
Sebulan berlalu semenjak kata pisah yang diinginkan Senja dan diaminkan oleh Ryota. Hubungan kedua manusia yang pernah saling dekat dan hangat ini menjadi kembali asing. Tak ada lagi saling sapa dan senyum. Mereka malah saling menghindar bahkan untuk sekedar bersitatap pun enggan.
Pekerjaan Senja menjadi lebih ringan bulan ini. Tugasnya sebagian besar dialihkan ke Dila dan Adam agar kedua bawahannya ini terbiasa saat kelak Senja sudah tak di sini. Radit pun juga masih berusaha untuk mencari pengganti Senja, namun sudah ada 2 kandidat datang melamar, tak satupun yang diterima.
Teman-teman terdekat Senja sudah mengetahui tentang perpisahan Senja dan Ryota. Mereka sungguh menyayangkan namun Senja tentu saja tak bisa menolak kehendak kedua orang tuanya. Senja memang gadis penurut untuk urusan jodoh, terlebih dia paham betul bagaimana rumitnya calon pengantin jawa untuk menentukan hari baik dan segala atribut di belakangnya. Keputusan untuk berpacaran pun sejatinya adalah keputusan salah yang sudah melanggar prinsipnya.
Sedari remaja, Senja sudah memutuskan untuk tak akan berpacaran. Dia takut saat sudah menjatuhkan hatinya kepada seseorang, namun berujung tak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan hanya akan memberi luka pada dirinya. Dan sepertinya angannya saat remaja dulu terjadi pada dirinya sekarang.
Senja tersenyum tipis saat tak sengaja menatap sosok Ryota yang kini tengah tertawa bersama Raka di sisi meja yang lain. Siang ini Dila, Alya dan Rinta sengaja mengajak Senja makan bersama di restoran dekat kantor. Mereka ingin berbagi suka dengan Senja karena hari ini adalah hari terakhirnya di sini. Namun, tak terduga Ryota dan Raka pun juga makan siang di sini, padahal bisanya jarang semenjak keduanya tak lagi bersama. Hal ini karena Ryota lebih memilih makan siang di ruang kerjanya atau ke restoran yang lebih jauh. Alasan Ryota adalah agar tak melihat mantan kekasih yang masih mengisi relung hatinya hingga detik ini.
"Mbak Ja, kok nglamun sih?" Dila menepuk Senja pelan. Dila sebenarnya tahu jika sedari tadi Senja menatap Ryota. Acara makan siang ini adalah rencana dia dan Raka. Mereka berharap kedua atasannya itu bisa kembali saling menyapa dan memperjuangkan cinta mereka. Mereka merasa baik Senja maupun Ryota sama-sama terlarut dalam kecewa sehingga tak ada hasrat berusaha.
__ADS_1
"Eh enggak kok, cuma kepikiran nanti di sana apa aku bisa ketemu teman baik kayak kalian ya," elak Senja kemudian tersenyum menatap ketiga temannya.
"Ja, kamu itu baik dan ramah, kamu pasti dapat teman yang baik juga di sana, percaya deh," ucap Rinta memberi semangat.
"Rinta betul Ja, this is your last day (ini hari terakhirmu), kamu harus ceria jangan galau kayak gini, yok semangat yok," ucap Alya.
"Bayangin mbak, habis ini kamu bisa jalan-jalan keliling London, lihat London Eye, London Bridge atau bahkan ketemu personil One Direction nanti hehe," canda Dila.
Di meja yang berbeda Ryota dan Raka tengah mengamati kebersamaan Senja dan teman-temannya. Kedua lelaki ini dapat melihat keceriaan Senja di hari terakhirnya.
"Kamu mau sampai kapan Ta, diem-dieman gini sama Senja? aku tahu kalian berdua masih saling menyimpan rasa," tanya Raka.
__ADS_1
"Entahlah Ka, aku rasa Senja tak mau berjuang untuk cinta kita," jawab Ryota lemas. Setelah tadi bercanda terkait klien lucu yang baru saja mereka temui, kini perbincangan beralih topik tentang perasaan.
"Gak cuma Senja, kamu juga Ta, kalian itu sama. Kalian terlalu gengsi untuk menyadari bahwa kalian tak ingin berpisah. Dan kalian juga sudah merasa kalah sebelum berjuang," ucap Raka.
"Aku berjuang gimana?" keluh Ryota.
"Huft..... " geram Raka. Atasan sekaligus sahabatnya ini mengapa bodoh sekali soal urusan cinta.
"Temui orang tua Senja, yakinkan mereka. Tanyakan pula apa tak ada solusi agar kalian bisa bersama gitu," lanjut Raka memberi ide untuk sahabatnya.
"Solusi yaaa..." lirih Ryota sambil memukul pelan dahinya dengan jari telunjuk mencerna ide dari Raka.
__ADS_1