Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Masa Lalu Ryota


__ADS_3

Flashback on


Jerman, 8 tahun lalu.


Ryota tengah berbahagia karena telah menyelesaikan pendidikan strata 1 nya di Technische Universität München, salah satu kampus dengan jurusan teknik terbaik di dunia. Ryota yang dibesarkan sebagai anak pewaris tunggal perusahaan otomotif besar, memutuskan mengambil jurusan teknik mesin di Jerman. Jerman dipilihnya karena Jerman dikenal dunia berkat kemajuan teknologinya. Selain itu, dengan merantau jauh dari keluarganya, harapnya dia menjadi pribadi yang lebih tangguh saat sudah menggantikan ayahnya kelak.


Di awal kuliah terasa begitu berat bagi Ryota, sebagai anak tunggal yang semuanya serba dimudahkan namun kini dia harus mandiri. Culture shock juga menjadi tambahan masalahnya. Namun, kesulitan tersebut mulai mengikis saat dia bertemu dengan Sato Tsubaki. Perempuan cantik yang selalu mengenakan kalung rosario ini menjadi sahabat yang selalu menguatkan Ryota. Tsubaki mengambil jurusan teknik arsitektur di kampus yang sama dengan Ryota agar kelak dia bisa membantu perusahaan neneknya di bidang konstruksi. Walaupun berbeda jurusan, namun mereka tinggal di komplek apartemen yang sama, sehingga makin mendekatkan mereka.


Setahun bersahabat, benih cinta pun mulai timbul. Ryota dan Tsubaki yang hanya memendam rasa akhirnya resmi menjalin kasih. Tsubaki mengutarakan perasaannya terlebih dulu.


"Ryota, Daisuki da (Ryota, aku sangat suka padamu)."


Ryota yang mendengar pengakuan Tsubaki merasa senang sekaligus cemen, senang karena perasaannya terbalas, dan cemen karena harus Tsubaki dulu yang memulai.


Jalinan kisah cinta selama 3 tahun, diwarnai penuh kebahagiaan. Tsubaki adalah perempuan sempurna. Dia sangat cantik, pintar akademis dan tentunya pintar memanjakan lidah Ryota dengan masakannya.


4 tahun menempuh pendidikan, kini adalah masa perayaan kelulusan Ryota dan Tsubaki. Kedua orang tua Ryota sengaja terbang ke Jerman untuk merayakan kelulusan putra tunggalnya. Dan bagi Ryota hari ini tentu bukan hanya soal kelulusan namun juga dia ingin mengenalkan Tsubaki pada kedua orang tuanya.


Ryota mengenggam tangan Tsubaki berjalan memasuki restoran tempatnya akan merayakan kelulusan bersama orang tuanya. Wajah penuh senyuman sepanjang jalan.


"Ma.. Pa..kenalkan ini Tsubaki, pacar Ryota," Ibu Dewi Amerta dan Bapak Akira Hiroto menyambut jabatan tangan dari Tsubaki dengan senyuman. Namun, senyum Ibu Dewi mendadak suram saat melihat kalung rosario yang dikenakan Tsubaki. Hanya terdengar obrolan Ryota dan Papanya, dan sesekali Tsubaki menimpali dengan tersenyum. Bu Dewi hanya terdiam sangat tidak menikmati acara makan malam ini. Ryota sesekali menatap mamanya penuh pertanyaan.


Selesai makan malam, Mama dan Papa Ryota segera pulang menuju apartemennya, sedangkan Ryota mengantarkan Tsubaki ke unitnya terlebih dulu.


"Pa... mama dimana?" tanya Ryota saat melihat hanya sang papa yang menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Ada di kamar, ohya papa mau tanya sama kamu," Papa Ryota kemudian mengajak Ryota duduk di sofa untuk membahas kerisauan hati istrinya.


"Kamu serius dengan Tsubaki?" tanya Hiroto San, papa Ryota.


"Serius pa, kenapa?" tanya balik Ryota.


"Kamu tahu keyakinan dia apa?" Hiroto San menatap putra semata wayangnya.


"Hmmm," Ryota mendesah pelan, dia mulai paham mengapa mamanya hanya terdiam sepanjang makan malam tadi. Mamanya sangat tidak setuju dengan jalinan cinta berbeda keyakinan. Baginya cinta sesama manusia tidak boleh mengabaikan Tuhan atau bahkan mengkhianati Tuhannya sehingga jangan sampai memilih berganti keyakinan demi sang pujaan hati.


"Pa, bukankah papa juga berganti keyakinan demi mama?" penasaran Ryota pada papanya.


"Papa atheis jauh sebelum kenal mamamu, papa banyak membaca buku tentang berbagai keyakinan hingga akhirnya papa yakin dengan keyakinan papa yang sekarang, namun papa masih belum memutuskan untuk memeluk islam. Hingga akhirnya papa bertemu dengan mamamu, dari situ papa makin yakin dengan islam dan memutuskan menjadi muallaf. Jadi bukan karena mamamu papa memilih keyakinan ini."


