
Langit Putra Gautama, seorang guru akuntansi di salah satu SMK di kota kelahiran Senja. Dirinya dan beberapa rekan guru lainnya kini tengah mengantar murid-murid di sekolahnya untuk mengikuti Lomba Kompetisi Siswa tingkat nasional. Karena lomba tersebut diadakan di Jakarta, maka Langit berencana untuk menemui adik tercantiknya sekaligus membawakan titipan sang ibu.
Pria 35 tahun dengan muka begitu mirip Senja ini tengah berdiri di depan hotel menunggu adiknya. Tangan kanannya sibuk scroll informasi beasiswa yang ada di instagram, sedangkan tangan kirinya memegang tas berisi oleh-oleh untuk adiknya.
"Mas," Senja melambaikan tangan pada kakaknya. Dirinya berjalan dari kosannya menuju hotel tempat menginap Mas Langit, yang kebetulan bersebelahan dengan apartemen Ryota.
Hari ini Senja bergegas untuk pulang cepat, kemudian menyiapkan pakaian untuknya menginap di apartemen Ryota bersama sang kakak tentu saja, kalau hanya sendiri dia tak pernah mau untuk berkunjung ke apartemen kekasihnya, takut khilaf.
Senja menghampiri kakaknya dan tak lupa mencium tangan Mas Langit, dimanapun mereka berada kesopanan terhadap anggota keluarga yang lebih tua harus selalu diutamakan.
"Ryota mana?" tanya Langit. Langit sudah mengetahui hubungan adiknya dan Ryota, selain dari sang ibu juga Senja yang telah cerita pada saat mereka pulang bersama kemarin.
"Dia meeting lanjut dinner juga kayaknya, jadi aku disuruh langsung masuk saja, yuk ke situ," tunjuk Senja pada apartemen sebelah hotel.
Senja bersama Langit berjalan beriringan menuju apartemen. Keduanya tak lupa lapor kepada security agar bisa menuju unit Ryota, si pemilik unit pun juga sudah info ke security sebelumnya agar kekasih dan calon kakak iparnya tidak mendapat kesulitan untuk masuk.
"Ada titipan dari ibuk dek," ucap Langit, keduanya kini berada dalam lift.
"Wah apa itu mas?" tanya Senja.
"Dendeng ragi, kata ibu sampean pengen pas pulang kemarin itu sayangnya ibu pas gak bisa buatin," jawab Langit. Senja tersenyum bahagia membayangkan malam ini akan memakan menu dendeng ragi kesukaannya. Dendeng Ragi merupakan sebutan untuk dendeng yang dilengkapi dengan serundeng kelapa. Bagi Senja, dirinya tak jadi masalah jika hanya makan nasi berlaukkan ini saja, karena buatan Bu Metta adalah yang terbaik baginya.
"Sampean sering main kesini?" tanya Langit, melihat Senja terkesan cukup familiar dengan barang-barang di apartemen Ryota. Langit pun duduk di sofa, sedangkan Senja mengambil air untuk kakaknya.
"Ini kedua kalinya, pas pertama kesini makan malem bareng orang tuanya Ryo, sekalian nginep, aku bobo sama mamanya," jelas Senja. Langit nampak mengangguk paham karena mulut penuh dengan air.
"Menurut Mas Langit, Ryo gimana?" Senja ikut terduduk di sebelah kakaknya.
__ADS_1
"Baik, sopan, ramah dan kelihatan sayang juga sama sampean, kenopo ada masalah? selidik Langit.
"Dia anak pertama mas," jawab Senja lesu.
"Maksudnya?" tanya Langit bingung.
"Haishh mas ini orang Jawa bukan sih, iku lo mas jilu ngerti kan?" ucap Senja.
Jilu merupakan singkatan dari Siji dan Telu. Siji artinya pertama dan Telu artinya Ketiga. Jilu yang Senja maksud tersebut adalah pernikahan anak pertama dengan anak ketiga. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, apabila pernikahan ini tetap dilangsungkan dapat mengakibatkan malapetaka dan sial dalam rumah tangganya kelak. Ryota merupakan anak pertama dan tunggal, sedangkan dirinya adalah anak ketiga dan terakhir.
"Oh iya ya," jawab Langit. Keduanya saling terdiam beberapa saat, hingga ponsel Senja berbunyi bahwa order makanannya telah tiba di lobi dan artinya dia harus segera turun untuk mengambilnya.
"Dibuka yuk dendeng raginya, mas laper," ucap Langit memecah ketegangan.
Senja menikmati nasi putih hangat hanya berlaukan dendeng ragi, sedangkan kakaknya memilih ayam bakar dan sesekali icip lauk adiknya.
