Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Volunteering with Love


__ADS_3

Beberapa hari ini Ryota begitu senang, karena setiap pagi hari dia bisa melihat langsung Senjanya yang tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Langit. Walaupun hanya sarapan sederhana yang dibuat oleh Senja seperti nasi goreng atau roti panggang dan secangkir teh atau kopi, namun begitu hangat terasa di apartemen itu, sungguh Ryota ingin segera menjadikan halal Senjanya. Setiap malam dirinya berbagi kamar dengan kakak Senja, dan baginya itu baik untuk mendekatkan diri ke keluarga Senja, yaa barangkali restu bisa segera didapat kan.


Entah suatu kebetulan atau bukan, tujuan Langit untuk menginap pun diamini oleh Bu Metta, ibundanya. Bu Metta ingin Langit menelisik lebih dalam bagaimana sikap dan sifat Ryota, seorang pria yang sudah mengisi relung hati putrinya.


Pagi yang indah itu harus berakhir, karena hari ini Langit harus kembali ke kota asalnya mengingat acara perlombaan untuk anak didiknya sudah usai dan mereka meraih juara. Hal ini tentu membanggakan untuk Langit sebagai guru dan saja untuk Senja sebagai alumni sekolah tersebut.


Hari sabtu yang cerah, biasanya dihabiskan Senja untuk marathon dorama di pagi harinya, sedangkan siang hari akan melakukan kegiatan volunteering (kerelawanan). Senja memang terdaftar sebagai relawan pengajar aktif di komunitas peduli anak yang berlokasi di pasar besar yang masih satu kecamatan dengan kosannya. Sedangkan Ryota biasanya menghabiskan sabtu pagi hingga sore dengan pergi untuk main golf bersama teman-teman sesama expatriate dari Jepang. Mereka akan banyak berdiskusi terkait perkembangan bisnis di Indonesia.


Sabtu ini Ryota memutuskan untuk tidak pergi main golf. Dia ingin menghabiskan hari ini dengan Senja, karena besok dia harus kembali ke Jepang. Ryota akan berada di Jepang kurang lebih dua minggu. Selain dia memiliki agenda meeting dengan perusahaan induk di sana, juga untuk mengunjungi orang tua dan keluarga. Ditambah salah satu sepupunya dari sang papa akan menikah, pasti ini adalah momen kumpul keluarga besar yang ditunggu.


Pagi hari, Ryota memutuskan untuk olahraga pagi berlari ringan di sekitar tempat tinggalnya, dan rencananya dia akan mampir ke kosan Senja sambil membawa sarapan untuknya.


"Pagi Bu," sapa Ryota dengan tersenyum pada penjaga kosan Senja yang bersiap untuk pergi.


"Pagi mas, cari mbak Senja ya? dia lagi jemur pakaian di belakang, masuk saja," Penjaga kos mempersilakan Ryota menemui Senja. Dia sudah hafal dengan Ryota dan keduanya pun sudah paham aturan kosan ini. Jika membawa teman pria ke kamar harus buka pintu, maka penjaga kos percaya dengan keduanya, karena memang keduanya tak pernah berbuat berlebihan dan patuh aturan kosan.


Ryota berjalan menuju lokasi yang tadi ditunjukkan oleh penjaga kos. Dia ingin memberi kejutan untuk kekasihnya.


"Sayang," sapanya saat melihat Senja seorang diri tengah memeras kemeja dari dalam ember.


Senja menoleh kaget dan Ryota reflek mengangkat bungkusan bubur ayam di tangannya agar Senja bisa melihatnya.


"Sarapan yuk, aku bawa bubur ayam," ajak Ryota.


"Bentar ya, ini tinggal dikit, mau makan di kamar aja atau di gazebo?" tanya Senja.


"Gazebo depan aja, aku keringetan gak enak di kamar," jawab Ryota. Dia merasa dirinya tengah mandi keringat efek lari pagi tadi.


"Oke, tunggu di sana ya," perintah Senja. Ryota menurut dan kembali ke halaman depan.


Tak berapa lama Senja menyusul Ryota ke gazebo depan, dengan membawa botol air putih untuk minum keduanya.


"Tahu aja aku belum sarapan," Senja terkekeh senang, kemudian mulai membuka bubur ayamnya.


"Iya dong, tumben nyuci sendiri, gak laundry?" tanya Ryota mengingat selama ini yang dia tahu Senja selalu menggunakan jasa laundry pakaian.


