
Keesokan harinya Senja bangun dengan begitu segar. Nyeri di perutnya sudah tak terasa lagi. Pagi hari dirinya merasa bahagia sekali setelah kemarin Ryota mengutarakan perasaannya.
Karena sedang haid, dia sengaja bangun lebih siang dari biasanya. Setelah membuka mata, bersyukur sebentar, dia bangun untuk minum air putih dan mengecek hand phonenya yang berada di nakas. Senja mulai menonaktifkan mode pesawat agar sinyal bisa tersambung kembali. Dan terlihat 2 panggilan tak terjawab dari Ryota sejak satu jam lalu, dan kemudian 1 pesan juga dari Ryota.
"Ohayou (selamat pagi)," Ryota menyapa pagi itu lewat pesan singkat di aplikasi hijau.
"Ohayou Ryo Kun, aku baru bangun," balas Senja. Setelah itu Senja bergegas ke kamar mandi, namun sebelumnya sudah dia aktifkan dispenser hot agar saat selesai dari kamar mandi air panas telah siap untuk menyeduh oatmeal sebagai menu sarapan paginya.
Selepas mandi dan kemudian sarapan, Senja melanjutkan untuk berdandan sebentar, menyapukan make up tipis agar fresh, kemudian merapikan rambutnya. Tak lupa dia juga memasukkan beberapa pembalut cadangan ke dalam tas nya mengingat hari ini adalah hari kedua pasti akan cukup deras.
Saat telah selesai semua, dia mulai mengambil handphone untuk memesan ojek online. Saat hendak memesan, dia teringat sisa irisan brownies yang kemarin dibelikan oleh Ryota, akhirnya daripada ditinggal dan menjadi santapan lezat para semut maka diapun memasukkan ke dalam wadah plastik dan membawanya sebagai bekal ke kantor.
ting.. sebuah pesan masuk.
"*See you at office my kanojo* (sampai jumpa di kantor pacar (perempuan) ku)," terlihat Ryota baru membalas pesan Senja, pagi hari ini tentu dia sibuk pula dengan aktivitas sarapan dan sebagainya.
"See you too my kareshi (sampai juga juga pacar (laki-laki) ku," Senja nampak tersenyum membaca dan membalas pesan dari Ryota.
Dia pun kemudian segera memesan ojek online yang akan mengantarkannya ke kantor.
"Terima kasih ya pak," ucap Senja saat kendaraan ojek online yang membawanya sudah sampai di depan kantor. Senja lantas segera menuju lift ke ruang kerjanya.
Kebiasaan Senja sambil menunggu lift tentu saja scroll sosial media, melihat update berita terkini khususnya tentang dorama terbaru atau film jepang terbaru. Aktivitas scroll nya terhenti karena lift yang akan membawanya ke lantai atas sudah datang.
Tiba di ruang kerjanya, sudah ada Radit yang tengah mengisi air dan Adam yang mulai menyalakan laptopnya.
"Pagi Senja, sudah enakan perutnya?" sapa Radit.
"Pagi pak, alhamdulillah sudah pak," jawab Senja kemudian berlalu menuju meja kerjanya.
Mendekati jam istirahat makan siang, grup Empat Sekawan sudah ribut untuk janjian makan siang bersama.
π© (grup Empat Sekawan)
Rinta : Maksi bareng yuk girlss, ada yang baru jadian nihhh.
Dila : Cusss, ke resto sebelah aja yuk deket, aku book langsung ya biar ga antri.
Rinta : Sippp π.
1 menit kemudian
Dila : Booking donee girlss.
Rinta : Hoo makasih Dilaπ.
Senja yang sedari tadi meeting dan kelupaan untuk membawa handphone, kini telah kembali dari ruang meeting dan mulai mengecek perpesanan di grup Empat Sekawan karena terdapat 5 pesan belum terbaca.
Deg.. Senja kaget membaca pesan dari Rinta, apa mereka sudah tahu perihal dirinya dan Ryota yang kemarin jadian, apa Dila membocorkan ke Rinta, atau ada warga kost yang membocorkan ke Rinta, ahh tapi gak mungkin kan gak ada yang kenal, dan juga kemarin kosan sepi saat Ryota mengutarakan perasaannya, segala kemungkinan berkumpul di kepalanya, dia mulai lelah berasumsi akhirnya memutuskan untuk bertanya di grup.
π© (grup Empat Sekawan)
__ADS_1
Senja : Wah siapa tuh yang baru jadian, cuti sehari aja ketinggalan berita besar nih.