"Kok, bapak kasih restu mas?" heran Senja. Pak Joko ayahandanya, yang dia kenal begitu ketat dan saklek jika menyangkut hitungan jawa saat mencarikan tanggal untuk para tetangga yang minta tolong, tapi mengapa untuk anaknya sendiri dia memberi restu, bukankah resikonya besar.
"Bapak tahu kalau jilu?" tanya Senja kembali dan dibalas anggukan oleh Langit.
"Mas yakin Widya jodohnya mas, dan mas coba yakinkan bapak, alhamdulillah dikasih restu, karena kalau menurut hitungan weton kami cocok dan baik, weton-nya Ryo apa?" tanya Langit.
"Aku belum tahu, nanti aku coba tanya ke mamanya, tapi kok aku takut ya mas," keluh Senja, sungguh dia tidak bisa membayangkan jika pada akhirnya dia tak bisa bersanding dengan Ryota.
"Tinggalkan yang membuatmu ragu, minta petunjuk sama Allah dek, kalau memang jodoh pasti dipermudah jalannya," Langit menatap lekat kedua bola mata adiknya yang mulai sayu mungkin sebentar lagi hujan air mata mulai turun.
"Kalau weton-nya gak cocok gimana mas?" tanya Senja mulai memikirkan negative scenario untuk masa depannya.
__ADS_1
"Coba tanya dulu aja apa weton-nya, semoga cocok, nanti mas bantu bicara sama bapak gimana solusinya kalau gak cocok," Langit mencoba menenangkan adiknya.
"Tapi tahu cocok atau tidaknya dari mana?" desak Senja.
"Mas juga gatau hahaha, makanya nanti mas tanya ke bapak dulu, udah tenang dulu aja." Langit berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangannya bekas ayam bakar. Walaupun Langit tinggal dekat dengan orang tuanya namun untuk urusan perhitungan jawa, dia tak pernah paham dan tak mau paham soal itu.
Langit kembali dari wastafel. Dia melihat adiknya yang nampak masih berpikir dalam dengan statusnya dengan sang kekasih, jilu. Rentetan pertanyaan panjang nampak berkeliling mengitari poros kepala Senja. Langit merasa bersalah, basa basinya berubah gundah.
"Kamu masih kepingin jadi dosen?" Langit mencoba mengalihkan topik, agar resah di hati Senja bisa sedikit menguap. Dirinya tahu adiknya kini tengah gencar mulai berburu beasiswa, bagaimanapun mereka tumbuh di lingkungan orang tua yang seorang pendidik, menjadikan profesi tersebut dapat mereka tekuni juga kelak. Jika Langit mengambil jurusan pendidikan akuntansi dan saat ini sudah menjadi guru, Senja dengan S1 akuntansi murni ingin meraih S2 agar bisa menjadi dosen. Berbeda dengan si anak kedua, Angkasa yang sangat nyaman sebagai masinis dan tak berniat menjadi pendidik.
"Sekarang lagi cari informasi beasiswa, kalau ada info share dong mas, yang ke luar negeri kalau bisa," Senja menaikkan kedua alisnya berharap kakaknya akan membantu untuk meraih mimpinya.
Langit lega, topik baru yang dia lontarkan mengubah mood Senja menjadi lebih baik, ahh sebaiknya obrolan jilu dan weton akan dia pending lain kali.
"Ke China mau?" tanya Langit. Rekomendasinya ini berasal dari hasil scroll instragram sebelum adiknya datang tadi.
"Pingin lihat salju di London," cengir Senja. Dia membayangkan bisa bersepeda menuju kampus, atau kalau beruntung bisa bertemu personil One Direction.
"Di China juga ada salju, dan ingat pepatah lama bilang tuntutlah Ilmu sampai ke negeri China, coba aja apply ke beberapa kampus, jangan fokus di London saja.
"Baiklah, baiklah nanti aku coba browse lagi yang banyak tentang kampus-kampus keren di China," Senja lantas berdiri untuk membersihkan tangannya dan mengambil minuman dingin.
Ting.. pintu nampak terbuka, pemilik unit apartemen sudah datang dan berjalan menuju tempat Langit, sepertinya Ryota bergegas pulang setelah meeting dan tak jadi makan malam bersama koleganya.
*Weton adalah adalah perhitungan hari lahir seseorang yang digunakan sebagai patokan untuk menunjuk ramalan tertentu. Cara menghitung weton biasanya berdasarkan hari dan pasaran. Harinya mengacu pada hari Senin hingga Minggu, sedangkan pasaran yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Contoh weton, misalnya: Senin Pon, Selasa Kliwon dan sebagainya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung, jangan lupa like, dan commentnya 🤗🥰.