
Kenan, si bocah berpipi gembul kini tengah duduk rapi di teras rumah kakek neneknya. Sesekali dia berlari menuju gerbang untuk melihat apakah Bijanya sudah ada, padahal bocah ini tak tahu kendaraan seperti apa yang membawa Bijanya.
"Sarapan dulu Le, sini masuk dulu uti suapin? Bu Metta, Ibu Senja, datang ke depan membawa sepiring nasi dan lauknya untuk sang cucu.
Kenan berlari masuk ke dalam rumah menuju sang nenek. Kini dia duduk rapi di ruang tamu menunggu suapan dari neneknya.
"Bija, kapan datengnya uti? tanya Kenan.
"Ditunggu saja ya, ini aaa dulu," Bu Metta mengarahkan sendok berisikan lauk dan irisan telur untuk cucunya.
"Wes kangen banget sama Bija yo Le," Pak Joko, ayah Senja berjalan dari arah belakang ikut duduk di sebelah Kenan. Kenan yang masih mengunyah hanya menganggukkan kepala.
"Dimasakne opo yo Pak enake konco-koncone Senja (Dimasakin apa ya Pak enaknya teman-temannya Senja)? tanya Bu Metta kepada Pak Joko.
"Senja pesen menu khusus gak? tanya balik Pak Joko sembari menatap layar pipihnya.
"Masakan rumahan biasa sih, sama ayam goreng kata Senja bosnya orang Jepang juga ada nanti," jawab Bu Metta meminta Kenan untuk berhenti bermain dengan makanan di mulutnya yang belum habis dikunyah.
"Sayur asem seger buk, sama kuluban atau urap juga mantap," Ide Pak Joko.
"Ken, mau sayul asem uti," Kenan tak mau kalah walau mulutnya masih penuh tetap berusaha berpendapat. Kakek dan neneknya hanya tertawa dengan suara lucu di bocah.
"Iya iya nanti uti masak, dikunyah dulu makanannya," ucap sang nenek.
Kakak pertama Senja, tiba-tiba datang ke rumah, berniat untuk mengajak Kenan ke pasar.
"Ken, di lumah aja Yah, nunggu Bija," ucap Kenan pokoknya dia harus tetap duduk manis di rumah sang nenek menyambut Bija.
"Ra usah dipekso, endi bojomu ibuk mau nitip belanjaan (Jangan Dipaksa, dimana istrimu, ibu mau nitip belanja)? Bu Metta berdiri menuju istri Langit.
"Ken nitip jajan gak?" tanya sang ayah.
__ADS_1
"Nitip cenil, klepon sama onde-onde ya ayah buat Bija juga," jawab Kenan, dia ingat Bijanya suka makan jajanan itu bersama dirinya.
.
.
.
.
.
Perjalanan yang awalnya 8 jam kini lebih lama karena mereka beristirahat hampir 3 jam di rest area Semarang. Kini mobil baru saja keluar dari rest area Ngawi, setelah ibadah subuh dan istirahat lagi sebentar. Dengan demikian masih sekitar 2 jam menuju rumah Senja.
Penumpang mulai segar setelah mencuci muka walaupun tanpa mandi. Menikmati matahari yang mulai meninggi dan pemandangan pohon di kanan kiri jalan. Sesekali Dila dan Ryota mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar pemandangan luar. Senja sendiri sibuk berbalas pesan dengan keluarganya mengabarkan jika sebentar lagi mereka sampai.
"Welcome hometown Mbak Ja," ucap Dila yang ikut-ikutan Rinta memanggilnya dengan suku kata terakhir namanya. Senja merasa bahagia tiba di kota kelahirannya, wajahnya nampak berseri-seri.
Saat mobil tengah berbelok melewati pasar di kecamatan, Senja menengok ke arah luar, karena merasa seseorang yang dikenalnya baru saja lewat menuju pasar.
"Kayak lihat kakakku sama istrinya," jawab Senja. Dia merasa begitu mengenali dua orang yang tengah berboncengan dengan motor matic biru yang baru saja lewat.
"Ohya Pak Raka, nanti ada Kantor Kepala Desa, sebelahnya belok kiri ya, itu jalan ke rumah,"
"Siap bu bos" ucap Raka.
