
Sekitar pukul 06.00 pm waktu London, Senja berkirim pesan untuk Ryota menanyakan soal lamaran tadi dan bagaimana kisah lengkapnya hingga sang ayah tercinta Senja akhirnya setuju. Tadi memang Pak Joko sempat memberitahukan kepada Senja, namun karena Senja dikejar waktu untuk segera kembali ke kampus, dan posisi dia juga sedang makan siang, informasi tersebut tak diterimanya dengan baik.
Tut... dua panggilan untuk Ryota tak kunjung diangkat.
Senja menepuk dahinya pelan. Dia baru sadar kalau saat ini di Indonesia sudah masuk tengah malam, tentu saja kekasihnya tersebut mungkin sedang berkelana di medan mimpi.
Ketika Senja mulai beranjak menuju lemari es untuk menikmati es krim gelato yang tadi dibelinya, panggilan suara pun terdengar.
Senja berlari menuju telepon genggamnya, dan tersenyum begitu melengkung setelah tahu nama si pemanggil. Dia adalah Akira Ryota yang dinantikannya sedari tadi.
"Assalamualaikum sayangku," sapa Ryota mengawali obrolan.
"Waalaikumsalam, maaf ya pasti habis tidur," tebak Senja mengingat panggilan sebelumnya diabaikan oleh Ryota hingga dua kali.
"Baru sampai ini sayang hehe," tawa Ryota. Dirinya dan Raka memang menghabiskan malam ini nongkrong bareng di kafe hotel hingga tengah malam.
"Kemana aja?" selidik Senja.
__ADS_1
"Ngopi-ngopi ganteng sama Raka di kafe, sekalian nunggu kamu pulang kuliah, ehh tahunya ponselku ketinggalan, eh bentar ya sayang," Ryota berlari menuju kamar mandi.
"Sayang," sapa Ryota setelah selesai dari kamar mandi.
"Tadi pas ke rumah gimana?" Senja sudah tidak sabar dengan prosesi lamaran sederhana ala Ryota tadi.
"Baik nyonya Ryota, dengarkan ceritanya dengan baik yaa," goda Ryota.
Muka Senja seketika memerah saat Ryota memanggilnya nyonya Ryota. Ahh dia memang sebentar lagi akan menyandang status itu, oh gak sih masih setahun lagi. Status yang sejak tiga bulan lalu tak pernah dibayangkan olehnya.
"Kok lucu ya mereka pernah pacaran, ibukku sama papamu kelihatan cemburu gak yang?" tanya Senja pada Ryota. Panggilan sayangpun sudah kembali terucap dari bibir mungilnya.
"Enggak lah yang, udah biasa aja, malahan tadi mama dan ibuk juga pelukan biasa, namanya juga masa lalu itupun juga saat mereka SMA," jawab Ryota.
"Kita udah kembali yang-yangan ini?" Ryota kembali menggoda Senja. Bukankah sedari tadi dirinya sudah lebih dulu memanggil Senja dengan panggilan itu, mengapa baru menegaskan sekarang, dasar.
"Au ah gelap," ketus Senja. Senja bersyukur saat ini keduanya melakukan panggilan suara bukan panggilan video, karena ekspresi mukanya saat ini begitu menggemaskan dan Ryota pasti akan makin menggodanya jika melihatnya.
__ADS_1
"Ohya selamat ya untuk opening pabrik barunya, rame banget tadi?" tanya Senja mengalihkan pembicaraan soal status mereka.
"Banget yang, semoga pabrik baru bisa mendatangkan laba makin tinggi biar buat tambah ongkos nikah hehe," canda Ryota. Bahkan tanpa ada pabrik baru tersebut sekalipun, untuk membuat acara pernikahan yang megah pun dia bisa.
"Eh, aku gak masalah kok acaranya sederhana, kan biar lebih intim juga dengan keluarga jadi gak usah mewah dan megah yang," jawab Senja merasa tak enak hati dengan candaan Ryota.
"Canda sayang, kamu mah kebanyakan baca jurnal dan buku tebal jadi serius mulu sekarang," goda Ryota kembali.
"Haisssh... yaudah kamu lekas istirahat gih, udah lewat tengah malem juga kan di sana, aku mau ngerjain tugas nih." Setelah puas mendapat kabar tentang dirinya yang sukses dilamar pujaan hati, Senja harus kembali ke mode normal, belajar dan mengerjakan tugas. Kuliah S2 memang jauh lebih berat dari S1 nya dulu, terlebih dia sebagai maahsiswi di salah satu kampus terbaik di dunia.
"Wakata (saya mengerti), bye sayangku, assalamu'alaikum selamat belajar calon ibu dari anak-anakku," gombal Ryota.
"Waalaikumsalam sayang, kamu juga selamat tidur," Senja menutup panggilan suara.
Dia menatap wallpaper ponselnya yang menampilkan foto dirinya bersama Ryota. Dia tersenyum penuh kelegaan, akhirnya restu itu didapatkan juga. Senja berharap dia segera menyelesaikan pendidikannya di London, dan pulang menemui keluarganya dan calon suaminya tentu saja.
"Nyonya Ryota," Senja tersenyum geli mengucap kembali panggilan yang tadi diucapkan oleh Ryota.
__ADS_1