"Ada sih yang di-laundry, yang berat-berat kayak sprei gitu, trus sebagian dicuci sendiri karena lagi pengen lihat cuaca lagi bagus," jawab Senja. "Gak main golf?" tanya Senja.


"Enggak, pengen ikutan kamu ngajar boleh?" tanya Ryota.


"Asyik! boleh banget dong, nanti setengah satu berangkatnya." Senja begitu senang karena bisa mengajak Ryota ke dunia yang disukainya yaitu dunia relawan dan anak-anak.


Pukul 12 lebih, Ryota sudah memarkirkan sepeda motor matic terbarunya di halaman kosan Senja. Nampaknya, selesai ibadah zuhur dia segera tancap gas menjemput sang kekasih. Sepeda motor ini sebenarnya adalah milik Senja. Jadi karena Senja diangkat menjadi karyawan tetap dirinya berhak mendapatkan tunjangan sepeda motor, dengan catatan dia tidak boleh keluar dari perusahaan selama lima tahun ke depan, apabila keluar maka ada biaya untuk mengganti sepeda motor tersebut atas sisa tahun yang ditinggalkannya. Istilah ini di dalam perusahaan biasanya disebut dengan MOP atau Motorcycle Ownership Program. Nah, berhubung Senja tidak bisa mengendarai sepeda motor, alhasil motor tersebut dipakai oleh Ryota untuk bisa menjemputnya seperti saat ini. Sesekali keduanya pergi kencan dengan sepeda motor, sehingga tak melulu dengan mobil milik Ryota.


Ryota menyusul Senja ke kamarnya, dan terlihat sang kekasih masih sibuk memasukkan boneka tangan sebagai alat mengajarnya nanti ke dalam tas.

__ADS_1


"Background anak-anaknya itu apa aja yang?" tanya Ryota sambil melihat-lihat akun media sosial atas komunitas yang diikuti Senja tersebut yang nantinya akan mereka datangi.


"Kebanyakan mereka anak putus sekolah gitu, jadi orang tuanya adalah pedagang di pasar atau terminal, dan mereka sendiri sesekali ikut dagang atau ngamen yang." Senja menjelaskan tentang komunitas sosialnya. Ryota mengangguk paham, kemudian tersenyum saat melihat salah satu postingan di akun tersebut adalah Senja yang tengah mengendong salah satu adik di sana. Foto Senja tersebut diambil secara candid oleh relawan dokumentator, dan terlihat Senja nampak begitu tulus.


"Yuk," Senja berdiri mengajak Ryota untuk berangkat.


Perjalanan dari kosan Senja ke tempat mengajarnya hanya 30 menit. Tempat mengajarnya ini adalah sebuah ruko dua lantai yang ada di belakang pasar. Acara mengajar biasanya dimulai pukul 13.00.


Pada saat Senja dan Ryota tiba, terlihat sudah ada relawan lain yang datang lebih dulu, dan beberapa adik yang saat ini tengah membantu kakak relawan membersihkan ruang untuk belajar. Ryota memarkirkan motornya dan kemudian ikut masuk bersama Senja.


Senja memperkenalkan Ryota kepada para relawan lain, dan karena Senja ingat Ryota jago menggambar maka dia berencana untuk mengajak Ryota bergabung dengannya mengajar kelompok usia adik kelas 1 dan 2 yang kebetulan hari ini temanya adalah Seni dan Kerajinan.


Pukul 13.15 acara baru dimulai karena beberapa adik yang baru datang setelah selesai bekerja dan makan siang di pasar atau terminal. Acara belajar diawali dengan berdoa bersama. Selanjutnya, mereka akan dipisah sesuai kelompok usia mereka. Di masing-masing kelompok terdapat dua sampai tiga relawan, tergantung banyaknya adik di kelompok tersebut. Tugas relawan ini sebagai pendamping yang akan mengajari mereka, berbagi ilmu dengan adik-adik sesuai tema yang telah disepakati oleh pengurus komunitas.


Senja dan Ryota mendampingi delapan adik. Senja mengarahkan Ryota untuk berkenalan terlebih dahulu.


"Selamat siang adik-adik, perkenalkan saya Ryota, kalian bisa panggil kak Ryo, salam kenal," sapa Ryota di depan delapan anak usia kelas 1 dan 2 ini.