Rinta : Inisialnya A.L.Y.A Ja mari kita tunggu klarifikasinya π.
Senja : Sugoi (wow) π.
Senja bernafas lega karena ternyata bukan dirinya yang menjadi objek pembahasan, "Ahh Alya siapa ya pasangannya?" batin Senja.
π© (grup Empat Sekawan)
Alya : Duhh emang ibu kita Rinta ini adalah tim lambe turah cabang Akira ya, udah langsung terciduk aja gue.
Dila : π.
Rinta : π.
Alya : Yang satu bulan lagi mau tunangan juga harus bikin klarifikasi juga yaa π.
Rinta : π€.
Senja : Yaampun aku berasa habis dari luar pulau gak kenal sinyal deh, mendadak gak update dua berita besar ini π.
Senja menutup chatting di grup Empat Sekawannya karena Adam menyodorkan dokumen untuk ditandatangani sebelum jam istirahat tiba.
"Ini Dam, masih ada lagi?" tanya Senja sambil menyerahkan dokumen kepada Adam yang telah selesai ditandatangani.
"Sekalian habis makan siang aja mbak, karena baru ada lagi nih," jawab Adam menunjukkan tumpukan dokumen yang baru datang. Senja menganggukkan kepala sambil memikirkan apa lebih baik dirinya juga mengaku tentang hubungannya dengan Ryota, lamunannya buyar saat Dila mengajaknya untuk segera bergegas ke restoran.
"Waktu dan tempat dipersilahkan untuk memberi tanggapan ibu Alya dan ibu Rinta," Senja mengawali obrolan di restoran sambil memilih menu.
"Baiklah gue duluan," jawab Alya. Alya akhirnya menjelaskan jika kemarin Aldi menyatakan perasaannya pada Alya dan tentu saja Alya menerimanya. Hubungan kedekatan mereka berawal pada saat Alya mulai sering naik commuter line karena capek jika harus menyetir kendaraan sendiri. Dan tak disangkanya dia sering bertemu dengan Aldi.
Aldi pun ternyata seorang Ankker sejati alias anak kereta. Alasan dia juga sama dengan Alya, capek menyetir sendiri.
Alya sudah menyangka jika Rinta pasti akan tahu hal ini karena Aldi dan Rinta cukup dekat sebagai teman mengingat keduanya pernah beberapa kali satu tim untuk acara kantor seperti gathering atau ulang tahun. Dan sebagai HR Einta sering menjadi tempat curhatan teman bagian lain.
"From commuter line with love nihh.. selamat yaa," ucap Senja sambil menyeruput minumannya yang sudah datang terlebih dulu.
"Soal tunangan, mbak Rinta berarti ya?" tebak Dila.
"Hmm baiklah saya jabarkan gengs," ucap Rinta.
"Jadi, pada waktu aku pulang ke Serang beberapa waktu lalu, ternyata aku dijodohkan dan orang itu adalah Radit. Dia anak sahabat papa dan mama. Rencananya kita akan tunangan dua minggu lagi, dan untuk nikahnya nanti kita rencanain lagi sambil aku dan Radit biar makin deket, kita berdua sih gak nolak perjodohan ini, dan Al kok loe bisa tahu aja sih?" heran Rinta.
"Hahahhaa," tawa Alya kemudian mengambil crab stick untuk dikunyahnya.
"Wahh dengan bapak kita yang mbak Senja, semoga lancar dan makin cintrong hehhe," goda Dila.
"Ahh selamat ya Rintaa," seru Senja.
"Jadi, waktu itu pak Radit pernah tanya ke gue soal model cincin tunangan gitu, aku makin kepo deh soal calonnya, dan dia memberi kode bahwa calonnya adalah karyawan sini bagian HR gitu, dari sini pikiranku langsung ke Rinta," jawab Alya.
__ADS_1
"Alasannya?" tanya balik Rinta karena menurutnya karyawan perempuan di HR yang masih lajang tidak hanya dirinya.
"Di HR itu yang belum menikah kan ada tiga tuh, kamu, mbak Sari dan Dian. Dian tentu gak mungkin karena non muslim, sedangkan mbak Sari kan udah ada calon waktu itu dia cerita, jadi pasti loe Ta, begitu analisis ku," ucap Alya bangga.
"Tapi kan bisa aja calonnya Sari tuh Radit?" Rinta masih tak mau kalah.
