Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Setelah pertemuan kembali Senja dan Ryota di hari ulang tahun Senja kala itu, kini hubungan keduanya kembali hangat dan lekat. Setiap hari bisa saling menyapa dan bertatap secara langsung. Cinta keduanya memang terlihat begitu manis hingga seolah tak ada riak masalah yang bisa membuat tangis.


T.G.I.F alias Thank God It's Friday (Terima Kasih Tuhan ini Hari Jumat) istilah yang sangat populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia karena Jum'at adalah hari terakhir bekerja. Tentu saja istilah ini begitu disambut penuh suka cita oleh banyak karyawan termasuk Senja. Dia sudah menyusun banyak rencana untuk akhir pekannya.


Jumat ini Senja begitu semangat untuk berangkat bekerja. Hari ini dia akan bertemu dengan Ryota dalam rapat bulanan, dan setelah selesai rapat dia berencana menemui Ryota tentang agendanya esok hari. Apalah daya jika semangat dalam diri Senja pagi ini tak direstui semesta.


Order ojek online yang biasanya selalu lancar mendadak suram. Senja ditolak oleh driver sebanyak tiga kali dengan berbagai alasan.


"Maaf ya kak, saya mau cari yang bayar cash saja, tidak terima non cash."


"Tolong bu dibatalkan saja, saya sakit perut."


"Cancel saja mbak, lokasi saya kejauhan."


20 menit kemudian Senja akhirnya mendapat driver. Mood level Senja yang awalnya 100 karena senang akhirnya bisa mendapat pengemudi terjun bebas ke level 30 karena bensin si driver ini habis. Alhasil keduanya harus membeli bahan bakar terlebih dahulu di sebuah pom dengan antrian mengular.


"Gimana sih Pak, pas mau jalan kenapa gak diperiksa dulu bensinnya, saya bisa telat ini," gerutu Senja.


"Maaf ya mbak, saya buru-buru juga tadi," ucap bapak driver.


Senja menatap jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 09.00. Dia mendengus kesal karena dirinya sudah dipastikan telat sampai di kantor. Di hari-hari menuju kedatangan tamu bulanan mengapa selalu ada kejadian menguras emosi. Senja mencoba tarik nafas dan membuangnya perlahan. Marah berlebihan tentu tak menyelesaikan masalah.


Senja tiba di ruang kerjanya pada pukul 09.15. Dia segera menyalakan laptop dan minum sejenak. Telepon di mejanya berbunyi, namun karena tangannya masih memegang botol dia urungkan untuk mengangkatnya.


Kring... panggilan telepon kembali berbunyi. Bukan di tempatnya melainkan tempat Dila.


"Oh iya, mbak Senja baru saja datang, oke akan disampaikan segera," Dila berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Siapa Dil?" tanya Senja saat mendengar ada namanya disebut.


"Dari Bang Raka mbak, katanya mbak Senja ditunggu sekarang di ruang meeting BOD (Board of Director)," ucap Dila.


"Astaga aku lupa ada meeting bulanan, yaudah aku kesana ya Dil," Senja segera bergegas mengambil buku catatan dan pulpen untuk dibawanya ke ruang meeting.

__ADS_1


Tok... tok... tok


"Permisi, maaf saya telat," Senja meminta izin untuk masuk ke ruang meeting dan setelahnya dia duduk berdekatan dengan Radit dan Aldi karena memang mereka satu divisi.


"Tolong, lain kali untuk siapapun saya tidak menolerasi keterlambatan," ucap Ryota dengan nada datar dan dinginnya. Ryota yang sebelumnya sudah membuka meeting dan memberikan arahan, kini harus mengulang penjelasan dari awal karena Senja yang baru saja datang. Senja hanya bisa merutuki kecerobohannya.


"Ini mengapa bisa over dari anggaran?" Ryota berkomentar tentang biaya proyek pembangunan pabrik di Jawa Timur yang realisasi biayanya sudah lebih dari yang dianggarkan di awal. Pembangunan baru beberapa bulan berjalan namun biaya sudah hampir membengkak, terutama untuk biaya material pembangunan.


"Pak Radit dan Bu Senja ada komentar untuk ini?" Ryota menatap tajam Radit dan Senja selaku penanggung jawab proyek ini. Senja hanya bisa menelan salivanya. Baru pertama ini dia melihat sisi lain Ryota lebih tepatnya sisi dingin, datar dan mungkin sebentar lagi sisi kejamnya akan keluar. Ryota di ruang meeting ini sungguh sangat berbeda dengan Ryota di ruang teater sebulan lalu.


Radit kemudian menjelaskan dibantu oleh Senja tentang beberapa material pembangunan yang mengalami kenaikan harga serta beberapa bahan yang memang harus dibeli dari luar negeri.


"Saya harap kejadian over ini hanya di bulan ini saja, kalau bulan depan masih berlanjut tolong pertimbangkan ganti perusahaan kontruksi atau ganti penanggung jawab proyek ini," ucap Ryota tegas. Setelahnya dia pun bergegas keluar dari ruang meeting. Ryota nampak kecewa dengan kinerja bawahannya. Dirinya yang pulang ke Jepang hanya dua minggu sudah ada kekacauan seperti ini bagaimana jika lebih dari itu, sungguh dia tak bisa membayangkannya.


