
Ryota nampak memasuki unit apartemennya, menyapa Langit yang terduduk sendiri di depan televisi karena Senja tengah membersihkan piring bekas mereka makan tadi.
"Apa kabar kak, sudah lama?" tanya Ryota kepada Langit.
"Baik Ta, dua jam ada kali Ta, kata Senja kamu pulang malam?" tanya Langit mengingat informasi yang dia dapat dari Senja tadi jika Ryota akan meeting dan lanjut dinner dengan koleganya.
"Meeting-nya udah selesai, dinner-nya batal, Senja kemana kak?" tanya Ryota karena tidak melihat keberadaan kekasih hatinya.
"Di dapur beresin piring bekas makan, wah maaf kita makan duluan tadi dikiranya kamu akan makan malam," ucap Langit merasa tak enak hati sudah meninggalkan si pemilik apartemen makan terlebih dahulu.
"Santai kak, yasudah aku ke kamar dulu ya, enjoy ya kak," Ryota bergegas ke kamar nya untuk mandi dan berganti pakaian.
Di dapur, Senja yang telah selesai membersihkan piring dan tempat makannya tadi bersama Langit. Saat dirinya melihat ponselnya, sebuah panggilan suara dari Mama Ryota pun datang, wah pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia tadi baru saja ingin menanyakan tentang weton Ryota kepada bu Dewi, kini beliau sudah menghubunginya terlebih dahulu. Padahal bu Dewi menelponnya karena kegelisahan hatinya melihat foto Senja berdua dengan Tsubaki.
"Assalamualaikum ma, apa kabar," ucap Senja saat mengangkat ponselnya.
"Waalaikumsalam, baik sayang, kamu dan Ryo gimana?" tanya bu Dewi dari seberang sana.
"Baik juga ma, ini Senja di apartemen Ryo, rencananya mau nginep karena kakak pertama Senja kebetulan ada acara di Jakarta nginep di sini juga," ucap Senja menjelaskan tentang Langit.
"Wah seru dong sayang, ohya mama mau tanya kenapa kamu bisa foto berdua dengan Tsubaki? selidik bu Dewi.
Senja akhirnya menjelaskan secara detail tentang pertemuannya dengan Tsubaki saat acara di Jawa Timur, bagaimana dia yang meminta maaf duluan dan dia yang ingin dekat dengan Senja karena ingin menjadi kekasih Kevin, staf Sato Contruction dan juga senior Senja.
"Kamu tetap harus hati-hati dengan dia ya," pesan bu Dewi.
"Pasti ma, makasih reminder-nya, ohya ma Senja ada mau tanya ke mama lo, pas banget tadi mama telepon Senja," ucap Senja.
"Apa itu sayang?" heran bu Dewi.
"Wetonnya Ryo apa ya ma?" tanya Senja.
"Wahh udah mau nentuin tanggal pernikahan ya," goda bu Dewi. Bagaimanapun bu Dewi lahir dan besar di Malang, Jawa Timur tentu soal weton adalah sesuatu yang dia tahu walaupun dia tak mengerti.
__ADS_1
"Belum ma, cuma pengen tahu aja cocok gak dengan wetonnya Senja," jawab Senja tersipu.
"Ryota itu senin pahing, kalau kamu apa?" ucap bu Dewi.
"Senja itu senin pon ma, senin pahing sama senin pon cocok gak ya ma?" tanya Senja kembali.
"Kalau untuk perhitungan gitu mama kurang tahu sayang, tapi berdoa saja yang terbaik kalau memang jodoh pasti dimudahkan jalannya," pesan bu Dewi.
Di saat calon mertua dan calon menantu ini tengah asyik berbincang, Ryota yang telah selesai membersihkan dirinya kini menghampiri Senja yang belum kembali dari dapur. Ryota pun mendekat berdiri di sebelah Senja.
"Ma, ini ada Ryo mau ngobrol dengan Ryo juga?" tawar Senja melihat kekasihnya sudah berdiri di sampingnya.
"Boleh sayang," jawab bu Dewi.
Senja kemudian menyerahkan ponselnya kepada Ryota agar bisa mengobrol dengan mamanya.
"Ryo, mama titip calon menantu mama ya, jangan lama-lama pacarannya," pesan bu Dewi.
"Yaudah mama tutup dulu ya, salam buat Senja, assalamualaikum sayang," bu Dewi mengakhiri pangilannya, mengingat waktu di Tokyo sudah dua jam lebih dahulu dari pada di Jakarta.
