Romansa Kala Senja

Romansa Kala Senja
Mimpi Digigit Ular


__ADS_3

"Tolong... tolong... somebody help me.. help help," Senja terus berteriak saat sebuah ular besar tengah melilit tubuhnya. Entah dari mana ular itu berasal yang jelas saat ini di atas ranjangnya dia berusaha keras lepas dari lilitan ular itu.


"Tolong..." Senja kembali berteriak berharap tetangga apartemennya ada yang mendengar jeritan di tengah malamnya ini. Namun naas, suaranya yang hampir tak memberikan hasil apapun. Senja makin lemas saat ular besar mulai menggigit kakinya.


"Tolong..." Senja kini terbangun dari tidur panjang yang mengerikan tersebut.


"Cuma mimpi," ucap Senja pelan kemudian melihat sekelilingnya. Dia lihat jendela kamarnya yang terkunci rapat tak ada kunjungan makhluk berbahaya itu. Dia duduk meminum air yang yang di nakas dekat tempat tidurnya, kemudian bergegas menuju kamar mandi. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 02.45 am artinya di sana sudah masuk waktu subuh. Matahari terbit hari ini adalah pukul 04.49 am. Selesai beribadah subuh, Senja memutuskan untuk tidur kembali, karena jadwal kuliahnya hari ini masih sangat lama yaitu pukul 10.00 am.


...----------------...


"Kamu masih saja keras kepala, Joko," ucap seseorang yang baru datang dari arah pintu.


"Dewi," " Mbak Dewi," ucap pak Joko dan bu Metta secara bersamaan. Seseorang yang saat ini berdiri di depan pintu adalah bu Dewi, ibu dari Ryota, dan disebelahnya adalah pak Hiroto, ayah Ryota.


"Mama dan papa, mengapa ikut kesini?" Ryota berdiri memghampiri kedua orang tuanya agar masuk dan duduk di dalam.


"Mbak Dewi apa kabar?" bu Metta ikut berdiri kemudian memeluk bu Dewi.


"Alhamdulillah, kabarku baik Metta, terima kasih sudah menerima kedatangan anakku," jawab Bu Dewi, kemudian dirinya dan suami duduk di dekat Ryota.


"Jadi kalian ini?" pak Joko bingung dengan situasi di depannya.


"Ini suamiku, dan Ryo ini anak kami, Joko dan Metta," ucap bu Dewi memperkenalkan keluarganya. Pak Hiroto tersenyum dan menunduk saat diperkenalkan dengan calon besannya tersebut. Calon besan yang ternyata merupakan lelaki masa lalu sang istri.


Ketika masih di hotel, bu Dewi bercerita jika ayah Senja adalah mantan kekasihnya saat dulu mereka di bangku sekolah menengah atas. Hubungan keduanya kandas saat mereka naik ke kelas 3. Ego masa remaja dan sikap keras kepala keduanya adalah penyebab perpisahan tersebut.


Bu Dewi pun menghadiri acara pernikahan pak Joko dan bu Metta kala itu, sehingga hubungan bu Metta dan bu Dewi menjadi baik dan tak ada cemburu ataupun kesal bagi keduanya. Mereka bertiga terakhir bertemu saat ketiganya berada di malang yaitu saat berjumpa di es krim oen.


(Ingat di bab 22, dimana tak sengaja bu Dewi bertemu dengan Senja saat antri di kasir, sebenarnya sebelum bertemu Senja di dalam, orang tua Senja dan bu Dewi sudah bertemu dan mengobrol di luar, namun saat itu bu Dewi masih belum sadar jika Senja adalah anak dari mantan kekasihnya. Hingga saat selesai membayar bu Dewi tak sengaja melihat Senja masuk ke mobil yang sama dengan mobil yang dinaiki mantan kekasihnya itu, dari sini dia menyimpulkan kalau Senja adalah putri mantannya.


Kemudian di bab 39, saat ada dialog dari bu Dewi "Saya yakin kamu tidak akan berbuat demikian Senja, saya tahu keluargamu," pas di sini bu Dewi sudah tahu jika Senja adalah anak dari mantannya di masa lalu.)