"Gak mungkin, wong aku pernah gak sengaja lihat di galerinya pas pinjam handphone mbak Sari hahaha," tawa Alya.
"Dasar usil sekali," seru Dila.
"Sejujurnya aku ga enak dengan Senja, maaf ya Ja," Rinta merasa tak enak hati dengan Senja yang masih belum memiliki pasangan di saat ketiganya tengah berbahagia dengan pasangan, yaa walaupun dirinya masih berusaha mendekatkan diri dengan Radit.
"Santai guys sebenarnya," Dila hampir saja keceplosan kemudian dengan segera menutup mulutnya "Eh lupa gak jadi hehe," lanjutnya lagi.
Senja menarik nafas dan mengeluarkannya pelan "Sebenarnya kemarin gue habis ditembak cowok," kalimat tersebut meluncur dengan jelas dan membuat kedua mata temannya yaitu Rinta dan Alya melotot tajam hingga tersedak. Sedangkan Dila tentu hanya stay cool karena sudah tahu lebih dulu.
"Ssiapaaa?" Rinta dan Alya tanya bersamaan.
"Ryota," cengir Senja, kemudian menunjukkan foto Ryota yang tengah mengecup keningnya saat berpamitan pulang semalam.
"Suhu emang beda level hahahha," tawa Rinta
"Selamat yaa sayongggg," puji Alya.
"Tapi guys, tolong jangan dibuat konsumsi publik ya, aku masih belajar menyiapkan hati dan mental, terlebih dengan orang tuaku dan orang tuanya jika suatu saat bertemu, kalian paham lah," pinta Senja.
"Atribut jawa dan teman-temannya, we do know Ja, anyway semangat yaa.. ahh aku bahagia," seru Rinta memeluk Senja.
"Yaudah balik yuk, ntar makan siang kelamaan diomelin Pak Bos Radit dan Sachou lagi, kan dua pawangnya di sini," goda Alya.
"Hahahaha," keempatnya tertawa bersamaan dan kemudian membereskan tempat makan, segera menuju kasir dan kembali ke kantor.
Pukul 12.50, di saat manusia lain sudah mulai selesai dengan makan siangnya dan bersiap kembali bekerja, Tsubaki baru saja membuka kedua matanya.
Dirabanya sisi ranjang sebelahnya dan ternyata kosong, teman bule yang semalam di pub bersamanya berarti telah pergi lebih dulu.
Dia mulai duduk, dan merasakan dirinya begitu segar setelah aktivitas penuh emosi semalam, tentu saja emosi bahagia dan nikmat bagi mereka berdua, hingga menjelang pagi keduanya baru selesai dan mulai tertidur saling memeluk.
Setelahnya Tsubaki berdiri mengambil pakaiannya yang berantakan. Matanya menangkap sebuah kertas yang ditindih air mineral. Dia raih air mineral tersebut, meminumnya hingga habis dan membaca pesan pada notes tersebut.
"Thank you Sato San, you did great last night, let's have fun next time. I have to go to Perth at 1 pm. See you next two weeks. Jason - your partner in crime :)."
Dia tersenyum dengan pesan yang ditinggalkan Jason dan kemudian meraih hendphonenya untuk mengirim pesan pada nya.
"Safe flight," pesan singkatnya untuk Jason namun hanya bercentang satu, dia menengok jam dinding dan saat ini sudah pukul 12.55, Jason sudah di dalam pesawat menuju Perth, Australia.
Dia kemudian berjalan dengan tubuh tanpa benang sehelaipun menuju kamar mandi untuk berendam dan membersihkan diri.
Semalam dia menghabiskan malam panjangnya bersama Jason, temannya saat mereka berdua tengah menempuh pendidikan di Jerman. Keduanya memgambil jurusan yang sama tentang teknik arsitektur. Pagi kemarin Jason baru tiba dari Jerman, tujuan sebenarnya adalah ke Perth karena dirinya ditugaskan menjadi kepala cabang perusahaannya di sana, namun paksaan Tsubaki akhirnya dia mendarat ke Jakarta terlebih dulu, berbagi cerita dan kenikmatan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Perth.
Tsubaki akhirnya memasuki bathub untuk berendam. Dia memejamkan mata dan ingatannya mulai melayang tentang kehidupan masa lalunya. Tentang masa kecil hingga remajanya, tentang pertemuannya dulu dengan Ryota hingga pertemuan beberapa waktu lalu dengan nya kembali, tak sadar dia kembali tertidur dalam nyamanya aromatheraphy du bak mandi tersebut.
__ADS_1