
Sabtu pagi yang cerah, secerah hati Senja yang akan melakukan kegiatan sosial menghibur adik-adik penderita kanker. Senja memang cukup aktif berkegiatan sosial. Dia bahkan memiliki akun di salah satu platform pencari relawan. Platform tersebut merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memudahkan kolaborasi antara relawan dengan berbagai komunitas dalam menjalankan misi sosial melalui sebuah situs web yang mereka miliki. Di sosial media dia juga aktif mem-follow akun-akun komunitas sosial sehingga dia tidak ketinggalan berita untuk berkegiatan.
Hari ini Senja akan bergabung dengan 9 relawan lainnya berkolaborasi dengan sebuah yayasan khusus penderita kanker anak. Anak penderita kanker ini tentu berasal dari kelas ekonomi bawah yang membutuhkan support sesama agar memiliki semangat berjuang dan sembuh. Tugas sepuluh relawan ini adalah menghibur mereka dengan dongeng, bernyanyi bersama atau sekedar menemani mereka bermain.
"Kakak-kakak gendong," salah satu adik kecil penderita kanker meminta gendong kepada Senja, gadis kecil ini memeluk erat Senja, dan Senja mengelus-elus punggungnya dan menyanyikan lagu sederhana untuk si adik.
Si adik yang merasa nyaman, meminta Senja membawanya melihat ikan yang berada di kolam depan. Sebenarnya Senja merasa keberatan karena si adik cukup padat badannya tapi dia tahan dan tetap menampilkan senyum bahagia karena apa yang dia rasakan sekarang tak sebanding dengan penyakit di adik.
Saat sudah tiba di kolam ikan, si adik meminta turun untuk melihat ikan secara langsung. Senja menurunkannya dan memperingatkan agar hati-hati. Senja ikut berdiri di sebelahnya untuk mengawasi.
Seorang perempuan usia 50 tahunan dengan pakaian sederhana namun high class baru turun dari taksi datang menghampiri Senja dan menyapanya.
"Hai kamu, apa kabar?" sapa perempuan.
Senja menoleh, "ahh ibu baik bu, kok bisa disini?" tanya Senja melihat seseorang yang pernah menjadi temannya di pesawat dan pernah ditemuinya di es krim oen.
"Semalam tiba dari Jepang, dan ini mau menjenguk teman," jawab si Ibu.
Keduanya akhirnya berjanji untuk makan siang bersama karena Senja sedang ada tugas volunteering. Dan si Ibu yang harus segera bergegas menuju tempat temannya.
Selesai berkegiatan sosial, Senja dan si Ibu yang ditemuinya tadi berencana makan siang di restoran depan rumah sakit. Si Ibu telah menunggunya terlebih dahulu.
"Maaf ya bu lama," ucap Senja yang baru tiba.
"Gapapa, saya juga baru tiba, ohya kita belum kenalan loh, saya Dewi Amerta," ucap Bu Dewi.
"Saya Romansa Kala Senja, panggil saja Senja," jawab Senja.
"Wahh nama yang bagus," puji Bu Dewi.
__ADS_1
Pelayan datang dan keduanya asyik memilih menu. Sambil menunggu menu tersebut dihidangkan keduanya saling mengobrol, khususnya tentang kegiatan yang dilakukan oleh Senja tadi.
Senja menjelaskan tentang acara tadi, apa yang dilakukannya hingga bagaimana dia bisa join ke acara ini. Bu Dewi begitu tersanjung tentang jiwa sosial gadis di hadapannya ini. Dia menjadi terpikir untuk melakukan hal serupa di Jepang nanti.
"Boleh saya punya nomor kamu, saya punya yayasan di Jepang, dan ingin melakukan kayak gitu juga, jadi bisa hubungi kamu untuk sharing,"
"Dengan senang hati Bu," Senja kemudian memberikan nomornya kepada Bu Dewi.
Saat makanan datang, Bu Dewi banyak bertanya tentang aksi sosial Senja lainnya. Senja menjelaskan dengan detail, jika dia banyak mengikuti aksi sosial lainnya, seperti mengajar anak jalanan, menanam mangrove di kepulauan seribu dan mengajar adik-adik anak pulau sana serta mengajar anak-anak di daerah pembuangan sampah.
"Kamu senang anak-anak kah?" tanya Bu Dewi.
"Alhamdulillah saya memiliki masa kecil yang bahagia, jadi saya merasa memiliki obligasi moral untuk membuat bahagia anak-anak lain yang hidupnya berat," jawab Senja.
