Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Private Dinner


__ADS_3

Empat sekawan kini tengah menunggu lift untuk menuju ruang kerjanya. Di saat menunggu, Raka, Radit dan Ryota berjalan mendekat untuk menunggu lift yang sama. Ketiganya saling tersenyum dengan Empat Sekawan, namun hanya dibalas oleh Dila, Alya dan Rinta karena Senja sibuk dengan pesan masuk di emailnya.


Ting.. lift terbuka, dan tujuh orang ini masuk. Semua saling ngobrol sesuai kubunya, kubu Raka, Radit dan Ryota, kemudian Dila, Alya dan Rinta. Senja sedang membaca email yang baru saja diterimanya, hingga mata Senja melotot dan langsung berucap "Sugoi," dia bahkan tak sadar kalau Ryota ada di dalam lift yang sama, karena sedari tadi begitu serius menatap layar 6 inchnya.


Semua mata menatap Senja sambil menahan untuk tertawa, dan si empunya akhirnya hanya bisa menyengir, apalagi saat melihat Ryota tengah ikut tersenyum tipis padanya.


"Kenapa Mbak?" tanya Dila


"Nih," Senja menunjukkan email dari manajer investasinya yang menampilkan bahwa salah satu perusahaan yang dia tanamkan sahamnya akan membagikan dividen. Dividen adalah bagian atas keuntungan perusahaan atau badan usaha yang diberikan kepada seluruh pemilik saham. Jumlah dividen yang diberikan berdasarkan jumlah keuntungan perusahaan serta nilai saham yang dimiliki oleh para investor.


Berikut email yang Senja tunjukkan pada temannya:



(Gambar berasal dari email author)


Sejak masih kuliah, Senja memang sudah rajin menabungkan uangnya dalam bentuk saham sedikit demi sedikit. Khususnya di perusahaan-perusahaan besar dengan predikat bluechip, perusahaan milik pemerintah dan perusahaan yang rajin memberikan dividen. Baginya ini merupakan bentuk investasi jangka panjang yang tidak ribet dan menguntungkan.


"Eh ajarin investasi saham juga dong Ja," ucap Rinta.


"Aku juga mau dong, trus lu dapet berapa kira-kira?" tanya Alya.


"Lumayanlah buat bayar kost sebulan masih lebih, itung sendiri aja berapa lot," jawab Senja.


"Wah, 200an lebih ya, nilai investasinya sekitar berarti 17jutaan lebih ya," tebak Dila. Dila pernah memenangkan olimpiade matematika saat SMP dan SMA maka tak heran hitungan seperti ini dia sangat cepat.


"Senja sudah lama di saham?" tanya Raka.


"Dari kuliah Pak, dari sisa uang bulanan yang dikasih ortu," jawab Senja dan Raka hanya manggut-manggut.


Ke enam manusia di lift tersebut begitu kagum dengan Senja yang sudah sedari muda sadar untuk berinvestasi jangka panjang, bahkan mereka sendiri saja masih takut untuk memulai.


Ryota merasa tak salah jatuh cinta pada Senja. Dia pun akhirnya berencana mengajak Senja makan malam, karena proses meminta Senja menjadi pacarnya kemarin sangat tidak romantis baginya. Dia segera mengirimkan pesan pada Senja.


📤 "Hai Sen Chan :), nanti jangan pulang dulu, ikut aku ke suatu tempat. Kita jalan habis maghrib," pesan Ryota terkirim untuk Senja.


📥 "Siap Ryo Kun 🤗, kemana?" balasan dari Senja.


📤 "Need not to know 😎," Ryota menjawab seperti dialog di film detective conan kesukaan Senja.


📥 "🧐," balasan singkat dari Senja karena saat ini dirinya sudah berjalan keluar dari lift menuju meja kerjanya.


📤"😘," Ryota terkekeh di dalam lift, beruntung hanya dirinya dan Raka saja.


.


.


.


.


.


Tik tok tik tok.. Jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Masih ada beberapa dokumen yang belum selesai diperiksa oleh Senja. Akhirnya dia bisa menunggu Ryota sambil menyelesaikan pekerjaannya.


"Duluan yaa" rekan-rekan kerjanya mulai berlalu untuk pulang.


📥 "Sen Chan, kalau kamu sendirian tunggu di ruangku sini aja," sebuah pesan dari Ryota.


📤 "Okee Ryo Kun, aku beresin kerjaanku dulu yaa," balasan dari Senja. Kemudian dia kembali berkutat dengan dokumen di hadapannya.