"Gak sabar mau mandi biar seger trus tidur hahaa," ucap Dila tak sadar sedari awal perjalanan sudah mulai tidur, terbangun sebentar saat Kenan melakukan panggilan video.
"Di rumahku kamar mandinya cuma 1, maaf ya kalau bergantian," ucap Senja.
"Mandi bareng Beb, biar cepet," goda Raka pada Dila. Dan dibalas cubitan cukup keras di paha sang pacar. Raka terlihat kesakitan, sedangkan Senja dan Ryota hanya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Mobil mulai berbelok ke halaman rumah bercat cokelat yang nampak asri karena terdapat pohon mangga di depannya serta tanaman di pot gantung. Tak lama bocah gembul berlarian menuju mobil, siapa lagi kalau bukan Kenan yang ingin menyambut Senja.
"BIJAAAA," Kenan nampak bersorak saat Senja keluar dari mobil dan meminta gendong Bijanya. Senja mulai keberatan menggendong Kenan hingga Bu Metta meminta Kenan untuk turun.
"Mari masuk, beginilah gubuk orang tuanya Senja, jangan sungkan-sungkan," ucap Bu Metta agar tamunya merasa nyaman. Raka, Dila dan Ryota akhirnya berjabat tangan dengan Ibu Senja sebelum memasuki rumah. Senja sendiri sudah saling cipika cipiki dengan sang ibu sebelum teman-temannya berjabat tangan.
"Bapak mana Bu?" tanya Senja celingak-celinguk tak melihat sang ayah. Ketiga temannya kini tengah duduk rapi di ruang tamu.
"Biasa sudah di sawah," jawab Bu Metta kemudian ke dapur untuk menyiapkan minum. Setelah pensiun dari guru, kini kesibukan Pak Joko adalah bercocok tanam di sawah miliknya sedangkan Bu Metta kembali menjadi ibu rumah tangga biasa sesekali menemani suaminya ke sawah.
"Maaf ya guys rumahnya kecil," Senja merasa tak enak hati karena tempat tinggalnya yang sederhana di kampung beda dengan ketiga teman-temannya si perumahan bagus.
"Nyaman dan adem kok mbak, nanti lihat sawah yuk," Dila si anak kota tentu memanfaatkan momen liburan ke desa untuk berfoto ria.
"Ohya kalau makanannya gak suka bilang ya, takutnya lidah kalian gak cocok terutama kamu Ta," Senja khawatir lidah teman-temannya tidak cocok dengan masakan Ibunya.
"Kita pemakan segala Senja, santai saja," jawab Raka cukup menenangkan Senja.
Kenan duduk diam mengamati ketiga teman Senja secara bergantian, kemudian tersenyum saat di sapa oleh Ryota karena sedari tadi dia duduk di sebelah Ryota.
Bu Metta keluar dari dapur dan menghidangkan teh untuk tamunya. Senja akhirnya memperkenalkan nama ketiga temannya kepada Bu Metta dan Kenan.
"Om Ryo ini bisa bikin mainan lo," ucap Raka berusaha mendekatkan Ryota dengan keluarga Senja, namu Ryota membalas pelototan ke arah Raka, merasa temannya ini sedang mengerjainya.
"Benelan om?" tanya Kenan penuh harap.
"Buatin Ken, tempat parkir om, buat mobil-mobilannya Ken bisa ya Om?" lanjut Kenan memegang lengan baju Ryota.
"Iya nanti ya biar omnya mandi dan istirahat dulu," jawab Senja. Ryota langsung menoleh ke arah Senja yang sudah mengiyakan permintaan sang keponakan padahal dirinya belum setuju.
"Nanti aku temani beli kardus bekas buat bikin, gampang kok lihat di youtube nati tutorialnya," jawab Senja menenangkan Ryota.
__ADS_1
"Iya nanti Om buatin ya," Ryota akhirnya meng-iyakan dan tentu saja Kenan makin bersorak.
Drama Kenan dengan mainanannya bisa diselesaikan untuk sementara. Setelah ini, Raka dan Ryota menuju kamar tamu untuk menyimpan barang-barangnya sebelum mandi. Kamar tamu ini sebelumnya kamar Langit, karena sudah tinggal di rumah sendiri yang berada di sebelah rumah orang tua Senja, akhirnya kamarnya difungsikan menjadi kamar tamu. Sedangkan Dila akan tidur di kamar Senja.