
Minggu siang, Tsubaki beserta timnya tiba di bandara Juanda. Saat ini mereka tengah menunggu mobil yang akan mengantarnya menuju Hanabi Hotel, tempat penginapan mereka. Tempat yang sama pula akan digunakan menginap oleh Ryota dan timnya.
Perjalanan dari bandara ke hotel kurang lebih 3 jam. Saat tiba di hotel, hal pertama yang diperintahkan Tsubaki kepada asistennya adalah menanyakan kamar lokasi menginap Ryota dan Tim, harapannya kamar dia nanti akan berdekatan atau bahkan bersebelahan dengan kamar Ryota, untuk mempermudahnya menjalankan misi.
Hanabi Hotel merupakan hotel yang didesain dan dibangun oleh tim dari Sato Construction, maka manajer hotel cukup akrab dengan tim Sato Construction khususnya staf dari Jakarta. Momen ini tentu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Tsubaki agar bisa bersebelahan dengan kamar Ryota, dan beruntungnya terdapat kamar berdekatan dengan Ryota yang masih kosong, bersorak gembiralah hatinya saat ini. Walaupun Ryota belum datang, setidaknya dia sudah harus menyusun rencana untuk tidur bersama.
Ryota dan timnya saat ini tengah dalam perjalanan menuju hotel, namun Dila yang mendapat tugas terkait akomodasi sudah melakukan online check in, sehingga saat tiba di hotel prosesnya lebih cepat.
Pada malam hari, Tsubaki dan timnya mengundang Ryota dan tim untuk makan malam bersama. Hal ini dilakukan agar kerja sama keduanya makin erat dan kenal satu sama lain khususnya tim yang terlibat di proyek pembangunan pabrik ini.
Ryota memilih satu kamar dengan Raka, begitu pula Senja satu kamar dan Dila. Mereka berpendapat agar bisa saling berdiskusi jika malam tiba, toh menginap di sini hanya semalam saja, senin siang setelah acara, mereka akan kembali ke Jakarta. Jadi biaya akomodasi juga lebih hemat kan.
.
.
.
.
Senja dan Dila keluar dari kamar bersamaan dengan Ryota dan Raka yang membuka pintu. Pada akhirnya Ryota berjalan di samping Senja dan di belakangnya Raka bersama Dila. Mereka saat ini menuju lift untuk ke restoran memenuhi undangan makan malam dari Sato Construction. Pada saat mereka menunggu lift, seseorang yang Senja kenal berdiri ikut menunggu lift yang sama dan kemudian menyapa Senja.
__ADS_1
"Kohai Senja?" sapa pemuda tersebut.
"Eh senpai Kevin, ya ampun apa kabar? tambah ganteng sekarang?" pekik Senja, tak menyadari seseorang di sebelahnya yang tak lain adalah kekasihnya mulai bermuka masam.
"Kamu makin cantik juga, ada acara apa di sini?" tanya Kevin merasa senang dapat bertemu kembali dengan juniornya di organisasi kampus.
"Ada acara kantor, senpai kerja dimana?" Senja mulai bersemangat menginterogasi Kevin tanpa peduli teman-temannya.
"Di Sato Construction, kamu dimana?" tanya Kevin kembali. Lift sudah datang mereka berlima saat ini menuju ke restoran di bawah. Tim Tsubaki yang lain sudah lebih dulu ke sana.
"Jangan bilang Project Manager untuk pabrik baru Akira? aku kerja di Akira," tukas Senja.
"Ya ampun, dunia sempit ya, iya aku project managernya, ohya ponsel lamaku hilang, jadi aku minta nomermu lagi ya," pinta Kevin.
Kevin membacanya sekilas kemudian memasukkan ke dalam sakunya. "Masih ngikutin detective conan?" tanya Kevin, Kevin dan Senja akrab di organisasi salah satu penyebabnya adalah keduanya merupakan sesama penggemar detective conan.
"Animenya sih udah enggak, movie aja, senpai gimana?" tanya Senja.
Ryota kemudian menepuk bahu Senja pelan, agar tak lupa dengan kekasihnya. Senja tersadar kemudian mengenalkan Kevin kepada rekan-rekannya juga kekasihnya.
"Iya sama movie juga, eh yuk tempat makannya di sana" ucap Kevin saat keluar dari lift dan melihat Tsubaki dan tim Sato Construction lainnya sudah duduk rapi di restoran tak jauh dari pintu lift.
__ADS_1
Sepanjang makan malam, Ryota mulai bersikap dingin sesekali menimpali obrolan jika membutuhkan pendapatnya. Dia masih kesal dengan keakraban Senja dan Kevin tadi, bahkan di meja makan keduanya duduk berdekatan. Senja tentu tak menyadari itu, hingga akhirnya Dila mengirim pesan bahwa Ryota tengah cemburu. Senja menengok ke arah Ryota sekilas, dan menghela nafas untuk memikirkan rencana agar mood kekasihnya kembali.
"Yang, setelah ini temani aku yuk," Senja mengelus pelan tangan Ryota.
"Iya," Ryota menjawab singkat.
Selesai makan Senja segera menarik lengan Ryota untuk mengajaknya keluar. Tak lupa dia meminjam kunci mobil Raka, rencananya adalah ke pasar malam yang dilihatnya saat perjalanan menuju ke hotel ini.
Sekitar 15 menit, akhirnya mereka tiba di tempat pasar malam yang berada di desa terdekat kawasan industri. Senja masih terus menggenggam tangan Ryota mengajaknya menaiki bianglala di pasar malam tersebut.
"Maaf ya kalau aku tadi gak peka," Senja membuka suara terlebih dahulu, meminta maaf karena tadi sudah mengabaikan Ryota dan lebih asyik dengan seniornya.
"Aku cemburu," jawab Ryota singkat.
"Aku tahu," ucap Senja, "Kevin Lim itu pemuda yang begitu taat dengan agamanya, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya Ta, demikian pula dia, kami dekat karena sering satu tim dan juga punya hobi sama tak lebih," lanjut Senja.
"Aku tahu itu," ucap Ryota sebenarnya dia percaya jika Senjanya tidak akan berpaling, namun entah mengapa dia begitu kesal.
"Lah terus?" Senja masih tak habis pikir dengan sikap Ryota tadi.
"Ulu ulu, sini ganteng aku kita foto dulu yuk, mumpung lagi di atas," goda Senja, dan benar saja Ryota langsung tertawa tak tahan melihat ekspresi Senja yang tengah berfoto ria. Dirinya sudah tidak merasa kesal, dan menikmati kencan dadakan malam ini.
__ADS_1
Tsubaki yang berencana mengajak Ryota ke bar di hotel setelah makan malam, sudah ketinggalan jejak mantan kekasihnya. Karena Ryota dan Senja sudah terburu-buru pergi saat dirinya tengah diskusi bersama timnya. Ahh gagal maning, gagal maning.
*Senpai adalah bahasa jepang untuk senior, sedangkan kohai adalah junior.