"Waalaikumsalam ma," jawab Ryota kemudian menyerahkan ponsel pada Senja. Senja lekas bertanya mengapa kekasihnya sudah pulang, dan tak lupa pesan makanan untuk Ryota dan camilan untuk kakaknya. Keduanya kemudian segera kembali ke sofa depan televisi menemani Langit.
"Aku tahu wetonnya Ryo mas," ucap Senja kemudian duduk di samping Langit.
"Lah tau darimana?" heran Langit karena tadi Senja bilang masih akan bertanya ke mama nya Ryota. Ryota yang terduduk di depan dua kakak beradik ini hanya mengernyitkan dahinya bingung soal kata yang barusan diucapkan Senja.
"Barusan mamanya telpon pas aku di dapur tadi, makanya lama, kata beliau weton Ryota itu senin pahing mas," ucap Senja.
"Tunggu deh, weton itu apa?" sebagai seorang yang hanya lahir dari perempuan jawa namun tidak besar dengan budaya jawa, merupakan sebuah tanda tanya besar tentang weton. Senja dan Langit akhirnya saling menjelaskan sesuai pemahaman mereka tentang perhitungan weton sebagai salah satu atribut untuk menentukan kecocokan pasangan juga tanggal pernikahan kelak, tak hanya itu mereka juga menjelaskan tentang pasangan jilu serta atribut jawa lainnya terkait pernikahan juga tentang istilah bibit, bebet, dan bobot kepada Ryota.
Ryota menggeleng pelan, mendadak pusing dengan segala aturan yang barusan didengarnya belum lagi kalau misalnya menikah akan ada serentetan acara adat yang musti dilakoni, ahh apakah tidak bisa sederhana saja untuk menjadi sah begitu pikirnya.
"Bagaimana kalau weton kita gak cocok kak, apalah artinya tidak bisa menikah?" Ryota mulai gelisah.
__ADS_1
"Kalian berdoa saja yang baik, nanti mas bantu bicara sama bapak gimana solusinya kalau gak cocok," Langit mencoba menenangkan calon adik iparnya.
"Katanya kamu mau pesen pizza dek, jadi?" tanya Langit mencoba memecah suasana suram dan penuh risau di wajah Senja dan Ryota agar bisa ceria kembali.
"Eh jadi kok, kayaknya bentar lagi sampai," ucap Senja mengamati pergerakan order makanan di aplikasi hijau favoritnya.
"Main siapa lebih kenal yuk, antara pacar vs kakak," Langi memberi ide permainan malam ini.
"Boleh boleh penasaran seberapa tahu Ryoya sama aku," Senja tertarik dengan permainan yang ditawarkan oleh kakaknya.
"Baik, siapa takut," Langit merasa yakin sudah sangat mengenal Senja.
"Yaudah Ta, kamu siapin kertas dan pulpennya, aku mau ke bawah ambil makanan," perintah Senja kemudian dia berdiri menuju ke lobi, sedangkan Ryota ke kamar mengambil alat tulis.
Saat Senja sudah kembali dengan membawa pizza, Ryota dan Langit telah duduk rapi saling mengobrol santai, pemandangan calon ipar yang begitu menyenangkan bagi Senja.
"Yang kalah hukumannya apa nih?" tanya Senja sambil membuka kotak pizza.
"Makan pedas dong, gimana?" ide Langit.
"Jangan, Ryo ga doyan pedas, minum air garam aja gimana?" tanya Senja memberikan alternatif ide hukuman yang masih bisa masuk ke Ryota, mengingat jika makan pedas berlebihan, Ryota bisa bolak-balik ke kamar mandi.
"Boleh," jawab Ryota dan Langit bersamaan.
"Ta, dihabisin dulu spagetinya, habis itu kita semua salat dulu baru deh main," perintah Senja, mengingat sang kekasih tak jadi makan malam maka harus makan malam dulu, sekaligus mereka bertiga beribadah sebelum memulai permainan.
"Siap," Ryota dan Langit kembali menjawab kompak dan membuat ketiganya tertawa bersamaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Wahh kira-kira yang lebih kenal Senja siapa ya, Langit atau Ryota ya??? 🤔🤔.
Terima kasih sudah berkunjung, jangan lupa like, vote dan commentnya 🤗🥰.
__ADS_1