
"Sumimasen (permisi)," Senja mengetuk pelan pintu ruang kerja pimpinan tertinggi kantornya yang juga mantan kekasihnya, Ryota. Tujuan dia kesini adalah berpamitan karena hari ini adalah hari terakhirnya bekerja. Dia menjadwalkan untuk menemui Ryota di waktu terakhir setelah berkeliling dengan semua karyawan yang sering berhubungan dengan nya di kantor. Alasan utamanya agar tidak banyak bercakap yang ujungnya membuat canggung.
"Masuk," jawab Ryota dari dalam.
Senja hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya pelan agar menghilangkan ketegangan. Ini adalah kali pertamanya berdua satu ruangan dengan Ryota setelah perpisahan mereka sebulan lalu. Pada hari kerja biasanya dia memilih ditemani Raka atau Radit jika menghadap Ryota. Sungguh, sikap Ryota yang kembali datar dan dingin membuatnya enggan dan takut berbicara lebih. Ryota seolah membangun tembok besar agar dirinya tak bisa mendekat.
"Tunggu ya," Ryota masih sibuk menandatangani beberapa dokumen. Kepalanya masih menunduk tak menyadari siapa karyawan yang menemuinya sore ini. Namun wangi parfum yang biasa dipakai Senja yang begitu dikenalinya begitu menyeruak. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat kepalanya memastikan apakah di depannyaini adalah gadis impiannya.
Deg. Rasa itu masih sama. Rasa saat mereka masih bersama masih belum hilang.
"Saya izin pamit karena ini adalah hari terakhir saya bekerja di kantor ini," ucap Senja dengan gugup.
Ryota berdiri meninggalkan dokumen yang membutuhkan tanda tangannya. Gadis di depannya ini jauh lebih membutuhkan dirinya, seperti dirinya yang juga membutuhkan Senja.
__ADS_1
"Maaf," Senja menunduk saat jarak dirinya dan Ryota kian dekat. "Maaf," ucapnya lagi sambil menahan tangis. Ryota meraih jemari Senja dan mengangkat dagu gadis manis tersebut.
"Maaf Ta, maaf," ucap Senja kembali. Tangis yang ditahannya mulai memberontak keluar dan dia sudah tak sanggup menahan lebih lama lagi.
"Suttt... sudah Senja kamu gak salah," ujar Ryota menenangkan. Diraihnya tubuh gadis itu dan dipeluknya erat.
"Aku udah egois Ta, aku ingin pisah tapi aku gak sanggup sebenarnya, tapi aku gak tau harus gimana." Senja masih sesenggukkan namun dia berusaha mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikirannya. Entahlah, dia merasa egois sekali kali ini. Dia yang meminta untuk pisah. Saat sudah berpisah dia pula yang menangis lebih keras. Dan kini perpisahan sudah nyata, hatinya malah tak rela jika Ryota akan bersama perempuan lain, bahkan pikirannya tak sanggup membayangkan Ryota yang akan menikah dengan orang lain. Tapi sekali lagi dia tak bisa mengubah keputusan orang tuanya. Senja dilema dengan fakta dan realita yang mengelilinginya.
Ryota tersenyum tipis dengan apa yang barusan dia dengar. Ini menunjukkan jika Senjanya masih punya rasa yang sama besarnya dengan rasa yang dimilikinya untuk gadis dalam pelukannya ini.
"Tunggu aku," ulangnya.
Senja menghapus air matanya dan mengernyitkan dahi mencoba mencerna maksud perkataan Ryota.
__ADS_1
"Aku akan berjuang mendapatkan restu dari orang tuamu, dan kamu di sana berjuang menjaga hatimu untuk tetap menunggu ku, apakah kamu bersedia?" pinta Ryota tulus.
"Ta, kamu serius?" tanya Senja.
"Beri aku waktu setahun, Ja. Aku akan berusaha berjuang di sini. Dan jika sudah lebih dari itu restu tak juga didapat, aku akan mundur teratur. Setidaknya aku sudah pernah mencoba bagaimanapun hasilnya," ucap Ryota penuh keyakinan.
"Aku akan membantu untuk membujuk bapak lewat ibu." Senja pikir ibunya adalah kunci menaklukkan ayahnya. Ibunya masih cukup terbuka dengan segala pemahaman baru dan tidak saklek, sehingga dia berharap sang ibu dapat mematahkan argumentasi sang ayah.
"Dan mari bersama berjuang di sepertiga malam untuk kebersamaan kita nanti, untuk kebahagiaan kamu, aku dan kita," pinta Ryota. Setelah mendengar perkataan dari Raka tadi membuat dia sedikit terbuka pemikirannya. Daripada dirinya sibuk meratapi kesedihan, lebih baik berjuang dan meminta pada Tuhan pemilik semesta.
"Mari berjuang bersama Ta, dan setelahnya biarkan Tuhan bekerja dengan caranya." Senja menatap Ryota penuh kasih.
"I still love you, yesterday, now and tomorrow (Aku masih mencintaimu, kemarin, sekarang dan besok." Ryota mengakui perasaannya dan memeluk Senja kembali.
__ADS_1
"So do I ( begitu juga aku)." Senja membalas pelukan Ryota.