Hingga Ryota sudah selesai ibadah maghrib, Senja tak jadi ke ruangannya. Ryota memaklumi mungkin Senja tenggelam dengan dokumen atau mager alias males gerak seperti kebiasaannya saat sudah tiba di kosan. Dirinya segera keluar dari ruangannya menuju ruang kerja Senja dan mengajaknya pergi.


"Kenapa gak ke ruanganku?" sapa Ryota saat sudah tiba di ruang kerja Senja. Namun dilihatnya sang kekasih sedang mengenakan headset. Dia berjalan mendekat, mengambil kursi dan menyejajarkan dengan tempat duduk Senja, ikut melihat apa yang sedang ditonton.


"Eh," Senja menyadari keberadaan kekasihnya, dan segera membuka headset.


"Kenapa gak ke ruanganku?" tanya Ryota lagi.


"Mager," cengir Senja, seperti dugaan Ryota. Ryota berdiri dari tempat duduk dan mengacak rambut Senja gemas.


"Ih, hobii banget sih berantakan," gerutu Senja dan si pembuat berantakan malah tertawa.


"Yuk, kita pergi makan," ajak Ryota dengan menyodorkan tangannya berniat menggandeng sang kekasih.


"Eh tunggu, aku naruh dokumen ke tempat Pak Radit dulu" Senja mengabaikan sodoran tangan Ryota dan berjalan menuju meja Radit sambil membawa tumpukan dokumen yang sudah dia periksa dan giliran Radit harus tanda tangan esok hari.

__ADS_1


"Yang," panggil Ryota, saat menyadari ada nota merah di celana bagian belakang Senja, walaupun tidak banyak namun nampak kentara karena Senja mengenakan celana abu muda.


Setelah diberitahu Ryota tentang noda tersebut, Senja minta izin untuk berganti celana terlebih dahulu. Memang hari ini dia sedang deras-derasnya makanya tak lupa untuk membawa celana cadangan.


Di dalam lift, Ryota terus menggegam jemari Senja, seolah tak ingin terlepas dan mumpung kantor sudah sepi.


"Tadi perutnya sakit lagi gak?" tanya Ryota mengingat kemarin Senja harus cuti karena rasa sakit tak tertahannya.


"Enggak kok, kayaknya gegara aku makan pedes kebanyakan pas hari sebelumnya jadinya sakitnya banget," terang Senja.


Ryota tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian berniat mengacak rambut Senja, namun Senja malah memiringkan kepalanya berusaha menghindar.


"Kenapa?" heran Ryota.


"Sudah deh jangan diacak-acak ini mau pergi Ta, hihh," gemas Senja.


"Kalau cium boleh?" goda Ryota.


"Taaaa," gerutu Senja.


"Iya enggak sayangg hehe," jawab Ryota.


Senja sudah membicarakan kepada Ryota bahwa dirinya tidak ingin melakukan kontak fisik berlebihan. Senja tidak ingin ada ciuman juga pelukan, karena tidak ingin khilaf ke kontak fisik yang lebih dan lebih. Jadi reflek pelukan yang dilakukan Ryota kemarin dimintanya untuk tidak dilakukan lagi.


Ryota begitu paham dan menghormati keputusan Senja. Dia sadar tubuh Senja adalah otorisasi dan kewenangannya. Apapun yang membuat Senja tidak nyaman, akan dia hindari.


Saat ini keduanya tengah di mobil, namun bukan ke arah kosannya atau mall yang biasa mereka kunjungi.


"Gak jadi makan?" tanya Senja.


"Jadi dong," jawab Ryota dengan tetap fokus menyetir.


"Kok arahnya kesini? bukan ke mall biasanya?" heran Senja. Dalam pikirannya ajakan makan adalah ke mall tempat biasa atau restoran searah kosannya.


"Nanti juga tahu," sebuah jawaban yang membingungkan dilontarkan Ryota.


"Nanti juga tahu," gumam Senja lirih, sebal dengan jawaban sang kekasih.


"Kenapa sayang?" tanya Ryota karena merasa Senja tengah berucap pelan


"Hehe enggak, ini aku boleh makan ini gak? tanya Senja menyodorkan bungkusan keripik. Entah mengapa jika sedang dalam masa haid dia selalu merasa lapar dan ingin nyemil.


