
Seminggu berlalu sejak kepergian Ryota ke negeri sakura. Setiap malam sebelum tidur Senja dan Ryota saling mengobrol lewat panggilan suara maupun video untuk melepas kerinduan. Keduanya saling tertawa jika mengingat kejadian sabtu malam kemarin.
"Kamu mah enak Ta, besoknya sudah ke Jepang, hari senin aku ketemu Alya diketawain lagi," keluh Senja. Ryota yang mendengar keluhan Senja hanya terkekeh dan minta maaf lagi atas aksinya kemarin.
"Kamu udah nyuri ciuman pertamaku Ta," ucap Senja.
"Itu bukan ciuman sayang, kurang lama," goda Ryota, mengingat aksi mereka hanya sekedar menempelkan dua buah bibir dan cuma seperkian detik.
"Tau deh yang udah pengalaman," cebik Senja.
Ryota malah tertawa terbahak-bahak mendengar tuduhan Senja. Dia akhirnya menceritakan jika dirinya pun juga belum pernah berciuman sebelumnya, termasuk saat dulu berpacaran dengan Tsubaki. Sebenarnya dia ingin melakukan itu saat sudah menikah kelak, namun apa daya adegan di film begitu menariknya sehingga ingin langsung diterapkan di dunia nyata, apalagi tempatnya memungkinkan dan partnernya ada di sampingnya.
"Lagi ya yang," canda Ryota. Dia masih ingin melakukan aksi lanjutan dengan Senja saat kembali ke Indonesia, apalagi nanti bertepatan dengan ulang tahun Senja.
"Ih maunya kamu," ucap Senja tersipu. Baginya mengapa hal seperti ini harus ditanyakan jauh hari seperti sekarang, kenapa gak langsung beraksi saja langsung seperti kemarin.
"Besok kayaknya gak bisa video call dulu ya yang, besok acara nikahannya Ayumi," izin Ryota. Walaupun acara pernikahan sudah diserahkan kepada wedding organizer ,tentu saja sebagai bagian dari keluarga dia tetap ikut terlibat untuk memastikan kelancaran acara sepupu tercantiknya itu.
"Siap sayang, salam buat mama papa ya. Aku juga besok mau kirim-kirim dokumen untuk beasiswa," jawab Senja. Dia berencana untuk mengirimkan aplikasi beasiswa S2 ke beberapa kampus di beberapa negara berbeda dan tentu saja dengan lembaga pemberi beasiswa berbeda. Oleh karena itu karena besok adalah weekend, maka dia berencana off kegiatan volunteering dan menyiapkan itu semua.
"Rencananya ke negara apa saja jadinya yang?" tanya Ryota.
"China, Inggris dan Belanda yang, doain salah satu ketrima ya," harap Senja.
__ADS_1
"Aamiin, semangat ya," ucap Ryota. Obrolan keduanya berlanjut hingga tengah malam di Jepang akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri dan beristirahat.
Senja terdiam menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba dia tersenyum sendiri mengingat kejadian saat pulang dari acara nonton sabtu kemarin.
Flashback On
"Ta, sepertinya mau hujan gak sih?" tanya Senja. Saat ini dirinya di atas motor keluar dari parkiran mall sambil menatap ke langit Jakarta yang nampak begitu gelap tak berbintang atau berbulan.
"Kamu tahu dari mana?" heran Ryota. Menurutnya langit Jakarta memang jarang terlihat bintang karena polusi cahaya sehingga bintang di langit terlihat samar.
"Biasanya ada bulan Ta, ini kan masih pertengahan bulan," ucap Senja, dirinya mengingat malam sebelumnya masih melihat bulan di langit.
Saat mereka sudah mendekati setengah perjalanan untuk menuju kosan Senja. Tiba-tiba terdengar suara guruh mulai menyapa dan membuat dua insan di atas motor matic tersebut kaget. Senja pun akhirnya reflek memeluk Ryota.
"Maaf Ta," ucap Senja saat tak sengaja reflek memeluk pinggang kekasihnya. Saat dia ingin melepaskan pelukan, segera ditahan oleh Ryota.
"Yang, kamu tahu gak?" tanya Ryota. Sesekali dia mengelus lengan Senja yang ada di perutnya.
"Iya," jawab Senja memiringkan kepalanya ke arah kepala Ryota.
"Kamu tahu gak artinya Wo ai ni yang tadi ada di film?" tanya Ryota tentang dialog yang tadi didengarnya di film yang mereka tonton barusan.
"Aku cinta kamu," jawab Senja polos.
__ADS_1
"Aku juga cinta kamu," ucap Ryota. Senja yang baru paham jika dirinya dikerjai oleh sang kekasih akhirnya mencubit pelan lengan Ryota. Kemudian makin erat memeluk kekasihnya.
Tik... tik... tik... Rintik hujan mulai turun. Harapan Senja untuk bertemu gerimis saat pulang, agar bisa memeluk gratis diwujudkan oleh alam. Tanpa sadar dia tersenyum, dan Ryota melihat itu dari spion.
"Kenapa senyum, seneng ya bisa meluk-meluk aku pas hujan gini," goda Ryota.
"Ihh apasih, aku lepasin ya," ucap Senja. Namun faktanya dia tidak benar-benar serius dengan ucapan melainkan memperat pelukannya mengingat air yang turun mulai deras dan terasa dingin.
Flashback Off
Di tengah malam waktu Jepang sana, Tsubaki masih terjaga dengan minuman beralkohol di tangannya. Dia yang baru saja berolahraga malam bersama salah satu partnernya, memutuskan bangun karena adanya panggilan telepon.
"Kamu yakin Ryota akan ikut menginap di hotel itu?" tanyanya pada si penelepon yang tak lain adalah Hyuga asisten pribadinya.
"Benar sekali, keluarga besar Akira akan menginap di hotel yang sama setelah acara. Ryota san akan di kamar nomor 206, dan untuk nona saya pesankan di 209," jawab Hyuga.
"Kenapa jauh kamarnya?" kesal Tsubaki. Dia ingin kamar yang tepat bersebelahan dengan milik Ryota agar memudahkan aksinya.
"Tenang, saya punya rencana menarik," jawab Hyuga sambil tersenyum licik walaupun tentu saja Tsubaki tak bisa melihatnya.
"Apa?" tanya Tsubaki.
"Begini....."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat hari minggu, selamat berkumpul bersama keluarga. Terima kasih untuk dukungan kalian melalui like, vote, rate bintang lima dan comment 🤗🥰🙏.