Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Mimpi


__ADS_3

"Hati-hati yaa, bye." Ryota melambaikan tangan saat Senja mulai memasuki ke tempat pemeriksaan tiket di stasiun Gambir. Kemudian dia beranjak pergi menuju mobilnya. Sejak Senja mengatakan ingin pulang kampung, dirinya selalu merasa ada sesuatu yang akan terjadi dengan hubungannya dengan Senja. Pada akhirnya dia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk hubungan mereka ke depan.


Ryota melajukan mobilnya pelan untuk keluar dari area parkir. Sesekali dirinya menatap langit senja yang nampak begitu indah sore ini. Sungguh berbeda sekali dengan suasana hatinya yang baru saja ditinggal pergi oleh sang kekasih.


Mobil terus berjalan meninggalkan area stasiun dan menuju apartemennya. Sore ini dia sengaja mengambil sedikit jalan berbeda dan sedikit lebih jauh serta memutar. Dia ingin beristirahat sejenak menikmati Jumat sore di area taman yang berada tengah perumahan mewah menteng. Ryota ingin melihat tanaman hijau yang masih banyak sebelum pulang.


"Terima... terima.. terima...," suara begitu berisik di area taman. Ryota menelisik sekilas ternyata ada seorang pria yang melamar kekasihnya. Lamaran penuh balon di tengah taman yang membuat si gadis tersenyum dan langsung mengangguk tanda setuju atas lamaran si pria.


Ryota tersenyum melihat pemandangan itu. Dan seketika pria pimpinan Akira Indonesia ini memiliki ide untuk mengikat pujaan hatinya. Sebelum Senjanya pergi jauh dia harus segera melamarnya dan menjadikannya satu-satunya si pemilik hati.


Di daratan bumi Jawa Timur. Sore hari ini kedua orang tua Senja tengah mengobrol serius di ruang tamu.


"Bapak yakin mau bahas itu juga dengan Senja?" tanya bu Metta kepada suaminya.


Pak Joko membuang asap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan sang istri. "Yakin Bu, bagaimanapun Senja harus tahu, jangan sampai masalah ini berlarut," jawab Pak Joko.


"Baiklah, besok pas Senja pulang, kita bicarakan baik-baik ya," ucap Bu Metta kembali dan hanya dibalas angggukan oleh Pak Joko.

__ADS_1


Tiba di apartemennya, Ryota segera membersihkan diri dan mulai sibuk mencari referensi proses melamar yang sederhana. Dia ingin membuat acara yang berkesan dan tak terlupakan walau tak melibatkan banyak. Ryota terpikir untuk melamar Senja secara pribadi dulu kemudian dia akan membawa serta kedua orang tuanya untuk melamar Senja ke rumahnya.


Kring... Kring... Kring... nada dering ponselnya berbunyi tanda ada sebuah panggilan suara yang masuk. Ryota mengabaikan sebentar layar laptopnya untuk menatap layar ponselnya dan terdapat panggilan dari bu Dewi, mama tercintanya.


"Assalamualaikum sayang, apa kabar, sehat?" tanya bu Dewi dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah sehat Ma, mama papa gimana?" tanya balik Ryota.


"Alhamdulillah baik juga sayang." Bu Dewi tersenyum dari seberang sana mendengar putra semata wayangnya yang jauh dalam keadaan baik-baik saja. Setelah berbasa-basi dalam obrolan sore hari waktu Jakarta, bu Dewi akhirnya teringat tujuan menghubungi putranya. Lantas dia segera menanyakan keadaan hubungannya dengan Senja.


"Senja sehat? hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya bu Dewi.


"Mama senang mendengar kalian baik-baik saja, hanya saja," bu Dewi menjeda kalimatnya karena ada panggilan dari suaminya, sehingga dia harus meninggalkan sejenak putranya.


Beberapa saat kemudian.


"Hanya saja apa Ma?" Ryota segera melontarkan rasa penasarannya saat panggilan sudah tersambung kembali.

__ADS_1


"Mama mimpi tentang kalian," jawab bu Dewi.


"Hah mimpi apa Ma?" selidik Ryota.


"Kalian berada di dua sisi sungai yang berbeda, tak ada jembatan sebagai penghubung dan belum diketahui pula ujung sungai itu dimana," ucap bu Dewi.


Ryota merasa bingung dengan mimpi yang dialami oleh sang mama. "Maksudnya ma?" heran Ryota.


"Konon Ta, mimpi mama tersebut ada artinya, dimana kedua orang dalam mimpi itu akan berpisah di dunia nyata. Negitu arti mimpi yang mama dapatkan dari teman mama sesama orang Jawa yang paham soal seperti ini," jawab sang mama.


Ryota mencoba menghela nafas. Sejujurnya dia pernah memimpikan hal yang sama beberapa hari lalu. Dia berfirasat akan ada hal yang tidak beres dalam hubungannya sehingga membuatnya takut berpisah dengan Senja.


Beberapa saat lalu, dia menemukan ide untuk melamar Senja agar bisa mengikat gadis pujaan hatinya tersebut. Harapannya agar tak ada alasan lagi mereka berpisah.


"Ma, mimpikan cuma bunga tidur, kita berdoa yang terbaik saja ya," Ryota mencoba menenangkan sang mama.


"Iya benar sayang, yasudah mama tutup dulu ya, papamu minta minuman hangat," ucap bu Dewi, kemudian keduanya saling mengakhiri panggilan telepon.

__ADS_1


Ryota menutup panggilan telepon, kemudian membuka galeri fotonya bersama Senja. Dia menatap foto Senja yang tengah tersenyum. Gadis itu nampak begitu cantik dengan senyuman begitu tulus. "Semoga aku bisa segera menghalalkanmu," batin Ryota.


__ADS_2