"Gak takut kotor?" tanya kembali Senja. Dirinya mengingat saat pergi bersama Irwan berdua, Irwan memperingatinya untuk tidak makan dan minum di mobilnya karena bisa kotor. Irwan yang seorang anggota komunitas mobil begitu menjaga kebersihan mobilnya


"Makan ya makan saja, gak usah izin, emang kenapa?" tanya balik Ryota sambil menoleh ke arah Senja.


"Habis kamu diem aja hehe," ucap Senja, padahal sebenarnya dia takut akan diperingati seperti saat bersama Irwan.


"Fokus sayang biar cepat sampai, suapin dong," ucap Ryota.


"Masih lama?" tanya Senja dengan tangannya sudah mengambil keripik untuk sang pacar.


"Enggak kok, bentar lagi," jawab Ryota.


Benar kata Ryota, tak lama mobil mereka tiba di salah satu kafe kelas atas. Dikatakan kelas atas, karena mobil yang parkir di sana adalah mobil-mobil mahal seperti Ferarri, Rolls Royce dan Lamborghini. Mobil Ryota walaupun bukan dari tiga merk tersebut namun menggunakan mobil produksi perusahaannya dengan jenis sedan dengan harga paling mahal dan kebetulan dibuat untuk edisi terbatas.


Ryota segera turun dari mobil dan berlari ke sisi pintu Senja, niat nya ingin membukakan pintu sang kekasih namun Senja sudah turun duluan, dia baru teringat jika wanitanya ini adalah perempuan yang berbeda, maka hal sepele seperti ini aja pasti Senja akan menolak untuk dibantu.


Ryota mengajak Senja ke dalam. Setelah menemui resepsionis, keduanya diantar ke rooftop tempat yang Ryota pesan tadi siang.


Tadi setelah mengirim pesan ajakan pergi, Ryota meminta tolong Raka untuk mencarikannya tempat dinner yang bisa dipesan untuk private berdua. Raka memberi saran beberapa kafe yang memiliki konsep rooftop, jadilah kafe ini yang dituju.


Senja melongo saat tiba di rooftop kafe ini, dekorasi yang cantik ditambah pemandangan malam yang bagus. Dia berjalan ke arah sisi pinggir agar bisa melihat jalanan ibu kota dari atas. Ryota mendekatinya dan merangkulnya.


"Suka?" tanya Ryota. Senja tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Yuk duduk di sana, udah laper nih," Ryota memegang perutnya dan mengajak Senja untuk duduk di tempat yang telah ditujukan untuk mereka.


Pelayan datang menyajikan paket menu yang sudah dipilih siang tadi saat reservasi. Menu pilihan Ryota adalah beef steak, beberapa varian pasta, olahan salmon, sushi dan sashimi sebagai makanan utama, untuk dessertnya adalah red velvet cake, mochi, dango (mirip mochi namun disajikan dalam bentuk sate), wafle, takoyaki dan gelato (es krim khas dari negara Italia), sedangkan untuk minuman pilihannya adalah hot latte machiato untuk dirinya dan hot chocolate untuk Senja serta ice lemon tea sebagai minuman pembuka.


"Mau nambah menu lain gak?" tanya Ryota, takutnya Senja ingin mencoba menu lainnya.


"No, ini udah banyak banget," jawab Senja.


Saat keduanya tengah menikmati menu utama. Seorang pemain saxophone datang memainkan lagu romantis. Senja tak henti tersenyum dengan kejutan dari Ryota.


"Kapan kamu nyiapinnya yang?" tanya Senja.

__ADS_1


"Yang nyiapin kan pegawai kafenya sayang, aku ordernya siang tadi dibantu Raka," jawab Ryota.


Pemain saxophone pergi dan datanglah penyanyi perempuan di panggung live music. Dia menyanyikan lagu favorit Senja yang merupakan theme song dorama yang kemarin dia gunakan untuk menjawab perasaan Ryota.


Kyuu ni fukigen ni


Naru koto ga arimasu


Wake wo kiite mo


Kotaenai kuse ni


Hottoku to okorimasu


Itsumo gomen ne


Demo sonna toki wa korizu ni


Tokoton tsukiatte agemashou


Pasti akan ada waktu


Saat tiba-tiba mood-ku menjadi jelek


Meski aku tak akan menjawab jika kau bertanya mengapa


Tapi aku akan marah jika kau meninggalkanku sendiri


Maafkan aku karena selalu seperti ini


Meski begitu, tak perlu risau soal itu


Tetaplah bersamaku sampai akhir


Pada saat penyanyi tiba di lirik tersebut, gantian Senja menggenggam tangan sang kekasih. Dia begitu berharap Ryota seperti apa yang dilontarkan dalam lagu tersebut.


