
Ryota tiba di kantor tepat pukul 15.00 bersamaan dengan datangnya tim dari Park Min Construction. Dia lekas menuju ruang meeting untuk mendengar presentasi dari perusahaan konstruksi asal Korea Selatan tersebut.
Meeting kali ini berjalan dengan sangat singkat, karena sedikit bahan materi yang dibawa oleh Park Min Construction, sehingga pukul 16.00 mereka menyudahi pertemuan itu. Mereka kembali ke perusahaan masing-masing dan menunggu hasil pemenang tender yang akan diserahkan pada keesokan harinya.
Tentu saja Sato Construction yang dipimpin oleh Sato Tsubaki adalah perusahaan yang terpilih. Karena memenangkan kriteria penilaian yang diajukan. Kriteria penilaian yang digunakan adalah Project Management Triangle alias Segitiga Manajemen Proyek yang terdiri dari Time, Cost dan Scope.
Time atau Waktu merupakan salah satu faktor terpenting dalam menangani suatu proyek, karena setiap proyek mempunyai batas waktu dalam penyelesaiannya.
Cost atau Biaya merupakan hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa proyek yang dilaksanakan tersebut di bawah anggaran biaya tertentu dan tidak melebihinya.
Dan terakhir, Scope atau Lingkup. Lingkup merupakan hasil akhir yang ingin dicapai oleh pelaksanaan proyek tersebut. Hasil akhir yang diinginkan harus didefinisikan secara spesifik dan dikomunikasikan ke semua anggota yang melaksanakan tugas-tugas dalam proyek.
Setelah memutuskan siapa pemenang tender, meeting internal antara Ryota, Raka dan Radit pun usai. Radit kembali ke meja kerjanya untuk membuat surat keputusan yang akan dikirimkan kepada pemenang tender serta ucapan terima kasih untuk perusahaan yang tidak lolos. Raka dan Ryota kembali ke ruangannya karena ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani Ryota.
"Baru juga dateng, mau langsung pulang Ta," Raka mengomentari Ryota yang tengah menandatangani dokumen tersisa agar segera bisa pulang sambil terus memandangi jam tangannya.
"Aku mau nembak Senja," jawabnya dengan terus tersenyum membayangkan seperti apa nanti dia akan mengutarakan perasaannya.
"*Hontou ni* (sungguh)?" Raka mengeryitkan dahi merasa ketinggalan kabar bahagia dari sahabatnya ini. Ryota hanya membalasnya dengan kedipan mata dan tertawa setelahnya.
"Finished," Ryota berdiri dan menyerahkan dokumen yang telah selesai dia tanda-tangani kepada Raka.
__ADS_1
"Ganbatte Kudasai," Raka mengepalkan jari tangan kanannya kemudian mengangkat lengannya. Ryota membalas dengan melambaikan tangan dan berlalu untuk pergi.
...----------------...
Saat tiba di mobil, Ryota teringat jika Senja pernah cerita saat mereka tengah ke Museum MACAN bahwa dirinya suka sekali dengan Brownies. Sebuah jenis kue cokelat klasik yang menurut sejarah berasal dari Amerika Serikat. Akhirnya dia mencoba mencari penjual kue tersebut yang searah dengan kosan Senja.
Luckily, terdapat kios Brownies Kukus khas kota Bandung yang tak jauh dari minimarket tempatnya pertama kali bertemu dengan Senja. Akhirnya diapun segera meluncur kesana. Dia berharap bisa mengutarakan perasaannya sebelum langit senja berganti malam.
Tiba di kios brownies, pilihannya adalah brownies kukus original. Selesai dari sana, dia melihat ada kedai kopi di depannya. Akhirnya dia memasukkan kue ke dalam mobil yang masih terparkir di depan kios brownies dan dia melangkah menuju kedai kopi dengan berjalan kaki.
