
Rabu pagi, kantor Akira Indonesia sudah disibukkan dengan meeting untuk membahas progres proyek pabrik di Jawa Timur, mengingat hari Senin nanti akan dilakukan prosesi peletakan baru pertama sebelum bangunan diproses. Tentu saja Ryota, Raka, Radit dan Senja akan terbang ke Jawa Timur untuk acara tersebut.
"Sachou, saya izin tidak bisa join karena ada acara pertunangan saya di hari minggu nya," Izin Radit. Iya pada hari minggu nanti, dirinya dan Rinta akan bertunangan.
"I remember, kira-kira bisa diganti tim yang lain kah agar bisa bantu Bu Senja disana?" tanya Ryota.
"Akan saya persiapkan sachou untuk staf penggantinya," jawab Radit dan Ryota mengangguk paham.
"Baik lah, tolong informasinya segera ya Pak Radit, dan semoga lancar acara tunangannya, saya akhiri meeting hari ini," ucap Ryota kemudian menutup agendanya dan keluar dari ruang meeting diikuti yang lainnya.
"Terima kasih sachou," jawab Radit.
Ryota nampak terburu-buru keluar dari ruang meeting karena telah menahan sesuatu sedari tadi dan segera menuju toilet, sedangkan yang lainnya masih mengobrol di luar sebelum kembali ke tempat kerjanya.
"Wahh selamat bro, semoga lancar ya," Raka menepuk pundak Radit memberi support.
"Terima kasih banyak, semoga lekas menyusul juga ya," balas Radit.
.
.
.
.
.
"Senja, minggu depan operasional di bagian kamu hectic tidak kan ya harusnya? tanya Radit, saat sedang berdua dengan Senja di dalam lift menuju ruang kerja mereka.
"Seharusnya minggu depan, cukup longgar kok Pak," jawab Senja.
"Ok, kalau gitu tolong coba kamu cek jadwal minggu depan, memungkinkan tidak jika Dila yang temenin kamu kesana, pastikan juga Adam tidak keteteran meng-handle kerjaan dia," ucap Radit. Dia berpikir Dila selama ini telah bantu terkait riset proyek pabrik baru ini, sehingga dia bisa membantu Senja di sana.
"Baik nanti saya cek dan segera info Bapak," Senja begitu senang apabila Dila ikut karena akan ada teman cewek selama perjalanan dinas di Jawa Timur nanti.
.
.
.
.
.
"Yeay, akhirnya ngerasain road trip juga," Dila menghela nafas senang karena bisa mengikuti
__ADS_1
road trip dalam rangka perjalanan dinas ke Jawa Timur.
Prosesi peletakan batu pertama akhirnya diikuti oleh Ryota, Raka, Senja dan Dila. Dan perjalanan kesana akan ditempuh dengan jalur darat, mengingat sudah ada tol yang menghubungkan dari Jakarta hingga beberapa kota di Jawa Timur, dan kota tempat pabrik baru tersebut merupakan kota yang telah dilewati tol.
"Ini beneran gak pakai driver beb, kamu gak capek kah?" cerocos Dila kepada Raka yang sedang menyetir, saat ini keduanya tengah menuju arah kosan Senja untuk menjemput Senja dan Ryota.
"Santai, nanti kita gantian atau istirahat di rest area kalau capek," ucap Raka, yang mulai berbelok ke arah jalan menuju kosan Senja.
Ryota memutuskan menggunakan perjalanan darat agar dia bisa melihat seberapa bagus infrastruktur jalanan di Pulau Jawa saat ini, dan jenis mobil apa saja yang banyak berlalu lalang di atas tol yang nantinya akan mereka lewati. Baginya ini penting untuk melihat langsung, agar dia bisa mencari strategi yang tepat untuk ke depannya, keuntungan lainnya tentu saja melihat pemandangan yang tidak akan bisa dilihatnya jika menggunakan pesawat.
"Gak jadi pake driver kantor Ka?" tanya Ryota saat melihat Raka tengah mengemudikam sendiri mobilnya.
"Enakan gini aja pas berpasangan, nanti aku bisa gantian sama Dila buat nyetirnya kalau istirahat dulu kalau capek, gampang," jawab Raka.
"Ini mah berasa mengantar mbak Senja pulang kampung ya hehe," goda Dila, saat keduanya tengah masuk ke dalam mobil.
"Lebih tepatnya nganter, sebelahnya nyari restu beb hahaha," lanjut Raka dan semua penumpang tertawa bersama karenanya.
Mereka memutuskan berangkat setelah Isya, agar nanti tiba di rumah Senja masih pagi dan sebelum subuh. Perjalanan Jakarta menuju kota Senja ditempuh kurang lebih 8 jam. Mengapa ke rumah Senja? karena rencananya akan menginap di rumah Senja terlebih dahulu, baru minggu siang check in ke hotel yang berada di dalam kawasan industri, Hanabi Hotel. Dari rumah Senja ke kawasan industri sekitar 45 menit.
Saat mobil mulai berjalan, dan kira-kira saat ini telah tiba di daerah Karawang, ponsel Senja berbunyi dan terdapat panggilan video dari kakaknya Langit.