"Foto yuk," Senja mengajak Ryota berfoto bersama saat makanan sudah habis, memang tidak benar-benar habis, karena beberapa dessert dia putuskan untuk dibawa pulang karena sudah kekenyangan.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya begitu sangat berbahagia hingga Ryota terus menggenggam jemari Senja, walaupun Senja protes agar Ryota fokus mengemudi saja.


Keduanya kini sudah tiba di kosan Senja dan bersiap untuk turun.


"Makasih sayang untuk traktiran makan malamnya, aku suka tapi pasti mahal ya?" Senja merasa tak enak hati jika pasangannya mengeluarkan uang banyak untuk dirinya, walaupun Ryota memang terlahir kaya, namun dirinya ini siapa hanya kekasih belum menjadi istri.


"Gapapa mahal kan gak tiap hari, aku senang kalau kamu suka," ucap Ryota baginya harga makan malam seperti tadi adalah murah karena saat di Jerman dulu dia pernah mengajak Tsubaki ke restoran yang jauh lebih mahal dari ini. Hal tersebut wajar karena mata uang Indonesia dan Jerman yang berbeda signifikan.


"Walaupun kita udah pacaran sekarang, kalau pergi berdua aku mau kita tetap bayar masing-masing ya, aku punya penghasilan juga kok jadi aku gak mau kita saling membebani," ucap Senja. Baginya memang seharusnya pihak perempuan membayar sendiri saat kencan karena ini menunjukkan kemandirian, sikap tidak matre, serta memang tidak ada aturan tertulis kan bahwa cowok harus membayar tiap kali kencan.


"Siap sayangku, kalau aku kasih hadiah boleh?" Ahh Senjanya memang perempuan istimewa, dia teringat Tsubaki lagi, saat dulu bersamanya, Ryota selalu mengeluarkan uang setiap kali mereka pergi berdua. Ryota memang tak pernah mempermasalahkan itu sih, sehingga dia mengira itu wajar dan memang tugas seorang pria. Namun melihat sikap Senja, dia sangat bangga dengan sikap mandirinya, dia akan belajar cara membahagiakan Senja tanpa terkesan menghilangkan sisi mandirinya.


"Tergantung, hadiah dalam rangka apa dulu," Senja sungguh tidak ingin dianggap matre, dia bahkan masih menyiapkan mental jika banyak orang tahu dengan siapa dia berpacaran. Dia tak ingin dianggap cewek matre atau cewek apalah karena telah berani berpacaran dengan pewaris tunggal Akira Group, sedangkan dirinya cuma gadis biasa.


"Dalam rangka hari jadian ke-3, ke-4, ke-5 dan seterusnya hahahaa," goda Ryota.


"Taaaaaaa," kesal Senja.


"Hahahaaha iyaa sayang, wakarimashita (aku paham)," jawab Ryota.


"Aku masuk ke kosan dulu ya, ini aku bawa ya," ucap Senja sambil mengangkat sisa dessert yang dibawa pulang.


"Iya bawa semuanya, nanti makan lagi aja kalau tiba-tiba laper, atau buat besok camilan di kantor," ucap Ryota.


"Okay, makasih sekali lagi," Senja hendak membuka pintu namun tangannya ditarik Ryota.


"Boleh cium kening?" tanya Ryota dan Senja hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kemarin boleh?" protes Ryota.


"Pengecualian," jawab Senja tegas.


"Cium tangan?" Ryota masih berusaha.


"Aku bukan mamamu," kesal Senja.


"Hishhhh," Ryota menyerah dan berakhir mengacak-acak rambut Senja.


"Oyasuminasai (selamat beristirahat), mata ashita (sampai jumpa besok)," kemudian Senja mobil Ryota untuk keluar.

__ADS_1


"Oyasuminasai, mata ashita," jawab Ryota sambil melambaikan tangan untuk Senja.


Senja masih berdiri di depan gerbang, mengamati mobil Ryota yang pergi. Dia benar-benar melihat sampai Ryota masuk ke gerbang apartemennya. Apartemen Ryota dan kosan Senja memang dekat sehingga tak jarang Ryota hanya berjalan kaki jika berkunjung. Namun dia masih belum berani untuk mengajak Senja berangkat bersama khawatir menjadi pergunjingan para karyawan, selain itu Senja lebih nyaman dengan ojek online, baginya secara tidak langsung telah membantu pada driver di tengah masa sulit setelah pandemi ini. Sungguh mulia hati Senja.


__ADS_2