"Siang kakak," jawab delapan adik dengan riang. Selanjutnya ke delapan anak ini, mempekenalkan namanya, selain agar Ryota kenal tentu sebagai absensi juga. Karena bagi adik yang rajin datang belajar akan mendapat bintang, dan semakin banyak bintang yang dikumpulkan mereka akan mendapat apresiasi pada tahun tersebut. Bukan apresiasi yang mewah dan berlebihan, melainkan tambahan makanan bergizi seperti susu atau vitamin, atau terkadang mainan edukatif. Kondisi mereka yang berada di jalanan dan juga pasar tentu rentan dengan virus dan bakteri sehingga dukungan seperti makanan bergizi dan vitamin dapat menjaga daya tahan tubuh mereka.


"Wah gambarnya bagus sekali, mewarnainya juga sudah rapi," puji Ryota kepada salah satu adik. Setelah Ryota memberi contoh gambar di papan, dia meminta adik-adik mengikutinya sesuai langkah yang Ryota ajarkan kemudian memintanya untuk mewarnai. Senja nampak tersenyum dengan kelembutan yang Ryota berikan saat mengajar dan bercengkerama dengan adik-adik. Ryota nampak begitu tulus dan menikmati perannya. Diam-diam Senja mengambil foto sang kekasih yang begitu suamiable sekali.


"Kakak, gajah Mey masa diwarnai merah muda sih, kan gajah harusnya abu-abu," adu seorang adik kepada Ryota. Ryota berjalan mendekat ke adik tersebut melihat gambarnya.


Selain itu, warna yang dituangkan ke media gambar juga dapat menunjukan ungkapan ekspresi dan perasaan si adik. Biasanya, anak kecil akan menyukai warna-warna terang untuk mewarnai gambar. Namun apabila si anak cenderung menggunakan warna gelap ketika mewarnai, bisa jadi hal ini menandakan perasaannya yang sedang sedih atau tertekan. Dan bila demikian tugas orang dewasa di sekitarnya adalah berusaha mencari tahu dengan bertanya kepada anak, agar bisa membantu untuk meringankan beban perasaan tersebut, tentu saja masalah yang dibagi tentu lebih melegakan daripada dipendam sendiri. Apalagi anak-anak di sini adalah anak dengan kondisi rentan karena kehidupan mereka yang keras.


"Gajah boleh diwarnai merah muda, langit boleh diwarnai kuning, kalian boleh berkreasi sebebas mungkin ya," Senja ikut memberikan arahan.


"Yeay," jawab adik-adik dengan senang.


Selesai mewarnai adik-adik mengumpulkan hasil karyanya kepada Ryota agar dinilai. Sambil menunggu selesai dinilai, mereka akan berkumpul kembali bersama anggota kelompok lainnya, agenda terakhir sebelum aktivitas belajar selesai adalah mendengarkan dongeng boneka tangan oleh Senja.


Senja beraksi dengan boneka tangannya yang diberi nama boneka momo. Dia menceritakan kisah tentang asal mula situ bagendit, sebuah danau yang berlokasi di Garut, Jawa Barat. Senja bercerita dengan mengubah suaranya mengikuti karakter yang dibawakan dalam cerita. Adik-adik dan para kakak relawan lain begitu antusias mendengarkan. Ryota tak lupa mengambil video sang kekasih untuk dikirimkan kepada orang tuanya.


"Calon menantu mama memang terbaik." Balasan dari mama Ryota.


"Jadi siapa yang mau kayak nyai bagendit?" tanya Senja kepada adik-adik. Nyai bagendit tersebut adalah seorang perempuan kaya yang sangat pelit. Bahkan dia rela tetap berada di dalam rumah mewahnya, pada saat air mulai membanjiri kampung tersebut. Air ini berasal dari tongkat orang sakti yang berhasil dicabut. Akhirnya kampung berserta rumah dan nyai bagendit ikut tenggelam dan karena hal itu nama danau diberi nama Situ Bagendit.


"Gak mau," jawab adik-adik kompak.


"Nanti kalau jadi orang kaya, saya mau rajin berbagi kak, biar gak ada lagi yang kesusahan," ucap Mey adik kecil yang tadi mewarnai gajah dengan warna merah muda.


"Betul sekali Mey," ucap Senja kemudian bertepuk tangan atas jawaban Mey. Tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi karena Mey berani berpendapat dengan baik. Tepuk tangan pun diikuti adik dan kakak yang lain. Walaupun sesederhana tepuk tangan, namun hal ini merupakan apresiasi positif sehingga membuat adik tetap semangat dan tak ragu mengeluarkan suara.