Ryota akhirnya menghampiri mamanya yang saat ini sedang duduk selesai beribadah. Terdengar isakan tangis mamanya. Mamanya memohon petunjuk pada Tuhan tentang sikap apa yang harus dia berikan, dia sangat menyayangi putranya namun disisi lain dia tidak ingin Ryota menjalin kasih dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Ryota menutup kembali dengan pelan pintu kamar mamanya, kemudian menghapus air matanya yang keluar.


"Pa, Ryo pamit sebentar," Ryota sudah tidak sanggup melihat mamanya menangis. Baginya ibu Dewi adalah dunianya. Ryota mengingat dengan jelas cerita kakek-neneknya bahwa Ryota adalah bayi mahal, kedua orang tuanya melakukan banyak hal hinggal akhirnya di tahun kelima pernikahan, lahirnya Ryota yang diawali dengan proses bayi tabung yang tentunya tak murah. Perjuangan mamanya tak berhenti sampai disana, setelah Ryota lahir, mamanya divonis sakit di bagian rahimnya sehingga rahimnya harus diangkat, dan ini berarti Ibu Dewi sudah tidak bisa memiliki anak kembali. Semenjak saat itu Ryota tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, adanya dia di dunia ini adalah karena kedua orangnya.


Ryota berjalan dengan gontai menuju unit Tsubaki. Setelah Tsubaki membuka pintunya, Ryota berlutut di hadapan Tsubaki, dengan menangis dia menceritakan bahwa dia ingin mengakhiri hubungan ini. Tsubaki yang bingung akhirnya meminta Ryota menjelaskan dengan lebih detail.


"Maafin aku Tsubaki, tapi kita ga bisa bersama karena keyakinan kita yang berbeda, maafin aku, sungguh aku gak ingin mengecewakan kedua orang tuaku," Tsubaki ikut terduduk kemudian memeluk Ryota.


"Aku paham Ta, dari awal rasa ini memang salah Ta, mungkin orang tuakupun juga ga akan bisa terima," Tsubaki makin terisak, "Mari kita akhiri rasa ini dengan damai Ta, semoga kamu mendapat seseorang yang lebih baik dariku," Tsubaki mulai melepas pelukannya.


Keduanya bangkit berdiri, "Tsubaki, aku masih gak ingin pisah denganmu, tapi aku harus," Ryota kembali terisak.

__ADS_1


"Pulanglah, dan jelaskan pada orang tuamu bahwa kita telah selesai, kisah kita usai Ta," Tsubaki mendorong pelan Ryota agar segera pergi dari unitnya.


Flashback off


"Tsubaki," Ryota berteriak kencang dalam tidurnya, kemudian membuta matanya pelan, "Ahh kenapa mimpi Tsubaki lagi," gumam Ryota.


Sejak memutuskan hubungan dengan Tsubaki, Ryota memutuskan ikut pulang bersama kedua orang tuanya. Dia ingin segera move on dari Tsubaki, maka dia mulai menyibukkan diri dengan melanjutkan pendidikan strata 2 nya di Tokyo sembari bekerja di perusahaan ayahnya.


Berkat kecerdasannya, dia mampu menyelesaikan pendidikan S2 nya hanya satu tahun, dengan gelar cumlaude. Karena kelak dia akan memimpin perusahaan, akhirnya lulus dari S2 Teknik, dia melanjutkan kembali pendidikan S2 dengan jurusan bisnis agar membantunya mengatur perusahaan.


Menyibukkan diri dengan pendidikan dan pekerjaan adalah caranya melupakan Tsubaki. Dia menjadi sosok yang makin datar dan dingin. Di usia 25 tahun, para pemegang saham akhirnya mempercayakan dirinya menjadi presiden direktur Akira Otoparts, salah satu anak perusahaan Akira yang memproduksi spare part kendaraan.


Wajah tampan, otak cerdas, karir gemilang, membuat para perempuan mulai mendekatinya. Namun, dia tetap dingin dan belum tertarik kepada wanita manapun, hingga pertemuannya dengan Senja di minimarket kala itu membuat hatinya mulai melunak, namun sebelum perasaaanya makin jauh dia harus menceritakannya terlebih dulu dengan mamanya, jika restu sudah di tangan, maka dia segera berani melangkah.


...----------------...


"Eh ibu, kita ketemu lagi," Senja terkaget saat melihat seseorang yang menjadi teman perjalanannya di pesawat kemarin.


"Kamu dengan siapa ini, lucunya?" Bu Dewi mencubit gemas pipi gembul Kenan.


"Ini anak kakak saya Bu, Bu saya duluan ya," Senja menuju kasir karena sekarang antrian sudah sampai di bagiannya.


"Mari bu," Senja berpamitan karena dia telah selesai membayar.


"Bye, hati hati ya," sapa Bu Dewi dan segera dia menuju kasir.

__ADS_1


__ADS_2