"Bijaaaa Assalamualaikum," Kenan, anak pertama Langit langsung heboh menyapa Senja. Bija adalah panggilan untuk Senja yang merupakan kepanjangan dari Bibi Senja.
"Waalaikumsalam, ponakan gantengnya Bija," ucap Senja. Dila, Raka dan Ryota berusaha menahan tawa mendengar panggilan Bija, yang menurut mereka aneh dan unik.
"Iya dong, besok Bija sampai, ini lagi di jalan," ucap Senja sambil mengarahkan kamera ponsel ke sekitarnya untuk menunjukkan bahwa memang sedang di dalam perjalanan.
"Itu sama siapa Bija?" tanya Kenan kembali.
"Sama teman kerja Bija, kamu mau kenalan?" tanya Senja dan dibalas anggukan oleh si bocah.
"Ini om Ryo, ini tante Dila, dan ini om Raka," Senja mengarahkan kamera ke teman-temannya dan dibalas lambaian tangan ketiganya.
"Bija, tantenya cantik," ucap Kenan sambil memamerkan giginya yang beberapa hilang. Seisi mobil langsung tertawa bersama dengan ucapan Kenan yang menggemaskan tersebut.
"Cantik mana sama Bija?" goda Senja.
Kenan nampak berpikir. "Cantik Bija apalagi nanti dibawaain blem,"
"Kamu pinter modus ya hahaaha," ucap Senja.
"Modus kayak om Ryo hahaa," Raka ikut menimpali. Ryota menepuk bagian belakang kursi Raka.
"Tapi Ken benelan mau blem Bija," ucap Kenan.
"Blem apa sih?" Kenan bocah 4 tahun ini masih belum jelas mengucapkan huruf R, sehingga terkadang membuat bingung pendengar yang tidak setiap hari bersamanya.
__ADS_1
"Bukan blem, tapi blem Bija," kekeh Kenan.
"Yaudah panggil ayah dulu Bija gak ngerti," perintah Senja, kemudian si bocah bangun dan mencari sang ayah yang saat ini berada di ruang tamu.
"Kenapa Ken, udah selesai telepon Bija?" tanya Langit, kakak pertama Senja, ayah dari Kenan.
"Ini Bija gak ngelti blem, blem ayah yang waktu itu dibelikan Man Asa (Paman Angkasa, kakak kedua Senja)," jelas Kenan kepada sang ayah.
Langit mengambil ponsel ayah untuk menjelaskan kepada Senja "Brem itu lo Ja maksudnya Kenan."
"Oalah, iya nanti kalau nglewatin Bija beliin ya," ucap Senja mulai paham oleh-oleh yang dimaksud ponakannya merupakan makanan hasil olahan sari ketan yang bisa larut saat sudah masuk mulut.
"Sip Bija," Kenan mengacungkan dua jempol untuk Senja.
"Ken ndak bobo, udah malem ini?" tanya Senja.
"Yaudah kalo gitu, Ken mau bobo dulu, assalamualaikum Bija muahh," Kenan mulai mengirim kiss bye untuk Senja.
"Waalaikumsalam anak ganteng, muahh," jawab Senja membalas kiss bye dan kemudian menutup ponselnya.
"Sebelahnya ga dimuah juga Senja?" goda Raka dan kali ini Dila yang membalasnya dengan menyubit lengan sang pacar.
"Sakit tauu beb," ucap Raka, padahal cubitan Dila sangat pelan.
"Kita istirahat di rest area Semarang ya nanti sekalian beli oleh-oleh dan bensin," ucap Raka mengingat jika keponakan Senja menginginkan jajanan.
"Sip, terbaik pak Raka," Ucap Senja mengacungkan jempol kepada Raka karena menuruti keinginan untuk membeli oleh-oleh titipan sang keponakan.
"Bija sini," ucap Ryota mengikuti panggilan Kenan, meminta Senja untuk tiduran dengan bersandar pada pundaknya, namun dibalas gelengan kepala Senja karena merasa malu dengan Dila dan Raka. Namun bukan Ryota jika tidak bisa menarik Senja hingga akhirnya bersandar di pundaknya. Tak berapa lama Senja terlelap di pundah Ryota dan Dila bersandar bantal lehernya.
"Ta, tidur?" tanya Raka merasa tak ada suara dari temannya.
"Masih melek kok," jawab Ryota.
"Diem aja," ucap Raka.
"Aku gugup mau ketemu orang tuanya Senja," jawab Ryota jujur, merasa bingung bagaimana besok dia memperkenalkan dirinya di depan orang tua Senja, bagaimana respon orang tuanya dan lain-lainnya.
"Tenang Ta, kan masih dikenalin sebagai rekan kerja kan rencananya? cari simpati orang tuanya dulu saja" ucap Raka.
"heemm," jawab Ryota singkat.
"Beliin tuh oleh-oleh, biar makin kesengsem," ide Raka.
"Bener juga ya, pinter kamu Ka," ucap Ryota memuji asisten pribadinya sekaligus sahabatnya.
"Gue," jawab Raka penuh kebanggaan.
__ADS_1