Acara mendongeng selesai, kegiatan belajar ditutup dengan berdoa dan pemberian snack sehat untuk adik-adik sebelum pulang. Untuk kelompok yang tadi Senja dan Ryota ajar, akan mendapatkan kembali hasil karya adik yang telah dinilai.

__ADS_1


"Makasih kak, datang lagi ya kak," ucap salah satu adik tulus saat bersalaman dengan Ryota sebelum pulang.


"Pasti," jawab Ryota senang. Dia sudah menyukai dengan dunia anak-anak di sini. Dirinya yang sedari kecil sudah hidup di kelilingi kemewahan dan tak pernah kurang merasa begitu beruntung, sehingga dia terdorong melakukan sesuatu yang bermanfaat di sini.


"Aku boleh datang lagi setelah pulang dari Jepang nanti yang?" tanya Ryota kepada Senja. Saat ini keduanya tengah menikmati rawon di depan rumah sakit. Setelah mengajar tentu lapar dong, dan nasi rawon adalah pilihan yang tepat.


"Tempatnya kotor lo Ta, kamu gak papa?" tanya Senja mulai menguji kekasihnya.


"Emang tadi aku kelihatan jijik gitu di sana," kesal Ryota merasa diremehkan.


"Iya, iya ngambekan ih hehe," goda Senja.


"Gak gitu sayang, hissh," ucap Ryota kemudian meraih gelas minumannya. "Aku pasti kangen kamu dua minggu ke depan," lanjutnya.


"Aku juga, salam ya buat mama papamu," ucap Senja.


"Pastinya, mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Ryota.


"Hmmm nanti deh aku browsing dulu hehe," jawab Senja.


"Mau action figure lagi?" tawar Ryota.


"Jangan, nanti kamu ke Tottori lagi ribet ah, makanan aja deh yang gampang kalau gak merepotkan," ucap Senja. Sebenarnya dia tak enak meminta oleh-oleh kepada kekasihnya, namun Ryota memaksa, jadi apa boleh buat ya.


"Oke sayang," ucap Ryota senang.


Di belahan bumi lain, 5.787 km dari Jakarta. Seorang perempuan cantik tengah memasuki lounge bar yang berada di dalam hotel berbintang di daerah Shibuya, Tokyo. Lounge bar merupakan tempat minum namun dengan konsep yang lebih elegan serta harga yang lebih mahal daripada di bar biasa.


Dengan mengenakan long dress yang seksi, Tsubaki menemui koleganya. Kolega yang ditemuinya ini adalah Akira Ayumi. Akira Ayumi ini merupakan putri dari Akira Hayato, kakak dari Akira Hiroto ayah Ryota. Dengan demikian Akira Ayumi ini adalah sepupu Ryota. Dirinya bertemu Tsubaki terkait urusan perusahaannya serta menyerahkan undangan pernikahannya yang mana acaranya adalah satu minggu lagi.


"Apakah Ryota san akan datang juga? kita dulu teman satu kampus saat di Jerman," tanya Tsubaki.


"Tentu saja, dia akan disini dua minggu kalau tidak salah," jawab Ayumi polos. Dia tidak tahu jika Tsubaki pernah menjadi kekasih Ryota sebelumnya. Tsubaki tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih undangannya Ayumi san, saya pastikan untuk datang ke acaranya. Semoga lancar untuk acaramu juga rencana kerja sama perusahaan kita," ucap Tsubaki kepada Ayumi sebelum keduanya berpisah. Ayumi memutuskan untuk pergi terlebih dahulu dan meninggalkan Tsubaki setelah pembahasan terkait perkerjaan selesai.


"Hyuga, kosongkan jadwal minggu depan dan siapkan dirimu dengan rencanaku." Tsubaki segera menghubungi asisten pribadinya agar dia bisa datang ke acara pernikahan sepupu Ryota. Ponsel ditutup dia mulai menyesap minumannya dan mulai membayangkan misi selanjutnya untuk dirinya dan Ryota. Keberadaan Ryota di Tokyo tentu memudahkan dirinya beraksi. Ahh sepertinya Tsubaki lupa jika Ryota pun juga asli penduduk Jepang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Langkah menggambar gajah yang diajarkan Ryota kepada adik-adik. (Images from Pinterest Account (tawabocah).


Hai-hai... mohon maaf kemarin off, hari ini up dengan 2000++ kata semoga sebagai pengganti yang kemarin 🙏. Anyway, selamat hari libur, terima kasih sudah berkunjung dan memberikan dukungan melalui like, vote dan comment. Salam sehat semuanya 🥰🤗.

__ADS_1


__ADS_2