"Mama kenal dengan orang tua Senja?" tanya Ryota penuh keheranan melihat keakraban ibunya dan ibu Senja yang saling menyapa dan memeluk.


"Mamamu adalah mantan pacar bapaknya Senja saat mereka masih SMA, Ryo," jawab Pak Hiroto menengahi di tengah kecanggungan ini.


"Sebentar saya siapkan minum dulu," bu Metta berdiri untuk menuju dapur.


"Sudar Mett, jangan repot-repot," ucap bu Dewi mencegah namun bu Metta tetap menuju dapur menyiapkan tamu untuk para tamunya


"Maaf saya tiba-tiba masuk kesini, maaf juga Joko sudah menggangu obrolan kalian. Joko tolong pertimbangkan lamaran anakku, beri mereka restu," pinta bu Dewi. Dia kini memohonkan restu untuk putra tersayangnya.

__ADS_1


"Mama," lirih Ryota pelan menatap sang mama.


"Kan dirimu tahu tentang mereka yang JiLu dan weton mereka yang gak cocok itu, Wi," ucap Pak Joko masih kekeh dengan pendiriannya.


"Emang gak bisa dicari solusinya?" tanya bu Dewi.


"Iya pak, emang gak bisa dicari solusinya, kayak dulu anaknya bu Irma (tetangga mereka) kan juga ada masalah kayak gini, bisa ada solusinya tuh, apa itu dulu akad nikahnya harus di rumah siapa gitu gak di rumahnya sendiri," bu Metta ikut dalam perbincangan tersebut sambil menyajikan minuman untuk bu Dewi dan suaminya.


Bagaimanapun sebagai ibu dia ingin anaknya bahagia dengan lelaki pilihannya, terlebih dia juga sudah tahu bagaimana sikap dan sifat Ryota yang dilihat saat menginap di sini dulu, serta dari cerita Senja dan Langit. Apalagi saat ini dia tahu Ryota merupakan putra dari seseorang yang sudah dikenalnya, maka seperti tak ada alasan lain untuk tak menerima Ryota sebagai calon menantu.


"Yasudah sebentar deh," Pak Joko masuk ke dalam kamarnya.


Di ruang tamu, bu Dewi dan bu Metta sedang asyik mengobrol, tak menyangka jika anak-anak mereka menjalin hubungan seperti saat ini.


"Itu suamimu gak berubah ya masih keras kepala saja ya," komentar bu Dewi setelah menyesap teh yang disajikan untuk nya.


"Makin menjadi mbak, kalau udah berurusan dengan Senja. Mas Joko gak mau Senja salah melangkah atau salah bertemu orang, pokoknya dia pingin Senja bahagia mbak, maklum anak perempuan satu-satunya juga anak bungsu," jawab bu Metta.


"Dengerin Ta, ayahnya Senja begitu sayang pada Senja, kalau kalian jadi, jangan sampai membuat Senja tidak pernah bahagia sekalipun," pesan bu Dewi pada Ryota.


"Iya Ma, Ryota janji," jawab Ryota. Papanya kemudian menepuk pelan punggungnya memberi semangat sang putra.


"Bagaimana pak?" tanya bu Metta.


"Aku barusan telpon temanku, orang pintar di Tuban tentang hubungan Senja dan Ryo apakah boleh dilanjutkan untuk menikah," ucap Pak Joko.


"Terus?" tanya bu Dewi mulai geram dengan penjelasan sepotong dari pak Joko.


"Mereka boleh menikah tapi..." Pak Joko belum sempat melanjutkan ceritanya, semua orang sudah kompak berucap syukur.


"Alhamdulillah," ucap bu Dewi, bu Metta, pak Hiroto dan Ryota secara bersamaan. Pak Joko tersenyum tipis melihat kelegaan dari calon menantunya. Dari awal kedatangan Ryota, dirinya sudah terpukau dengan sikap agamis lelaki Jepang ini, hingga sempat menginginkan Ryota menjadi suami untuk putri bungsunya. Namun kenyataan tak mengenakkan soal JiLu dan weton yang didapat, membuatnya urung.


