bernafas lega. Apalagi tak jauh dari tempatnya, nampak Ryota yang sedari tadi ingin ditemuinya untuk meminjam pakaian.


"Udah Ta, kamu ambil gelas lain aja, aku buru-buru sekarang mana kunci kamarmu agar kau bisa ambil sendiri pakaiannya?" pinta Daichi.


Ryota nampak sebal karena minumannya direbut oleh sepupunya. Namun selanjutnya dia akan berhutang dengan Daichi apabila tahu fakta sesungguhnya.


"Haik, haik, ini ya ingat 206," Ryota memberikan kunci kamar hotelnya pada Daichi.

__ADS_1


Flashback off


"Arigatou Daichi, kamu menyelamatkanku," Ryota menundukkan badannya kepada sepupunya. Pria yang menjadi teman tidur Tsubaki semalam adalah Daichi.


"Daichi, jangan-jangan... kamu Akira Daichi?" tanya Tsubaki mulai menyadari siapa partner olahraganya.


"You're right baby, kamu akhirnya mengenal namaku," Daichi dengan gaya cool menjentikkan jarinya ke arah Tsubaki yang nampak masih terkejut.


Ryota mengeluarkan ponselnya, kemudian memutar rekaman suara dari Daichi. Rekaman tersebut berisi pengakuan dari Tsubaki. Tsubaki yang mendengarnya hanya bisa terduduk dan menangis. Dia merasa gagal dengan segala usahanya untuk memenangkan Ryota.


"Mengapa kamu menjadi seperti ini Tsubaki?" Ryota merasa Tsubaki yang dikenalnya dulu sangat berbeda dengan saat ini.


"Maaf Ta, maaf," ucap Tsubaki masih dengan tangis sesenggukkan berupaya mendapat maaf dari Ryota.


Ryota menghela nafas panjang. Dia begitu bersyukur karena bukan dirinya yang terjebak. Entah dia tak dapat membayangkan jika semalam dengan kecerobohannya dia berakhir di kamar ini. Di sisi lain, dia juga merasa tak enak hati dengan sepupunya. Walaupun mungkin untuk urusan seperti semalam sepupunya sudah pasti jauh lebih ahli dan menikmati dibanding dirinya yang lurus.


"Daichi maaf, untuk kejadian semalam," Ryota kembali membungkukkan badan. Dia merasa bersalah dengan Daichi.


"Tak masalah Ryo, sudah lama aku tak bermain seru," jawabnya nakal pada Ryota. Ryota hanya menggelengkan kepala, sepupunya ini memang pemain ulung.


"Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, jangan ganggu aku, dan keluargaku juga terkahir jangan hubungi Senja," perintah Ryota dengan muka datarnya. Ryota nampak menahan amarahnya.


"Bagaimana dengan kerja sama perusahaan kita?" Tsubaki masih berharap ada jalan dia dan Ryota bertemu dengan kerjasama pembangunan pabrik baru Akira di Jawa Timur, Indonesia.


"Biarkan anak buahmu yang menemui ku, atau asistenku yang menemuimu. Kalau kamu bertekad menemui ku, saat itu juga kerja sama kita selesai. Masih banyak perusahaan konstruksi lain yang siap bekerja sama dengan perusahaan ku," jawab Ryota panjang lebar kemudian bergegas keluar dari kamar hotel tersebut.


"Thanks baby, lain kali kita coba permainan baru ya," Daichi mengerlingkan matanya masih berusaha menggoda Tsubaki, setelahnya dia keluar dari kamar hotel menyusul Ryota.


Tsubaki meratapi nasibnya. Dia mulai mencari obat penunda kehamilan yang selalu ada di tas nya, namun di saat penting seperti ini malah tak ditemukan. Dia baru ingat jika dia tak membawa itu karena begitu yakin misi tidur bersama Ryota akan membuahkan hasil. Benar kata Daichi, dirinya tak sejenius yang orang lain bicarakan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai...hai terima kasih untuk dukungannya, selamat hari selasa, semoga bahagia senantias bersama 🤗🙏🥰.


__ADS_2