Bu Dewi manggut-manggut dan kemudian berkata "Anak orang saja diperhatikan, apalagi nanti anak sendiri ya."
Kalimat tersebut membuatnya teringat dengan kalimat yang diucapkan Ryota semalam. Ngomong-ngomong soal Ryota, hari ini dia akan makan malam dengan kedua orang tuanya, dia makin gugup dan merasa minder.
"Tadi mama bertemu perempuan muda, dia rajin banget dengan kegiatan sosial, mama jadi punya ide baru untuk acara CSR (Corporate Sosial Responsiblity) di kantor," cerita Bu Dewi kepada keluarganya yang saat ini tengah menyiapkan makanan untuk acara makan malam.
"Ketemu di mana ma?" tanya sang anak.
"Di rumah sakit, waktu jenguk temen mama tadi, ohya pacar kamu kapan datang sayang?" tanya Bu Dewi.
"Ohya aku jemput dulu, deket kok kosannya." jawab sang anak kemudian pergi menjemput kekasihnya.
"Aku gugup Ta." Senja menepuk-nepuk pahanya saat ini tengah berada di lift apartemen Ryota menuju unitnya.
Ryota meraih tangan Senja, kemudian meminta dia menatapnya. "Tenang ya, mama dan papaku baik kok." kemudian Ryota terus menggenggam jemari Senja hingga keduanya masuk ke unit apartemen Ryota.
__ADS_1
"Senja,"
"Bu Dewi," ucap Bu Dewi dan Senja bersamaan saat Ryota dan Senja tiba di hadapannya.
"Ini yang tadi mama ceritain, gadis yang ketemu mama di rumah sakit, wah ternyata calon menantu, ya ampun," Bu Dewi merasa senang ternyata gadis yang membuatnya kagum karena rajin beraksi sosial adalah kekasih putranya, dia segera menggandeng Senja menuju tempat makan, meninggalkan Ryota dan papanya.
Ryota bingung dan saling memandang dengan papanya, hingga sang papa tertawa dan menepuk pundaknya.
"Kamu memang anak Papa," ucap Papa Hiroto. Dia dan anaknya sama-sama jatuh cinta dengan perempuan Indonesia yang selain cantik juga punya hati yang baik dan tulus terbukti dengan rajin berkegiatan sosial.
Bu Dewi yang begitu antusias akhirnya mengambil alih pembicaraan malam itu. Setelah saling berkenalan, dia mulai menceritakan pertemuannya dengan Senja, mulai dari Senja yang memberikan tempat duduknya di peswat, bertemu di tempat es krim, hingga tadi di rumah sakit. Dia juga menceritakan tentang masa kecil Ryota yang nakal serta yang susah sekali diajari bahasa Indonesia, namun dengan sedikit ancaman akhirnya dia mau belajar. Ryota tentu saja kesal dengan sang mama yang membuka aibnya sedangkan Senja malah tertawa karenanya.
Senja ikut menceritakan tentang keluarganya, bahwa dia anak ketiga dari tiga bersaudara, kedua orang tuanya adalah pensiunan guru. Dan saat ini dia kerja di Akira Indonesia.
"Project di Jawa Timur, idenya Senja Pa, tahun lalu dia sebagai karyawan baru harus membuat project," ucap Ryota menjelaskan kepada orang tuanya.
"Wah keren, pantes Ryo berusaha keras agar disetujui," ucap sang Papa yang membuat Senja makin tersipu.
"Ayo sayang dimakan lagi," ajak bu Dewi saat melihat Senja mulai tersipu.
Selesai menikmati makan malam, Senja dan Ryota berencana membereskan tempat bekas makanan dan mencucinya, namun dicegah oleh Bu Dewi, dia mengatakan ingin mengobrol banyak dengan calon menantu. Akhirnya Ryota berbincang dengan sang papa di sofa depan televisi.
"Ryo, gimana Senja?" tanya Bu Dewi, saat ini keduanya tengah membersihkan piring, mangkok, panci dan lainnya tempat memasak suki dan BBQ tadi.
"Dia baik dan perhatian Bu," jawab Senja.
"Ahh saya senang sekali kamu adalah pacarnya Ryo, saya sempat berpikir menjodohkan Ryo dengan kamu setelah tadi ngobrol banyak denganmu, ternyata malah sudah berpacaran, ahh senangnya," ucap bu Dewi senang.
"Iya bu, baru sebulan ini berpacaran," ucap Senja.
__ADS_1
"Kamu tahu soal Tsubaki?" tanya Bu Dewi tiba-tiba.