Ryota kembali ke meja kerjanya untuk sekedar meminum kopi hangat agar mood-nya kembali normal. Di sisi lain di ruang meeting, nampak Raka tengah menenangkan para peserta meeting.


"Mohon maaf ya semuanya, hari ini mood sachou sedang tidak baik setelah rencana kerja sama dengan perusahaan Eropa ditolak, maka tolong jangan diambil hati, silakan kembali bekerja," ucap Raka menutup meeting pagi ini.


Siang hari setelah jam jumatan selesai, Senja bermaksud mengajak Ryota makan siang bersama. Dia bergegas menuju ruang kerja kekasihnya. Seperti hari-hari sebelumnya dia langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.


"I hope we can work well together (saya harap kita dapat bekerjasama dengan baik)," ucap Ryota kemudian membungkukkan badannya.


"I hope too (saya harap demikian)," wanita tersebut ikut membungkukkan badan kemudian pamit undur diri.


Senja yang melihat klien Ryota sudah pergi langsung bergegas menghampiri sang kekasih.


"Ta, makan yuk," ajak Senja. Namun kemudian pandangannya teralihkan pada dua bungkus makanan dari salah satu restoran jepang di meja tamunya.


"Aku baru selesai makan siang dengan klien tadi," ucap Ryota singkat tanpa menatap ke arah Senja. Fokusnya kini ke layar ponsel dia berencana memesankan makan siang untuk kekasihnya.


"Lain kali ketuk dulu, ohya kenapa tadi pagi telat? terus sudah dicek kenapa bisa over?" cerocos Ryota tanpa memerdulikan kekasihnya yang tengah menahan lapar.


"Baru sebagian sih ngeceknya," jawab Senja lirih kemudian duduk di sofa yang tadi ditempati klien Ryota.

__ADS_1


"Tolong dong yang serius kerjanya, aku tahu kamu sedang sibuk dengan lamaran beasiswa itu tapi jangan abaikan pekerjaan, kamu harus lebih profesional dong," omel Ryota.


"Bisa gak sih Ta, marahnya nanti saja aku laper," seloroh Senja.


"Ini aku sudah pesan makanan, sedang on the way, tunggu saja," jawab Ryota sambil mengangkat layar ponselnya ke arah Senja. "Kamu harus bisa contoh wanita tadi, dia itu sekarang lagi nyelesaiin S2 nya juga namun bisa bagi waktu dengan baik, sehingga pekerjaan tak terabaikan," ucap Ryota tanpa sadar memicu perang dunianya.


"Yaudah kamu pacaran aja sama dia, ngapain sama aku yang gak profesional," Senja makin tersulut.


"Bukan gitu maksudnya," jawab Ryota.


"Terus maksud kamu apa? kalau emang kamu gak suka aku daftar beasiswa bilang saja Ta. Jangan seolah mendukungku namun kamu ngomel gini pada akhirnya," ucap Senja tanpa terasa air matanya mulai menetes. Senja begitu kesal. Dia yang sangat lapar dan begitu penat dengan pekerjaan, ingin rehat sejenak malah mendapat amarah.


Senja buru-buru keluar dari ruang Ryota sambil menghapus air matanya. Dia sudah tak peduli dengan rasa laparnya. Senja harus melipir sejenak ke rooftop saat ini juga agar memperbaiki mood-nya sebelum kembali bekerja.


"Bukan begitu sayang," Ryota mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling namun kekasihnya sudah tak di ruangan. Maksud hati ingin mencari Senjanya, namun Raka sudah lebih dulu masuk ke ruang kerjanya. Raka memberitahukam bahwa dirinya harus menghadiri beberapa meeting dengan calon klien baru di luar kantor. Pencarian Senja diurungkan, dia hanya titip pesan kepada resepsionis jika ada paket makanan agar diserahkan untuk Senja.


Ryota baru tiba di apartemennya setelah beberapa kali meeting tepat di pukul 21.00. Dia mencoba untuk menghubungi Senja, namun nihil nomor kekasihnya sedang tak aktif. Ryota berpikiran positif barangkali pujaan hatinya ini sudah tertidur.


Keesokan harinya, sebelum berangkat ke tempat golf, Ryota sengaja mendatangi kosan Senja terlebih dahulu. Dia berniat untuk minta maaf kepada Senja atas sikap tak dewasanya kemarin.


"Cari mbak Senja ya mas?" tanya penjaga kosan Senja saat melihat Ryota yang tengah mengetuk pintu kamar Senja.


"Iya bu, Senja ada?" tanya Ryota.


"Mbak Senja sudah pergi mas."


Deg.


"Bawa ransel besar, kurang tahu juga perginya kemana," jawab penjaga kosan kemudian berlalu pergi meninggalkan Ryota.


Ryota bergegas menghubungi telepon Senja namun nomor Senja masih tak aktif seperti semalam.


"Kamu kemana sayang?" batin Ryota merasa bersalah atas sikapnya kemarin.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai-hai terima kasih yang masih setia dengan kisah ini, terima kasih untuk dukungan kalian 🤗.


__ADS_2