"Tapi apa tadi Joko?" tanya bu Dewi.


"Mereka harus menikah di hari yang wetonnya berjumlah 11, misal Senin Pon, Senin Wage atau Selasa Kliwon, kemudian mereka baru bisa menikah saat Senja selesai sekolah S2nya dan terakhir Senja sudah setuju untuk menikah dengan Ryota," lanjut Pak Joko.


"Oke, untuk poin pertama dan kedua, aku setuju aja, untuk poin ketiga bagaimana kalau kita telpon Senja sekarang untuk memastikan?" tawar bu Dewi.


"Boleh, silakan nak Ryo telpon Senja. London kan beda waktu sekitar 6 Jam dari sini, mungkin Senja sedang berada di kampus atau barangkali sedang istirahat makan siang," saran bu Metta.


"Baik, sebentar, tapi ini artinya bapak dan ibu menerima lamaran saya kan? Ryota kembali bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Tergantung Senja," jawab Pak Joko sambil tersenyum. Sedangkan bu Metta hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Yes, alhamdulillah," ucap Ryota penuh bahagia.


Tut.... Panggilan video kepada Senja akhirnya tersambung.


"Assalamualaikum Ta, ada apa?" tanya Senja dari seberang sana. Saat ini Senja sedang berada di restoran cepat saji untuk makan siang berdua dengan temannya dari Malaysia.


"Kamu mau kan menikah sama aku?" tanya Ryota to the point.


"Kamu kan tahu jawabannya Ta," jawab Senja yang masih belum sadar lokasi Ryota adalah di rumahnya bersama kedua orang tua masing-masing.


"Bagaimana kalau mereka sudah setuju?" Ryota kemudian mengarahkan kamera ke arah kedua orang tua Senja dan kedua orang tuanya. Mereka berempat tersenyum menatap Senja dari layar pipih.


"Kamu dimana ini Ta," Senja yang tersadar ada orang tuanya buru-buru menanyakan lokasi Ryota.


"Aku sedang di rumah kamu baru saja melamarmu, dan kata ayahmu, jawaban lamaranku tergantung kamu, jadi sekali lagi aku tanya kamu mau gak menikah denganku?" tanya Ryota kembali.


"Heh, gimana-gimana?" Senja masih belum paham dengan situasinya.


Pak Joko kemudian mendekat ke arah Ryota untuk menyapa lebih dekat putrinya. Dia kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi barusan. Dan tentang keduanya yang boleh menikah dengan syarat tiga poin tersebut.


"Alhamduliah, jadi boleh nih Pak? iya Pak, Senja bersedia," jawab Senja antusias.


"Nduk, segera diselesaikan kuliahnya biar segera pulang ya," bu Metta mendekat ikut memberi saran untuk putrinya.


"Siap bu, tunggu 11 bulan lagi insya Allah Senja pulang, buk maaf Senja tutup dulu ya ini harus kembali ke kampus," ucap Senja yang sudah diajak temannya untuk bergegas ke kampus untuk jam kuliah selanjutnya.


"Yasudah hati-hati ya, kamu ngomong sama Ryo dulu ya, ini ibu kembalikan ke Ryo," ucap bu Metta.


Ryota mengambil ponsel dari bu Metta kemudian membawanya ke teras rumah. Dia ingin ngobrol sebentar dengan Senja tapi


merasa malu jika didengar calon mertua dan orang tuanya.


"Ta, aku buru-buru, tapi aku seneng banget, makasih ya," ucap Senja penuh bahagia.


"Sama-sama sayang, nanti aku ceritain lengkapnya pas kamu sudah pulang ya, selamat belajar kembali sayangku," ucap Ryota mengakhiri panggilan video.


"Makasih banget, bye assalamualaikum," Senja menutup panggilan video, dan kini berjalan menuju kampus dengan bahagia. Dia bersyukur akhirnya dirinya dan pujaan hatinya bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.


"Wohh iya, baru ingat, mimpi digigit ular kan artinya ada yang melamar ya. Oh jadi ini maksud mimpiku semalam," batin Senja saat di perjalanan menuju kampus.

__ADS_1


__ADS_2