Kedai kopi masih sepi sore itu, karena kebetulan masih pukul 16.50 beberapa kantor masih belum pulang kerja. Dia berdiri melihat menu kopi di depannya. Dia hampir saja memilih americano kesukaan Senja, namun teringat jika Senja hari ini nyeri haid, maka khawatir kopi hitam akan membuatnya bertambah sakit. Akhirnya pilihannya adalah Susu Almond untuk Senja dan Cappucino untuk dirinya. Dia belum pernah melihat Senja meminum susu almond, namun berharap Senja akan suka, karena pilihan menu susu yang tersedia hanya itu di kedai kopi ini. Setelah mendapat kedua jenis minuman tersebut, dia segera meluncur ke kosan Senja.
Tok...tok..tok.. Ryota mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suara, keduanya tangannya penuh dengan makanan dan minuman yang tadi dia beli.
Saat ini Senja di dalam tengah merapikan rambutnya sehabis mandi.
"Bentar," ucap Senja sambil mulai menguncir rambutnya, kemudian berjalan untuk membuka pintu.
"Hai," Ryota menyapa dengan senyum tiga jarinya.
"Masuk Ta," Senja mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Ryota tengah merapikan barang bawaannya sedangkan Senja kembali ke toilet untuk meletakkan handuknya yang tadi dia gunakan.
"Kamu bawa apa Ta?" Senja menelisik banyaknya barang yang dibawa Ryota.
"Eh tunggu kamu duduk sini," Ryota meminta Senja duduk berhadapan dengan nya, kemudian memegang kedua pundak Senja.
"Ehh ehh kamu mau ngapain?" Senja salah tingkah dengan perlakuan Ryota.
"Maaf maaf," Ryota yang gugup akhirnya melepaskan genggaman tangan di pundak Senja kemudian mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya pelan agar tidak makin tegang.
"Aku mau jelasin sesuatu ke kamu," akhirnya kalimat tersebut keluar juga dari mulut Ryota.
Setelahnya Ryota mulai menjelaskan tentang Tsubaki kepada Senja, tentang Tsubaki yang lebih dulu mengutarakan sukanya, hingga lama-kelamaan diapun nyaman dengan nya.
Namun keadaan membuat keduanya tak bisa bersama. Ryota juga mengakui tak mudah melepaskan rasa tersebut, terlebih itu adalah pengalaman pertama kalinya. Tiga tahun berlalu dia pun benar-benar bisa menghapus rasa yang pernah ada. Ryota mencoba menciptakan rasa dengan berhubungan dengan perempuan lain namun tetap belum bisa, belum ada perempuan yang membuatnya merasa nyaman dan rasa yang dulu pernah singgah belum tumbuh kembali.
Hingga akhirnya tahun lalu, keputusan dewan komisaris memutuskan untuk dirinya memimpin perusahaan Akira yang di Indonesia. Dia begitu berat awalnya, berat meninggalkan orang tuanya, dan berat harus beradaptasi di negara baru lagi. Pertemuan tak sengajanya dengan seorang perempuan di minimarket dan bahkan dengan sukarela membayar atas barang yang dia beli, dari situ dia penasaran. Dan merasa ada hal menarik di negara ini yang bisa membuatnya betah. Pada saat perkenalan karyawan dia tahu perempuan di minimarket tersebut adalah karyawannya, dan dia mulai mengamati dan memcoba dekat dengannya.
"Senja, sejak awal pertemuan kita jujur aku penasaran, belum bisa sih kalau dibilang love at the first sight, karena aku ga percaya itu. Namun mungkin mengarah kesitu. Menurutku kamu perempuan yang beda, dan makin kesini aku makin nyaman sama kamu. Aku sadar mungkin aku bukan bagian dari ekspektasimu, terlebih ekspektasi orang tuamu seperti yang pernah aku dengar dari ceritamu, tapi bolehkah aku ingin hubungan ini lebih dari sebelumnya, kedekatan ini bisa naik level ke arah serius?" Ryota menjeda kalimatnya dia mengeluarkan brownies dan susu almond di sebelahnya, kemudian menggenggam kedua tangan Senja. Jangan tanya bagaimana ekspresi Senja, dia begitu kaget seolah tak bisa berkata-kata.
"Di bawah langit senja yang sebentar lagi berganti malam, bersama dengan brownies dan susu almond ini, Tsukiatte kudasai (maukah kamu menjadi kekasihku)?" Ryota masih terus menggegam kedua tangan Senja berharap cemas dengan jawaban Senja.
__ADS_1